NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 8 Menaruh Curiga

Cahaya lampu kristal di butik eksklusif itu memantul di deretan gaun-gaun sutra yang menggantung rapi. Namun, kemewahan itu tak mampu mendinginkan suasana hati Bara yang kian mendidih. Dia melirik jam tangan Rolex-nya untuk kesepuluh kalinya dalam sepuluh menit terakhir.

Sudah hampir satu jam lewat tiga puluh menit, mereka terjebak di tempat ini. Bagi Bara, melihat Renata memegang satu per satu pakaian adalah siksaan yang lebih berat daripada rapat direksi berjam-jam. Karena itu lah ia duduk di sofa dengan kaki bersilang, rahangnya mengeras menahan rasa bosan.

"Masih lama?" ucap Bara.

"Nyari baju aja lama banget, kaya mau cari gaun pengantin lagi. Pilih satu aja nggak usah banyak-banyak."

Renata tidak menggubris nada bicara suaminya. Tangannya lincah memilah antara gaun mala berbahan satin dan dress katun ringan. Tiba-tiba, dia menarik sebuah gaun midi berwarna terracotta yang elegan namun tampak nyaman saat di pakai.

"Hei," panggil Renata pelan. Dia membalikkan badan, menempelkan gaun itu ke tubuhnya di depan cermin besar. "Kata kamu bagus yang ini, atau yang tadi aku pegang?"

Bara tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, matanya membelalak menatap Renata. Ini pertama kalinya Renata memanggilnya dengan sebutan sesantai itu di depan umum, tanpa embel-embel ketegangan yang biasanya mewarnai percakapan mereka.

"Hah? Apa?" Bara mengerjap, sejenak kehilangan kata-kata.

"Yang mana? Bagus yang ini atau yang warna krem tadi?" ulang Renata, kali ini dengan tatapan untuk menuntut jawaban.

Bara berdehem, mencoba menguasai kembali ekspresinya yang sempat goyah. Dia melirik ke arah dua pelayan butik yang sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum kagum pada "kemesraan" mereka.

"Yang... yang barusan kamu tunjukin," jawab Bara pendek, suaranya agak kaku.

Dalam hatinya, Bara ingin sekali mengumpat. Gila, geli banget gue ngomong begini, batinnya sinis. Dia merasa jijik harus berpura-pura memberikan pendapat soal baju wanita, tapi dia sadar mereka sedang berada di tempat umum. Ia melakukan itu tidak mau ada desas-desus tidak enak sampai ke telinga Papanya kalau dia terlihat tidak peduli pada istrinya.

"Yaudah, aku ambil yang ini satu," ujar Renata puas. Dia berjalan menuju meja kasir dengan langkah yang sedikit lebih ringan.

Bara hanya bisa mendengus pelan, matanya mengikuti punggung Renata. Dia merasa terjebak dalam sandiwara yang dibuatnya sendiri. Genggaman tangan saat masuk tadi, panggilan yang baru pertama kali ia dengar dari Renata barusan, semuanya terasa seperti benang yang perlahan melilitnya dalam peran sebagai "suami idaman".

Namun, ketenangan semu itu terusik saat saku celananya bergetar hebat. Bara merogoh ponselnya. Menampilkannama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan sejenak.

Maya, panggilan suara...

Bara melirik ke arah Renata yang masih sibuk di kasir, lalu beralih ke layar ponselnya. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena cinta yang manis, melainkan karena dia tahu panggilan ini adalah awal dari kekacauan yang akan terjadi hari ini.

Dengan gerakan cepat, Bara menggeser layar ponselnya dan melangkah menjauh sedikit dari Renata, mencari sudut butik yang lebih sepi di balik jajaran manekin gaun malam.

"Halo, May?" bisik Bara, suaranya rendah dan penuh tekanan, seolah takut sekitarnya mendengar obrolan mereka.

Renata sempat menoleh saat menyadari genggaman tangan Bara terlepas dan suaminya itu menjauh. Dia melihat punggung tegap Bara yang membelakanginya, tampak serius berbicara di ponselnya.

Pasti dari rekan kerjanya, batin Renata mencoba berpikiran positif. Tadi kan Reno bilang ada dokumen yang belum beres, mungkin Bara harus turun tangan juga. Dia tidak ingin merusak suasana hatinya yang sedikit membaik setelah berhasil memilih baju yang dia sukai. Renata memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali fokus menyelesaikan pembayaran menggunakan kartunya.

"Ada apa, May? Aku lagi di luar," ucap Bara, matanya sesekali melirik ke arah Renata untuk memastikan istrinya itu tidak mendekat.

