Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teror yang berkelanjutan
"Ampun... tolong ampunkan aku...."
Nonok terus meringsek mundur.
Tubuhnya penuh luka.
Dia yang tadinya dengan lantang dan congkak masuk kedalam hutan pinus bersama dua orang rekannya, yaitu Sukir dan Jojo kini tak punya nyali sama sekali.
Mereka bertiga dengan senjata masing-masing masuk kedalam hutan pinus.
Tujuan mereka adalah rumah mbah Djani yang mereka curigai sebagai dalang teror dikampung ini.
Bukannya bertemu dengan mbah Djani, ketiganya justru bertemu dengan gadis cantik yang tak lain adalah Maharani.
Rani yang hanya memakai kemben sebagai atasan dan kain jarik yang dililit asal hingga memperlihatkan pahanya yang putih bersih sedang menyapu halaman.
Dirinya bukan tidak tahu akan kedatangan ketiga lelaki tersebut, tapi Rani hanya ingin memancing ketiga dengan nyanyian merdu yang biasa di pakai untuk memancing korbannya.
Gayung bersambut.
Ketiganya masuk perangkap.
Melihat ada perempuan cantik dengan pakaian minim tentu mengundang nafsu jahat bagi ketiganya.
Baru saja ketiga hendak melancarkan aksinya, para penjaga Rani telah lebih dulu melindunginya.
Jojo terpental jauh setelah dihempas oleh makhluk yang menyerangnya.
Makhluk berbadan tegap, tinggi besar itu melempar Jojo keudara seperti sedang melempar bola karet.
Jojo meninggal seketika karena punggungnya menghantam pokok kayu yang besar.
D*rah mengucur deras dari mulutnya.
Lain lagi dengan Sukir.
Laki-laki itu diseret sejauh 2 kilometer dari gubuk dan dibuang keluar dari hutan pinus lalu dibiarkan saja tergeletak dijalanan seperti tikus yang tak sengaja dilindas kendaraan lewat.
Tubuh Sukir penuh dengan luka.
Kini tinggal Nonok yang terus memohon ampun.
Rani berubah jadi makhluk yang menyeramkan.
Taringnya panjang.
Matanya merah. Badannya hitam seperti kayu yang hangus terbakar.
Aroma nafasnya busuk seperti bangkai.
Kuku-kuku panjang dan runcing siap mencabik-cabik seluruh tubuh Nonok.
Bola mata Nonok hampir saja melompat keluar ketika Rani berubah wujud tepat dihadapannya.
Dirinya belum pernah bertemu dengan makhluk seperti itu seumur hidupnya.
Bahkan mendengar cerita dari orang-orang pun belum pernah.
"Tolong.... ampuni aku..." cicitnya ketakutan. Memohon akan nyawa yang sebentar lagi meninggalkan raga yang selalu berbuat maksiat.
Rani tersenyum tipis tapi tetap mengerikan.
Matanya mengedip pelan seperti pemb*n*h berd*rah dingin.
"Mengampuni mu???" tanyanya mengejek.
Nonok mengangguk cepat.
Rani mendengkus.
"Dulu aku juga meminta hal yang sama pada kalian. Tapi kalian tidak menggubris permohonanku... Bahkan kalian terus saja melakukannya lagi... dan lagi... Tubuhku sakit... Perutku juga sangat sakit, tapi kalian teruuus saja memperk*s*ku.... Dan lebih kejamnya lagi...."
Rani terus berjalan kearah Nonok terus beringsut mundur.
"Kalian bahkan menguburku dalam keadaan masih bernafas lalu membakar gubuk itu guna menghilangkan jejak..... Apa tindakan kalian itu tidak terbilang kejam haah?" ucap Rani dengan suara rendah tapi dingin seolah-oleh lewat kata-kata tersebut bisa membun*h Nonok seketika.
"Maafkan aku...Aku hanya diperintah oleh kekasihmu, Andrean" aku Nonok.
Rani tidak perduli. "Habislah kau laki-laki jahat!"
Dendam itu sudah mendarah daging dan menyatu pada jiwanya.
Nonok tetap berakhir memilukan sama seperti Tedy.
Para dedemit berpesta pora dengan persembahan dari Rani.
Kekuatannya juga semakin bertambah.
Mata itu masih berkilat marah.
Satu orang lagi yang akan menjadi korban selajutnya.
"Tunggu aku Andrean...." lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, warga kampung dikejutkan dengan penemuan jas*d yang cukup mereka kenali.
Sukir tergelatak bersimbah d*rah di pinggir jalan sekitar hutan pinus.
Warga berbondong-bondong melihat kondisinya setelah mendapat kabar dari salah satu orang yang melihat j*sad Sukir pertama kali.
Pihak kepolisian juga turut hadir dan langsung mengecek lokasi.
"Tio? Apa yang kau lihat?" tegur salah seorang penyidik senior pada laki-laki yang menjadi komadan mereka.
Tio menoleh sebentar lalu kembali menatap lebatnya hutan pinus. Dia baru saja dipindah tugaskan ke desa Lestari beberapa hari lalu dan belum tahu banyak cerita tentang hutan pinus tersebut.
