NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan / Robot AI / Spiritual / Fantasi Wanita
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata

Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja

Bagaimana kisah Sany selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan baru Rey part 6

Mereka memilih meja di sudut yang sepi. Sambil menunggu hidangan datang, obrolan pun mengalir. Faye bercerita tentang keluarganya, garis keturunan pelayan setia kerajaan yang sudah mengabdi turun-temurun.

Ia juga berbagi tentang pendidikan dan pelatihan ketat yang diterimanya sejak kecil, semua demi melayani keluarga kerajaan dengan sempurna.

Terhanyut oleh cerita Faye, Rey pun merasa ingin membuka diri. Ia mulai bercerita tentang masa kecilnya yang dihabiskan di antara mesin dan robot.

Tentang bagaimana ia dibesarkan oleh para robot pengasuh, dan latihan kerasnya sebagai kadet di Volty, sebuah tempat yang lebih mirip pangkalan militer antariksa daripada sekolah.

Mendengar itu, Faye seakan memahami sesuatu.

"Jadi begitu... Tubuh fisikmu memang sudah dilatih dengan baik. Tapi, di dunia tempat semua ras dari anak-anak hingga dewasa, memiliki kemampuan, kau akan menghadapi kesulitan yang berbeda," jelas Faye dengan nada serius.

Perkataan itu menyadarkan Rey. Ia teringat, waktu berhadapan dengan robot yang dilengkapi kemampuan unik, dan dia hampir tidak mampu mengalahkannya.

Akan tetapi...

"Aku tidak takut, kalau ada teknologiku. Aku berani menghadapi mereka," kata Rey dengan percaya diri.

Di balik keyakinannya, Rey teringat satu hal: perangkat teknologinya sedang rusak dan masih dalam perbaikan. Dalam hati, ia berharap Faye tak akan menanyakan lebih jauh tentang itu.

Melihat Rey yang tiba-tiba bersemangat, Faye hanya tersenyum tipis. Di tengah obrolan, seorang pelayan menghampiri membawa dua piring hidangan.

Pesanan untuk Nyonya Faye dan temannya," ujar pelayan sambil menata makanan di atas meja.

"Terima kasih," balas Faye sambil menyodorkan sejumlah koin sebagai bayaran dan tip.

"Terima kasih banyak," Pelayan itu membungkuk ringan sebelum kembali ke balik konter.

Di atas piring, nasi putih yang masih mengepul tersaji hangat. Sebuah telur orak-arik gurih menutupinya seperti selimut emas, sementara di baliknya tersembunyi potongan daging sapi yang telah direndam dalam saus gurih dan rempah-rempah yang semerbak.

Aroma yang menggoda langsung menarik perhatian Rey. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyendok sesuap besar ke mulutnya tanpa berdoa, tanpa jeda.

Faye di sebelahnya hanya mengamati dengan pandangan memaklumi. Tumbuh besar di antara robot, Rey memang tak pernah diajari tata krama atau sopan santun di meja makan.

Namun Faye tak ingin membiarkannya. Diam-diam, ia bertekad untuk membimbing Rey perlahan, dengan lembut dan kesabaran ekstra. Ia tahu betul, hati Rey mudah tersentuh dan terluka.

Kembali ke ruang makan istana, Nova, Bianca, dan Sany masih duduk di sana. Meski jam makan siang telah usai, ketiganya tak kunjung beranjak, masih terlibat dalam percakapan yang tampak serius.

Sebagai pemimpin, mereka memang sengaja menunggu para staf dan bawahan selesai beristirahat sebelum kembali ke aktivitas resmi.

"Omong-omong, kemana dua bocah itu? Aku tahu Mystera sibuk dengan misinya, tapi mereka berdua..." tanya Sany, yang baru ingat.

"Mereka juga sedang bertugas," jawab Bianca singkat.

Sany mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa banyak tanya.

Percakapan kemudian berlanjut ke topik yang lebih luas: keluarga Nova sebagai putri ketujuh kerajaan, kondisi terkini wilayah kekuasaannya, serta berbagai masalah administratif dan keamanan yang perlu ditangani.

Di restoran keluarga itu, makan siang telah usai. Rey dan Faye melangkah keluar, disambut udara yang hangat. Faye melirik jam tangannya, masih ada sisa waktu sebelum Putri Nova kembali ke ruang kerjanya.

Dia pun mendapat ide. Mengajak Rey berkeliling sebentar, sekaligus mengenalkannya pada sudut-sudut kota yang mungkin belum pernah dijelajahinya.

"Rey, kita masih punya waktu luang. Mau kutunjukkan sekitar kota?" tawar Faye, mencoba membaca respons Rey.

"Ha? Jalan-jalan lagi?" Rey terperanjat, matanya membesar.

Ekspresinya jelas: ia masih trauma dengan "jalan-jalan" yang terakhir kali berujung pada teguran dari sang putri.

"Tenang saja. Kalau bersamaku, aku jamin kau tak akan dihukum," bujuk Faye dengan nada meyakinkan.

Sebagai pelayan pribadi Putri Nova, Faye memiliki otoritas tertentu. Rey pun mengangguk, memilih untuk mempercayainya.

"Baiklah," jawab Rey singkat.

Mereka pun mulai berkeliling. Faye mengajaknya melihat berbagai tempat penting: kantor pos, bank pusat, museum kota, butik-butik ternama, dan beberapa sudut ikonis lainnya.

Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah bangunan besar bertuliskan "Guild". Tanpa banyak bicara, Faye memandu Rey masuk ke dalam.

Suasana ramai langsung menyergap. Puluhan orang petualang, pedagang, pencari kerja, berkumpul di ruang utama, sibuk mengobrol, bernegosiasi, atau memperhatikan papan misi yang ada di pengumuman.

"Tempat apa ini?" tanya Rey, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Ini adalah Guild. Pusat pendaftaran, pelatihan, dan penyedia pekerjaan bagi para petualang dan pekerja lepas. Siapa pun boleh bekerja di sini... kecuali mereka yang sudah mengabdi di istana," jelas Faye.

Rey mengangguk perlahan, mencerna penjelasan Faye.

Tiba-tiba, seorang petugas Guild perempuan berambut pirang dengan lencana bertuliskan "Pengurus" di dada, menghampiri mereka dengan langkah sigap.

"Selamat datang, Nyonya Faye. Ada yang bisa kami bantu? Mungkin dari pihak istana memerlukan jasa Guild?" ucap pengurus Guild dengan hormat.

"Ah, tidak. Aku cuma sedang mengenalkan kota pada teman ini," jawab Faye sambil tersenyum ramah.

Rey hanya membalas dengan anggukan singkat, menjaga sikapnya tetap sopan, namun tak banyak bicara.

Petugas itu pun membungkuk sedikit, "Baiklah. Silakan berkeliling sepuasnya,"

Lalu ia kembali menuju konter pusat, menyisakan Rey dan Faye di antara keriuhan Guild.

"Yuk, kita lihat papan pengumuman," ajak Faye sambil menoleh ke Rey.

"Tapi... bukannya kita tidak boleh kerja di sini?" tanya Rey yang ragu.

"Kita cuma lihat-lihat, bukan ambil misi," Faye meyakinkan dengan nada ringan.

"Oke..."

Mereka pun berjalan mendekati salah satu papan yang agak sepi, jauh dari kerumunan utama.

Di papan pengumuman itu, berderet misi-misi yang beragam: mulai dari membasmi hama tanaman, mengusir monster pengganggu, mengantar barang, hingga tugas pengintaian. Setiap misi dilengkapi label peringkat yang menunjukkan tingkat kesulitannya, D, C, B, A, S, hingga yang tertinggi, UR.

Di antara pengumuman misi, terselip juga beberapa poster buronan. Wajah-wajah asing itu dilabeli peringkat, seolah-olah menggambarkan betapa berbahayanya mereka.

Rey menatap salah satu poster dengan bingung.

"Kenapa ada foto orang di sini?"

"Itu poster buronan," jawab Faye dengan singkat.

"Buronan?" tanya Rey yang belum paham.

"Iya, mereka orang-orang yang dicari pihak keamanan karena melakukan kejahatan. Semakin tinggi rankingnya, semakin berbahaya dan sulit mereka ditangkap," jelas Faye, suaranya sedikit lebih rendah.

Rey menelusuri wajah-wajah yang tercetak di poster buronan itu. Ada perasaan tak nyaman menggelitik di dadanya, bukan karena mereka terlihat mengerikan, justru sebaliknya. Semua yang terpampang adalah wajah perempuan, dengan ekspresi yang beragam: ada yang dingin, sinis, bahkan tersenyum tipis seolah mengejek.

Dia merasa aneh. Seharusnya seorang penjahat terlihat jahat, tapi beberapa dari mereka justru terlihat... biasa saja. Bahkan ada yang wajahnya masih sangat muda.

Bersambung....

1
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!