(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rampasan
Malam di pinggiran Hutan Perak Kematian turun dengan cepat, membawa serta kabut tipis yang bersinar kebiruan di bawah cahaya dua bulan sabit raksasa.
Di dalam pos tambang Paviliun Tembaga Merah yang biasanya dipenuhi oleh gelak tawa kasar dan dentingan arak para penjaga, kini hanya tersisa keheningan yang mencekik. Bau darah dan daging hangus menyelimuti udara. Mayat-mayat penjaga di Ranah Lautan Qi berserakan di pelataran, sementara sisa-sisa debu dari Pengawas Ma telah tertiup angin.
Shen Yuan melangkah santai melintasi pelataran berdarah itu, memasuki bangunan utama pos tambang yang terbuat dari susunan batu merah yang kokoh. Bangunan itu tidak mewah, namun cukup luas dan memancarkan kehangatan dari tungku api di tengah ruangan.
Ia berjalan menuju sebuah kursi besar yang dilapisi kulit harimau bertanduk—kursi yang beberapa saat lalu masih diduduki oleh Pengawas Ma—lalu menjatuhkan dirinya di sana.
Tatapannya yang sedingin es beralih ke arah pintu masuk. Dua penambang fana yang ia selamatkan—pria tirus dan pria gemuk—merangkak masuk dengan lutut gemetar, tangan mereka memegang erat sebuah nampan kayu yang di atasnya tertumpuk beberapa kantong kulit dan gulungan perkamen.
"T-Tuan yang Agung..." pria tirus itu, yang bernama Lu Qi, bersujud hingga dahinya menyentuh lantai batu. "I-Ini adalah seluruh kekayaan yang disimpan oleh Pengawas Ma di ruang rahasianya. Kami tidak berani menyembunyikan sekeping pun dari Anda!"
Shen Yuan mengulurkan tangannya. Pusaran hawa murni iblis yang sangat halus menarik nampan kayu itu melayang ke pangkuannya.
Ia membuka kantong kulit pertama. Cahaya perak kebiruan yang menyilaukan seketika menerangi ruangan. Di dalamnya terdapat sekitar tiga ratus butir Batu Roh Spiritual.
"Kekayaan yang cukup menyedihkan untuk seorang ahli di Puncak Inti Emas," cibir Leluhur Darah dari dalam lautan kesadaran Shen Yuan. "Tapi mengingat dia hanya seorang anjing penjaga tambang rendahan di alam atas, ini bisa dimaklumi."
"Cukup untuk memberiku pijakan pertama," balas Shen Yuan dalam batinnya.
Ia kemudian membuka kantong kedua yang berukuran lebih besar. Di dalamnya tidak berisi Batu Roh, melainkan bongkahan-bongkahan logam berwarna merah menyala yang memancarkan hawa panas murni. Tembaga Merah. Bahan utama pembuat senjata pusaka tingkat menengah di alam ini.
Shen Yuan meletakkan kantong itu ke samping, lalu mengambil gulungan perkamen yang paling ia butuhkan: sebuah Peta Wilayah.
Ia membentangkan peta kulit binatang tersebut di atas pahanya. Matanya menyusuri garis-garis yang digambar dengan tinta emas. Peta itu hanya mencakup sepersepuluh dari Benua Selatan Alam Spiritual, namun sudah cukup untuk memberikan gambaran betapa mengerikannya cakupan dunia baru ini.
"Lu Qi," Shen Yuan memanggil dengan nada datar.
"H-Hamba di sini, Tuan!" Lu Qi buru-buru mengangkat kepalanya sedikit.
"Jelaskan padaku susunan kekuatan di Wilayah Besi Berdarah ini. Kau menyebutkan tentang Istana Pedang Besi dan Kuil Dewa Perak." Shen Yuan menatap penambang itu, matanya menyipit memancarkan bahaya. "Jangan ada yang terlewat."
Menelan ludah dengan susah payah, Lu Qi mulai menjelaskan dengan suara bergetar. "T-Tuan, Alam Spiritual terbagi menjadi lima benua raksasa. Kita berada di Benua Selatan. Di benua ini, ada tiga kekuatan penguasa tertinggi yang disebut sebagai Tiga Pilar Langit, dan Kuil Dewa Perak adalah yang terkuat di antara mereka. Pusat kekuasaan mereka membentang jutaan li dari sini."
