Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Rombongan Mobil Halim
Aspal kasar nan dingin ini menyerap habis sisa tenaga motoriknya yang terakhir. Sabrina akhirnya menelentangkan tubuhnya pasrah. Langit malam di atasnya tertutup kabut tebal pekat, tidak ada satu pun cahaya bintang yang berhasil menembus. Ia mulai kesulitan menarik napas panjang. Paru-parunya terasa menyempit akibat penurunan suhu tubuh yang ekstrem.
Tiba-tiba, lampu kuning halogen samar menembus kabut dari arah bawah tikungan tajam kejauhan.
Cahaya itu bergerak cepat menyapu aspal basah. Suara deru mesin mobil berkapasitas besar memecah kesunyian alam dengan memekakkan telinga. Gesekan ban berpadu dengan aspal jalanan Puncak.
"Mobil," bisik Sabrina parau. Tangan kirinya mengusap pipi Sebastian lambat. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Kita selamat, Bocah."
Empat mobil hitam melaju membelah kabut malam dari arah Cianjur.
Lampu halogen kuning menembus pekatnya uap air, menyapu permukaan aspal yang basah dan licin. Di dalam kabin Range Rover baris kedua, Adrianus Halim mengetukkan jemarinya pada layar tablet yang menyala. Grafik berwarna merah meluncur tajam ke bawah. Indeks saham Tanjung Group anjlok lima persen sejak penutupan pasar sore tadi.
"Cari sampai ketemu," suara Adrian berat, bergetar karena emosi yang tertahan. "Istriku bukan barang murah yang bisa hilang begitu saja di tengah hutan."
"Kami sudah menyisir koordinat terakhir dari sinyal ponsel Nyonya Sabrina, Pak." Sopir di depan menjawab tanpa berani menoleh. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Tapi daerah Puncak sedang tertutup kabut tebal. Sinyal terputus di area lereng."
Adrian melempar tabletnya ke jok kulit di sampingnya. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Baginya, Sabrina Tanjung adalah investasi strategis. Sebuah kunci emas untuk menguasai kursi direksi Tanjung Group secara mutlak. Jika perempuan itu mati sebelum dokumen pengalihan aset ditandatangani, rencana ekspansinya akan berantakan menjadi abu.
"Kania Tanjung pasti terlibat," desis Adrian. Matanya menatap tajam ke luar jendela yang buram. "Perempuan itu terlalu berambisi untuk ukuran seorang anak angkat."
Di bahu jalan yang gelap, Sabrina Maureen mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Cahaya lampu mobil yang mendekat membuat matanya perih. Ia merasakan getaran mesin merambat melalui aspal kasar ke tulang punggungnya yang retak. Darah dari telapak tangannya yang sobek oleh kawat berduri telah membeku sebagian, meninggalkan rasa kaku yang menyakitkan.
Ia menyeret tubuhnya lebih dekat ke tepi aspal. Rahimnya terasa ditarik paksa dari dalam. Nyeri pascamelahirkan itu bukan lagi sekadar denyut, melainkan serangan panas yang membakar seluruh panggulnya.
"Napas, Sebastian," bisiknya parau. Suara yang keluar dari tenggorokannya nyaris tak terdengar, tertutup oleh deru angin gunung.
Ia merasakan gerakan kecil di bawah kain flanel kotor itu. Detak jantung bayi di dadanya terasa seperti pengingat bahwa ia belum boleh menyerah pada kegelapan. Sebastian adalah pusat gravitasinya. Selama anak itu bernapas, Maureen tidak akan membiarkan tubuh Sabrina ini roboh.
Sopir mobil terdepan mendadak menginjak rem. Suara decit ban yang beradu dengan aspal basah memekakkan telinga.
"Pak, ada orang di bahu jalan," lapor pengawal lewat radio komunikasi.
Adrian menyipitkan mata. Melalui kaca depan yang disapu wiper, ia melihat sosok manusia yang meringkuk di bawah cahaya redup lampu jalan. Sosok itu terlihat awut-awutan. Rambut panjangnya kusut, gaun putihnya berubah menjadi kain merah tua yang koyak di banyak tempat.
