NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:562.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

"Kedatangan kami sekeluarga malam ini bukan hanya untuk menyambung silaturahmi yang sudah terjalin lama," Alvin memulai pembicaraannya dengan nada yang mantap.

"Tujuan kami ke sini adalah untuk menyampaikan niat baik putra kami, Liam. Ia ingin melamar putrimu, Tiara, untuk dijadikan sebagai istrinya."

Tiara merasa seolah oksigen di sekitarnya menipis. Ia masih terpaku menatap Liam, laki-laki yang dulu sering berbagi tawa dengannya saat masih seragam putih-biru.

Liam, yang sejak tadi berdiri, kemudian mengambil posisi duduk yang tegak. Ia menatap Tiara dengan sorot mata yang penuh keyakinan, tidak ada keraguan di sana.

"Tiara," panggil Liam, suaranya rendah namun terdengar jelas di seluruh ruangan.

"Mungkin ini terasa sangat tiba-tiba. Tapi niat saya datang ke sini tulus untuk mengkhitbah kamu. Saya ingin membangun masa depan bersama kamu, menjagamu, dan menjadikanmu sebagai penyempurna agama saya. Saya harap kamu bersedia menerima niat baik saya ini."

Lilis yang duduk di samping Arka meremas pelan jemarinya sendiri, ikut merasakan ketegangan yang dialami sahabat sekaligus adik iparnya itu. Arka pun tampak menyimak dengan serius, sesekali melirik ke arah adiknya.

Yuda menghela napas panjang, ia menatap Liam dengan bangga sebelum beralih menatap putrinya. Yuda mengangguk pelan ke arah Alvin dan Rahma.

"Alhamdulillah, niat baik kalian kami terima dengan tangan terbuka," ucap Yuda tenang.

"Namun, sesuai janji kami tadi, jawaban sepenuhnya ada di tanganmu, Tiara. Ayah dan Ibu tidak akan memaksamu. Kamu yang lebih berhak menentukan masa depanmu sendiri. Jadi, bagaimana jawabanmu, Nak?" tanya Yuda lembut.

Semua mata kini tertuju pada Tiara. Ruangan itu terasa begitu sunyi, menanti satu kata yang akan mengubah hidup gadis itu selamanya.

"Ayah, Ibu... Om Alvin dan Tante Rahma," suara Tiara terdengar bergetar, namun ia berusaha tetap tenang.

"Tiara sangat menghargai niat baik Liam. Tiara juga tidak menyangka kalau orang yang diceritakan Ayah adalah Liam, teman lama kami."

Tiara menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya. "Tapi jujur, ini terasa terlalu cepat untuk Tiara. Baru sore tadi Tiara tahu ada acara ini, dan sekarang Liam datang untuk melamar."

Ia menatap Liam dengan tatapan penuh permohonan agar dipahami. "Tiara bukan bermaksud menolak. Hanya saja, pernikahan adalah langkah yang sangat besar. Tiara butuh waktu untuk berpikir, menenangkan hati, dan meminta petunjuk lewat istikharah. Tiara tidak ingin mengambil keputusan hanya karena rasa kaget atau karena sungkan pada orang tua."

Mendengar itu, Liam justru tersenyum tipis. Tidak ada raut marah atau tersinggung di wajahnya. Ia justru tampak semakin kagum dengan kedewasaan Tiara yang tidak gegabah.

"Aku mengerti, Tiara," sahut Liam lembut. ia menatap orang tuanya sejenak seolah meminta izin, lalu kembali menatap Tiara.

"Aku tidak masalah kalau kamu butuh waktu. Menikah itu sekali seumur hidup, dan aku ingin kamu menerimaku karena keyakinan di hatimu, bukan karena tekanan dari siapapun."

Liam kemudian menoleh ke arah Yuda. "Om, kalau diperbolehkan, biarkan Tiara berpikir dulu. Saya akan menunggu jawaban terbaik dari Tiara, kapan pun dia siap."

Alvin pun mengangguk setuju. "Benar, Yuda. Kami tidak ingin memburu-buru. Kami hargai kejujuran Tiara."

Setelah tamu-tamu pulang dan suasana rumah kembali tenang, Arka dan Lilis akhirnya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Lilis melepas cadar dan hijabnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menghela napas lega. Ada binar bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.

"Mas, aku senang banget hari ini," ucap Lilis tiba-tiba dengan senyum yang mengembang lebar.

Arka yang sedang melepas kancing kemejanya menoleh. "Senang kenapa? Karena makan enak atau karena acaranya lancar?"