"Istana Pedang Besi adalah salah satu sekte bawahan tingkat menengah yang tunduk pada Kuil Dewa Perak," lanjut Lu Qi, menunjuk ke sebuah titik di peta yang berjarak sekitar lima ribu li ke arah timur. "Mereka menguasai seluruh Wilayah Besi Berdarah. Paviliun Tembaga Merah ini hanyalah salah satu pos tambang luar milik mereka. Pengawas Ma adalah seorang Pengurus Luar dari Istana Pedang Besi."
Shen Yuan mengetukkan jarinya ke lengan kursi. "Seorang Pengurus Luar berada di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas. Kalau begitu, seberapa kuat para petinggi Istana Pedang Besi?"
"I-Istana Pedang Besi memiliki ratusan Tetua di Ranah Peleburan Jiwa, Tuan," jawab pria gemuk di sebelah Lu Qi dengan nada penuh ketakutan. "Pemimpin Istana mereka... konon telah mencapai Puncak Ranah Pemisahan Duniawi! Mereka adalah raksasa yang tidak bisa disinggung oleh pengelana bebas!"
Mendengar hal itu, sudut bibir Shen Yuan justru melengkung membentuk senyuman yang sangat buas.
Di alam fana, Ranah Pemisahan Duniawi adalah batas legenda di mana seseorang bisa membelah langit. Di alam atas ini, ranah tersebut hanyalah syarat untuk menjadi pemimpin sekte bawahan! Dan Kuil Dewa Perak... sekte yang telah mengirimkan utusan untuk memburu ayahnya... pasti memiliki ahli-ahli di atas Ranah Pemisahan Duniawi!
Dendam sepuluh tahunnya tidak pernah padam. Jika Kuil Dewa Perak di alam bawah hanyalah sebuah cabang, maka mencabut sekte pusat di alam atas ini adalah tujuan mutlaknya.
"Sangat menarik," gumam Shen Yuan pelan. Ia menggulung peta itu dan memasukkannya ke dalam Kantong Qiankun bersama dengan Batu Roh Spiritual dan Tembaga Merah.
Ia menatap kedua penambang yang masih bergetar di lantai.
"Pengawas Ma telah mati. Cepat atau lambat, Istana Pedang Besi akan mengirim orang untuk mengambil jatah bulanan tambang ini," ucap Shen Yuan. "Kapan jadwal kedatangan mereka?"
"D-Dua hari lagi, Tuan!" jawab Lu Qi dengan panik. "Setiap awal bulan purnama ganda, seorang Utusan Dalam dari Istana Pedang Besi akan datang untuk mengumpulkan hasil tambang. Mereka biasanya mengirim seorang ahli di Awal Ranah Peleburan Jiwa!"
"Ahli Peleburan Jiwa..." Shen Yuan bersandar di kursinya. Di alam fana, ia harus meminjam Alam Jiwa milik Bai Luo dan mengandalkan Pecahan Gigi Naga untuk membunuh ahli Peleburan Jiwa. Sekarang, dengan tekanan berat dan hukum alam yang jauh lebih kuat, menelan ahli Peleburan Jiwa akan menjadi tantangan yang sama sekali berbeda.
Namun, Iblis Penelan Surga tidak pernah gentar di hadapan mangsa.
"Bersihkan mayat-mayat di luar," titah Shen Yuan dingin. "Buang mereka ke Hutan Perak Kematian agar menjadi makanan siluman. Bersihkan pelataran ini seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dan kalian berdua... jika kalian mencoba melarikan diri sebelum utusan itu datang, hawa murni yang kutinggalkan di tubuh kalian saat aku menghentikan api tadi akan meledakkan jantung kalian."
Lu Qi dan pria gemuk itu terkesiap, wajah mereka berubah hijau. Mereka tidak tahu bahwa Shen Yuan sedang menggertak, tetapi melihat kebrutalan pemuda ini, mereka tidak memiliki sebutir pun keberanian untuk mempertaruhkannya.
"K-Kami akan patuh! Kami akan menjadi pelayan Tuan!" Keduanya bersujud berulang kali sebelum bergegas keluar untuk melaksanakan tugas mengerikan tersebut.