"Bara... aku butuh bantuan kamu," suara Maya di seberang sana terdengar bergetar, seolah dia baru saja menangis atau sedang menahan sesak. "Aku... aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Ini soal urusan mendesak yang dulu pernah kita bahas. Bisa kita ketemu sebentar? Nanti aku sharelock."

Bara terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Namun, rasa khawatirnya mengalahkan pikirannya. "May, aku nggak bisa ninggalin Renata sendiri di sini. Kita lagi—"

"Cuma sebentar, Bara. Please... aku benar-benar butuh kamu sekarang. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi," potong Maya dengan nada memohon.

Bara memejamkan mata, mengusap wajahnya dengan kasar. Di satu sisi, ada tanggung jawab yang dipesan Papanya. Di sisi lain, ada wanita yang selama ini mengisi hatinya sedang memohon bantuan.

Dia menoleh lagi ke arah Renata. Istrinya itu sedang menunggu barang belanjaannya yang di itung pelayan, dan ia tersenyum tipis. Senyum yang membuat Bara merasa sedikit bersalah, namun ego dan rasa sayangnya pada Maya jauh lebih kuat.

"Oke. Lima belas menit. Aku ke sana sekarang, terus jangan lupa sharelock." Bisik Bara sebelum mematikan sambungan telepon.

Bara melangkah kembali mendekati Renata dengan wajah yang kini tampak tegang dan gelisah. "Renata," panggilnya, suaranya tidak lagi sekaku tadi, melainkan lebih terburu-buru, "Aku barusan dapat telepon dari kantor. Ada urusan mendadak yang nggak bisa ditunda, Reno kayaknya kewalahan sama klien yang tadi pagi dibahas. Aku harus ke ketemu dia sekarang."

Renata yang baru saja menerima paper bag belanjaannya menoleh, sedikit terkejut namun ekspresinya tetap tenang. Dia melihat gelagat suaminya yang tampak sangat gelisah—sebuah kegelisahan yang menurutnya wajar jika menyangkut bisnis besar keluarga Adiwangsa.

"Oh, yaudah. Kalau emang urusanya penting, pergi aja," jawab Renata pelan. Dia tidak ingin menjadi penghalang pekerjaan suaminya, apalagi dia tahu betapa ambisiusnya Bara.

"Kalo begitu akupesenin taksi online sekarang ya? Biar kamu aman sampai rumah. Nanti aku bilang ke Papa kalau aku harus balik ke kantor duluan," tawar Bara sambil jemarinya sudah mulai mengotak-atik ponsel, seolah ingin segera mengakhiri keberadaannya di samping Renata.

Renata menggeleng kecil, dia menjauhkan ponsel Bara dengan telapak tangannya. "Nggak usah... Aku masih mau keliling sebentar, masih ada beberapa barang yang mau di lihat-lihat. Nanti juga kalo aku mau pulang, kan bisa pesan taksi sendiri."

Bara terdiam sejenak, menatap Renata dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa lega yang luar biasa karena Renata tidak rewel atau bertanya macam-macam, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada sepercik rasa bersalah yang aneh karena dia baru saja membohongi wanita yang semalam baru saja ia klaim sebagai miliknya.

"Kamu yakin? Terus duit yang Papa kasih tadi masih cukup, kan?" tanya Bara memastikan, nada suaranya sedikit melunak, mungkin sebagai bentuk kompensasi untuk kebohongannya.

"Lebih dari cukup, Bara. Udah, sana pergi. Nanti klien kamu malah nunggu lama," sahut Renata sambil mulai melangkah menuju eskalator, meninggalkan Bara yang masih berdiri terpaku di depan butik.

"Oke. Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam," ucap Bara singkat sebelum dia berbalik arah dan berlari menuju pintu keluar mal.

Renata menghentikan langkahnya sejenak di atas eskalator yang mulai membawanya naik. Dia menatap punggung Bara yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ada kebebasan yang dia rasakan saat Bara pergi, namun ada juga kekosongan yang menyesakkan.

Dia tidak tahu bahwa di luar sana, Bara bukan menuju kantor, melainkan menuju sebuah tempat untuk menemui cinta pertamanya yang baru saja menghancurkan kencan pertama mereka.

Bara membelah keramaian mal dengan langkah terburu-buru, menuju area parkir basement. Napasnya memburu, bukan hanya karena lelah, tapi karena desakan adrenalin yang dipicu oleh rasa khawatir, dan mungki... rasa bersalah yang ia tekan dalam-dalam.

