Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarang Serigala
Cahaya matahari pagi yang pucat perlahan menelusup melalui celah-celah tirai tebal di kamar Presidential Suite, menguak pemandangan lantai yang penuh dengan sisa-sisa malam yang liar: pakaian compang-camping berserakan di sana-sini, dan beberapa botol minuman kosong yang terguling sembarangan. Aara terjaga dalam hitungan detik, dikejutkan oleh naluri seorang agen terlatih yang terbiasa berjaga di antara batas tidur dan waspada. Bahkan dalam keadaan setengah sadar, ia sepenuhnya memahami situasi di sekitarnya. Sensasi hangat namun berat di pinggangnya mengingatkannya pada sebuah pelukan mantap, jejak nyata dari keintiman yang telah terjadi—sebuah momen mendebarkan sekaligus membahayakan yang masih terasa dekat.
Kepalanya berputar perlahan, dan matanya menangkap sosok Kenzo Arkana yang masih terlena dalam tidurnya. Dalam balutan keheningan itu, raut wajah Kenzo, yang biasanya keras dan penuh dominasi, terlihat sedikit melunak. Namun demikian, tak ada yang bisa benar-benar menenggelamkan aura kuat otoritas yang begitu lekat pada dirinya. Aara menyadari sepenuhnya bahwa pria ini semalam tidak hanya merengkuh tubuhnya, tetapi juga diam-diam menyelami celah-celah jiwanya; seperti seorang pemimpin medan perang yang mencoba memahami setiap inci wilayah musuh sebelum serangan dilancarkan.
Dengan hati-hati, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan erat laki-laki itu tanpa membangunkannya. Hembusan napas panjang meluncur pelan dari bibirnya ketika ia akhirnya berhasil bangun, tubuhnya hanya tertutupi oleh selimut sutra tipis yang dingin ketika kaki telanjangnya melangkah pelan menuju jendela besar di ujung kamar. Cahaya pagi memantulkan dirinya di kaca jendela, siluetnya tampak rapuh tetapi dipenuhi dengan tekad. Dari ketinggian ini, ia bisa menyaksikan denyut kota di bawah yang mulai terjaga dari tidurnya. Gedung-gedung menjulang berdiri angkuh sementara kendaraan mulai berjejal di jalanan, tak menyadari bahwa jauh di atas mereka, di kamar ini, rencana besar tengah diracik. Sebuah konspirasi yang mampu mengubah arah permainan kini secara perlahan mengambil bentuknya.
"Kau sudah merencanakan cara melarikan diri, atau sedang mengagumi pemandangan?" suara berat Kenzo memecah kesunyian pagi.
Aara tidak menoleh. Ia tetap menatap cakrawala. "Aku sedang berpikir, berapa lama waktu yang dibutuhkan rekan-rekanku untuk menyadari bahwa aku sudah berganti pihak."
Kenzo duduk di tepi ranjang, membiarkan tubuh bagian atasnya yang penuh tato terekspos. Ia menyalakan sebatang cerutu, aroma tembakau mahal segera memenuhi ruangan. "Mereka akan menyadarinya saat kau berhenti mengirim laporan. Atau saat kau mulai mengirimkan laporan palsu yang kuberikan."
Kenzo berdiri dan berjalan mendekati Aara. Ia berdiri tepat di belakangnya, namun kali ini ia tidak menyentuhnya. "Mulai hari ini, kau akan tinggal di kediamanku di pinggir kota. *The Obsidian* terlalu terbuka. Di sana, kau akan belajar bagaimana menjadi 'istri' seorang mafia, bukan sekadar pelacur kelab."
Aara berbalik, menatap Kenzo dengan mata tajam. "Aku bukan istrimu. Aku mitra bisnismu."
Kenzo menyeringai, sebuah ekspresi yang selalu membuat Aara waspada. "Di duniaku, wanita yang berada di sampingku hanya punya dua status: properti atau musuh. Pilih yang mana?"
Dua jam kemudian, sebuah konvoi mobil SUV hitam tahan peluru meninggalkan gedung. Aara duduk di kursi belakang bersama Kenzo. Di pangkuannya terdapat sebuah tablet baru alat kerja yang diberikan Kenzo.
"Itu berisi data tentang targetmu," ucap Kenzo tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. "Pria yang membunuh rekanmu. Namanya Marco 'Si Jagal'. Dia dulu bekerja untukku sebelum berkhianat ke kartel saingan."
Aara membuka data tersebut. Foto seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya muncul. Jantung Aara berdesir. Sebenarnya, ia tidak punya rekan yang dibunuh Marco; itu adalah karangan yang ia buat semalam. Namun, kejutan muncul saat ia melihat catatan kriminal Marco. Pria ini memang target utama FBA yang telah lama hilang dari radar.
"Jika kau berhasil membawanya padaku, aku akan percaya bahwa kau benar-benar ingin membalas dendam," lanjut Kenzo.
"Dan jika aku gagal?" tanya Aara menantang.
Kenzo menoleh, matanya sedingin es. "Aku tidak memelihara kegagalan di dalam rumahku."
Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang. Kediaman Kenzo lebih mirip benteng daripada rumah mewah. Arsitekturnya minimalis dengan dominasi warna abu-abu dan hitam, dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi.
Begitu turun dari mobil, Aara disambut oleh tatapan tidak suka dari para pengawal. Mereka mengenalinya sebagai wanita yang mencoba mendekati Kenzo di kelab semalam. Bagi mereka, wanita adalah titik lemah, dan mereka tidak suka bos mereka membawa "kelemahan" ke dalam markas pusat.
"Siapkan kamar untuknya di sebelah kamarku," perintah Kenzo kepada seorang pria paruh baya yang tampak seperti kepala pelayan namun memiliki bekas luka di tangannya yang menandakan ia adalah mantan tentara.
"Tapi Tuan, ini tidak sesuai protokol keamanan kita," interupsi seorang pria muda berwajah bengis yang berdiri di dekat pintu masuk. Namanya Vico, tangan kanan Kenzo yang paling setia dan paling membenci keberadaan orang asing.
Kenzo berhenti melangkah. Atmosfer di teras rumah itu seketika menjadi sangat berat. Ia berjalan mendekati Vico, menatapnya dengan pandangan yang sanggup melubangi baja.
"Sejak kapan kau menentukan protokol di rumahku sendiri, Vico?" tanya Kenzo dengan nada tenang namun mematikan.
Vico menunduk, rahangnya mengeras. "Maaf, Tuan. Saya hanya khawatir dia adalah mata-mata."
Kenzo melirik ke arah Aara, lalu kembali ke Vico. "Dia memang mata-mata. Dan dia adalah mata-mataku sekarang. Jika ada sehelai rambut pun jatuh dari kepalanya tanpa izin dariku, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari besok."
Aara tersenyum tipis ke arah Vico—senyum centil yang sengaja dibuat untuk memprovokasi. Ia tahu ia sedang menanam benih permusuhan di dalam sarang serigala ini, tapi itulah keahliannya. Mengacaukan struktur dari dalam.
Malam harinya, Aara berada di kamar barunya. Kamar itu sangat mewah, namun ia tahu setiap sudutnya telah dipasangi kamera pengawas dan penyadap suara. Ia harus tetap berakting.
Ia mengenakan lingerie hitam tipis, sengaja berjalan mondar-mandir di depan jendela yang ia tahu bisa dipantau dari ruang monitor. Ia harus menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang terobsesi pada kemewahan dan Kenzo, bukan seorang agen yang sedang mencari data.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk. Kenzo masuk dengan botol wiski di tangannya.
"Kau sepertinya sangat menikmati fasilitas barumu," sindir Kenzo sambil menuangkan minuman.
Aara mendekat, melingkarkan tangannya di leher Kenzo, menarik pria itu ke arah tempat tidur. "Fasilitasnya bagus, tapi aku merasa ada yang kurang. Tempat tidur ini terlalu luas untuk satu orang."
Aara mencoba mencium Kenzo, namun pria itu menahan bahunya.
"Cukup untuk malam ini, Aara. Aku tahu kau sedang mencoba mencari tahu di mana aku menyimpan manifes pengiriman barang hari Jumat," bisik Kenzo tepat di depan wajahnya. "Jangan terlalu terburu-buru. Kau akan melihatnya saat kita sampai di pelabuhan nanti."
Aara tertegun. Kenzo benar-benar selangkah di depannya. Pria ini bukan hanya kejam, tapi memiliki intuisi yang tajam.
"Lalu, kenapa kau ke sini?" tanya Aara dengan nada manja yang kembali muncul.
Kenzo menarik Aara ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang lebih terkontrol daripada semalam. "Hanya ingin memastikan bahwa 'propertiku' masih berada di tempatnya."
Malam itu, Aara menyadari bahwa hidup dalam sarang serigala bukan hanya soal menghindari peluru, tapi juga tentang bagaimana menjaga hatinya agar tidak jatuh ke dalam pesona pria yang seharusnya ia hancurkan. Di duniaku atau dunianya, batas antara cinta dan pengkhianatan hanyalah setipis kulit yang saling bersentuhan.