(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 11 - PERSIAPAN DESA
...Jika desa ini harus hancur malam ini......
......maka seseorang harus berdiri paling depan saat itu terjadi....
...⚙⚙⚙...
Obor-obor menyala satu per satu di sepanjang jalan tanah menuju gerbang desa. Nyala apinya bergerak-gerak, memantulkan cahaya di dinding batu yang mengelilingi Brakenford. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Ada beban yang samar terasa di udara, membuat setiap orang yang bergerak merasa tidak tenang.
Dan di tengah suasana yang penuh kegelisahan itu, sebuah pintu kayu berat terbuka dari dalam. Garrick melangkah keluar. Palu besar andalannya sudah tersandar tegak di bahu kanannya. Bagi orang lain ini mungkin hanya tampak sebagai alat kerja biasa, tapi seluruh penduduk desa tahu betul benda ini lebih dari sekadar itu.
Ia berhenti sejenak tepat di tengah jalan. Kepalanya terangkat, pandangannya tidak mengarah ke depan menuju gerbang seperti yang diharapkan orang-orang, tapi berbalik ke arah lain. Ke arah tambang tua yang terlihat samar di kejauhan. Ekspresinya yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi tegas dan tajam seakan ia mengetahui rahasia yang tersimpan di dalam sana, tentang mesin raksasa yang telah tidur bertahun-tahun lamanya di lembah itu. Meskipun ia tidak pernah sekalipun membicarakan hal ini kepada siapa pun, ada satu hal yang sudah pasti, jika suatu hari nanti Titan tua itu benar-benar terbangun dari tidurnya, dialah orang pertama yang akan berdiri tepat di hadapannya, dan tidak akan melangkah mundur sedikit pun.
Setelah itu ia kembali bergerak, berjalan mantap menuju gerbang desa. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, namun kehadirannya saja sudah cukup membawa perubahan. Orang-orang yang sebelumnya sibuk bergerak dan berbicara dengan suara tinggi perlahan menjadi hening satu per satu. Rasa panik yang semula meluap-luap perlahan mereda begitu mereka melihat sosok itu berjalan melewati mereka.
“Kepala Desa...” Panggilan itu terdengar pelan, namun tidak ada jawaban.
Garrick terus melangkah maju. Begitu ia tiba di depan gerbang, para penjaga yang berjaga langsung menyingkir dan membuka jalan. Ujung mantel tebalnya berkibar perlahan diterpa angin malam. Matanya tetap terfokus lurus ke arah hutan utara yang gelap gulita.
Bram berdiri beberapa langkah di sampingnya, masih berusaha menenangkan napasnya sendiri yang terasa sedikit cepat.
“...Paman Garrick,” suara Rogan terdengar dari atas menara pengawas, “kau yakin ini akan terjadi malam ini?”
Garrick tidak langsung menjawab. Detik-detik berlalu hanya diiringi suara angin yang berhembus di antara pepohonan. Lalu suara raungan terdengar dari dalam hutan.
GGRRRRRRRAAAHHH...
Suaranya dalam, berat, dan cukup kuat untuk membuat tanah di bawah kaki mereka seolah bergetar.
Bram langsung menegang seketika. “Itu...”
“...bukan hanya satu ekor,” potong Garrick singkat.
Bram sedikit memiringkan kepalanya, memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengar suara-suara dari luar. Tak lama kemudian raungan kedua terdengar, lalu diikuti yang ketiga. Suara-suara itu bersahut-sahutan satu sama lain, memenuhi udara malam.
“...mereka bergerak dalam kawanan,” gumamnya pelan.
Suasana kembali hening sesaat. Setelah itu Garrick berbicara, nadanya tetap datar namun mengandung ketegasan yang sulit digambarkan. “Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita mendengar suara seperti ini?”
Bram menjawab tanpa perlu berpikir lama. “Tiga tahun yang lalu. Saat serangan di musim dingin.”
Garrick hanya mengangguk kecil. Pandangannya masih tidak beranjak dari kegelapan di hadapan mereka. Lalu tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun, ia menyebut satu nama. “Liora?” Hanya satu kata saja.
Bram mengerjapkan matanya sebentar. “Belum terlihat sejak siang tadi.”
Rogan mencondongkan tubuhnya sedikit dari atas menara agar suaranya terdengar lebih jelas. “Aku juga tidak melihatnya, Paman. Terakhir kali ia terlihat berjalan menuju arah tambang.”
Bram kemudian menambahkan kalimatnya, setengah ragu namun setengah sudah mengetahui jawabannya. “Mungkin ia masih bersama mekanik kesayangannya itu.”
Rahang Garrick terlihat sedikit menegang, namun itu bukan tanda kemarahan. Ia juga tidak menghela napas tanda kecewa. Sebaliknya, tatapannya justru terlihat semakin dalam seolah memahami segalanya. “Kalau begitu...” gumamnya pelan, “...berarti ia sudah bersama orang yang tepat.”
