gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WARISAN DAN TANGGUNG JAWAB
Pagi itu, atmosfer di lantai tiga puluh dua gedung Wiratama Trading terasa seolah oksigen telah dihisap habis oleh ketegangan yang memuncak. Cahaya matahari yang menembus kaca jendela besar tidak mampu menghangatkan suhu ruangan yang membeku. Alina Wiratama berdiri mematung menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta, tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Dengan gerakan cepat, ia menekan tombol interkom di mejanya.
"Susi, ke ruangan saya. Sekarang," ucap Alina. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki daya tekan yang sanggup membuat siapa pun merinding.
Susi melangkah dengan tungkai gemetar melewati lorong sunyi. Di dalam benaknya, bayangan Bima di pelabuhan dan hasutan manis Rijal berputar-putar seperti badai. Begitu ia melangkah masuk dan pintu jati itu tertutup rapat, suasana seketika mencekam. Tanpa sepatah kata pun, Alina melemparkan sebundle cetakan foto ke atas meja mahoni. Foto-foto itu menampilkan kedekatan Susi dan Bima di sudut gudang pelabuhan yang kumuh.
"Apa ini, Susi? Kamu pikir pelabuhan itu tempat rekreasi?" tanya Alina, suaranya rendah namun tajam bak sembilu.
Keheningan menyelimuti ruangan. Susi hanya mampu menunduk dalam, membiarkan butiran air mata jatuh membasahi lantai marmer. Ia tidak berani menatap mata Alina yang penuh amarah, namun di dalam hatinya, rasa iba terhadap nasib Bima masih bergejolak hebat, bercampur dengan kekecewaan pada keputusan Alina yang dianggapnya terlalu kejam.
Mendengar napas Susi yang tersengal karena tangis, tawa getir lolos dari bibir Alina. Ia melangkah mendekat, menatap tajam pucuk kepala sekretarisnya. "Kamu pikir aku bersenang-senang membuangnya ke sana? Kamu pikir aku tidak tahu Rijal sedang mengincar setiap orang yang dekat denganku untuk dijadikan tumbal? Aku mengirimnya ke pelabuhan bukan untuk menghukumnya, tapi untuk menyembunyikannya dari serigala-serigala di kantor pusat ini!"
Alina memukul meja dengan keras, membuat Susi tersentak. "Tindakanku menjauhkan Bima adalah demi menjaga warisan orang tuaku yang sedang dipertaruhkan! Jika dia tetap di sini, Rijal akan menghancurkannya dalam semalam untuk memukulku. Di bawah perlindungan Paman Tino, dia jauh lebih aman daripada di sampingku."
Susi tertegun. Kebenaran itu menghantam dadanya seperti godam besar. Segala hasutan Rijal tentang Alina yang diktator dan tidak punya hati seketika runtuh. Ternyata, di balik topeng "Ratu Es" yang kaku, Alina sedang melakukan pengorbanan sunyi untuk melindungi pria yang—sadar atau tidak—masih memiliki ruang di hatinya. Dengan derai air mata yang tulus, Susi bersimpuh di depan meja Alina.
"Maafkan aku, Al... aku bodoh. Aku hampir saja mempercayai Rijal," isak Susi dengan penuh penyesalan.
Namun, di luar ruangan yang kedap suara itu, Rijal Adiwijaya sedang merayakan kemenangan prematur. Dari balik dinding kaca ruangannya, ia melihat Susi yang keluar dari ruangan Alina dengan wajah sembab dan tangisan yang pecah. Rijal tersenyum licik, menyimpulkan bahwa hubungan kedua wanita itu telah hancur total. Tanpa membuang waktu, ia langsung meluncurkan Target Kedua: Serangan Nepotisme.
Melalui pesan-pesan gelap di grup percakapan buruh, kaki tangan Rijal menghasut para pekerja kasar di dermaga. "Kalian diperas keringatnya, sementara anak emas pusat bernama Bima itu digaji puluhan juta hanya untuk duduk melamun! Ini penghinaan bagi buruh pelabuhan!" Isu itu membakar emosi massa, memicu demonstrasi besar di depan gerbang dermaga yang bertujuan untuk meruntuhkan wibawa Paman Tino dan kredibilitas manajemen Alina.
Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadi Tino Harianto yang gaduh oleh suara teriakan demonstran di luar, sebuah panggilan masuk melalui jalur telepon pribadi yang sangat rahasia. Tino segera mengangkatnya dengan wajah serius.
"Aku masih di Malaysia mengurus urusan penting, jaga keponakanmu yang benar. Rijal ingin menjatuhkan Alina," kata suara di seberang telepon. Suara perempuan itu terdengar dingin, penuh otoritas, dan sangat dominan.
Tino menghela napas panjang, matanya menatap monitor CCTV yang menampilkan massa yang mulai anarkis. "Aku tahu, Kak. Tapi situasinya mulai tidak terkendali."
"Biarkan saja mereka berteriak untuk saat ini," perintah wanita itu.
"Kakak, kapan Kakak akan kembali?" tanya Tino dengan nada hormat yang mendalam kepada wanita yang dipanggil kakak.
Wanita itu terdiam sejenak, deru mesin pesawat terdengar samar di latar belakang suaranya. "Aku berangkat malam ini juga. Ini sudah berkaitan dengan keselamatan putriku"