Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
**
Sejak kejadian di ruang gym, Juli mantap mengambil peran baru dalam hidupnya: jadi penjaga jarak.
Bukan karena homofobia, tapi karena peduli. Ia takut Kimi terus berharap pada Ruby tanpa kepastian, dan berakhir patah hati berkepanjangan.
"Ini namanya perjuangan," kata Kimi suatu sore, sambil mengunyah roti isi cokelat.
"Berjuang sendirian tuh enak banget ya, Kim?" Juli menatapnya tajam, "Dari awal lo mulu yang ngejar, lo mulu yang nyamper. Sekarang biarin aja. Kalau dia emang gak suka lo, dia bakal adem-adem aja kan. Toh lo juga masih saling nyapa kalau ketemu di depan kamar."
Kimi menggigit bibir, mau protes tapi kehabisan alasan. Soalnya, ya, ada benarnya juga.
Bukannya Kimi menyerah, tapi rasa penasarannya lebih besar dari egonya. Benarkah Ruby tidak punya perasaan apa-apa? Tapi bukankah waktu itu Ruby sempat bilang mereka tetap bisa berteman setelah selesai pelatihan? Bahkan sampai kasih nomor telepon.
Kimi berpikir itu artinya masih ada harapan kecil kan?
Sementara itu, Ruby malah ber juang di sisi lain, melawan rasa kosong yang makin terasa.
Sejak 'insiden penolakan' itu, Kimi tak pernah lagi main ke kamarnya. Cewek Teddy itu sekarang lebih sering nongkrong di kamar Juli. Ruby mulai berpikir aneh-aneh.
Apa sekarang Kimi jadi suka Juli?
Bukan mustahil, apalagi Juli sudah 'resmi' pindah kubu. Dan kalau memang begitu, yah, Ruby tak yakin bisa bersikap santai lagi.
Karena pikiran itu terus mengganggu, Ruby akhirnya nyeletuk ke Agus yang tak sengaja berpapasan di tangga.
"Gus, voucher jalan-jalan waktu itu masih bisa dipakai gak? keburu pelatihan kelar."
Agus mengangkat kepala setengah malas. "Masih. Lo mau pake?"
"Boleh."
Agus menguap, "Yaudah. Gw ikut. Kebetulan udah mulai bosen liat lo sama Anela."
Cuma segitu pembicaraan mereka, tapi cukup untuk memicu trip dadakan itu.
~
Dan begitulah, hari ini mereka bertiga sudah duduk di mobil menuju kota terdekat.
Agus menyetir, Ruby di sebelahnya, sementara Kimi duduk sendirian di belakang dengan wajah cerah tapi bibir cerewet. Satu mobil staf keamanan mengikuti dari belakang seperti bayangan setia.
Begitu sampai di kota, suasana langsung pecah. Selera Kimi dan Agus ternyata seperti langit dan dasar laut.
"Aku gak suka alat musik, Gus. Aku mau ke toko boneka," rengek Kimi setelah dari tadi Agus dan Ruby hanya mengikuti maunya.
"Yaudah, ke toko boneka dulu, abis itu ikut gw," Agus mencoba berdamai.
"Gak mau. Aku bilang gak suka alat musik, abis ini ke kebun bunga aja," Kimi menolak mentah-mentah.
Agus memutar mata. "Kim, dari tadi lo mulu yang ngatur. Ini bukan jalan-jalan bareng, ini mah nemenin lo shopping."
Ruby yang sedari tadi diam akhirnya angkat suara. "Waktu kita gak banyak. Gw juga ada tempat yang mau gw datengin."
Agus mendesah, merasa dikepung dua manusia dengan misi berbeda. Sisa waktu mereka cuma dua jam sebelum harus balik ke asrama, dan kalau salah satunya ngambek, ya tamat sudah harinya.
"Kita mencar aja," kata Kimi akhirnya.
Agus langsung menggeleng keras. "Gak bisa. Nanti lo nyasar, repot."
"Gw mau ke toko hape di sebelah toko boneka, " Ruby menimpali datar tanpa banyak ekspresi. "Ntar gw yang pantau dia."
Agus melirik curiga. "Yakin lo cuma 'mantau'?"
"Kalau gak percaya yaudah. Lo temenin Kimi, gw pergi sendiri."