Di kejauhan, puluhan mata merah mulai terlihat di antara pepohonan. Mata merah itu tidak berhenti muncul sampai hutan terasa penuh oleh mereka.
Di atas menara kayu, Rogan menyipitkan matanya, “kau lihat itu?”
Penjaga di sampingnya menoleh. “Apa?”
Rogan menunjuk lurus ke arah pepohonan yang gelap. “Di sana.”
Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Lalu semak-semak di sana mulai bergerak. Tidak hanya di satu tempat, tapi bergerak di banyak titik sekaligus.
KRRAK... KRRAK...
Suara ranting yang patah terdengar jelas dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Salah satu penjaga langsung mempererat genggamannya pada gagang tombak di tangannya. “Itu bukan hewan biasa...”
Gerakan itu makin terlihat nyata, jaraknya makin dekat. Dari balik rimbunnya dedaunan, pertama kali terlihat sepasang mata yang menyala berwarna merah menyala. Tak lama kemudian muncul pasangan mata lain, lalu yang berikutnya, hingga jumlahnya terhitung puluhan pasang mata yang bersinar menembus kegelapan.
Rogan menegakkan tubuhnya sepenuhnya, “...monster.”
Satu per satu bayangan besar mulai melangkah keluar dari batas hutan. Mereka bergerak dengan cara merangkak cepat, persis seperti kawanan pemburu yang sudah lama tidak mendapatkan mangsa. Dan yang paling mengkhawatirkan, jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang pernah diperkirakan.
Rogan tidak menunggu lebih lama lagi. Ia langsung menarik tuas lonceng pengaman dengan sekuat tenaga.
GONG...
Suara dentangan yang berat dan nyaring langsung bergema menembus kesunyian malam, terdengar hingga ke seluruh penjuru desa.
GONG...
Satu per satu lampu penerangan di setiap rumah mulai menyala. Pintu-pintu kayu dibuka dengan suara berisik.
“Ada apa?!” teriak seseorang dari kejauhan.
“Lonceng bahaya berbunyi!” jawab suara lain.
GONG...
Dari atas ketinggian menara, Rogan berteriak sekuat tenaga agar suaranya terdengar oleh semua orang. “MONSTER DARI HUTAN UTARA!”
Garrick mengembuskan napas pelan. “Hmm...” Ia mengangkat gagang palunya dari atas bahu, memegangnya erat-erat. “Sepertinya mereka lapar malam ini.”
Bram menelan ludah perlahan. “Jumlahnya lebih banyak dari biasanya.”
Sudut bibir Garrick terangkat membentuk senyum tipis. “Bagus.”
Bram mengerjapkan matanya, tampak bingung mendengar jawaban itu. “Bagus?”
Garrick menepuk bahu Bram dengan tenaga yang cukup keras hingga tubuh pemuda itu sedikit terguncang. “Artinya kita tidak akan merasa bosan.”
Beberapa penjaga yang berdiri di sekitarnya tertawa kecil, meski nada tawaran mereka terdengar tegang. Namun perlahan, ketenangan dan keberanian yang ditunjukkan oleh pemimpin mereka itu mulai menular, membuat ketakutan yang ada sedikit demi sedikit hilang berganti dengan kesiapan.
Garrick kemudian menunjuk tepat ke permukaan tanah di depan gerbang desa. “Bram!”
“Ya!”
“Aktifkan perangkap buatan Eldric.”
Tanpa menunggu perintah diulang, Bram langsung berlari menuju bagian gerbang, lalu memanggil semua orang yang ada di sana.
“Semua ke posisi!” Suaranya bergema jelas menembus suara langkah kaki dan desiran angin.
Seluruh pria yang berjaga bergerak serentak. Tidak ada yang ragu, tidak ada yang bertanya, semua sudah tahu tugas masing-masing.
“Tarik tuasnya!”
Dua orang penjaga bergerak bersama-sama, menarik tuas logam besar yang terpasang di sisi dinding gerbang. Tanah yang tadinya rata di depan mereka perlahan terbelah dan terbuka. Dari dalamnya, batang-batang besi yang runcing menyembur keluar satu per satu, tersusun rapi membentuk barisan yang tampak seperti deretan gigi raksasa yang siap menyergap siapa saja yang melintas.
Garrick menatap susunan besi itu dengan pandangan serius. “Ternyata masih berfungsi dengan baik.” Ia bergumam pelan, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat di sana. “Pekerjaanmu memang selalu rapi, Eldric.”
Setelah itu ia menoleh ke atas, mengarahkan pandangannya ke arah menara pengawas. “Rogan... mesin panah sudah siap?!”
Di atas tembok pembatas, roda-roda logam mulai berputar dengan suara berirama. Satu per satu batang panah terangkat dan menempatkan diri pada posisi yang tepat untuk ditembakkan. “Isi ulang! Cepat!”
