Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: "Ayah, Itut!", Tatem, Onat, & Tidur Pulas di Punggung Ayah
Sore itu, aku baru saja mengambil kunci motor dari gantungan di dinding, berniat sebentar ke warung dekat rumah. Belum sempat aku melangkah keluar pintu, telinga tajam Balqis sudah menangkap suara kunci yang bergemerincing.
Dari dalam kamar, terdengar suara langkah kaki tertatih-tatih yang semakin lama semakin cepat. Lalu, Balqis muncul di ruang tengah, matanya langsung tertuju pada helm yang ada di tanganku.
Wajahnya langsung berubah memelas. Bibirnya ditekuk, tangannya teracung-acung ke arahku, suaranya merengek manja yang bikin hati luluh seketika:
“Ayah… itut! Balqis itut!”
Aku tertawa geli. “Balqis mau ikut Ayah ke warung? Tapi cuma beli sabun sama gula lho, Dek.”
“Nggak apa-apa! Balqis mau itut!” rengeknya lagi, kali ini kakinya mulai menghentak-hentak kecil. “Naik motor! Vroom vroom!”
Aku menyerah. Bagaimana bisa menolak rengekan seimut itu? Lagipula, sore ini memang cerah.
“Oke, oke. Tapi Balqis harus pakai helm sendiri ya. Dan sandal yang bagus.”
Mendapat lampu hijau, wajah Balqis langsung berubah cerah. Dia lari ke rak sepatu, mengambil sepasang sandal mungil berwarna pink bergambar kelinci. Dengan susah payah, dia memasangnya sambil bergumam, “Cepat-cepat, Yah! Nanti motornya pergi!”
“Nggak bakal pergi kalau nggak ada Balqis,” jawabku sambil memasangkan helm kecil berwarna kuning di kepalanya.
Begitu siap, Balqis langsung berjalan tertatih-tatih menuju pintu dengan semangat membara. “Ayo, Yah! Itut!”
Di halaman, aku mendudukkannya di depan jok motor, di antara kedua lenganku. Balqis memegang stang motor dengan erat, wajahnya sumringah seolah-olah dia yang akan menyetir.
“Pegang erat-erat ya, Dek. Kita jalan pelan saja.”
“Siap, Yah!” serunya bangga.
Mesin motor dinyalakan. Vroom!
Balqis langsung berteriak senang, “Cepat, Yah! Cepat!”
Perjalanan ke warung terasa seperti petualangan epik baginya. Angin sore menerpa wajah kami, rambut Balqis berkibar-kibar lucu. Setiap kali motor melewati polisi tidur, dia akan berteriak, “Wuuus! Terbang, Yah!”
Sesampainya di depan warung, hal pertama yang dilakukan Balqis bukan turun, tapi menunjuk ke arah gerobak es krim dan donat. Matanya berbinar-binar.
“Ayah! Tatem! Onat!” teriaknya antusias.
Aku mematikan mesin, lalu mengangkatnya turun. Kakinya mendarat di tanah dengan mantap, sandal mungilnya menginjak aspal. Dia langsung menarik tanganku kuat-kuat menuju gerobak.
“Sana, Yah! Beli Tatem! Beli Onat!”
Penjual es krim tertawa melihat Balqis yang masih memakai helm kuningnya. “Wah, siapa ini? Kok helmnya belum dibuka? Mau pesan apa, Adik?”
Balqis menoleh padaku, lalu kembali ke penjual, mengucapkan mantra saktinya: “Tatem! Cokelat! Sama Onat!”
“Iya, Mas. Satu es krim cokelat dan satu donat gula ya,” pintaku sambil terkekeh.
Saat es krim dan donat diserahkan, Balqis hampir tidak sabar. Dia langsung meraih eskrimnya, tapi tiba-tiba berhenti. Dia menoleh padaku, lalu menyodorkan es krim itu ke mulutku.
“Makan, Yah! Bagi Ayah. Soalnya Ayah udah antar Balqis itut.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak haru. Dia ingat jerih payah Ayah mengantar dia.
Aku mengambil sedikit hapusan es krim. “Enak sekali, Dek. Terima kasih sudah ajak Ayah jalan-jalan.”
Balqis tertawa puas, lalu mulai melahap 'Tatem'-nya dengan lahap. Wajahnya belepotan cokelat, helm kuningnya sedikit ternoda, tapi dia tampak seperti putri paling bahagia di dunia. Donat 'Onat'-nya juga digigit setengah, lalu disodorkan lagi.
“Onat-nya juga enak, Yah! Besok kita itut lagi ya?”
“Iya, sayang. Kalau Balqis rajin, besok kita naik motor lagi,” janjiku.
