Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara Marah
"Di klub mana kamu sekarang?!"
Suara Bara menggelegar, berdentum memenuhi ruang dengar seperti meriam yang siap menghancurkan apa saja. Kiara Masita tak henti-hentinya merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh hingga membocorkan lokasinya berada?
"Siapa yang bilang aku di klub? Tadi aku tidak bicara begitu, Om..." Kiara mencoba mengelak dengan suara bergetar.
'Yo... everybody, welcome to Rising Club!'
Seruan MC dari atas panggung itu terdengar jelas menembus sambungan telepon. Kiara membeku, persis seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Pulang sekarang atau aku lacak keberadaanmu dan kubuat kamu malu di depan orang banyak!"
"Iya... iya, Om." sahut Kiara lemah. Tenaganya seolah merembes keluar melalui ujung jari, membuat ponsel di genggamannya terasa begitu berat.
"Kamu harus sudah sampai di rumah sebelum aku kembali dari kantor!"
Bara memutus sambungan dengan kasar. Ia bergegas meninggalkan ruang kerjanya. Amarah membakar dadanya bukan hanya karena Kiara berbohong, tapi juga rasa heran yang menggelitik, dari mana gadis itu mendapatkan uang? Padahal, Bara sengaja membatasi uang sakunya hanya 20 ribu rupiah demi memastikan Kiara tidak keluyuran.
"Gawat, Mel! Suamiku... maksudku Omku itu mengamuk seperti orang kesurupan!" seru Kiara panik pada Melati, sahabatnya.
Melati justru terkekeh genit. "Waduh, kalau Om Bara yang kesurupan, aku rela jadi setannya supaya bisa masuk ke dalam tubuhnya."
Mode centil Melati membuat Kiara gemas dan refleks mencubit pipi sahabatnya itu. "Dasar kau, keturunan kuntilanak!"
Tanpa menghiraukan Yudha yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan, Kiara segera berbalik.
"Kiara, mau ke mana?!" Melati menahan lengannya.
"Pulang! Bisa-bisa aku disate kalau tidak sampai di rumah detik ini juga!" Dengan langkah seribu, Kiara menerobos kerumunan manusia yang tengah asyik bergoyang mengikuti dentum bas musik yang memekakkan telinga.
"Heh! Jangan asal tabrak dong!" umpat seseorang yang tak sengaja disenggol Kiara.
"Maaf, Bang, aku sedang buru-buru! Lagipula kalau mau senam di lapangan saja, jangan di sini!" cerocos Kiara ketus, membuat pria itu menggeram. Namun sebelum amarah pria itu meledak, Kiara sudah melesat keluar dari gedung tersebut.
**
Sementara itu di dalam klub, Yudha mendekati Melati yang hendak beranjak dari meja bar. Ia menyodorkan selembar uang biru. Melati memutar bola matanya malas.
"Kalau yang ini, bagaimana?" Yudha mengeluarkan dua lembar uang merah. Seketika, binar mata Melati berubah.
"Aku akan memberikan ini jika kau mau memberikan informasi tentang temanmu tadi."
Melati diam sejenak, menimbang risiko. "Jangan macam-macam ya. Mau diapakan dia?"
"Jangan khawatir, aku orang baik-baik. Aku hanya ingin menawarkan pekerjaan untuknya." kilah Yudha dengan senyum penuh rahasia.
Hanya butuh dua setengah detik bagi Melati untuk goyah. Rasa setianya pada Kiara kalah telak oleh lembaran merah di depan mata. Ia pun mulai membisikkan nama dan nomor ponsel Kiara pada pria asing itu.
**
Di luar, Kiara dengan panik mencegat sebuah sedan biru muda. "Pak... Pak, ini taksi, kan?"
"Bukan, Neng. Ini gerobak dorong!" sahut supirnya asal. "Ya jelas taksi, atuh. Lihat saja tandanya di atas!"
Kiara merengut. Sepertinya supir ini sedang menderita hipertensi, namun ia tak punya pilihan lain. "Ke Mangga Kecil berapa, Pak?"
"Kamu nanya? Ini taksi, Neng, bukan kora-kora. Sudah ada argonya!"
Kiara membuka dompetnya yang hanya berisi 60 ribu rupiah, hasil menabung selama seminggu penuh. "Tidak usah pakai argo, Pak. Langsung saja, berapa?"
"Tujuh puluh ribu."
"Enam puluh ribu ya, Pak? Saya kan pelajar, uang sakunya terbatas." pinta Kiara memelas.
"Tidak punya uang kok main ke klub?" sindir si supir, namun akhirnya luluh setelah Kiara menambahkan koin seribuan dari saku tasnya. "Enam puluh tiga ribu, tapi tidak pakai AC ya!"
