Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Strategi Pandji
Malam harinya, suasana di ruang tengah apartemen Pandji terasa seperti markas besar komando. Lampu diredupkan, di meja sudah tersedia kopi hitam dan beberapa lembar kertas yang entah berisi apa. Aga duduk bersandar malas di sofa dengan satu kaki diangkat, sementara di sampingnya, Gwen sibuk dengan laptop di pangkuannya, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Di seberang mereka, Pandji mondar-mandir dengan wajah serius layaknya jenderal perang.
"Oke, kita analisa ulang," ucap Pandji sambil menepuk meja. "Musuh utama kita: Nyokap. Spesialisasi: Cerewet, perfeksionis, standar tinggi, dan anti anak orang kaya yang terlihat manja. Target: Bikin dia luluh dalam 90 hari atau kurang."
Aga melirik ke samping. Gwen masih tenggelam dalam layar laptopnya, fokus penuh, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.Tanpa aba-aba, Aga menunduk dan menggigit ringan bahu Gwen.
“Eh—!” Gwen langsung menoleh, kesal. “Apaan sih?”
“Dari tadi dianggurin,” jawab Aga santai.
“Lagi kerja,” balas Gwen singkat, kembali ke layar. “Jangan ganggu.”
Pandji berhenti mondar-mandir, lalu menepuk meja sekali lagi.
“Fokus!” tegasnya.
Aga hanya melirik sekilas, malas.
Pandji menatapnya tajam. “Lo mau kawin sama kakak gue nggak?”
Tanpa ragu, Aga mengangguk sekali.
Tiba-tiba ia bangkit, lalu menarik tangan Gwen.
“Eh—mau ke mana?” tanya Gwen bingung, hampir terseret.
“Kawin,” jawab Aga santai.
Satu detik hening.
Plak!
Bantal sofa langsung melayang dan mendarat tepat di kepala Aga—lemparan Pandji.
“Balik!” bentak Pandji.
Aga berhenti di tempat. Tangannya masih menggenggam pergelangan Gwen, sementara bantal itu jatuh pelan dari kepalanya ke lantai.
Ia menoleh ke arah Pandji dengan ekspresi datar.
“…Serius amat,” gumamnya santai.
“Duduk!” ulang Pandji lebih tegas.
Aga akhirnya kembali duduk di sofa dengan wajah cemberut, menyandarkan tubuhnya kasar seolah protes tanpa suara.
Gwen terkikik geli melihatnya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “Rasain, makanya jangan aneh-aneh.”
Pandji mengusap wajahnya pelan, lalu menarik napas panjang seolah sedang menahan diri agar tidak meledak.
“Oke,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang tapi tetap tegas. “Kita lanjut. Poin kedua: attitude.”
Aga langsung menoleh malas. “Masih ada poin?”
“Banyak,” jawab Pandji singkat.
Gwen tetap sibuk dengan laptopnya.
Pandji menunjuk Aga dengan ujung pena yang entah sejak kapan ada di tangannya. “Lo itu masalahnya simpel. Lo terlalu santai. Terlalu percaya diri."
“Terima kasih” jawab Aga datar.
“Bukan pujian.”
Gwen terkikik lagi, tapi masih tidak mengalihkan pandangan dari layar.
Pandji melanjutkan, “Di depan Nyokap, lo harus berubah. Lebih sopan, lebih tertata, lebih kalem.”
Aga mengangkat alis. “Jadi gue harus jadi orang lain?”
“Bukan orang lain,” potong Gwen akhirnya, tanpa menoleh. “Cuma versi yang lebih bisa diterima.”
Pandji mengangguk cepat. “Nah itu. Dengerin kakak gue.”
Aga menatap Gwen sebentar, lalu menyandarkan kepala ke sofa.
“…Gue mulai curiga gue bukan lagi calon menantu. Tapi proyek renovasi.”
Pandji langsung menunjuknya cepat. “Nah, itu dia masalah kedua. Mulut.”
Aga menghela napas. “Mulut gue kenapa lagi?”
“Terlalu jujur di waktu yang salah,” jawab Pandji tegas. “Lo nggak bisa ngomong ‘kawin’ ke semua situasi kayak tadi.”
“Kenapa? Emang salah?”
Gwen akhirnya menoleh sekilas, lalu buru-buru menahan senyum.
Pandji mengangkat tangan, seperti ingin menyerah tapi tidak jadi. “Di depan Nyokap, satu kata itu bisa bikin kita gagal sebelum mulai.”
Aga diam sebentar, lalu bersandar lagi. “Jadi gue harus ngomong apa?”
“Pikir dulu,” jawab Pandji. “Sebelum ngomong.”
Hening sepersekian detik.
“Berarti gue harus diam aja,” gumam Aga.
“Bukan diam,” sahut Gwen cepat, masih sambil menatap layar. “Tapi mikir.”
Aga meliriknya. “Aku mikir kok, Baby.”
