Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16 — “Kalau Tidak Punya Apa-Apa, Jangan Sombong Soal Cinta”
Rumah kontrakan itu kecil.
Dindingnya lembap. Catnya mengelupas. Kipas angin tua berdecit seperti mengeluh setiap kali berputar.
Tidak ada sofa empuk. Tidak ada lantai marmer. Tidak ada lampu kristal yang dulu biasa menggantung di atas kepala mereka.
Hanya tikar tipis. Meja kayu murah. Dan dua gelas plastik yang sudah menguning.
Ia berdiri lama di depan dapur sempit, memandangi beras yang tinggal setengah kantong kecil.
Tangannya menggenggam sendok, tapi pikirannya kosong.
Di belakangnya, suara sandal diseret masuk tanpa salam.
“Astaga… astaga… jadi ini tempat kalian tinggal sekarang?”
Suara itu.
Tidak keras.
Tidak berteriak.
Tapi tajam seperti cabai rawit ditumbuk tanpa ampun.
Ia menegang.
Mak tua itu melangkah masuk, mata menyapu ruangan seperti hakim yang sedang memvonis.
“Ini?” katanya sambil menunjuk kipas angin. “Kalian tinggal di tempat kayak kandang ayam begini?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia menunduk.
Mak tua itu mendengus panjang.
“Dulu tinggal di rumah besar, makan tinggal duduk, air panas ada, AC dingin. Sekarang? Begini? Hanya demi apa? Demi cinta?”
Langkahnya makin masuk, makin berani.
“Kalau memang tidak punya apa-apa, jangan sok besar kepala! Jangan sok mau jadi pahlawan cinta! Perut kosong itu tidak bisa diisi janji!”
Ia menggenggam ujung baju.
Tapi omelan belum selesai.
“Oh kamu… iya kamu!” telunjuknya menuding tepat ke wajahnya. “Kamu itu apa sih sebenarnya? Modal apa kamu sampai berani membuat dia keluar dari rumahnya
Sendiri? Cantik? Banyak yang lebih cantik. Pintar? Jangan mimpi. Kaya? Apalagi! Jadi apa yang kamu punya?”
Sunyi.
Ia ingin menjawab.
Tapi tenggorokannya seperti dipenuhi batu.
Mak tua itu tertawa kecil, sinis.
“Diam? Nah itu! Dari dulu cuma bisa diam! Kamu pikir diam itu sopan? Tidak! Diam itu tanda kamu tidak punya apa-apa untuk dibanggakan!”
Kalimatnya panjang. Mengalir. Tanpa jeda.
“Kamu tahu tidak dunia ini kejam? Kamu kira hidup cuma soal peluk-pelukan dan bilang ‘aku cinta kamu’? Hah? Uang itu penting! Nama keluarga itu penting! Harga diri itu penting! Bukan cuma perasaan!”
Ia meremas kain di tangannya sampai kusut.
Di luar, suara motor lewat. Tetangga mungkin mendengar.
Mak tua itu melangkah lebih dekat.
“Lihat wajahmu di cermin! Kamu kelihatan seperti orang yang selalu minta dikasihani! Perempuan seperti kamu itu bahaya! Pelan-pelan menggerogoti, membuat laki-laki merasa jadi pahlawan, padahal sebenarnya kamu cuma jadi beban!”
Kata itu.
Beban.
Dadanya seperti dihantam.
Ia ingin berkata tidak.
Tapi yang keluar hanya napas gemetar.
“Kenapa diam terus? Jawab! Atau memang benar kamu tidak tahu diri?”
Air matanya jatuh.
Bukan terisak.
Hanya jatuh.
Mak tua itu mendengus.
“Tuh kan! Nangis! Perempuan kayak kamu itu senjatanya cuma air mata! Begitu ditegur sedikit langsung nangis. Dunia tidak peduli kamu nangis atau tidak!”
Di pintu, dia berdiri.
Diam.
Mendengar.
Wajahnya tidak lagi keras seperti dulu.
Tangannya mengepal.
Mak tua itu belum selesai.
“Kamu pikir dia kuat terus? Dia itu anak yang dulu tidak pernah tahu harga mie instan! Sekarang harus mikir bayar listrik! Itu semua karena siapa? Karena kamu!”
Suasana makin panas.
“Cinta tidak bisa dibeli? Omong kosong! Tanpa uang, cinta cuma jadi beban! Tanpa nama keluarga, kamu cuma perempuan biasa yang tidak punya tempat!”
Ia menunduk makin dalam.
Bahunya gemetar.
Mak tua itu tertawa pendek.
“Lihat tuh! Bahkan berdiri saja gemetar! Mau jadi apa kamu? Mau bangun masa depan pakai apa? Air mata?”
Hening.
Lama.
Sampai akhirnya suara itu datang pelan.
“Cukup.”
Sederhana.
Tapi tegas.
Mak tua itu menoleh.
“Kamu jangan ikut-ikut membela! Kamu ini yang paling tidak tahu diri! Sudah dibilangin, dunia luar itu tidak semudah bicara! Sekarang lihat! Lihat hasil pilihanmu!”
Ia melangkah mendekat.
“Lihat perempuanmu itu! Setiap hari cuma bisa merasa bersalah! Itu bukan cinta! Itu menyiksa!”
Kata itu menembus lebih dalam dari makian mana pun.
Menyiksa.
Ia menutup mata.
Apakah benar?
Apakah dia memang menyiksa?
Mak tua itu melanjutkan tanpa rem.
“Kamu pikir dia bahagia? Hah? Lihat wajahnya! Wajah orang yang merasa tidak pantas! Kamu menyeret dia ke kehidupan ini tanpa jaminan apa pun!”
Ia tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, bukan karena tidak berani.
Tapi karena ia tidak punya jawaban.
Benarkah ia menyeretnya?
Benarkah ia membuatnya hidup dalam kekurangan?
Mak tua itu mengangkat dagu.
“Kalau kamu laki-laki, tanggung jawab! Jangan cuma berani melawan keluarga, tapi tidak berani menghadapi kenyataan!”
Suara kipas angin berdecit lebih keras.
Seolah ikut lelah.
Akhirnya mak tua itu berbalik.
“Terserah kalian. Tapi ingat! Cinta itu tidak cukup! Jangan sampai nanti kalian saling menyalahkan! Dunia ini tidak romantis!”
Pintu dibanting.
Sunyi.
Lama sekali.
Ia masih berdiri.
Air mata di pipinya belum kering.
Dia mendekat perlahan.
Tidak memeluk.
Tidak langsung bicara.
Hanya berdiri di depannya.
“Aku…” suaranya serak.
Ia menggeleng cepat.
“Jangan,” katanya pelan.
Tapi kalimatnya justru membuatnya makin ingin bicara.
“Aku tidak tahu hidup akan seberat ini,” ucapnya jujur.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang menyakitkan.
“Aku tahu.”
Dua kata.
Tapi berat.
“Aku tidak ingin kamu merasa seperti beban.”
Ia menunduk.
“Aku memang beban.”
Cepat. Tanpa ragu.
Kata itu membuatnya membeku.
“Aku tidak punya apa-apa,” lanjutnya pelan. “Tidak punya nama besar. Tidak punya uang. Bahkan berdiri saja rasanya seperti mengganggu.”
Ia ingin menyangkal.
Tapi kali ini dia tidak ingin memotongnya.
“Aku lihat kamu capek,” katanya lagi. “Kamu tidak pernah mengeluh. Tapi aku lihat kamu capek.”
Tangannya gemetar.
“Aku takut suatu hari kamu sadar… kalau memilihku itu salah.”
Sunyi.
Ia mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya, dia melihat ketakutan yang bukan pura-pura.
Bukan air mata untuk mengasihani diri.
Tapi rasa takut kehilangan.
Dia menarik napas panjang.
“Aku tidak menyesal.”
Pelan.
Tapi tegas.
“Aku memang capek. Aku memang kaget hidup begini. Tapi bukan karena kamu.”
Ia menatapnya lurus.
“Dunia memang keras. Dan aku baru sadar… selama ini aku terlalu nyaman.”
Ia tersenyum kecil.
Pahit.
“Tapi kalau harus belajar dari nol, aku pilih belajar bersamamu.”
Air matanya jatuh lagi.
Bukan karena makian.
Tapi karena kalimat itu.
Di luar, langit mulai gelap.
Rumah kecil itu masih sempit.
Masih panas.
Masih jauh dari kata layak.
Tapi untuk pertama kalinya, bukan omelan yang tinggal di udara.
Melainkan kesadaran.
Bahwa cinta tidak cukup.
Tapi cinta bisa jadi alasan untuk bertahan.
Dan malam itu, tanpa janji besar, tanpa sumpah manis—
Mereka duduk di tikar tipis itu.
Diam.
Namun tidak lagi merasa sendirian.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid