"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Benar saja, pagi-pagi sekali Riki sudah duduk manis di atas motor warna pink milik Diana — motor yang kemarin ia bawa pulang dengan penuh gaya dan sedikit ketakutan karena cerita hantu semalam.
Dia duduk santai sambil memainkan ponsel, terlihat seperti cowok cool… kalau saja warna motornya bukan pink terang dengan stiker kelinci di spion.
Tak lama, Diana keluar dari rumah sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit acak-acakan. Melihat Riki yang sudah datang duluan, dia mengerutkan alis.
“Pagi amat, tumben. Kesambet ya Lo?” sapa Diana sambil membuka pagar.
Riki menyelipkan ponselnya ke saku dan menjawab santai, “Kan gue udah bilang, sekalian sarapan di luar. Lagian gue juga seneng naik motor pink lo ini, berasa jadi putri duyung.”
Diana mendecak sambil memasang helm. “Putri duyung apaan, lo mah kayak tuyul naik skuter.”
Riki ngakak, dan mereka pun berangkat berdua menuju warung sarapan langganan mereka — tempat yang tidak mewah, tapi makanannya selalu ngangenin.
Dalam perjalanan, Diana mulai bercerita, “Gue udah chat Melisa semalem soal daycare yang kita temuin tadi malem.”
“Oh ya? Terus dia bilang apa?” tanya Riki sambil fokus pada jalan.
“Dia bilang pengen lihat hari ini juga. Siapa tahu cocok, bisa langsung nitipin. Dia takut bolos kuliah kelamaan.”
“Baguslah. Kita bareng kan ke sananya?”
“Gue udah bilang bareng aja. Biar bisa bantu liat-liat juga.”
Riki mengangguk, tapi tiba-tiba wajahnya berubah sadar sesuatu. “Eh… tapi kita kan naik motor sekarang. Ga bawa mobil.”
Diana langsung ngeh dan menepuk jidatnya sendiri. “Lah iya! Gimana ini? Putar balik? Tapi udah jauh…”
Riki malah tetap santai, “Tenang… nanti gue telepon Pak Asep aja. Suruh dia anterin mobil ke kampus. Beres.”
Diana menoleh dengan ekspresi setengah kagum, setengah nyinyir. “Widiiih… enak banget jadi orang kaya. Tinggal ‘suruh-suruh’, mobil langsung nyamperin.”
Riki tersenyum bangga. “Itu makanya, Na. Bertemanlah dengan orang kaya. Minimal lo dapet fasilitas, maksimal lo dapet jodoh.”
“Jodoh apaan, Rik? Lo aja belum tentu dapet cewek. Dengan keplayboyan Lo itu, dan Wajah lo tuh lebih cocok jadi brand ambassador tahu bulat,” balas Diana sambil tertawa.
“Ya udah, tahu bulat pun tahu bulat. Yang penting gorengnya dadakan, bukan cintanya yang mendadak hilang,” balas Riki sambil meringis.
Mereka pun tertawa bersama, membiarkan pagi itu dipenuhi tawa ringan dan obrolan santai. Hari ini akan jadi hari yang panjang — tapi setidaknya, mereka memulainya dengan sarapan dan tawa.
Sementara teman-temannya sibuk tertawa-tawa di kampus, Melisa justru sedang berada di “medan perang”. Bukan perang sungguhan, tapi rasanya tak jauh beda—karena dua bayi yang kini berada dalam pelukannya sedang menangis bersahut-sahutan tanpa henti seperti orkestra mini yang kehilangan konduktor.
Air matanya hampir menetes karena panik dan kelelahan. Ethan dan Evan, dua bayi mungil itu, tak kunjung tenang. Ia sudah mencoba segala cara: mengganti popok, menyuapi susu, mengayun-ayun mereka sambil menyanyikan lagu lullaby yang ia hafal setengah-setengah dari TikTok. Tapi hasilnya nihil—dua bayi itu tetap saja meraung bersamaan, seolah sedang mengadakan audisi tangisan paling kencang.
"Aduh... kalian berdua tuh maunya apa sih? Udah dikasih susu, ga mau. Popok udah diganti. Gendong udah, nyanyi juga udah... mau aku joget juga, baru diem?" keluh Melisa dengan napas ngos-ngosan, keringat mulai membasahi pelipisnya.
Ia menatap bayi yang kembar tapi tidak kembar itu dengan wajah putus asa tapi masih menyimpan kasih sayang. “Ethan... Evan... cup cup cup ya sayang. Jangan nangis terus. Aku ini cuma mahasiswa biasa, bukan peri pengasuh anak yang bisa bahasa bayi!” ucapnya sambil mencoba tersenyum walau wajahnya tampak panik.
Salah satu bayi—entah Ethan atau Evan karena Melisa yang pusing tak sepenuhnya bisa membedakan keduanya—menangis lebih keras. Melisa pun nyaris panik.
“Eh eh, jangan keras-keras dong... nanti dikira tetangga aku sedang nyiksa bayi!” bisiknya panik sambil menggendong keduanya bergantian seperti pemain sirkus.
Ia berjalan mondar-mandir di kamar sambil bergumam sendiri. “Aku bisa hadapin dosen killer, bisa ngadepin sidang simulasi, tapi dua bayi ini? Aku nyerah, sumpah...”
Tak lama, Diana yang mungkin batu datang ke kos nya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar dengan ekspresi geli. “Meli... lu kayak lagi shooting sinetron Surga yang Tertunda deh...”
Melisa menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Dianaaa… tolooong... aku nyerah, ini duet maut banget. Bisa ga sih bayi tuh ada tombol off-nya?”
Diana terkekeh, lalu melangkah masuk, diikuti Riki yang membawa mainan berbentuk bebek lucu. “Coba ini,” kata Riki, “mainan bebek bunyi-bunyian. Biasanya sih manjur buat nenangin bayi. Kalo ga manjur, ya kita nyanyi bareng aja. Komplit, kayak trio bayi plus backing vocal.”
Melisa hanya bisa mendesah. “Tolong... sebelum aku berubah jadi zombie...”
Dan begitu mainan bebek itu berbunyi, ajaibnya—tangisan bayi itu perlahan mereda. Mereka menatap bebek itu dengan bingung... lalu diam.
Melisa ternganga. “ASTAGA... jadi ini rahasianya???! Kenapa ga dari tadi??!”
Riki mengangkat bahu santai. “Kan gue baru inget, tadi gue beli bebek ini sebelum ke sini. Gue juga baru tau, Mel…”
Melisa hanya bisa menatap langit-langit kamar. “Aku... mau pindah jurusan ke ilmu pengasuhan bayi aja deh…”
Setelah berhasil menenangkan dua bayi mungil yang akhirnya tertidur karena kelelahan usai menangis sepanjang pagi, Melisa, Diana, dan Riki bersiap menuju tempat daycare yang mereka temukan semalam. Keputusan mendadak itu tak menyurutkan niat mereka untuk mencari solusi terbaik, apalagi demi kenyamanan dan keselamatan bayi-bayi tersebut.