Setelah ruangan itu kosong, Shen Yuan memejamkan matanya. Ia mengambil tiga puluh butir Batu Roh Spiritual dan membiarkannya melayang di sekelilingnya.
"Kau berniat menantang ahli Peleburan Jiwa dalam dua hari, Bocah?" tegur Leluhur Darah. "Di alam ini, kaidah ruang mereka jauh lebih padat. Meski kekuatanmu kini telah menginjak Puncak Inti Emas, menembus pertahanan mereka tidak akan semudah saat kau membunuh utusan di alam bawah."
"Aku tahu. Karena itu aku harus memantapkan fondasi fana-ku dan menyesuaikannya menjadi fondasi spiritual secepat mungkin," jawab Shen Yuan.
Ia memutar Sutra Penelan Surga.
Wuuuuung!
Pusaran merah kehitaman meledak di dalam ruang utama pos tambang itu. Tiga puluh Batu Roh Spiritual hancur menjadi serbuk secara serentak. Hawa murni berwarna perak kebiruan yang sangat pekat dan berat mengalir deras ke dalam pori-pori kulit Shen Yuan.
Ini adalah pertama kalinya ia secara penuh menyerap energi murni dari Alam Spiritual dalam jumlah besar. Rasanya seperti ada ribuan pisau es yang menyayat jalur nadinya, mencoba merobek tubuh fananya. Namun, Tubuh Emas Gelap yang telah mencapai Penyempurnaan Tanpa Celah menahan setiap robekan tersebut dengan kokoh.
Di dalam Dantian-nya, Inti Emas Iblis yang berwarna hitam pekat berputar gila-gilaan, menggiling energi perak kebiruan itu dan mengubahnya menjadi hawa murni iblis yang jauh lebih murni, lebih berat, dan lebih mematikan.
Dua hari dua malam, Shen Yuan tidak beranjak dari kursi kulit harimaunya.
Pos tambang itu sepi layaknya kuburan. Lu Qi dan kawannya bersembunyi di gubuk penambang, tidak berani mendekati bangunan utama yang kini memancarkan tekanan aura yang membuat udara di sekitarnya beriak hebat.
Pada siang hari ketiga, saat kedua bulan sabit pucat mulai tampak samar di langit.
Bummmmm!
Sebuah getaran halus meletus dari dalam tubuh Shen Yuan. Inti Emas Iblisnya kini memancarkan kilau perak redup di sela-sela warna hitamnya, menandakan bahwa ia telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan hukum alam di dunia yang baru ini. Kultivasinya telah stabil sepenuhnya di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas, memadatkan fondasinya hingga ke titik mutlak sebelum ia merobek batas menuju Ranah Peleburan Jiwa.
Shen Yuan membuka matanya. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan ledakan yang jauh melampaui masa-masa puncaknya di alam fana.
Telinganya yang tajam menangkap suara kepakan sayap dari langit.
Sebuah bayangan besar menutupi pelataran pos tambang. Seekor Burung Rajawali Besi—siluman terbang tingkat tinggi—mendarat dengan keras di tengah pelataran, menghempaskan debu pasir. Di atas punggung burung itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah perak bersulam pedang hitam.
Utusan dari Istana Pedang Besi telah tiba.
Pria itu memancarkan hawa murni dari Ranah Peleburan Jiwa Tahap Awal. Ia menatap ke sekeliling pos tambang yang anehnya terlihat terlalu bersih dan sunyi.
"Ma Teng! Di mana kau, babi gemuk?!" teriak utusan itu dengan angkuh. "Bawa keluar jatah Tembaga Merah dan Batu Roh bulan ini! Tuanmu telah tiba!"
Dari dalam bangunan utama, langkah kaki yang santai terdengar.
Shen Yuan melangkah keluar dari ambang pintu, menatap utusan Peleburan Jiwa itu dengan pandangan yang sama seperti seseorang menatap ayam panggang yang baru disajikan.
"Pengawas Ma sedang sibuk membusuk di dalam perut siluman," ucap Shen Yuan dengan senyuman iblis yang membuat udara di pelataran mendadak membeku. "Sebagai gantinya, aku yang akan membayarkan pajaknya kepadamu."