Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang Menghantui
Lampu kristal di sudut ruangan Penthouse Valeska berpendar redup, menciptakan bayangan panjang yang tampak mencekik dekorasi mewah di sekitarnya. Arlan duduk di sofa beludru, jemarinya memutar gelas wiski dengan irama yang tidak beraturan. Di hadapannya, V duduk dengan keanggunan seorang pemangsa yang sedang menyamar, menatapnya dengan pupil mata yang tak terbaca.
Bau alkohol yang menyengat dari napas Arlan memenuhi udara, bercampur dengan aroma parfum mawar yang sengaja V kenakan malam ini. Arlan tampak lebih rapuh daripada biasanya, sebuah pemandangan yang memberikan kepuasan dingin di dasar hati Asha. Setelah ciuman beracun di ruang kerja kemarin, pria ini seolah kehilangan kompas moralnya sepenuhnya.
"Kau tahu, V, terkadang aku merasa ruangan ini terlalu luas untuk satu orang yang memiliki segalanya," ujar Arlan dengan suara serak.
Asha menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk, bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh misteri. "Bukankah itu harga yang harus dibayar untuk menjadi penguasa di Neovault Metropolis, Tuan Arlan? Kesepian adalah teman setia kesuksesan."
"Mungkin kau benar. Tapi belakangan ini, bayang-bayang masa lalu mulai merangkak keluar dari celah dinding gedung ini," lanjut Arlan.
Pria itu menenggak wiskinya dalam satu tarikan napas, lalu menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap kota. Asha merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat ia menyadari ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Ia harus tetap tenang, membiarkan Arlan menumpahkan racun di hatinya tanpa menunjukkan sedikit pun kelemahan.
"Bayang-bayang masa lalu? Anda terdengar seperti pria yang memiliki penyesalan besar, sesuatu yang tidak cocok dengan reputasi Anda," pancing Asha.
Arlan tertawa kering, sebuah suara yang terdengar hampa di tengah kemewahan yang mengepung mereka berdua. "Ada seorang wanita. Namanya Asha. Dia adalah satu-satunya kesalahan yang tidak bisa kuhapus dari ingatanku, tidak peduli seberapa banyak aset yang kumiliki sekarang."
"Asha? Nama yang sederhana. Apa yang terjadi padanya sampai dia bisa menghantui pria sehebat Anda?" tanya Asha dengan nada datar.
"Aku mengkhianatinya. Aku membiarkan ambisiku menelan cintanya sampai tidak ada yang tersisa selain kebencian di malam terakhir itu," aku Arlan lirih.
Asha mencengkeram pegangan kursinya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, namun wajahnya tetap terlihat seperti porselen yang tenang. Mendengar Arlan menyebut namanya sendiri sebagai bentuk penyesalan terasa seperti komedi hitam yang sangat memuakkan. Ia tahu persis bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Arlan hanyalah sampah yang dibungkus keraguan.
"Anda menyesal karena mengkhianatinya, atau karena Anda kehilangan kendali atas dirinya setelah pengkhianatan itu?" cecar Asha dengan suara dingin.
Arlan menatap V dengan mata yang mulai memerah, seolah mencari pembenaran di dalam diri wanita misterius yang kini ia puja. "Aku menyesal karena tidak bisa melupakannya. Setiap kali aku menutup mata, aku melihatnya jatuh ke dalam kegelapan sungai itu."
"Sungai? Jadi Anda membunuhnya? Sangat dramatis bagi seorang CEO Neovault yang terhormat," ujar Asha sambil menyesap minumannya.
"Secara teknis, iya. Tapi itu demi masa depan perusahaan ini. Elena yang memaksaku, dia yang menyulut api kecemburuan sampai semuanya lepas kendali," bela Arlan.
Mendengar Arlan melemparkan kesalahan kepada Elena membuat Asha ingin tertawa terbahak-bahak di depan wajah pria itu. Betapa pecundangnya Arlan, bahkan dalam pengakuannya yang paling jujur sekalipun, ia masih mencoba mencari kambing hitam. Elena memang kejam, tapi Arlan adalah tangan yang mendorongnya menuju jurang kematian tanpa ragu sedikit pun.
"Jadi Anda sekarang merasa berdosa? Sangat menarik melihat sisi kemanusiaan yang tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghilang," sindir Asha halus.
"Aku menceritakan ini padamu karena kau mengingatkanku padanya. Cara kalian menatap, cara kalian berbicara, meski kau jauh lebih kuat darinya," kata Arlan.
"Jangan pernah membandingkan saya dengan bayangan seorang wanita yang sudah mati, Arlan. Itu adalah penghinaan bagi kecerdasan saya," tegas Asha.
"Maafkan aku. Hanya saja, terkadang aku merasa Tuhan mengirimmu ke sini untuk membalaskan dendamnya kepadaku," gumam Arlan sambil tertunduk.
Asha menatap puncak kepala Arlan dengan kebencian yang mendidih di balik topeng V yang ia kenakan setiap hari. Tuhan tidak mengirimnya, tapi amarah dan keinginan untuk melihat Arlan membusuklah yang membawanya kembali ke menara terkutuk ini. Setiap tetes air mata yang ia tumpahkan di distrik Rust kini terasa terbayar saat melihat Arlan berlutut dalam penyesalan palsu.
"Jika saya adalah hukuman Anda, maka nikmatilah rasa sakitnya. Bukankah itu yang membuat hidup terasa lebih nyata?" ucap Asha dingin.
"Kau sangat dingin, V. Itulah yang membuatku semakin terobsesi untuk menaklukkanmu dan melupakan Asha selamanya," Arlan meraih tangan Asha.
