Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Sesuatu yang Salah
“Kau tidak masuk lagi?”
Suara Alice memecah kesunyian yang mencekam di depan Klinik Arden. Suaranya terdengar jernih, namun ada getaran halus di sana yang menunjukkan bahwa ia tidak senyaman biasanya.
Leon masih berdiri tegak di seberang jalan, bersandar pada motor hitam besarnya yang tampak seperti monster baja yang sedang beristirahat. Helm full-face berwarna hitam matte masih menutupi wajahnya, memantulkan sisa-sisa cahaya jingga dari langit yang mulai membusuk di ufuk barat. Ia tidak menoleh, tidak juga memberikan reaksi fisik yang berarti saat mendengar sapaan itu.
Di belakang Alice, pintu kaca klinik masih sedikit terbuka. Cahaya lampu neon yang hangat dari dalam memotong kegelapan gang di Distrik 6, menciptakan garis batas yang tegas antara keamanan di dalam dan ketidakpastian di luar.
“Aku tidak sakit,” jawab Leon singkat. Suaranya teredam oleh helm, terdengar berat dan datar.
Alice berjalan beberapa langkah mendekat, melintasi jalanan aspal yang retak-retak. Ia menyilangkan tangan di depan dada, mencoba menghalau angin sore yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Jas putih dokternya sedikit berkibar, tampak kontras dengan lingkungan sekitarnya yang serba abu-abu dan kusam.
“Biasanya hal itu tidak pernah menghentikanmu untuk sekadar duduk dan meminum kopi pahit yang kau benci itu,” ujar Alice dengan nada menyindir yang dipaksakan.
Leon tetap tidak bergeming. Matanya yang tersembunyi di balik visor gelap terus mengawasi ujung jalan. Di sepanjang gang, pemandangan sore ini terasa ganjil. Toko-toko kelontong dan bengkel kecil yang biasanya buka hingga larut malam kini sudah menutup tirai besi mereka lebih awal. Bunyi gemeretak rantai dan gembok yang dikunci terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan. Lampu-lampu jalan padam satu per satu sebelum waktunya, seolah-olah kota ini sedang bersiap untuk mati.
Distrik 6 malam ini terasa lebih sepi dari biasanya—kesunyian yang tidak alami, kesunyian yang hanya muncul ketika predator sedang mengintai di semak-semak.
Alice mengikuti arah pandang Leon, matanya menyipit mencoba menembus bayangan yang semakin memanjang. “Kau melihat sesuatu, Kurir?”
“Tidak,” jawab Leon. Terlalu cepat. Terlalu tegas.
Alice mengerutkan kening, rasa curiga mulai merayap di benaknya. “Aneh sekali.”
Leon sedikit memiringkan kepalanya, sebuah gerakan minimalis yang menandakan ia sedang mendengarkan. “Apa yang aneh?”
Alice menunjuk ke arah ujung jalan, tempat sebuah tiang lampu yang hanya berpijar redup. “Biasanya jam segini jalanan ini masih ramai. Anak-anak panti asuhan di ujung jalan biasanya masih berlarian, dan para pekerja pabrik baru saja keluar dari shift sore. Tapi hari ini…” Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “…hari ini rasanya seperti semua orang sedang bersembunyi.”
Leon tidak menyangkalnya. Ia baru saja melihat seorang pria paruh baya berjalan dengan langkah sangat cepat di trotoar seberang. Pria itu tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, tangannya menggenggam erat tas plastiknya, seolah-olah jika ia berhenti sedetik saja, bayangan di belakangnya akan menelannya hidup-hidup.
“Pagi tadi ada pasien yang tidak datang,” kata Alice pelan, suaranya hampir tertelan oleh desau angin.
Leon tetap diam, menunggu Alice melanjutkan.
“Namanya Pak Gable. Dia penderita arthritis kronis yang biasanya datang setiap minggu tanpa absen untuk mengambil obatnya. Dia sangat disiplin soal jadwal,” Alice menghela napas, matanya menatap kosong ke arah aspal. “Dia tidak datang pagi tadi. Aku mencoba meneleponnya, tapi tidak ada jawaban.”
“Mungkin dia sedang sibuk,” sahut Leon tanpa emosi.
Alice menggelengkan kepalanya dengan yakin. “Dia tidak pernah absen, Leon. Tidak dalam tiga tahun terakhir. Dan bukan cuma dia. Tiga pasien lain yang seharusnya kontrol sore ini juga tidak memunculkan batang hidungnya.”
Sunyi kembali turun di antara mereka. Angin sore berembus lebih kencang, membawa aroma yang tidak asing bagi Leon—bau logam berkarat, aspal basah, dan sisa-sisa mesiu yang samar. Aroma kematian yang belum benar-benar menguap.
Alice menatap Leon dengan intens, seolah mencoba menembus visor hitam itu untuk melihat apa yang ada di pikiran pria itu. “Dan tadi…”
Ia berhenti lagi. Keraguan melintas di wajahnya yang letih.
“Tadi aku melihat sesuatu saat aku membuang sampah medis ke belakang,” lanjut Alice dengan suara yang lebih rendah.
Kali ini, Leon benar-benar memutar tubuhnya untuk menghadap Alice. “Apa yang kau lihat?”
Alice menarik napas pelan, seolah oksigen yang ia hirup terlalu berat untuk paru-parunya. “Darah.”
Suasana di sekitar mereka langsung terasa lebih berat, seakan gravitasi di Distrik 6 meningkat dua kali lipat dalam sekejap. Leon tidak bereaksi secara fisik, namun secara mental, ia sedang memetakan kembali area perkelahian semalam.
“Di ujung gang belakang, dekat pipa air yang bocor,” lanjut Alice, suaranya sedikit bergetar. “Tidak banyak, hanya beberapa bercak yang tersisa di sela-sela bata. Tapi aku seorang dokter, Leon. Aku tahu perbedaan antara oli mesin dan darah manusia. Seseorang terluka di sana. Dan darah itu masih cukup baru.”
Leon menjawab dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya, “Distrik ini tidak pernah benar-benar bersih, Alice. Perkelahian antar geng adalah sarapan harian di sini.”
Alice menggeleng perlahan, matanya tidak melepaskan tatapan dari helm Leon. “Bukan seperti itu. Aku sudah tinggal di sini cukup lama untuk mengetahui pola kekerasan di Distrik 6. Ini berbeda. Tidak ada teriakan semalam. Tidak ada suara tembakan yang pecah. Semuanya terjadi dengan sangat… sunyi.”
Ia menatap mata Leon yang tersembunyi. “Ini baru. Dan ini profesional.”
Leon menahan tatapan itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Ia bisa merasakan kecerdasan Alice mulai menghubungkan titik-titik yang seharusnya tetap terpisah.
“Kau terlalu memperhatikan hal-hal kecil,” kata Leon akhirnya.
Alice tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang penuh pengertian. “Itu pekerjaanku sebagai dokter. Mendiagnosis gejala sebelum penyakitnya membunuh pasien.”
Leon tidak menjawab. Ia ingin menyuruh Alice masuk, mengunci pintu, dan tidak keluar sampai matahari terbit, namun ia tahu itu hanya akan membuatnya semakin curiga.
Alice melangkah sedikit lebih dekat, melintasi garis imajiner yang biasanya menjadi batas kenyamanan Leon. Sekarang jarak mereka hanya terpaut dua langkah. “Kau tahu sesuatu, kan?”
Leon berkata pendek, “Tidak.”
Alice menghela napas panjang, tampak kecewa namun tidak terkejut. “Kau selalu bilang begitu. Setiap kali ada sesuatu yang tidak beres di sekitar klinik ini, kau selalu berdiri di sana seperti patung, mengatakan tidak tahu apa-apa, sementara tanganmu selalu berada di dekat senjata.”
Leon menatap jalanan lagi, menghindari konfrontasi lebih jauh. Alice memperhatikan profil samping helm Leon, cara pria itu berdiri yang selalu siap untuk meledak dalam aksi sekecil apa pun.
“Sejak kau datang ke sini…” Alice menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
Leon tetap tidak bergerak, namun telinganya menangkap setiap desis udara.
“…semuanya mulai terasa berbeda,” lanjut Alice. “Distrik ini memang kumuh dan berbahaya, tapi sekarang rasanya seperti ada kabut gelap yang mengikutimu. Ke mana pun kau pergi, kesunyian yang mengerikan ini selalu mengikutimu.”
Leon berkata dengan suara rendah, “Ini distrik yang terus membusuk, Alice. Selalu berubah. Jangan menyalahkan kehadiranku untuk sesuatu yang memang sudah hancur.”
Alice menggeleng perlahan. “Bukan seperti ini. Ini bukan pembusukan alami. Ini seperti… pembersihan.”
Sunyi lagi. Kali ini lebih lama dan lebih menyesakkan. Alice menatap Leon lebih dalam, seolah mencari kejujuran di balik topeng baja itu.
“Apa semua ini karena kamu?”
Pertanyaan itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa seperti hantaman palu godam di dada Leon. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Leon terlihat berpikir sebelum menjawab. Ia merenungkan lima mayat yang ia tumpuk semalam, dan bayangan Rook yang mengintai dari kegelapan.
Lalu ia berkata datar, “Tidak.”
Alice tidak terlihat puas dengan jawaban itu. Ia tahu Leon berbohong, atau setidaknya menyembunyikan sebagian besar dari kebenaran yang mengerikan. Namun, ia juga tahu bahwa mendesak pria ini tidak akan membuahkan hasil. Leon adalah tembok, dan Alice tidak memiliki alat untuk meruntuhkannya.
“Kalau memang bukan karena kamu…” Alice menoleh ke arah jalan yang semakin gelap dan hampa. “…maka sesuatu yang jauh lebih buruk sedang terjadi pada kota ini, dan kita semua hanya sedang menunggu giliran.”
Leon tidak bisa menyangkal hal itu. Kenyataannya memang jauh lebih buruk dari apa yang bisa dibayangkan oleh Alice.
“Kau tidak akan memberitahuku apa pun yang terjadi sebenarnya, kan?” tanya Alice sekali lagi, kali ini dengan nada pasrah.
Leon menjawab dengan kejujuran yang brutal. “Tidak.”
Alice tersenyum tipis. Kali ini bukan senyum hangat, melainkan senyum seseorang yang akhirnya menerima bahwa dia sedang berada di dalam permainan yang tidak dia pahami aturannya. “Setidaknya kau jujur soal ketidakterbukaanmu.”
Beberapa detik berlalu dalam kecanggungan yang tajam. Alice akhirnya membalikkan badan, menunjuk ke arah klinik di belakangnya. “Kalau kau tetap bersikeras tidak mau masuk, aku harus kembali bekerja. Masih ada laporan medis yang harus kuselesaikan sebelum listrik distrik ini benar-benar dipadamkan secara bergilir.”
Leon mengangguk sedikit. “Ya. Masuklah.”
Alice berjalan menuju pintu, namun tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti dan menoleh sedikit. “Kurir.”
Leon mengangkat kepalanya. “Apa?”
Alice tidak menoleh sepenuhnya, namun profil wajahnya terlihat lelah di bawah lampu neon. “Kalau suatu hari nanti semua ini benar-benar menjadi buruk… maksudku, sangat buruk…” Ia berhenti sejenak, suaranya hampir hilang. “…jangan tunggu sampai terlambat untuk pergi. Tinggalkan aku, tinggalkan klinik ini. Selamatkan dirimu sendiri.”
Leon tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap punggung wanita itu saat ia masuk ke dalam klinik. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang final, mengunci cahaya hangat di dalam dan membiarkan Leon sendirian di tengah kegelapan yang merayap.
Begitu pintu tertutup, suara Gray langsung menusuk masuk ke earpiece-nya. “Dia mulai menghubungkan titik-titiknya, Leon. Alice bukan wanita bodoh. Dia menyadari hilangnya orang-orang itu.”
Leon menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak di balik helmnya. “Ya. Dia tahu ada sesuatu yang salah.”
Gray bertanya dengan nada mendesak, “Kau akan memberitahunya yang sebenarnya? Bahwa dia adalah target utama organisasi paling berbahaya di Valmere?”
Leon menggeleng sedikit, meskipun Gray tidak bisa melihatnya. “Belum. Informasi itu hanya akan membuatnya menjadi target yang lebih mudah jika dia panik.”
Gray menghela napas kasar di seberang sana. “Kau kehabisan waktu, Leon. Rook bukan tipe orang yang suka menunggu. Dia sedang bermain-main denganmu, dan Alice adalah mainannya.”
Leon tidak menjawab. Ia menatap jalan kosong di depan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding bangunan tua. Distrik 6 terasa seolah sedang menahan napas, menunggu sebuah ledakan yang akan menghancurkan segalanya.
“Aku tahu,” bisik Leon pelan pada dirinya sendiri.
Sunyi menguasai lini komunikasi selama beberapa detik. Lalu, suara Gray kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih berat dan penuh ketegangan.
“Leon.”
“Apa.”
“Ada pergerakan lagi. Sesuatu yang baru saja tertangkap sensor perimeter yang kupasang di atap seberang.”
Leon langsung waspada. Tangannya secara otomatis bergerak ke arah pistol yang tersembunyi di balik jaketnya. Tubuhnya menegang, beralih ke mode tempur dalam hitungan milidetik. “Di mana?”
Gray menjawab dengan suara yang bergetar kecil. “Sangat dekat dengan klinik. Terlalu dekat.”
Leon menoleh tajam ke kiri dan ke kanan, namun jalanan di depannya masih terlihat kosong melongpong. Tidak ada kendaraan, tidak ada pejalan kaki. Hanya ada angin yang mempermainkan sampah plastik di aspal. “Aku tidak melihat apa-apa, Gray. Radar visual bersih.”
“Tentu saja kau tidak melihatnya,” kata Gray pelan, suaranya nyaris seperti bisikan ketakutan. “Karena dia tidak bergerak seperti pemburu-pemburu yang kau habisi semalam.”
Leon mengerutkan kening. Instingnya mulai berteriak, memberikan peringatan bahaya di dasar tengkoraknya. “Apa maksudmu?”
Gray menarik napas panjang di ujung sana. “Dia tidak baru saja datang, Leon. Berdasarkan log aktivitas sensor yang baru saja kupulihkan… dia sudah ada di sana sejak kalian mulai bicara tadi.”
Leon merasakan sensasi dingin menusuk tulang belakangnya. Insting predatornya yang sudah terasah selama bertahun-tahun sebagai Phantom memberitahunya bahwa dia sedang diawasi. Secara perlahan, sangat perlahan, ia menolehkan kepalanya ke arah atap bangunan tua yang terbengkalai di seberang klinik.
Di sana, di tengah kegelapan yang pekat, berdiri sebuah siluet.
Sosok itu berdiri diam di tepi atap, tangannya terbenam di dalam saku jaket panjangnya. Ia tidak mencoba bersembunyi. Ia berdiri di sana dengan penuh percaya diri, menghadap langsung ke arah klinik, menghadap langsung ke arah Leon.
Leon berkata dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan maut. “Rook.”
Di atas sana, Rook berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Ia tidak mencabut senjata, tidak mengambil posisi menyerang. Ia hanya mengamati, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang menarik dari balkon pribadinya.
Lalu, seolah merasakan tatapan Leon, Rook perlahan mengangkat satu tangannya. Ia memberikan sebuah gerakan salam kecil yang elegan, hampir sopan, namun penuh dengan ejekan yang mematikan. Di bawah cahaya bulan yang redup, Leon bisa melihat seringai tipis di wajah pria itu.
Rook mendekatkan jari telunjuknya ke bibir, lalu menunjuk ke arah pintu klinik tempat Alice berada, sebelum akhirnya suara Rook pecah melalui frekuensi radio yang entah bagaimana berhasil ia retas.
“Indah sekali, bukan, Phantom? Keheningan sebelum semuanya hancur berantakan?”