Begitu sampai di samping mobilnya, ia menyentuh sensor pintu dengan kasar dan langsung melompat ke kursi kemudi. Suasana di dalam mobil yang tertutup rapat terasa panas dan menyesakkan. Sebelum menyalakan mesin, Bara merogoh ponselnya kembali di saku celana.

Muncul sebuah notifikasi pesan masuk berkedip di layar.

Maya: [Location Shared] "Aku tunggu di sini ya. Tempat favorit kita dulu."

Jari Bara membeku di atas layar saat lokasi digital itu terbuka. Titik merah itu berhenti di sebuah restoran dengan pemandangan taman kota yang indah, tempat di mana mereka menghabiskan malam terakhir sebelum pernikahan paksa Bara dan Renata terjadi. Tempat di mana janji-janji manis pernah diucapkan, namun akhirnya kandas pun terjadi.

Bara tertegun. Dahinya berkerut dalam, matanya menatap tajam ke arah ponsel. Kenapa harus ke situ? batinnya bimbang.

Kalau cuma mau minta tolong, kenapa dia sharelock tempat kencan terakhir gue?

Ada firasat aneh yang merayapi tengkuknya. Maya bukan tipe wanita yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Memilih tempat penuh kenangan itu jelas merupakan sebuah pernyataan, atau mungkin, sebuah jebakan emosional.

"Fuck," umpat Bara rendah.

Meski logikanya memperingatkan bahwa ada maksud lain di balik pilihan tempat itu, egonya tak mampu berbalik arah. Rasa penasaran dan bayang-bayang masa lalu itu masih terlalu kuat mencengkeramnya.

Bara menginjak pedal rem, menekan tombol start, dan mesin mobil menderu garang. Dengan putaran kemudi yang tajam, ia memacu mobilnya keluar dari area parkir, meninggalkan mall dan istrinya jauh di belakang, menuju masa lalu yang seharusnya ia move on dari masalalunya itu.

Sementara Renata melangkah perlahan, melihat-lihat sekitarnya, sambil membawa paper bag di tangannya yang sekarang terasa sedikit lebih berat. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari rasa lemas di kakinya dengan melihat-lihat etalase kaca yang memajang tren fashion terbaru.

Pada saat di depan sebuah butik pria kelas atas langkahnya terhenti. Dan matanya tertuju pada sebuah kemeja linen berwarna biru navy yang terpajang di manekin. Warna itu pasti cocok kalau dipakai Bara, batinnya spontan.

Ia sempat terpikir untuk masuk dan membelikan sesuatu untuk suaminya, sebagai bentuk terima kasih karena sudah menemaninya tadi, atau mungkin sebagai upaya kecil untuk mencairkan es di antara mereka. Namun, jemarinya yang baru saja menyentuh gagang pintu butik mendadak kaku.

"Bentar?" gumam Renata pelan, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk pengunjung mal.

Logikanya mulai bekerja. Mengingat betapa gelisahnya Bara saat menerima telepon tadi, dan betapa cepatnya pria itu menghilang dari pandangannya, rasa curiga mulai merayapi benaknya. Reno tadi pagi bilang ada urusan kantor, tapi kenapa Bara tampak seperti orang yang ketakutan tertangkap basah daripada seorang bos yang dipanggil rapat darurat?

Apa benar dia ke kantor? Atau dia cuma butuh alasan buat kabur dari gue?

Renata menarik kembali tangannya dari pintu butik itu. Niat tulusnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak yang familiar. Ia teringat bagaimana Bara menatap ponselnya tadi, tatapan yang tidak pernah diberikan Bara padanya.

"Bodoh banget kalau gue beliin dia hadiah, sementara dia mungkin lagi ketawa-tawa di belakang gue," bisik Renata sinis pada dirinya sendiri.

Namun, Renata menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir prasangka buruk itu yang mulai menyesakkan dada. Ia menarik napas panjang, menatap kembali kemeja linen biru navy di balik etalase kaca itu dengan tatapan yang lebih teguh.

"Nggak, gue nggak boleh berprasangka buruk," gumamnya pelan. "Kalau dia beneran ke kantor, setidaknya kemeja ini bisa jadi permintaan maaf karena gue udah curiga. Tapi kalau dia bohong..."

Renata menggantung kalimatnya, membiarkan jemarinya kembali menyentuh gagang pintu butik yang dingin. Dengan langkah mantap, ia masuk ke dalam. Ia memilihkan kemeja dengan potongan paling sempurna, membayangkan bagaimana bahu tegap Bara akan terlihat sangat pas di sana. Ia bahkan menambahkan sebuah dasi sutra dengan motif minimalis yang tampak sangat berkelas.

Setelah menyelesaikan pembayaran, menggunakan uang yang diberikan Papah dengan perasaan sedikit getir. Setelah pembayaran selesai, Renata melangkah keluar dari butik dengan tambahan satu paper bag besar di tangannya.

Setelah selesai belanja dan tidak ada lagi yang harus di beli. Ia berjalan menuju lobi timur, setibanya di lobi, Ia berdiri di dekat balkon mal yang menghadap ke arah jalan raya, matanya menatap kosong ke arus lalu lintas di bawah sana. Jemarinya dengan ragu membuka daftar kontak di ponselnya, mencari nama satu orang yang ia tahu tidak akan bisa berbohong padanya.

Reno.

Jantung Renata berdegup kencang saat ia menekan tombol panggil. Ia harus memastikan segalanya. Jika Bara benar-benar ada di kantor bersama sepupunya itu, maka ia akan pulang dengan perasaan lega dan kemeja ini akan menjadi hadiah yang manis. Namun jika tidak...

"Halo, Ren?" sapa Renata saat sambungan terhubung, suaranya diusahakan terdengar santai dan ceria, meski tangannya sedikit gemetar. "Ganggu nggak? Ini... aku mau tanya, Bara udah sampai di kantor belum ya? Tadi katanya ada urusan mendadak sama kamu."

Hening sejenak di seberang telepon. Di kantornya, Reno memijat pangkal hidungnya. Ia tahu persis Bara tidak ada di sini, tapi ia juga tidak mau rumah tangga sepupunya itu hancur berantakan.

"Oh, Bara? Ada kok, dia lagi di ruangannya, agak sibuk sih. Kenapa? Kamu mau bicara sama dia?" tanya Reno, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar senatural mungkin.

Renata menghembuskan napas lega yang panjang. "Nggak usah, Reno. Aku cuma mau memastikan aja dia udah sampai atau belum."

"Emang kenapa tiba-tiba nanyain Bara?" selidik Reno.

Renata bersandar di pagar pembatas mall, menatap paper bag berisi kemeja pria di tangannya. "Tadi kita lagi belanja, terus tiba-tiba dia dapat telepon. Katanya ada urusan mendadak banget di kantor sama kamu, makanya dia buru-buru pergi. Aku pikir dia bohong sama, yah... aku cuma mastiin aja telpon kamu."

Mendengar itu, jantung Reno seolah berhenti berdetak. Sialan lo Bara, bawa-bawa nama gue umpat Reno dalam hati. Namun, ia tetap berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar.

"Oh... iya, emang tadi aku yang minta dia buat dateng kesini," bohong Reno lagi, meski hatinya merasa tidak enak. "Eh, kamu sendiri sekarang lagi di mana? masih di mall? "

Renata tersenyum tipis, merasa sedikit bersalah karena sempat menaruh curiga pada suaminya sendiri. "Iya aku masih di mall, Reno. Tapi ini udah mau pulang kok. Bentar lagi taksi online datang, terus aku langsung pulang."

"Oke kalau gitu. Hati-hati di jalan ya, Ren," jawab Reno singkat.

"Iya, tolong sampein ke Bara yah..." singkatnya, sebelum sambungan terputus.

Renata memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia menatap kemeja biru navy itu dan tersenyum.

"Untung aku nggak jadi beli tadi," gumam Renata pada dirinya sendiri.

Ia mulai melangkah menuju titik jempuatannya itu dengan perasaan yang jauh lebih lega. Sambil menjinjing belanjaannya, ia sudah membayangkan wajah Bara saat menerima kemeja biru itu nanti. Ia merasa senang karena ternyata dugaannya salah; suaminya benar-benar pergi untuk kerja, bukan buat macam-macam.

Tapi sayangnya, Renata nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di saat yang sama, Reno di kantornya lagi panik setengah mati. Ia terus-terusan mencoba menelepon Bara, tapi panggilannya nggak diangkat-angkat. Reno mondar-mandir di ruangannya sambil mengumpat pelan, bingung harus gimana kalau dia telah berbohong pada Renata.

Padahal sebenarnya, Bara sama sekali nggak ada di kantor. Dia malah lagi asyik duduk berdua di sebuah restorant, bersama seorang wanita. Bara bukannya sibuk sama urusan kerjaan yang dia jadikan alasan tadi, malah kelihatan serius banget dengerin omongan wanita yang ada di sampingnya, seolah dia lupa kalau dia baru saja membohongi istrinya demi pertemuan ini.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!