Asha tidak menarik tangannya, ia membiarkan jemari Arlan yang gemetar menyentuh kulitnya yang halus namun mematikan. Sentuhan itu terasa seperti lintah yang mencoba mengisap sisa-sisa kewarasannya, namun ia tetap bertahan demi misi yang lebih besar. Kenangan tentang malam penyiksaan itu kembali berputar, namun kali ini ia adalah sang sutradara.
"Lupakan dia. Masa lalu hanyalah abu yang seharusnya Anda buang ke tempat sampah sejarah," kata Asha sambil membelai punggung tangan Arlan.
"Bantu aku, V. Bantu aku untuk menghapus bayangannya dengan kehadiranmu yang nyata di sampingku," mohon Arlan dengan nada memelas.
"Saya akan membantu Anda, Arlan. Tapi Anda harus tahu bahwa setiap bantuan yang saya berikan memiliki harga yang sangat mahal," Asha berbisik.
"Apapun. Aku akan memberikan apapun yang kau minta, asalkan kau tidak meninggalkanku seperti wanita-wanita lain di masa lalu," janji Arlan.
Asha tersenyum di dalam hati, menyadari bahwa ia baru saja mendapatkan kunci akses emosional paling dalam dari musuh bebuyutannya. Arlan telah membuka pintu rahasia jiwanya, membiarkan Asha masuk dan menanamkan benih kehancuran yang akan meledak nantinya. Kenangan yang menghantui Arlan akan ia gunakan sebagai cambuk untuk menggiring pria itu ke jurang kehancuran.
"Malam ini sudah cukup banyak rahasia yang terungkap. Saya rasa Anda butuh waktu untuk merenung sendirian," Asha berdiri perlahan.
"Jangan pergi sekarang. Tetaplah di sini sebentar lagi. Bau parfummu membuat bayangan Asha menjauh dari kepalaku," cegat Arlan dengan cemas.
"Kesabaran adalah kualitas yang sedang saya uji dari Anda, Arlan. Sampai jumpa di pertemuan audit besok pagi," Asha melangkah pergi.
Langkah kaki Asha yang menjauh di atas lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi kejayaan Arlan Valeska. Begitu ia keluar dari Penthouse, ia segera menyeka tangannya dengan tisu basah, membuang bekas sentuhan Arlan seolah itu adalah najis. Ia bersandar di dinding lift yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang tertahan selama percakapan tadi.
"Dia menceritakan penyesalannya, Paman. Pria itu benar-benar mengira kata 'maaf' bisa menghapus nyawa yang ia buang," ucap Asha ke perangkat komunikasi.
"Penyesalan adalah umpan terbaik bagi ikan yang sudah kelelahan, Nyonya. Teruslah menarik talinya sampai dia sesak napas," sahut suara nelayan tua.
Asha menatap bayangannya di cermin lift, melihat wajah V yang sempurna namun menyimpan jiwa Asha yang terluka parah. Pengakuan Arlan tidak membuatnya tersentuh, justru semakin meyakinkannya bahwa pria itu harus dihancurkan tanpa sisa. Tidak ada ruang untuk empati bagi seorang pengkhianat yang mencoba menggunakan rasa bersalah sebagai alat rayuan.
"Dia bilang aku mengingatkannya pada Asha. Dia tidak tahu bahwa Asha yang dia kenal sudah lama mati dan terkubur bersama janinnya," desis Asha pelan.
Di dalam Penthouse, Arlan masih terpaku di sofa, menatap gelas wiskinya yang kosong dengan tatapan hampa yang menyedihkan. Ia merasa seolah-olah baru saja berbicara dengan hantu masa lalunya sendiri, namun dalam wujud yang jauh lebih berkuasa. Obsesinya pada V mulai bercampur dengan rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan secara logika.
Malam semakin larut di Neovault Metropolis, namun bagi dua jiwa yang sedang berperang ini, kegelapan barulah sebuah permulaan. Arlan akan terus dihantui oleh kenangan yang ia buat sendiri, sementara Asha akan terus menenun jaring laba-laba kehancuran. Kenangan yang menghantui bukan lagi sebuah rahasia, melainkan senjata yang siap meledakkan Menara Neovault.
"Aku akan memilikimu, V. Dan saat itu tiba, Asha tidak akan lagi memiliki kuasa atas pikiranku," sumpah Arlan di tengah kesunyian malam.
Di kejauhan, petir menyambar langit distrik Rust, seolah memberikan tanda bahwa badai besar akan segera datang menyapu segala kebohongan. Asha kembali ke persembunyiannya dengan data baru di kepalanya, siap untuk menyusun langkah selanjutnya yang lebih mematikan. Kenangan yang menghantui kini telah menjadi milik V, dan ia tahu persis bagaimana cara menggunakannya.
Arlan Valeska telah membuat kesalahan terbesar dengan membuka hatinya pada seorang algojo yang sedang menyamar sebagai dewi penyelamat. Ia tidak sadar bahwa setiap kata penyesalannya adalah paku tambahan yang ditancapkan Asha ke dalam peti mati kariernya. Neovault sedang menyaksikan sebuah tragedi klasik yang dibungkus dengan kemewahan korporat yang dingin.
"Tidurlah dengan penyesalanmu, Arlan. Karena besok, aku akan memberimu alasan baru untuk menangis darah," gumam Asha sebelum memejamkan mata.
Malam itu, aroma wiski dan mawar masih tertinggal di ruangan, menjadi saksi bisu dari sebuah pengakuan yang akan menghancurkan sebuah kerajaan. Arlan tetap terjaga, sementara Asha memimpikan hari di mana ia melihat Menara Neovault runtuh menimpa pria yang paling ia benci. Kenangan itu tidak akan pernah pergi sampai keadilan yang sesungguhnya telah ditegakkan dengan darah.