NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KUTUKAN YANG MELIHAT

Jari-jari Alea Anandara berhenti di atas pergelangan tangan pasiennya.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu dunia terlipat seperti kertas origami—dan ia melihat pria di ranjang ini melompat dari lantai 3 rumah sakit, wajahnya tersenyum saat tulang-tulangnya hancur di aspal.

Alea menarik napas. Melepaskan tangannya.

Pasien nomor 7. Hepatitis akut. Akan bunuh diri 3 minggu lagi.

Ia menulis di catatan medis dengan tangan dingin: "Rujuk ke psikiater. Observasi 2x24 jam."

Perawat di sampingnya bertanya, "Ada apa, Dok?"

"Tidak ada."

Alea sudah belajar 10 tahun lalu: tidak pernah bilang apa yang ia lihat. Tidak ada yang percaya. Ibunya sendiri menganggapnya kesurupan. Kakaknya... ah, kakaknya malah tertawa lalu mati.

---

Klinik tempatnya bekerja kecil. Dua lantai, cat dinding mulai mengelupas di dekat jendela. Alea suka di sini karena sepi, karena pasiennya kebanyakan lansia dengan penyakit biasa, karena kematian yang ia lihat biasanya masih lama—masih ada waktu untuk mencegah.

Hari ini seharusnya sama seperti hari-hari lain.

Sampai dua pria bersetelan hitam masuk tanpa mengetuk.

Alea sedang merapikan resep. Ia menoleh. Kedua pria itu tinggi, sama-sama berkacamata hitam meski di dalam ruangan, dan diam-diam Alea tahu: mereka bukan orang biasa. Karena saat salah satu dari mereka menyentuh gagang pintu, Alea melihat—

Ledakan. Api. Pria ini terlempar ke tembok, seragamnya terbakar.

Visi itu datang dan pergi dalam setengah detik.

"Maudy Anandara?" Pria di depan bertanya.

Alea tidak mengoreksi nama belakangnya. "Siapa?"

Pria itu mengeluarkan foto. Bukan foto Alea, tapi foto kakeknya—sedang minum kopi di teras rumah, tidak sadar ada yang memotret dari kejauhan.

"Kakek Niko," bisik Alea.

Pria itu tersenyum tipis. "Ikut kami. Atau kami jemput beliau dengan cara kurang menyenangkan."

---

Perjalanan ke mansion Damian memakan waktu 2 jam.

Alea duduk di jok kulit yang terlalu empuk, di antara dua pria yang tidak bicara. Ia mencoba melihat keluar—jalan tol, lalu perbukitan, lalu gerbang besi hitam dengan huruf D di tengahnya.

Di dalam mobil, Alea menyentuh kursi di sampingnya.

Visi datang seperti badai:

Seorang pria tertembak di pelipis. Darah mengalir di lantai marmer putih. Pelakunya—seorang wanita dengan gaun pengantin. Wajahnya samar, tapi Alea mengenali potongan rambutnya. Ikatan di pergelangan tangannya. Cincit di jari manisnya.

Cincin itu. Cincin ibunya.

Wanita itu adalah dirinya sendiri.

Alea tersentak. Tangannya lepas dari kursi.

Pria di sampingnya menoleh. "Sakit?"

"Tidak."

Napas Alea memburu. Ia mengepalkan tangan, mencoba mengingat detail visi itu—lukisan di dinding, lampu kristal, bentuk pintu. Ia harus siap. Ia akan bertemu pria itu. Pria yang akan ia bunuh.

Atau yang akan membunuhnya lebih dulu.

---

Mansion itu lebih besar dari bayangan Alea.

Marmer hitam di mana-mana. Lampu kristal bergelantungan di langit-langit setinggi 10 meter. Tapi udara di sini dingin—bukan karena AC, tapi karena hening. Terlalu hening. Seperti semua suara mati begitu masuk pintu.

Rania—wanita berambut panjang dengan setelan putih—menyambutnya. "Nona Alea. Selamat datang."

