Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
you're mine 4
*Senin siang, masih di ruang direktur.*
"Dia siapa?" tanya Sandra sekali lagi, kali ini sambil bersedekap. Raut wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. Senyum cantik ala modelnya hilang sudah, diganti tatapan menyelidik. "Apa dia asisten baru yang Renata kirimkan untuk menggantikannya?"
Devan akhirnya bergerak. Dia berjalan ke arah meja, sengaja memberi jarak dari pintu tempat Nara baru saja keluar. "Iya," jawabnya singkat dan datar. Sandra masih menatap Devan dengan raut wajah yang tidak puas.
"Dia menggantikan Renata mulai hari ini," terang Devan kemudian.
"Siapa namanya?" tanya Sandra. Entah kenapa Sandra merasa sangat ingin tahu tentang gadis yang baru berpapasan dengannya tadi. Dia merasa ada sesuatu yang tidak enak perihal keberadaan Nara di sini.
"Harumi Nara," jawab Devan.
Sandra kemudian menimbang-nimbang nama itu. "Nama khas Jepang. Cantik. Dan kamu..." Mata Sandra menyapu wajah Devan penuh selidik, lalu pandangannya terhenti di posisi tangan Devan yang tanpa sadar masih mengepal di sisi meja. "...kamu kelihatan pucat. Apa kamu sakit?" tanya Sandra penasaran.
Devan mendengus pelan. "Akhir-akhir ini aku kurang tidur. Kerjaan menumpuk."
"Bukan." Sandra melangkah cepat, mendekat hingga jarak mereka cuma sejengkal. Jari lentiknya menyentuh dada Devan, memaksa lelaki itu menatapnya. "Gadis itu, apa kamu mengenalnya?"
"Sudah kubilang dia asisten baruku!" jawab Devan tegas.
"Bukan itu jawaban dari pertanyaanku!" Sandra sekali lagi menaikkan nada bicaranya. Semakin Devan diam, semakin Sandra curiga ada sesuatu yang disembunyikan.
Devan menepis tangan Sandra—tidak kasar, tapi cukup tegas untuk membuat Sandra mundur setengah langkah. "San, ini kantor. Dan dia karyawan baruku sekarang. Bisa tidak kamu tidak berpikir yang aneh-aneh?"
"Aku tidak berpikir sejauh itu tadinya, Devan. Tapi melihat reaksimu tadi membuatku menjadi penasaran."
"Jangan mulai lagi, San. Cukup, jangan dibahas lagi," ucap Devan, sengaja ingin memutus percakapan yang jujur saja membuatnya merasa tidak nyaman.
Sandra tertawa hambar. "Yang mulai duluan siapa? Mata kamu yang dari tadi tidak lepas dari pintu itu bahkan setelah dia pergi. Devan Ardiansyah yang aku kenal tidak mungkin akan segugup itu cuma karena asisten baru."
Hening. Detak jam dinding beradu dengan suara napas mereka berdua.
Sandra menurunkan tangannya, tapi matanya masih tajam. "Aku cuma mau ngingetin, Van. Kita sudah tunangan. Setahun. Mama kamu, Mama aku, udah nyiapin gedung, WO, bahkan persiapan sudah hampir 80%. Jadi jangan kira kamu bisa macam-macam. Dan dengan sikap kamu yang seperti ini, tentu saja aku berhak curiga."
Devan memejamkan mata sejenak. Nama Nara dan wajahnya tiba-tiba berputar di kepalanya seperti badai.
"Kamu sudah mengenalnya sebelum ini, bukan?" tanya Sandra mendesak. Kali ini Devan tidak bisa menyembunyikannya lagi. Semakin mengelak, justru Sandra semakin agresif.
"Dia temannya Nathan," akhirnya Devan bicara. Setengah jujur, setengah sengaja menutupi luka. "Teman SMA dulu. Sudah lama tidak bertemu, karena dia baru kembali dari Jepang," jelasnya.
"Teman lama," Sandra mengangguk-angguk, tapi dari nada suaranya menunjukkan kalau dia tidak percaya sedikit pun. "Teman lama yang membuat kamu sampai lupa bernapas tadi?"
Devan tidak menjawab. Dia perlahan berjalan ke arah jendela, membelakangi Sandra. Punggungnya tegak, tapi Sandra tahu itu postur Devan kalau dia sedang kabur dari konfrontasi.
"Oke." Sandra mengambil tasnya dari sofa. "Anggap saja aku percaya. Tapi Van..." Dia berhenti di ambang pintu, menoleh. Senyumnya kembali, tapi kali ini dingin. "Aku tidak akan melepaskan kamu. Ke siapa pun. Rencana pernikahan kita tetap lanjut, meski apa pun yang terjadi!"
Klik. Pintu ditutup.
Devan baru berani menghela napas panjang setelah Sandra pergi. Telapak tangannya ia tempelkan ke kaca dingin, menatap parkiran di bawah sana.
Sementara itu, setelah Sandra keluar dari ruangan Devan, matanya langsung tertuju pada gadis berambut panjang yang tengah duduk tenang di balik meja tempat Renata bekerja dulu. Pandangan matanya menelisik Nara dari atas sampai ke bawah. Nara pun menyadari kalau dirinya tengah diperhatikan. Kemudian sekali lagi pandangan mereka saling beradu. Sejujurnya Sandra ingin sekali menghampiri Nara untuk sekadar memuaskan rasa ingin tahunya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nara sopan, memecah keheningan.
"Tidak ada!" jawabnya ketus, sambil pergi begitu saja.
_Aku akan mencari tahu sendiri nanti,_ ucap Sandra dalam hati.
"Kamu pasti pengganti Bu Renata, ya kan?" tanya seorang karyawan perempuan yang tiba-tiba menghampiri Nara.
"Iya, saya Nara, asisten pengganti Bu Renata sementara," jawab Nara sopan.
"Apa kamu tahu siapa perempuan yang baru saja keluar dari ruangan Pak Devan?"
Nara hanya menggelengkan kepalanya pelan menanggapi pertanyaan rekan kerja barunya tersebut.
"Dia itu model terkenal sekaligus tunangannya Pak Devan."
Deg... Jantung Nara tiba-tiba seolah berhenti berdetak.
"Tunangan?" gumamnya pelan dengan bibir yang bergetar.