"Dua-duanya. Tapi yang paling bikin senang itu karena ternyata yang datang Liam," jawab Lilis tanpa sadar, matanya menerawang teringat masa SMP mereka.

"Tadi aku kaget banget pas dia masuk. Dia sekarang kelihatan dewasa ya, Mas? Padahal dulu pas SMP dia itu paling jahil di antara kita bertiga. Ternyata dia masih ingat kita."

Gerakan tangan Arka yang sedang membuka kemeja mendadak berhenti. Ia membalikkan badan dan menatap Lilis dengan dahi berkerut dan tatapan yang sedikit tajam.

"Ooh, jadi karena ada Liam kamu sesenang itu?" tanya Arka, suaranya berubah menjadi lebih rendah dan sedikit dingin.

"Bukan gitu, Mas. Kan dia teman lama kita, jadi aku..."

"Teman lama atau cinta lama?" potong Arka cepat sambil melangkah mendekati Lilis. Ia berdiri tepat di depan istrinya, menghalangi pandangan Lilis ke arah lain.

"Dari tadi kamu bahas Liam terus. Liam gagah ya,

Liam dewasa ya, Liam ingat kita ya. Sepertinya kamu lebih antusias lihat dia daripada lihat suamimu sendiri."

Lilis mendongak, menatap wajah Arka yang tampak sangat tidak senang. Ia baru menyadari kalau suaminya sedang terbakar cemburu.

"Kok Mas ngomongnya gitu? Aku cuma senang karena sahabat kita balik lagi, Mas," bela Lilis dengan suara pelan.

Tetap saja, Mas nggak suka kamu memuji laki-laki lain di depan Mas, apalagi sampai segitunya," ucap Arka sambil duduk di samping Lilis, namun ia membuang muka ke arah lain, melipat tangannya di dada dengan wajah ketus.

Lilis justru merasa geli melihat tingkah suaminya yang biasanya tenang kini jadi seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Ia perlahan menyentuh lengan Arka.

"Mas cemburu ya?" goda Lilis pelan.

"Nggak. Buat apa cemburu sama dia, orang aku lebih ganteng," sahut Arka gengsi.

"Lis, ayo wudu lagi," ajak Arka sambil mengulurkan tangannya tiba-tiba.

"Shalat apa, Mas? Kan tadi sudah shalat Isya."

Arka tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum penuh arti, senyum yang membuat jantung Lilis tiba-tiba berdegup kencang karena ia mulai menangkap maksud suaminya.

"Shalat sunnah dua rakaat," jawab Arka pelan namun tegas.

"Jangan bilang kamu lupa atau pura-pura lupa."

Arka yang melantunkan ayat-ayat suci dalam shalat dua rakaat mereka. Lilis mengikuti di belakang sebagai makmum, merasakan kedamaian yang luar biasa.

Setelah salam, Arka memutar tubuhnya menghadap Lilis. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di ubun-ubun Lilis, lalu memejamkan mata dan membacakan doa keberkahan untuk istrinya.

Lilis segera bangkit untuk merapikan sajadah dan melipat mukenanya dengan hati-hati. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya deru halus AC yang terdengar.

Namun, belum sempat Lilis meletakkan mukenanya di atas meja, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Arka menarik tubuh istrinya hingga bersandar di dadanya.

Lilis berjingkrak kaget, hampir saja mukena yang ia pegang terjatuh ke lantai. Jantungnya berdegup sangat kencang karena serangan kejutan yang tiba-tiba itu.

Arka terkekeh pelan, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Lilis yang kini tercium harum.

"Sayang... kenapa? gugup?" bisik Arka lembut, merasakan tubuh istrinya yang sedikit gemetar.

Arka perlahan membalikkan tubuh Lilis agar mereka saling berhadapan. Ia menatap lekat mata istrinya, lalu mengusap pipi Lilis yang merona merah.

"Kalau kamu belum siap, kita tunda saja. Mas tidak ingin memaksamu," ucap Arka.

Lilis mendongak sejenak, menatap ketulusan di mata suaminya. Rasa takut dan gugup itu perlahan memudar, digantikan dengan rasa pengabdian yang dalam.

"Aku siap, Mas. Aku siap kapan pun Mas menginginkannya," jawab Lilis lirih namun penuh keyakinan. Ia sadar, inilah kewajibannya sekaligus haknya sebagai seorang istri.

Arka tersenyum sangat lebar, senyum penuh kelegaan dan kebahagiaan. Ia mengecup kening Lilis dengan lembut dan lama. "Terima kasih, Istriku," ucapnya tulus.

Arka kemudian membimbing Lilis menuju tempat tidur. Sebelum melangkah lebih jauh, Arka berhenti sejenak dan menatap Lilis kembali dengan lembut.