"Di mana Damian?"

Rania tersenyum. Manis. Terlalu manis. "Tuan Damian sedang rapat. Beliau titip pesan: Nona istirahat dulu. Malam nanti ada acara."

"Acara apa?"

"Pernikahan."

Alea berhenti di tengah lorong. "Apa?"

Rania tetap tersenyum. "Akad nikah jam 8 malam. Nona tidak perlu repot—semua sudah disiapkan."

---

Kamar Alea di lantai 3.

Mewah. Ranjang ukuran king size dengan sprei sutra hitam. Lemari pakaian penuh baju dengan tag masih menempel. Kamar mandi marmer putih dengan bak air panas.

Tapi tidak ada jendela.

Alea memeriksa dinding. Semua tertutup panel kayu. Ia menekan satu per satu—semua rapat. Tidak ada celah. Tidak ada udara segar. Hanya ventilasi kecil di dekat langit-langit, cukup untuk tangan masuk.

Ia mendekat. Menatap lubang ventilasi itu.

Di baliknya, sesuatu bergerak.

Alea mundur selangkah. Lalu mendengar suara—

Ketukan.

Bukan dari pintu. Dari dinding. Pelan. Tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

Lalu bisikan. Suara anak kecil.

"Kak... di sini..."

Alea membeku. Udara di kamar terasa berubah—lebih dingin, lebih berat. Ia bisa melihat napasnya sendiri.

Tok. Tok. Tok.

"Kak... main sama aku..."

Alea meraih gagang pintu. Terkunci.

Ia memukul pintu. "HEI! ADA ORANG!"

Tidak ada jawaban.

Dari balik dinding, suara itu tertawa. Pelan. Seperti anak kecil yang senang dapat teman main.

"Kak... Damian jahat... Damian kunci aku..."

Alea menekankan punggung ke pintu. Ia pegang dadanya—jantungnya mau melompat. Tapi ia harus tenang. Ia psikiater. Ia pernah menghadapi pasien skizofrenia, psikopat, bahkan pembunuh. Ia tidak takut pada suara.

Tapi suara itu—

"Aku Damian yang asli, Kak. Yang di luar palsu."

Lampu di kamar berkedip.

Alea menutup mata. Menarik napas. Menghitung sampai sepuluh.

Saat membuka mata—

Di ujung ranjang, sesosok kecil duduk memeluk lutut.

Bocah laki-laki. Mungkin 8 tahun. Piyama sutra hitam kebesaran, lengan bajunya digulung asal. Rambut ikal hitam menutupi dahi. Dan matanya—

Mata itu.

Hitam. Dalam. Tapi basah.

Sama persis dengan mata pria di foto yang Rania tunjukkan tadi. Mata Damian Adhiratria.

Bocah itu menatap Alea. Lalu tersenyum. Gigi depannya ompong.

"Kak, aku Damian. Aku udah nunggu lama."

Alea tidak bisa bergerak. Ia ingin lari, tapi kakinya seperti dipaku. Ia ingin teriak, tapi tenggorokannya kering.

Bocah itu bangun. Berjalan mendekat. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara di karpet tebal.

"Kak, tolong aku."

Ia berhenti tepat di depan Alea. Lalu mengulurkan tangan kecilnya.

"Damian dewasa mau bunuh aku."

Alea menunduk. Melihat tangan itu. Pucat. Biru di ujung jari.

Tanpa sadar, tangannya terangkat. Menyentuh jari-jari dingin itu—

Visi datang seperti palu godam:

Bocah ini—di ruang bawah tanah. Gelap. Bau busuk. Ia menangis di pojok, memanggil-manggil "Ayah". Lalu pintu terbuka. Siluet pria masuk. Menodongkan senjata ke kepala bocah itu. Dan bocah itu tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum Damian dewasa.

"Aku tidak takut mati, Ayah. Aku cuma takut sendiri."

Suara tembakan.

Alea menjerit. Melepas tangan bocah itu. Ia jatuh terduduk di lantai, gemetar seluruh tubuh.

Bocah itu masih berdiri. Masih tersenyum.

"Kak... tolong."

Lampu di kamar menyala terang.

Dan pintu terbuka.

Damian dewasa berdiri di ambang pintu. Jas hitamnya rapi, rambutnya disisir ke belakang. Wajahnya tanpa ekspresi—seperti topeng porselen. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti di Alea yang tergeletak di lantai.

Lalu matanya beralih ke samping.

Ke arah bocah itu.

Damian dewasa diam.

Bocah itu masih di sana. Masih tersenyum. Tapi sekarang ia melambai pada Damian dewasa.

"Halo, Damian. Aku main sama istri kamu."

Tiba-tiba Damian dewasa bergerak. Cepat. Ia masuk, menarik Alea berdiri, mendorongnya ke belakang punggungnya. Lalu ia menghadap ke arah bocah itu—dengan tubuh menghalangi Alea.

Napas Damian dewasa memburu. Tangannya—Alea bisa merasakannya—gemetar.

"Pergi," bisik Damian dewasa.

Bocah itu tertawa. "Aku di rumahku sendiri."

"PERGI!"

Bocah itu menggeleng. Lalu menghilang.

Begitu saja. Seperti asap tertiup angin.

Damian dewasa berdiri di sana, masih membeku. Alea bisa melihat punggungnya naik turun cepat. Keringat di pelipisnya.

Lalu Damian dewasa berbalik.

Matanya merah.

"Apa yang kau lihat?" Suaranya serak, berbeda dari sebelumnya.

Alea menelan ludah. "Seorang—seorang anak kecil."

Damian dewasa menutup mata. Satu detik. Dua detik.

Saat membuka, matanya kembali dingin. Tapi Alea tahu—ia baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.

"Kau tidak melihat apa-apa," kata Damian dewasa.

Alea diam.

Damian dewasa mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti tepat di depan Alea, cukup dekat untuk Alea mencium aroma kayu cendana dan... keringat dingin.

"Kau tidak melihat apa-apa," ulangnya. "Atau kau akan menyesal."

Alea menatap mata itu. Mata yang sama persis dengan mata bocah tadi. Tapi yang satu penuh ketakutan. Yang satu penuh ancaman.

Ia ingat visinya. Damian mati di tangannya.

Mungkin lebih cepat dari yang kukira.

"Siapa dia?" tanya Alea.

Damian dewasa diam.

"Anak itu bilang namanya Damian. Bilang dia yang asli. Bilang kau mau bunuh dia."

Tangan Damian dewasa terangkat. Alea mengira ia akan dipukul. Tapi tangan itu hanya meraih dasinya, mengendurkan ikatan.

Dengan suara sangat pelan, Damian berkata:

"Dia aku. Masa kecilku. Yang mati 20 tahun lalu."

Alea membeku.

Damian dewasa menatapnya. Lalu tersenyum. Senyum pertama yang Alea lihat dari pria ini.

Senyum yang sama persis dengan senyum bocah itu.

"Selamat datang di rumahku, Alea. Semoga kau betah."

Ia berbalit, berjalan ke pintu. Tangannya di gagang pintu.

"Kau boleh panggil aku Damian. Tapi ingat—"

Ia menoleh.

"Aku bukan dia."

Pintu tertutup.

Alea berdiri di tengah kamar, sendirian. Ia gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena—

Di balik pintu yang baru saja tertutup, dari celah ventilasi kecil di atas, suara anak kecil itu terdengar lagi.

"Kak... terima kasih udah percaya aku."

Alea mendongak.

Dua mata hitam mengintip dari balik ventilasi.

"Besok jam 3 pagi. Main lagi ya."

Dan senyum ompong itu menghilang.

---[BERSAMBUNG KE BAB 2]---╰⁠(⁠ ⁠・⁠ ⁠ᗜ⁠ ⁠・⁠ ⁠)⁠➝

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!