***
Perjalanan pulang dimulai. Awalnya Balqis masih riang berteriak “Vroom vroom!”. Tapi seiring berjalannya waktu, angin sore yang sejuk dan perutnya yang kenyang mulai membuat kelopak matanya berat.
Teriakan “Vroom” perlahan menghilang. Genggaman tangannya di stang motor mulai melonggar. Kepalanya yang tadi tegak menatap jalan, perlahan-lahan mulai mengangguk-angguk, lalu akhirnya... bersandar lemas di dada ku.
Aku menoleh sedikit ke bawah. Balqis sudah tidur.
Matanya terpejam rapat, napasnya teratur dan halus. Pipinya yang masih ada sisa cokelat es krim menempel di jaket ku. Helm kuningnya sedikit miring, tapi aku biarkan saja karena takut membangunkannya.
Dia tidur begitu pulas. Begitu percaya.
Di atas motor yang bergerak, di tengah jalan raya, dia memilih untuk tidur karena tahu Ayahnya ada di belakangnya, melindunginya dengan kedua lengan. Tidak ada rasa takut, hanya rasa aman yang mutlak.
Hatiku meleleh. Aku memperlambat laju motor, menghindari lubang dan polisi tidur sebisa mungkin agar guncangannya tidak mengganggu tidur si kecil.
Sesampainya di rumah, aku mematikan mesin dengan sangat pelan. Hening.
Balqis masih tidur. Tidak terbangun sedikit pun.
Aku turun dari motor dengan hati-hati, lalu mengangkat tubuh mungilnya. Ringan sekali. Dia masih memeluk erat donat 'Onat' yang belum habis di tangan kirinya, sementara tangan kanannya melingkar di leherku.
Dengan langkah pelan, aku membawanya masuk ke rumah, menyusuri lorong, dan langsung menuju kamarnya.
“Balqis… bangun dulu sebentar, Nak. Ganti baju dulu,” bisikku pelan saat meletakkannya di kasur.
Balqis hanya mengerang pelan, matanya terbuka sedikit—hanya sekadar celah kecil. Bulu matanya bergetar, menunjukkan betapa ngantuknya dia. Tatapannya kosong, tidak fokus, penuh dengan kabut tidur.
“Ngantuk, Yah…” gumamnya parau, suaranya serak karena mengantuk berat. Matanya segera terpejam lagi sebelum aku sempat melepas helmnya sepenuhnya.
Aku tersenyum sedih sekaligus bahagia. “Iya, sayang. Tidur saja. Ayah yang lepasin helmnya. Ayah yang gantiin bajunya.”
Dengan gerakan super lambat dan lembut, aku melepas helm kuningnya, mengganti piyama bersih, dan menyelimutinya. Balqis sudah kembali tidur bahkan sebelum tubuhnya sepenuhnya terbaring rapi. Tangannya masih mencari-cara tangan ku, dan ketika berhasil menggenggam jari telunjukku, dia menghela napas panjang, tanda benar-benar rileks.
“Ayah… jangan pergi…” bisiknya dalam tidur.
“Ayah nggak pergi, Dek. Ayah di sini. Sampai Balqis bangun,” jawabku berbisik, sambil mengelus punggungnya pelan.
Aku duduk di tepi kasur, menatap wajah tidurnya yang damai. Dari anak yang tadi pagi penuh energi, merengek minta ikut, tertawa menikmati es krim, hingga akhirnya tertidur pulas di pelukan Ayah. Ini adalah siklus hari-hari kami. Sederhana, tapi penuh cinta.
Dalam hati, aku berbisik doa: Ya Allah, terima kasih untuk Balqis. Untuk rengekan “itut”-nya, untuk tatem dan onat-nya, dan untuk kepercayaan besarnya untuk tidur pulas di atas motor dan di pelukan Ayah. Jadikanlah aku ayah yang selalu bisa memberikan rasa aman ini, sampai dia besar nanti.
Malam itu, setelah memastikan Balqis tidur nyenyak, aku membuka laptop. Saya harus menulis bab ini. Saya harus abadikan sore di mana kata "Itut", "Tatem", "Onat", dan helaan napas tidur Balqis menjadi simbol cinta tanpa syarat antara ayah dan anak.
Satu bab lagi selesai.
Sembilan belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 1 LANGKAH LAGI! Kontrak sudah di depan mata!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan kirimkan keajaiban melalui tidur pulas seorang anak di punggung ayahnya.
Dan aku tahu—pembaca akan menangis haru membaca ini.
Karena mereka juga pernah menggendong anak mereka yang tidur dalam keadaan ngantuk berat.
Dan mereka rindu momen sederhana itu.