NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Upaya Pery Permata untuk membungkam sekolah tidak berhenti pada pipa air yang pecah. Dua hari kemudian, desas-desus mulai merayap di warung-warung kopi pelabuhan. Herman tidak lagi datang dengan alat berat, melainkan dengan amplop tebal dan janji-janji manis.

"Bang Andi," Pak RT datang menghampiri Andi di teras sekolah dengan wajah yang tampak serba salah. Di tangannya ada sebuah brosur mewah tentang relokasi ke rusunawa di pinggiran Jakarta Timur. "Orang-orang Pery Permata itu... mereka mendatangi rumah warga satu per satu semalam. Mereka menjanjikan uang kerahiman yang cukup besar, Bang. Katanya, kalau kita semua setuju pindah, anak-anak tetap bisa sekolah di sana dengan fasilitas lebih bagus."

Andi meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia bisa merasakan kegelisahan Pak RT. Bagi warga yang selama ini hidup di garis kemiskinan, nominal yang ditawarkan Pery Permata adalah godaan yang sangat nyata.

"Pak RT tahu kenapa mereka menawarkan uang itu sekarang?" Andi bertanya dengan nada tenang. "Bukan karena mereka peduli, tapi karena mereka takut dengan rencana kita. Mereka tahu, kalau Kampung Bahari Terintegrasi ini disetujui pemerintah, mereka tidak bisa lagi membangun tembok eksklusif."

"Tapi warga butuh kepastian, Bang. Di sini kumuh, sering banjir," Pak RT menunduk.

Andi berdiri dan mengajak Pak RT berjalan ke arah dermaga. "Rian!" panggil Andi.

Rian datang membawa sebuah laptop yang dipinjam dari Elena. Di layarnya, Aris sang arsitek sudah membuat visualisasi 3D dari konsep tandingan mereka.

"Lihat ini, Pak," Andi menunjuk layar. "Kita tidak akan membiarkan tempat ini kumuh. Kita akan membangun hunian vertikal yang layak di atas tanah kita sendiri, tanpa harus diusir ke pinggiran kota. Kita akan punya pusat pengolahan ikan, bengkel modern untuk anak-anak muda, dan sekolah ini akan jadi jantungnya. Pery Permata mau kita pergi agar mereka bisa untung sendiri. Saya ingin kita tetap di sini agar kita semua untung bersama."

Malam itu, Andi tidak menggunakan radio untuk berpidato. Ia mengundang perwakilan warga untuk duduk melingkar di tengah lapangan sekolah. Ia membentangkan draf Aris di atas aspal.

"Pilihan ada di tangan kalian," ucap Andi di depan warga. "Uang dari Pery Permata akan habis dalam setahun dua tahun. Tapi warisan untuk anak-cucu kalian di tanah ini... itu tidak ada harganya. Saya tidak akan memaksa, tapi saya punya janji: jika kalian bertahan, saya akan memastikan setiap jengkal tanah ini membawa martabat bagi kita semua."

Di tengah kerumunan, seorang buruh senior berdiri. "Dulu kita berdiri di depan ekskavator untuk sekolah ini. Sekarang, kita akan berdiri untuk masa depan kampung kita. Kami tetap bersama Abang."

Dukungan warga kembali solid, namun di balik bayangan, Herman sedang melaporkan kegagalannya kepada pimpinan tertinggi Pery Permata. Strategi suap gagal, dan kini pengembang itu mulai menggunakan koneksi politik mereka untuk menekan dinas perizinan agar segera mengeluarkan surat perintah pembongkaran dengan alasan "penyalahgunaan lahan hijau".

"Andi," Elena berbisik saat warga mulai bubar. "Aku baru dapat info. Surat perintah pembongkaran itu sudah ditandatangani sore tadi. Mereka akan datang besok pagi dengan dukungan aparat."

Andi menatap plakat logam ayahnya yang kini tersemat di sakunya. "Biarkan mereka datang, El. Tapi kali ini, mereka tidak akan melawan warga yang marah. Mereka akan melawan hukum yang kita ajukan lebih dulu."

Pagi itu, suasana di pelabuhan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut laut bercampur dengan asap knalpot dari truk-truk aparat yang mulai berbaris di ujung jalan masuk. Andi berdiri di gerbang sekolah, mengenakan kemeja flanelnya yang biasa, namun tatapannya sekeras beton yang ingin mereka bongkar.

