"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
"Apa mungkin orang-orang ini datang karena memandangnya ?" Bisik Tuan Rendi dalam hati.
Kemudian Adrian maju menuju Nadira yang masih meminum tehnya.
"Nona Nadira. Apa anda datang untuk melihat Kakek ?"Tanya Adrian.
Setelah Nadira selesai meminum tehnya, Adrian berisiniatif mengambil cangkir teh yang dipegang oleh Nadira untuk kembali disimpan di meja.
Saat Adrian ingin mempersilahkan Nadira, diurungkan karena banyak orang yang masuk pada saat itu.
"Kak Gavin, Kak Stella kalian sudah datang." Tanya Nyonya Sonia.
Sedangkan Nadira penasaran kepada mereka yang baru saja datang dan di sapa oleh Nyonya Sonia. Dan bertanya kepada Adrian yang berada di sisinya saat ini.
" Siapa mereka ?" Tanya Nadira kepada Adrian sambil menunjuk ke arah orang yang baru datang.
"Mereka ? Ini semua keluarga dari pihak ibuku. Paman dan bibiku." Jawab Adrian sambil berlutut untuk mensejajarkan badannya dengan Nadira yang sedang duduk di kursi.
"Siapa orang yang memakai topi hitam ini ?" Tanya Nadira sambil melihat ke arah orang yang dia maksud.
"Oh. Dia adalah ahli spiritual." Jawab Adrian sambil melihat ke arah laki-laki yang memakai topi.
"Oh."
"Sebenarnya, sebelum Nenekku meninggal, sama seperti Kakek, sudah sisa napas terakhir, tapi masih belum meninggal. Sangat menderita. Untuk meringankan penderitaannya, Paman Gavin mencari seorang ahli spiritual untuk melakukan ritual, untuk mendoakan Nenek agar Nenek bisa pergi dengan tenang. Secara logika, aku harusnya berterimakasih padanya. Tapi entah kenapa aku merasa nggak nyaman setiap melihatnya." Sambung Adrian.
Selama Adrian berbicara, Nadira terus melihat ke arah lelaki itu. Menatapnya lekat-lekat seakan-akan menilai atau menelisik apa yang ada pada pria tersebut, sedangkan Adrian saat berbicara pun ia juga sempat melihat ke arah laki-laki itu seakan mengisyaratkan kalau dia tidak suka padanya.
"Setelah ritual, apa kau melihat jenazah Nenekmu ?" Tanya Nadira.
"Nggak. Setelah ritual, peti mati langsung ditutup. Katanya nggak boleh mengganggu ketenangan Nenek di alam baka." Jawab Adrian.
"Nggak lihat, bagaimana kau tahu dia pergi dengan tenang ? Tali pengikat jiwa mengunci hati, yang diinginkannya adalah, dia nggak bisa bereinkarnasi sampai jiwanya hancur."Kata Nadira.
Sedangkan Adrian, yang mendengarnya pun sontak kaget dan tidak percaya apa yang dibilang oleh Nadira.
"Nona Nadira, apa maksud anda ?" Tanya Adrian.
"Kak Gavin." Ajak Nyonya Sonia kepada kakaknya untuk keluar. Sehingga keluarga yang di pihak ibu Adrian keluar dari aula sembahyang.
Sedangkan Nadira pun mengikuti mereka karena ia sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi.
"Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi tentang Nenek yang diikat dengan benang merah yang saling menyilang dan terus berjuang. Nggak bisa, aku harus kasih tahu Ayah." Lirih Adrian.
Sementara itu keluarga dari pihak ibu Adrian, berkumpul di ruang tamu beserta dengan lelaki yang memakai topi. Setelah semuanya duduk Nyonya Sonia memulai pembicaraan.
"Belakangan ini aku selalu memimpikan ibu. Tiap kali melihat dia begitu menderita." Kata Nyonya Sonia.
"Ibu kita meninggal dengan tenang. Di syurga juga hanya akan menikmati kebahagiaan, bagaimana mungkin menderita ? Tuan, benar nggak ?" Kata Paman Gavin dan diapun bertanya kepada orang yang memakai topi tersebut.
"Tentu saja." Kata ahli spiritual.
"Dengar nggak ? Ibu kita dan Ayah mertuamu nggak sama. Ibu kita nggak mau pergi bukan karena ada penyesalan, tapi karena dia nggak tega meninggalkan anak cucunya, benar nggak ?" Sambung Paman Gavin.
"Belakangan ini banyak hal yang terjadi, sehingga selalu memimpikan hal ini. Aku harap ibu bisa tenang di alam baka." Kata Nyonya Sonia sambil menangis.
Setelah Nyonya Sonia selesai berbicara, Nadira datang dengan payung khasnya.
"Memiliki putri bodoh sepertimu, dia pasti nggak bisa tenang." Ujar Nadira sambil menutup payungnya dan melangkah masuk dimana semua orang ada disana.
"Ini adalah ....... ?" Tanya Paman Gavin.
"Ini adalah Nona Nadira. Ayah sebelum meninggal menyuruh kami untuk menjaganya."Jawab Nyonya Sonia.
"Oooo.... Ternyata cuma tamu. Apakah perkataanmu tadi nggak sedikit lancang ?"Kata Paman Gavin sambil berdiri menghadap Nadira yang masih berdiri.
"Apakah kau benar-benar merasa ibumu bahagia semasa hidupnya ?"Tanya Nadira sambil melihat ke arah Nyonya Sonia.
"Nona Nadira, apa hubunganmu dengan keluarga kami ? Kalaupun ibuku semasa hidupnya melakukan sesuatu, bukan giliran anak kecil sepertimu yang datang memberitahukan hal ini." Kata Paman Gavin.
"Benarkah ?"Tanya Nadira.
"Tatapan matanya sangat dingin. Nggak seperti tatapan orang hidup." Gumam Paman Gavin kaget karena menatap mata Nadira seakan dia sangat takut kepadanya.
"Nona Nadira, apa yang sebenarnya mau kau katakan ?" Tanya Nyonya Sonia.
"Aku mau tanya satu hal pada kalian. Keluarga kalian, nggak peduli dengan etika manusia, mengubur ibu kandung hidup-hidup, benar atau nggak ?" Jawab Nadira sambil menunjuk ke arah semua orang kecuali orang yang memakai topi dengan payungnya.
"Omong kosong !" Sentak Paman Gavin sambil memukul meja.
"Nona Nadira, jangan asal bicara. Ibuku meninggal dunia karena usia tua, keluarga kami nggak mungkin melakukan perbuatan durhaka." Kata Nyonya Sonia dengan marah.
"Apa meninggal karena usia tua perlu panggil orang melakukan ritual ?" Tanya Nadira.
"Ibuku, nggak tega meninggalkan kami." Jawab Nyonya Sonia sambil menangis.
"Makanya aku bilang kau bodoh. Ibumu meninggal dunia dengan tenang di usia tua. Kalau nggak ada keinginan yang belum terpenuhi, mengapa masih menahan napas terakhirnya ? Keluarga kalian nggak kekurangan uang atau kekuasaan, dan dikelilingi oleh anak cucu. Apa yang membuat hatinya begitu berat ?" Kata Nadira.
"Benar. Aku, Kak Gavin, dan Kak Calvin sudah tua, dan sudah ada anak. Keluarga kami memiliki kekayaan yang besar, apa lagi yang membuat ibu cemas ?" Tukas Nyonya Sonia.
"Jangan dengarkan omong kosongnya yang menyesatkan. Apa hubungan masalah keluarga kami denganmu ?" Sentak Paman Gavin.
"Sonia, usir dia." Suruh Paman Gavin ke Nyonya Sonia.
"Aku akan suruh orang mengantar Nona Nadira kembali ke belakang. Anda nggak perlu mencemaskan masalah keluarga kami." Kata Nyonya Sonia.
"Tindakan mengubur hidup-hidup ibu kandung nggak hanya ditentang oleh norma masyarakat, tapi juga melanggar hukum alam. Masalah ini perlu segera diselesaikan. Kalau nggak, kelurga kalian pasti akan menerima hukuman ilahi." Ujar Nadira.
Ketika Nadira akan pergi, dia sekali lagi melihat ke arah orang yang memakai topi hitam, dimana orang itu duduk diam tidak bergerak. Dan kemudian lelaki itu pun menoleh ke arah Nadira.
"Wanita ini sangat menarik." Gumam lelaki itu dalam hati sambil melihat ke arah Nadira yang tersenyum kecil kepadanya.
Setelah itu, Nadira pun pergi dari hadapan keluarga Nyonya Sonia. Tapi saat akan keluar, dia melihat asap hitam di depannya dan kemudian melambai tangannya sedikit.
"Tenang saja, sebentar lagi." Kata Nadira.
Sedangkan diposisi yang lain, Adrian dan Ayahnya juga Pamannya duduk di sebuah ruangan yang mana terlihat Tuan Rendi sangat marah sekali sambil membanting cangkir tehnya ke lantai.
"Dia beneran bilang kalau Keluarga Wibowo mengubur hidup-hidup ibu kandung ?" Tanya Tuan Rendi kepada Adrian.
"Ya, Ayah, Tapi....." Kata Adrian.
"Cukup. Aku sudah tahu. jangan bahas ini dulu." Potong Tuan Rendi.
"Rayhan." Panggil Tuan Rendi sambil melihat ke arahnya.
"Bukankah kau bilang orang yang menyelidiki Nona Nadira sudah mengirimkan kabar ?" Tanya Tuan Rendi.
"Yang dikirim orangku cuma kertas kosong." Jawab Tuan Rayhan.
"Apa ? Mana mungkin." Tuan Rendi tidak percaya apa yang dibilang oleh Tuan Rayhan.
"Ya. Nggak ada yang bisa diselidiki. Seolah-olah dia muncul di dunia ini dalam waktu semalam. Sekalipun seseorang muncul dari celah batu, masih ada jejak yang bisa di lacak, tapi dia nggak ada." Kata Tuan Rayhan.
"Mana mungkin." Adrian tetap tidak percaya apa yang di bilang oleh Pamannya itu.
"Nggak ada masa lalu, nggak ada latar belakang, nggak ada jejak apa pun di dunia." Sambung Tuan Rayhan sambil menyerah kertas kepada sang Kakak.
Diambilnya kertas yang dikasih oleh Adiknya itu, dan di buka. Disana benar-benar tidak ada tulisan apapun yaitu kosong, sedangkan Adrian masih tetap tidak percaya apa yang dilihatnya itu adalah sebuah kertas kosong.
Diambilnya kertas itu dari tangan Ayahnya, dia membolak-balikkan kertas itu seakan-akan ada tulisan yang akan muncul setelahnya.