Agus menggaruk kepala, bingung sendiri. Tapi setelah memperhatikan Kimi yang dari tadi bersikap biasa saja pada Ruby, sepertinya ia bisa sedikit longgar. Lagipula kalau terus bersama, keinginannya sendiri tak akan kesampaian.
"Yaudah, Gw ke sana dulu ya. Kim, lo hati-hati.
Kalau ada apa-apa, telepon gw," kata Agus sebelum berpisah.
Kimi mengangguk cepat. Senyumnya lebar, bukan karena Agus pergi, tapi karena akhirnya ponselnya bisa kembali berfungsi di tempat ini.
Mereka pun berjalan berdua. Kimi di depan, Ruby di belakang, tapi tak ada yang tahu senyum tipis di bibir Ruby. Ia memang sengaja menyusun semua ini agar Agus tidak curiga dan setuju mereka berpisah,
Begitu sampai di toko boneka, Kimi menoleh bingung. "Kamu kok ikut ke sini? Bukannya mau ke sebelah?"
Ruby pura-pura sibuk menatap boneka lumba-lumba raksasa. "Gw juga suka boneka. Nanti abis dari sini baru ke sana,"
Kimi cuma mengangguk. Tapi lama-lama, ke mana pun ia melangkah, Ruby selalu satu langkah di belakang. Seolah-olah Ruby lebih tertarik mengikuti dia dari pada belanja apa pun.
"By, liat deh. Ini boneka kenapa mukanya galak banget," katanya sambil menunjuk boneka Angry Bird.
Ruby melirik malas. "Iya. Mirip lo banget kalau lagi ngambek."
Kimi mendelik. "Aku ngambek juga tetep imut tau."
"Enggak. Sekarang aja udah mirip kayak gitu. Ada kaca gak ya?" Ruby celingukan.
Kimi mendengus, tapi Ruby malah terkekeh jahil.
"Uby, liat. Yang ini gak punya idung."
"Mirip lo juga nih. Idung seada-adanya."
"Idungku nongol ya. Jangan bikin aku insecure deh."
Ruby terkekeh kecil, lalu matanya berhenti di boneka hello kitty warna pink. Terlalu imut buat seleranya, tapi entah kenapa malah mengingatkannya pada orang di sebelahnya.
Kimi akhirnya memilik boneka Teddy kecil, katanya biar Mr. Bear di kamarnya ada teman ngobrol.
"Udah segitu doang belanjanya?" tanya Ruby saat mereka menuju kasir.
"Iya. Banyak-banyak repot bawa pulangnya. Nanti abang bisa ngomel," jawab Kimi santai.
Ruby melirik ke boneka Teddy besar yang sedari tadi dilirik Kimi. "Kecil gini doang?"
Kimi refleks menoleh ke boneka besar itu lagi, lalu cepat-cepat menggeleng.
"Iya, yang ini aja," katanya mantap. Dalam hati:
yang itu mahal, By, Mahal banget.
Ruby diam sebentar, lalu dengan ekspresi tanpa dosa langsung mengambil Teddy besar itu dan membawanya ke kasir.
"Kamu beli juga? Gak kegedean, By?" tanya Kimi heran, karena tahu Ruby tak pernah punya boneka di kamarnya.
"Iya," jawab Ruby santai. "Buat gw gebukin kalau lagi kesel."
Kimi meringis. Tapi wajahnya makin heran waktu Ruby ikut membayar boneka Teddy kecilnya juga. "Uby, kenapa malah dibayarin?"
Ruby mengangkat alis, wajahnya polos tapi senyumnya nyebelin, "Gak apa-apa. Kan gw kaya."
Kimi hampir mau protes, tapi Ruby sudah menambahkan, "Yang ini buat lo juga. Udah, ayo. kita ke kebun bunga sebelum waktunya habis."
Kimi bengong, tapi akhirnya cuma mengikutinya ke mobil. Baru setelah Ruby menyalakan mesin dan mobil meluncur keluar parkiran, Kimi akhirnya sadar.
"Lah, By. Agus ditinggal?"
"Dia masih mau keliling," jawab Ruby santai.
Ia melirik ke spion. Mobil staf masih setia membuntuti, tapi entah kenapa, senyumnya malah muncul lagi.
Ia memang tidak suka boneka. Tidak suka bunga juga. Tapi dengan Kimi duduk di sebelahnya, semua hal yang tadinya tidak ia sukai, tiba-tiba terasa..
Menyenangkan.