Taksi itu pun melaju membelah kemacetan Jakarta. Kiara terus mengipasi dirinya dengan buku LKS, peluh mulai membasahi pelipisnya. Rasa takut semakin mencekam saat melihat ponselnya terus bergetar menampilkan nama 'Om Bara' yang tak berani ia angkat.
Taksi itu tiba di halaman rumah tepat saat mobil mewah Bara terparkir di sana. Kiara turun dengan terburu-buru. Belum sempat ia membayar, Bara sudah lebih dulu menyodorkan lembaran merah pada sang supir. Kiara mendengus kesal melihat sang supir langsung tancap gas tanpa memberikan kembalian.
"Tahu begitu, tadi aku minta pakai AC saja." gumamnya kesal. Namun, saat tatapan tajam Bara menghunus matanya, nyalinya menciut seketika.
"Audzubillahiminassyaitonnirojiim..."
"Bismillahirrohmanirrohim..." lanjut Kiara gemetar.
"Kenapa kamu malah mengaji?" sergah Bara, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Mau mengusir setan dalam tubuh Om!" jawab Kiara polos.
"Masuk ke rumah!" perintah Bara dingin.
"Tapi Om, taksi tadi belum memberi kembalian tiga puluh tujuh ribu…"
"Masuk!" Suara Bara naik satu oktav, membuat Kiara bungkam dan segera berlari masuk.
**
Bara mengikuti Kiara hingga ke kamar. Tanpa banyak bicara, pria yang masih mengenakan setelan kantor lengkap itu menarik Kiara menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuh Kiara yang masih berpakaian lengkap.
"Bau asap rokok. Aku benci itu." desis Bara sambil menuangkan sampo ke rambut Kiara. Meski memberontak, Kiara akhirnya pasrah membiarkan mata dan wajahnya tertutup busa, menahan perih karena takut kemarahan Bara akan semakin meledak.
Beberapa saat kemudian, dengan rambut basah dan mata yang memerah, Kiara duduk di tepi ranjang berbalut bathrobe putih. Di hadapannya, Bara berdiri gagah, meluapkan kemarahannya yang tertahan. Kiara hanya bisa menunduk sambil menggigiti kuku, meski ia sudah menjelaskan bahwa Rima yang memaksanya ikut.
"Ini peringatan terakhir, Kiara! Sekali lagi kamu melanggar kata-kataku, aku akan memindahkan sekolahmu ke rumah. Tidak ada tawar-menawar!"
Bara menghentikan bentakannya, dadanya naik turun mengatur napas. Namun, saat melihat sepasang mata Kiara yang menatapnya sendu dan polos, hatinya melunak.
"Aku lapar, Om. Belum makan..." rengek Kiara manja.
Kemarahan Bara menguap, digantikan rasa iba yang mendalam. "Ayo makan dulu." ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Kiara menuju meja makan.
Bi Surti yang melihat situasi mulai mereda hanya bisa tersenyum simpul sambil menyiapkan hidangan. Di meja makan, Bara menarik Kiara untuk duduk di pangkuannya, sebuah kebiasaan yang mulai terasa akrab bagi mereka berdua.
Bara melingkarkan lengannya di perut Kiara, membuat napas gadis itu tertahan. Jantungnya berdebar kencang saat Bara menyibakkan rambutnya, mengecup bahu dan lehernya dengan lembut. Hembusan napas hangat Bara di kulitnya membuat Kiara merinding.
"Habiskan makanannya, Kiara..." bisik Bara di telinganya. Kiara hanya bisa mengangguk patuh, menikmati sentuhan yang diam-diam mulai ia sukai.
**
Malam itu, Kiara kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia teringat ada tugas sekolah yang belum selesai dan berniat meminta bantuan Bara. Ia melangkah menuju kamar sebelah yang tidak pernah dikunci.
Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia mendengar Bara sedang berbicara di telepon di area balkon.
"Oke, Erika. Aku senang kamu mau membantu proyek kali ini. Sulit mencari model profesional untuk produk ini," ucap Bara. "Kapan kita bisa bertemu? Dinner, mungkin?"
BRAKK!
Kiara sengaja menjatuhkan barang-barang di meja rias Bara. Bara segera menutup telepon dan menghampiri sumber suara.
"Ada apa ini, Kiara?" tanya Bara terkejut melihat mejanya berantakan.
"Mau mencari deodoran, tapi isinya hair spray semua! Om tidak pernah membelikanku sih, jadi aku mau mencuri punya Om saja!" kilah Kiara dengan wajah cemberut.
"Besok kita ke supermarket. Beli apa pun yang kamu butuhkan." sahut Bara sambil berjongkok merapikan barang-barangnya.
"Ciyee, yang mau makan malam romantis..." sindir Kiara, mencoba menutupi rasa sesak di dadanya.
Bara terkekeh pelan, menyadari Kiara cemburu. "Itu urusan pekerjaan, menjamu klien. Lagipula aku pergi bersama asistenku."
**
semangat💪 crazyup