"Apa ini karena kecelakaan tunggal dan penabrak kabur?" duga Hasan, salah satu penyidik senior rekan Tio.
Tio tak langsung menjawab. Kepalanya kembali menoleh kearah Sukir yang sudah ditutupi selembar kain sambil menunggu mobil ambulance tiba.
"Jika dilihat dari luka-lukanya, ini bukan kasus tabrak lari. Ada satu kekuatan besar yang kita orang awam tak bisa menembusnya..." ucapnya kemudian.
Kening pak Hasan berkerut.
"Hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakannya... Jangan memaksakan diri" Tio menepuk dada pak Hasan dan kembali pada j*sad Sukir.
Tangannya bergerak membuka kain penutup wajah Sukir.
Entah apa yang dipikirkan oleh Tio karena dia hanya menatap dalam diam tubuh Sukir.
Tak lama, ambulance tiba lalu membawa j*sad Sukir ke puskesmas untuk di selidiki lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Seketika desa Lestari gempar.
Yang semula dianggap gosip dan tidak ada yang percaya kini mulai dipahami oleh warga desa.
Banyak para orangtua yang melarang putra mereka melewati hutan pinus karena tak ingin berakhir sama dengan apa yang menimpa Sukir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kemana saja kau beberapa hari ini? Kenapa kau seperti laki-laki liar yang tak memiliki pekerjaan" tegur pak Herman ketika melihat Andre yang baru saja pulang kerumah orangtuanya.
Andre menanggapi dengan malas amarah pak Herman.
"Sudahlah yah... Jangan ikut campur urusanku!" sahut Andre malas.
Pak Herman baru saja akan mengeluarkan kata-kata pedas namun terhenti karena ada salah satu warganya yang datang.
Utusan warga tersebut mengatakan peristiwa yang terjadi di tepi hutan pinus.
"Pak... Kita harus bertindak. Teror ini sudah banyak merenggut warga desa. Kita harus minta orang pintar untuk menaklukkannya" ujar salah seorang warga bernama Tejo.
"Kenapa orang pintar? Bukankah sudah ada polisi yang bertugas mencari tahu" sela Andre yang ikut menyimak.
"Menurut salah satu pengakuan warga, mereka hampir beberapa kali terkena tipu daya nyanyian seorang perempuan dari hutan pinus. Kata mereka, perempuan itu berambut panjang, kulit putih bersih dan memakai kebaya hitam serta kain jarik. Perempuan itu cantik sekali dan sering bernyanyi ketika hari mejelang petang.... Dan apakah pak Herman ingat kejadian beberapa tahun lalu tentang kisah dukun beranak bernama mbah Djani?" tanya warga pada pak Herman.
Ingatan pak Herman kembali ditarik pada masa belasan tahun lalu atau tepatnya lima belas tahun lalu tentang kisah mbah Djani yang di tuding oleh warga sebagai dukun pemakan janin demi ilmu agar tetap awet muda.
"Siapa mbah Djani yah?" lagi Andre menyela dengan keinginan tahuan yang cukup besar.
"Dia seorang dukun yang menggunakan janin bayi untuk ilmu agar dirinya tetap awet muda... Dia tinggal di dalam hutan pinus. Tapi, sejak beberapa tahun lalu, mbah Djani sudah tak terlihat bahkan akses menuju gubuknya pun sudah tak terlihat karena terblokir oleh akar-akar pohon yang kuat.... Tapi ayah juga belum yakin jika ini ulah mbah Djani. Karena setahu ayah, sudah tidak ada lagi ibu hamil atau janin yang meninggal mendadak. Kejadian Meri ini adalah yang pertama kali sejak belasan tahun terakhir...." jelas pak Herman.
"Tapi pak... Dari desa sebelah juga pernah kejadian seperti ini beberapa bulan lalu... Dan putrinya pak Rahman yang hingga kini belum ditemukan dimanapun. Apa itu tidak bisa kita jadikan sebagai tanda-tanda?" tutur Tejo.
"Maharani ya...??" ulang pak Herman dalam gumaman.
Tubuh Andre mendadak tegang kala nama itu kembali disebut setelah sekian lama hilang dalam ingatan.
"Tapi apa mungkin mbah Djani pelakunya?" ragu pak Herman.
"Kita harus selidiki ini pak, demi keamanan warga dan nama baik kampung kita..." tegas Tejo yang merupakan ketua pemuda kampung.
"Baiklah... Tapi kita tetap melibatkan pihak kepolisian karena ini sudah menyangkut nyawa. Saya tidak ingin kalian akan jadi korban berikutnya...." ucap pak Rahman menyetujui usulan Tejo barusan.
Andre masih terpaku.
Otaknya terus menolak kenyataan jika Rani ikut terlibat.
Tapi dengan kemat*an Tedy, lalu Nonok sudah bisa dipastikan ini ada sangkutannya dengan Rani.
Bisa saja wanita tua bernama mbah Djani itu memanfaatkan raga Rani dendamnya.
Dan perempuan cantik yang pernah Andre temui juga bisa jadi jelmaan perempuan itu.
bersambung....