"Baca doa dulu," bisik Arka.

Malam itu menjadi saksi jika Elisa, sepupu yang ia nikah secara mendadak telah resmi menjadi istrinya. Tidak ada lagi penghalang diantar mereka. Dan ketakutan Lilis perlahan memudar. sesuai janjinya Arka memperlakukan Lilis sangat lembut.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga baca marathon.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dasar Kakek sama Opanya Gibran ada saja bahan bikin ribut./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang di dunia baru mu baby Gibaran Hafizan.. panggilannya GIBRAN atau HAFIZAN nih.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihi pak Yuda lucu sekali kayak bocil lagi merajuk./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya calon Arka - Elisa junior hadir juga.👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Inibsebenarnya dokter Gunawan yang salah prediksi apa gimana sih, kok Elisa kebiasaannya menunjukan dan perubahan badan serta moodnya kayak orang lagi hamil.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu gantle Elham.👍
Hana buka hati mu untuk Elham suami mu karna dia sudah benar² berjuang keras untuk tanggung jawab dan maaf mu jadi berjuang bareng² saling melengkapi karna kamu sudah melihat sendiri gimana perjuangan dia di depan mu sampe rela melepas semua barang dan jabatan daribAyahnya demi kamu juga
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kok bisa gitu ya, di kirain beneran hamil.🤔
Mungkin belum waktunya... di suruh mantenan dulu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Aduh Arka kamu dokter sampe ga kedeteksi kalau Elisa lagi hamil, biasanya kan dari gejalanya saja sudah ada ngarah ke situ beda sama Magh... coba kalau tadinya diperiksa denyut nadinya pasti ada yang beda.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah Loh bu Tantri dengan bu Marni saling mengenal, kejadian antara Elham dan Hana menjadi penghubung antara bu Tantri dan bu Marni yang mungkin sudah lama ga bertemu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Calon baby sudah hadir nih dari gejalanya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
pak Yasir ini kayaknya arogan banget, sombong dan lebih mentingin kehormatan dari pada tanya baik² anaknya gimana.
Sudah sepuh harusnya ga pake otot pak takutnya larinya ke stroke.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus berjuang Elham, jangan menyerah sampe kamu benar² sudah sampe batas di mana kamu harus terus maju atau mundur untuk berhenti berjuang dan mendapatkan jawaban keputusan dari Hana.💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sebenarnya ga ada yang namanya untung di sini tapi di balik kejadian Hana, hikmahnya adalah dia meskipun kehilangan kehormatan tapi Elham hadir bertanggung jawab dan datang di waktu yang tepat juga di saat bu Marni memerlukan pertolongan plus sosok Elham mungkin yang Allah kirim untuk jadi tempat Hana bersandar plus berbagi beban hidup yang selama ini dia keluhkan.

Jadi Hana dengan bantuan dan hadirnya Elham juga kamu ga kehilangan ibu mu, orang tua yang paling kamu sayangi... tapi masalahnya bukan hanya pada maaf Hana tapi juga ortu'nya Elham gimana nanti.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Betul Arka, meskipun kesalahan Elham berat tapi dia mau tanggung jawab dan ga lari dari kesalahannya begitu juga dia mau berjuang untuk maafnya Hana dan membantu bu Marni biayain operasinya dan menuhin kebutuhan Hana.

Biar waktu yang menjawab gimana nanti keputusan Hana pada Elham entah mau menerima dia atau ngga yang penting Elham sudah berusaha.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Saatnya Elham berjuang maaf pada Hana, untung juga a Elham datang tepat waktu jadi berarti Elham masih punya sisi baik meskipun itu ga bisa mengubah / mengembalikan keadaan Hana seperti dulu tapi kalau Elham haris menebus kesalahannya itu tergantung Hana gimana karna takutnya Hana hamil.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus kalau kamu pergi, Ibu mu di rumah barrng siapa dan siapa yang rawat beliau Hana.

Apalagi sakit jantung, kalau sewaktu² kambuh terus kamu ga ada yang ada kamu bakal lebih nyesel seumur hidup... lari dari masalah malah akan dapat cobaan baru
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Waduh apa Hana di perk0sa sama Elham ya karna Elham patah hati dan frustasi saat tau kalau Elisa sudah menikah dan berkahir mabuk terus lampiasin ke si Hana.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada hubungan apa Hana dengan Elham kok kayak terjadi sesuatu di antara mereka.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bilang saja kamu keberatan karna kamu sudah menikah dan ga mau bikin salah paham Elisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!