Di belakangnya, Andin dan Elena berdiri berdampingan. Rian sudah berada di depan barisan anak-anak muda mekanik, masing-masing memegang ponsel untuk mendokumentasikan setiap gerakan yang terjadi.

"Andi," bisik Andin sambil menggenggam lengan suaminya. "Mereka membawa banyak orang."

"Jangan takut, Ndin," jawab Andi pelan. "Mereka membawa kekuatan fisik, kita membawa kekuatan sistem."

Seorang pria berseragam dinas keluar dari salah satu mobil, didampingi oleh Herman yang tampak percaya diri. Pria itu membentangkan selembar kertas dengan segel resmi. "Saudara Andi, atas nama Dinas Penataan Ruang, kami diperintahkan untuk mengosongkan lahan ini karena bangunan ini tidak memiliki izin yang sesuai dengan peruntukan zona hijau terbaru."

Andi melangkah maju, tangannya masuk ke dalam saku. "Zona hijau?" Andi terkekeh sinis. "Menarik sekali. Selama tiga puluh tahun tempat ini menjadi gudang logistik dan sarang preman, kalian tidak pernah bicara soal zona hijau. Begitu sekolah ini berdiri dan warga mulai menata diri, tiba-tiba kalian peduli pada lingkungan?"

"Kami hanya menjalankan tugas," sergah petugas itu. "Silakan minggir, atau kami akan bertindak tegas."

Saat alat berat mulai menderu, Elena melangkah maju sambil mengangkat tabletnya. "Tunggu dulu, Pak!"

Elena menunjukkan sebuah notifikasi resmi dari sistem administrasi pusat. "Satu jam yang lalu, Pengadilan Tata Usaha Negara telah mengeluarkan Putusan Sela. Eksekusi lahan ini harus ditangguhkan karena sedang dalam proses sengketa kepemilikan dan gugatan atas keabsahan IMB Pery Permata Group."

Herman merampas tablet itu dengan kasar, wajahnya pucat. "Ini pasti palsu!"

"Cek saja nomor perkaranya," sahut Aris sang arsitek yang muncul dari balik kerumunan warga. "Dan di saat yang sama, kami baru saja menyerahkan dokumen 'Kampung Bahari Terintegrasi' ke Biro Perencanaan Kota. Proyek ini sudah masuk dalam daftar prioritas diskusi publik karena didukung oleh petisi dari lima ribu warga pelabuhan."

Suasana menjadi sunyi. Mandor alat berat itu menoleh ke arah petugas dinas, menunggu instruksi. Para aparat yang tadi tampak tegang mulai menurunkan tameng mereka. Mereka bukan robot; mereka juga warga Jakarta yang tahu betul siapa yang sedang mereka hadapi: seorang pria yang memberikan harapan pada anak-anak yatim pelabuhan.

Andi berjalan mendekati Herman. "Kalian bisa membeli tanda tangan pejabat, Herman. Tapi kalian tidak bisa membeli waktu. Setiap detik kalian menunda di sini, publik akan semakin tahu bahwa Pery Permata mencoba menghancurkan sekolah untuk membangun kolam renang pribadi."

Herman gemetar. Ia menatap ratusan warga yang kini tidak lagi berteriak, melainkan berdiri diam dengan tatapan yang menghakimi. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada kerusuhan.

"Tarik mundur," perintah petugas dinas itu akhirnya, suaranya lesu. "Kita tunggu keputusan pengadilan."

Saat truk-truk itu berputar balik, sorak-sorai pecah, namun Andi tetap tenang. Ia tahu ini baru satu ronde. Pery Permata adalah monster yang punya banyak kepala.

"Bang," Rian mendekat, wajahnya penuh semangat. "Kita menang lagi!"

Andi menatap Rian, lalu menatap anak-anak sekolah yang mengintip dari balik jendela kelas. "Hari ini kita menang karena hukum, Rian. Tapi besok, kita harus menang karena hasil kerja. Aris, mulai besok, kita pasang maket Kampung Bahari di depan sekolah. Biar semua orang tahu, termasuk orang-orang Pery Permata, bahwa kita tidak cuma menolak pembangunan mereka, tapi kita punya visi yang lebih baik."

Andin tersenyum, menyeka peluh di dahi Andi. "Kau benar-benar sudah berhenti menjadi Cobra, ya?"

Andi menarik Andin ke dalam pelukannya. "Cobra hanya tahu cara mempertahankan wilayahnya. Seorang guru tahu cara membangun masa depan di atasnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!