Pandji langsung menoleh tajam. “Tadi apa?”
Gwen juga langsung berhenti mengetik, melirik Aga sekilas dengan ekspresi setengah kaget, setengah ingin tertawa.
Aga santai saja, bahkan tidak merasa bersalah.
“Kenapa?”
“Jangan panggil dia begitu di sini,” kata Pandji cepat, nadanya naik satu tingkat.
“Emang kenapa?” Aga mengangkat bahu. “Dia pacar gue.”
Gwen akhirnya menoleh penuh kali ini. “Aga…”
Nada suaranya pelan, tapi cukup untuk bikin Aga sedikit menghela napas.
“Oke, oke,” gumam Aga, lalu bersandar lagi ke sofa. “Fokus, fokus. Kita lagi perang ya.”
Pandji mengusap pelipisnya. “Ini belum perang. Ini baru latihan. Dan lo udah bikin chaos duluan.”
Gwen menahan senyum, lalu kembali menatap laptopnya, tapi kali ini jelas lebih susah fokus.
Aga meliriknya lagi, lalu pelan menyenggol lengannya. “Baby, kamu cantik deh… jadi pengin nyium.”
Gwen langsung menoleh cepat, wajahnya campur antara kaget dan malu.
“Aga! Fokus!”
“Siap,” jawab Aga singkat, tapi sudut bibirnya masih naik sedikit.
Pandji menatap mereka bergantian, lalu menunjuk meja dengan pasrah. “Gue nyesel bikin rapat ini. Masih mau lanjut gak?”
Aga bersandar santai, tanpa ragu. “Lanjut.”
Gwen masih menatap layar laptopnya, tapi kali ini jelas sudah tidak terlalu serius. “Lanjut aja,” tambahnya pelan.
Pandji mengusap wajahnya lagi, lalu menghela napas panjang.
“Oke. Gue udah mikir keras. Cara paling masuk akal biar Nyokap mulai lihat lo dari dekat adalah… lo gantiin posisi gue.”
Aga berkedip. "Apa?"
Pandji menunjuk dirinya sendiri. “Gue selama ini jadi sopir pribadi, kadang anter belanja, kadang ikut arisan, kadang cuma jadi ‘bayangan’ biar Nyokap nggak ribet di jalan.”
Gwen mengernyit pelan dari sofa. “Jadi… Aga yang harus gantiin kamu?”
Pandji mengangguk mantap. “Iya. Gimana?"
Hening.
Aga menatapnya lama, lalu bersandar pelan. “Gue nolak.”
Pandji mengangkat alis. “Kenapa?”
“Enak di lo, enek di gue,” jawab Aga jujur tanpa basa-basi. “Gue aja nggak pernah nganterin Nyokap pergi arisan. Sekarang harus nganterin calon mertua.”
Pandji langsung menunjuknya. “Nah, itu baru namanya proses!”
Aga menatapnya datar. “Itu namanya penyiksaan!” Ia mendesah pelan, lalu menoleh ke Gwen. “Sayang.”
Gwen langsung melirik sekilas tanpa benar-benar mengalihkan fokus dari laptopnya. “Apa?”
Aga mendusel-dusel manja ke arah Gwen. “Kalau aku mau menggantikan Pandji jadi sopir mamamu, kamu mau ngasih aku hadiah?”
Gwen berhenti mengetik sepersekian detik, lalu menoleh pelan. “Hadiah apa?”
Aga langsung nyengir tipis. “Yang bikin aku semangat.”
Pandji yang dari tadi mendengar langsung menyela cepat, “Stop. Ini rapat strategi, bukan transaksi cinta.”
Gwen terkikik pelan, lalu kembali menatap layar. “Kamu itu kok selalu ada maunya.”
Aga bersandar lagi, pura-pura pasrah. “Namanya juga usaha. Mau ya?”
“Kamu mau apa?” tanya Gwen, tetap fokus tapi nadanya mulai curiga.
Aga mendekat sedikit, lalu berbisik pelan, “Lanjutin yang semalam ditunda.”
Seketika Gwen berhenti mengetik. Wajahnya langsung memerah pelan, dan ia menoleh ke Aga dengan tatapan yang sudah paham maksudnya.
“Aga…” suaranya lebih pelan, ada campuran malu dan protes.
Aga hanya nyengir kecil, santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Di seberang mereka, Pandji yang sedari tadi sudah terlalu sering jadi saksi “drama” ini akhirnya menghela napas panjang.
“Gue gak kuat,” gumamnya.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung bangkit dan berjalan menuju kamar. “Kalian lanjut aja. Gue pindah markas.”
Klik.
Pintu kamar Pandji tertutup rapat, menyisakan suasana ruang tengah yang tiba-tiba terasa jauh lebih hening dan… intim.
Begitu pintu tertutup sempurna, Aga tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan gerakan cepat dan lincah, ia langsung menutup laptop Gwen dan menyimpannya ke samping tanpa peduli dokumen apa yang sedang terbuka.
Langkah selanjutnya, ia langsung melompat ringan dan duduk tepat di pangkuan Gwen, membuat gadis itu terperangkap di antara sandaran sofa dan tubuh kekar kekasihnya.
Tanpa kata-kata lagi, Aga langsung menyambar bibir merah muda itu dengan dahsyat. Ciumannya panas, menuntut, dan penuh rindu yang tertahan sejak semalam. Tangannya yang besar langsung mencengkeram pinggang ramping itu erat-erat, menarik tubuh Gwen semakin menempel padanya tanpa ada jarak tersisa.
“Mmmhh…” Gwen mendesah lembut di balik ciuman basah itu, tangannya refleks mencengkeram bahu Aga, pasrah sepenuhnya pada serangan pria itu.
Aga mengecupnya dengan rakus, seolah ingin melampiaskan semua gairah yang sempat tertunda dan terhenti mendadak karena kejadian mengerikan semalam. Lidahnya menembus masuk, bermain liar, membuat kepala Gwen terasa pening dan lemas seketika.
Suasana ruang tamu yang tadinya tenang, kini berubah menjadi panas dan penuh gairah. Akhirnya… kesempatan yang ditunggu-tunggu itu tiba juga.
**********************
Tanpa melepaskan ciuman yang mendalam itu, tangan besar Aga langsung melingkar kuat di bawah paha Gwen. Dengan mudah dan gagah, ia mengangkat tubuh mungil itu dari sofa, membuat wanita itu refleks melingkarkan kakinya di pinggang pria itu.
Langkah Aga cepat dan pasti menuju kamar tamu.
Klik!
Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci ganda dari dalam. Suara kunci yang berputar seolah menjadi tanda bahwa tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka kali ini.
Beruntung sekali, AC di kamar Pandji sudah nyala dan dingin, jadi dia betah di kamarnya sendiri. Artinya, malam ini Aga bisa bebas berduaan dengan Gwen tanpa gangguan sedikitpun.
Begitu sampai di kasur, Aga langsung membaringkan tubuh Gwen perlahan. Ia tidak membuang waktu, langsung kembali menindihnya dan menyambar bibir itu lagi dengan lebih dahsyat dari sebelumnya. Suasana dingin dari AC justru membuat gesekan tubuh mereka berdua terasa semakin panas dan membara.
"Baby..." desis Aga parau di sela ciuman, tangannya mulai berkelana liar kembali menyusuri setiap lekuk tubuh Gwen yang ia rindukan. "Aku Cinta Kamu."
Gwen hanya bisa mendesah lemah, membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan dan ciuman pria itu. Kaos Gwen mulai tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit putih mulus yang langsung menjadi sasaran ciuman hangat Aga di area leher dan bahu.
Mereka benar-benar larut. Suara napas memburu, suara ciuman basah, dan desahan lembut memenuhi ruangan. Aga sudah tidak peduli pada dunia luar. Gairahnya sudah memuncak, ia sudah tidak tahan lagi untuk menunda.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamar diketuk cukup keras dari luar.
Aga sama sekali tidak peduli. Ia bahkan tidak menghentikan aksinya sedikitpun. Ciumannya justru makin dalam, tangannya makin erat memeluk tubuh Gwen, seolah berusaha menutupi suara ketukan itu dengan aksinya sendiri. Ia pikir itu cuma angin lalu atau mungkin Pandji lupa bawa sesuatu, soalnya kan tadi sudah bilang nggak bakal ganggu.
TOK! TOK! TOK! Lebih keras dan lebih cepat!
"GA! MBAK! BUKA PINTUNYA!" Suara Pandji terdengar panik bukan main dari balik pintu.
Aga mendengus kesal, baru mau berteriak memaki menyuruh pergi, tapi kali ini suara Pandji terdengar berbisik tajam dan penuh urgensi yang membuat darah di tubuh Aga seketika berhenti mengalir.
"IBU! IBU GW ADA DI LUAR PINTU APARTEMEN!CEPAT KELUAR KALIAN BERDUA SEBELUM GUE BUKAIN PINTU UTAMA!"
JLEB!
Seketika seluruh gerakan Aga terhenti total.
Tubuhnya yang tadi hangat dan bergairah, seketika menegang kaku bagaikan patung batu. Bukan, bukan hanya 'bagian bawahnya' yang tegang... tapi SELURUH BADANNYA TEGANG DAN KAKU BENERAN karena ketakutan setengah mati!
Napasnya tertahan di tenggorokan. Wajahnya yang tadi memerah karena nafsu, kini berubah pucat pasi dalam sekejap. Matanya melotot lebar, seluruh tubuhnya kaku seperti patung di atas Gwen.
kau yang merajai hatiku, jiwa ragaku hanya untukmu..🎼🎼❤️🩹