"Berhenti," perintah Adrian singkat.
Ia tidak butuh waktu lama untuk mengenali postur tubuh itu. Sabrina. Namun, pemandangan di depannya sama sekali tidak sesuai dengan ingatan tentang istrinya yang lemah dan selalu gemetar ketakutan.
Sabrina Maureen mendongak. Di bawah sorot lampu mobil yang menyilaukan, matanya berkilat tajam. Tidak ada air mata. Tidak ada rintihan minta tolong yang cengeng. Yang ada hanyalah tatapan serigala terluka yang siap merobek tenggorokan siapa pun yang berani mendekat.
Adrian turun dari mobil. Sepatu kulit mahalnya menginjak aspal yang dingin. Ia berdiri beberapa meter dari Sabrina, membiarkan kabut tipis menyelimuti tubuhnya yang tegap. Aroma tajam amonia dari kemeja flanel yang membalut tubuh Sabrina menusuk saraf penciumannya, bercampur dengan bau besi dari darah segar.
"Sabrina?" Adrian memicingkan mata. Suaranya penuh dengan nada merendahkan. "Lihat dirimu. Kau terlihat seperti aset rusak yang habis dibuang ke tempat sampah."
Sabrina tidak menyahut. Ia hanya mempererat dekapan tangan kirinya pada buntalan di dadanya. Perih di telapak tangan kanannya yang sobek membuat jarinya gemetar, tapi ia tetap menggenggam sisa kekuatan motoriknya.
"Apa itu di dadamu?" Adrian melangkah satu tindak lebih dekat. "Kania bilang kau keguguran karena stres."
"Kania berbohong," suara Sabrina keluar dingin, tajam seperti belati yang ia gunakan untuk membantai Haryo tadi. "Dan kau terlalu bodoh karena mempercayainya."
Adrian tertegun sejenak. Nada bicara itu asing. Istrinya tidak pernah bicara dengan otoritas seperti itu. Ia menatap bercak darah yang mengering di wajah Sabrina, lalu turun ke arah paha perempuan itu yang basah oleh cairan merah pekat.
"Kau melahirkan di hutan ini?" Adrian tertawa sumbang, sebuah tawa kering tanpa emosi. "Luar biasa. Kau benar-benar inkubator yang gigih."
"Jangan mendekat, Adrian," ancam Sabrina. Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit di jalan lahirnya membuat ia kembali terduduk di aspal. Napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang pucat.
"Jangan keras kepala. Kau butuh aku untuk menyelamatkan sisa nyawamu," Adrian memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mendekat. "Ambil anak itu. Aku ingin lihat apakah dia layak menjadi ahli waris Halim."
"Sentuh dia, dan kupastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang pena lagi," desis Sabrina. Ia menunjukkan telapak tangannya yang sobek berdarah, namun posisinya sudah siap untuk menyerang titik saraf di leher Adrian jika pria itu berani merampas Sebastian.
Adrian berhenti. Ia melihat kilat di mata istrinya. Itu bukan ketakutan. Itu adalah kegilaan murni yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah pernah melihat neraka. Ia teringat kembali pada dokumen saham yang harus ditandatangani. Baginya, Sabrina yang terluka ini tetaplah properti berharga.
"Kau masih berguna bagiku, Sabrina," Adrian merapikan jasnya yang sedikit basah karena kabut. "Bawa dia ke mobil. Pastikan bayi itu tidak mati sebelum kita sampai di Jakarta."
Sabrina merasakan kesadarannya mulai tipis di tepian jurang kelelahan. Suhu tubuhnya turun drastis. Nyeri di rahimnya kini berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Ia menatap bayangan Adrian yang berdiri angkuh, seorang pria yang menganggap dunia hanya sekadar angka dan aset.
Di dalam dekapannya, Sebastian bergerak pelan. Napas bayi itu masih hangat di kulit dada Sabrina. Itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap terjaga.
"Ibu di sini," bisiknya untuk terakhir kali sebelum visinya mulai berbayang.