Seorang pemuda bergerak mengisi persediaan panah tambahan, tangannya sedikit gemetar namun tetap bekerja dengan cekatan. Setelah selesai, ia menarik tuas pengunci hingga terdengar suara keras.
Rogan berteriak keras dari atas ketinggian agar suaranya sampai ke bawah. “SIAP!”
Garrick mengangguk perlahan, tampak puas melihat segala sesuatunya sudah berjalan sesuai rencana. Ia kemudian mengangkat suaranya. “Dengar semua!”
Penduduk yang berkumpul di sekitar gerbang seketika menoleh mendengar suara perintah itu.
“Para pria yang bisa bertarung, maju ke depan!”
“Yang lain bantu membawa panah dan air bersih!”
Di sepanjang jalan utama, orang-orang mulai bergerak berkumpul. Tidak ada satu pun yang datang dengan tangan kosong, semuanya sudah membawa perlengkapan masing-masing.
Seorang pemuda memutar tuas yang terpasang di gagang tombaknya. Di dalamnya, pegas penggerak tertekan hingga menjadi tegang dan siap digunakan. Ia menatap tajam ujung tombak yang terbuat dari baja keras, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri. “Sekali tusuk... harus tembus.”
^^^*gambar buatan AI^^^
Di tempat lain, dua orang penambang mengangkat alat kerja andalan mereka-palu hidrolik berukuran besar. Begitu dinyalakan, mesin itu mengeluarkan suara dengungan halus yang terasa bergetar hingga ke lengan. Salah satunya menggerakkan bahunya untuk melenturkan otot. “Biasanya kita pakai ini untuk memecah batu.”
Temannya di sampingnya tersenyum tipis. “Malam ini... kita coba gunakan untuk hal lain.”
Tidak jauh dari gerbang, seorang pria tua mengangkat perisai besar dari bahan logam ke lengan kirinya. Jari-jarinya bergerak memutar roda pengunci yang ada di bagian dalam, hingga terdengar bunyi berat saat perisai itu terkunci rapat dan tak akan lepas dengan mudah. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun posisi tubuhnya tegak dan kuat, tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Di atas menara pengawas, seorang pemuda melirik ke arah Rogan yang masih berdiri di sampingnya. “...kita pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya, kan?”
Rogan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pemandangan di hadapan mereka. “Pernah... tapi tidak pernah sebanyak ini.”
Semua mata yang ada di sana kini tertuju lurus ke depan, ke arah hutan yang mulai terlihat batasnya. Bentuk bayangan-bayangan itu semakin dekat, kini tampak jelas dengan rinciannya. Jumlahnya puluhan ekor, bahkan bisa jadi lebih banyak lagi yang masih tersembunyi di balik pepohonan.
GONG...
Lonceng bahaya terus berdentang tanpa henti, suaranya terdengar sebagai pengingat sekaligus penyemangat.
Di tempat paling depan, tepat di hadapan gerbang desa, berdiri Garrick. Ia menancapkan gagang palunya yang berat ke permukaan tanah. Bunyi benturan logam dengan tanah yang keras bergema jelas menembus keributan. “Dengar baik-baik!” Suaranya berat, lantang, dan penuh wibawa sehingga terdengar oleh setiap orang yang ada di sekitarnya. “Ini bukan pertama kalinya makhluk-makhluk itu berusaha masuk ke desa kita!”
Beberapa orang mengangguk setuju.
“Dan setiap kali mereka datang...” Ia menarik kembali palunya dari tanah dengan satu gerakan yang kuat dan mudah. “...kita selalu berhasil mengusir mereka, bahkan menghancurkan mereka hingga kembali ke tempat asalnya!”
Teriakan semangat dan sorakan kecil mulai terdengar dari barisan penduduk. Rasa takut yang semula terlihat jelas di wajah mereka perlahan berganti dengan tekad yang kuat.
Garrick memutar-mutar palunya di tangannya dengan lincah, seolah benda yang berat itu tidak memiliki bobot sama sekali. “Maka malam ini...” Ia mengarahkan ujung palunya lurus ke arah hutan utara. “...kita buktikan kepada mereka bahwa Brakenford bukanlah mangsa yang mudah ditaklukkan.”
Di kejauhan, di ujung lapangan yang memisahkan desa dan hutan, akhirnya makhluk-makhluk itu keluar sepenuhnya dari balik pepohonan. Puluhan ekor makhluk dengan mata yang menyala merah bergerak maju bersama-sama. Langkah kaki mereka yang berat membuat tanah di bawahnya seolah bergetar hebat.
Namun di depan gerbang Brakenford, sosok Garrick tetap berdiri tegak di barisan paling depan. Bagai sebuah tembok batu yang kokoh dan tak akan runtuh oleh apapun.
Malam itu, bahaya datang mendatangi desa mereka. Namun para makhluk itu belum mengetahui satu hal penting, bahwa desa ini memiliki penjaga yang jauh lebih kuat dan berbahaya daripada mereka semua.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya