Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanehan yang Hangat
Kami akhirnya keluar ke balkon villa.
Udara pagi sangat segar.
Kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon pinus.
Ashar membawa dua cangkir cokelat panas lagi.
Aku menatap cangkir itu sambil tertawa kecil.
“Kita benar-benar menjadikan cokelat panas sebagai tradisi.”
“Tradisi yang bagus.”
Kami duduk berdampingan.
Sunyi pagi terasa damai.
Untuk beberapa saat kami hanya menikmati pemandangan.
Lalu Ashar berkata pelan:
“Mala.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Aku menoleh.
“Untuk apa?”
Ia terlihat sedikit malu.
“Untuk… bersabar denganku.”
Aku menggeleng.
“Kita berdua sama-sama belajar.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi kamu yang lebih sabar.”
Aku tidak menjawab.
Karena sebenarnya aku juga belajar banyak dari Ashar.
Tentang kesabaran.
Tentang ketulusan.
Tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa terasa sangat berarti.
Setelah sarapan sederhana di villa, kami memutuskan berjalan-jalan di sekitar hutan pinus.
Jalan setapak kecil dipenuhi daun kering.
Udara masih dingin.
Ashar berjalan di sebelahku.
Beberapa kali ia secara refleks menarikku sedikit lebih dekat ketika jalan menjadi licin.
“Aku bisa berjalan sendiri,” kataku sambil tersenyum.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku hanya berjaga-jaga.”
Aku menatapnya dengan mata menyipit.
“Kamu berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Sedikit lebih… protektif.”
Ia terlihat berpikir.
“Mungkin.”
Aku tersenyum.
“Ini perubahan yang bagus.”
Ashar menatapku beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Aku hanya ingin menjagamu.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi membuat dadaku terasa hangat.
Di tengah jalan setapak, Ashar tiba-tiba berhenti.
“Apa?”
Ia menunjuk sesuatu di tanah.
“Ada lumut.”
Aku mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Licin.”
Aku tertawa.
“Ashar, ini hutan pinus. Tentu ada lumut.”
Ia terlihat sangat serius.
“Kamu harus hati-hati.”
“Aku tidak akan jatuh.”
Lima detik kemudian—
aku terpeleset sedikit.
Ashar langsung menangkap tanganku.
Kami berdua terdiam beberapa detik.
Lalu aku tertawa keras.
Ashar menatapku dengan ekspresi setengah lega setengah kesal.
“Aku sudah bilang.”
“Baiklah… kamu benar.”
Ia menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Aku akan menggunakan ini sebagai bukti.”
“Bukti apa?”
“Bahwa kamu memang perlu dijaga.”
Aku tidak membantah.
Karena diam-diam aku menyukai cara ia mengatakan itu.
Sisa hari kami habiskan dengan berjalan-jalan, makan siang di restoran kecil dekat villa, dan berbicara tentang banyak hal.
Ashar terlihat jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia bahkan mulai membuat lelucon yang sedikit lebih percaya diri.
Meskipun sebagian besar tetap… aneh.
“Kalau kita tinggal di hutan pinus selamanya, kamu mau?” tanyanya.
“Kenapa?”
“Kita bisa membuka kafe cokelat panas.”
Aku tertawa.
“Itu ide bisnis yang sangat spesifik.”
“Setidaknya kita sudah punya menu andalan.”
“Cokelat panas?”
Ia mengangguk.
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Ashar…”
“Iya?”
“Kamu lucu.”
Ia terlihat sedikit malu.
“Aku tidak yakin itu pujian.”
“Itu pujian.”
Malam itu ketika kami kembali ke villa, suasana terasa berbeda.
Tidak ada lagi ketegangan seperti malam sebelumnya.
Hanya kehangatan.
Ashar berdiri di dekat pintu kamar dan menatapku dengan senyum kecil.
“Mala.”
“Hm?”
“Kurasa aku mulai mengerti sesuatu.”
“Apa?”
Ia mendekat.
Bahunya hampir menyentuhku.
“Bahwa menjadi suami bukan tentang melakukan semuanya dengan sempurna.”
“Lalu?”
“Melainkan tentang tidak menyerah untuk mencoba.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
Ashar terlihat benar-benar percaya diri.
Bukan percaya diri yang berlebihan.
Tetapi percaya diri yang tumbuh perlahan setelah melewati rasa takut.
Aku memegang tangannya.
“Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik.”
Ia tersenyum.
“Terima kasih, istriku.”
Kata itu terasa hangat di telingaku.
Dan malam di villa kecil itu kembali dipenuhi tawa kecil, percakapan panjang, dan perasaan damai yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya.