Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Brams Meninggalkan Ranum
Tatapan mereka bertahan beberapa detik.
Tak ada yang berbicara.
Tak ada yang bergerak.
Lalu...
Sudut bibir Brams terangkat.
Senyum tipis itu berubah menjadi seringai kecil.
"Dari tadi..." bisiknya pelan.
"Kau menunggu aku menciummu?"
Ranum berkedip.
Wajahnya langsung memanas.
"Brams..." gumamnya lirih.
Ia segera memalingkan wajah ke samping.
Malas meladeni pria menyebalkan itu.
Dalam hati ia justru bertanya-tanya.
Bagaimana bisa dia setenang ini... setelah semua yang terjadi?
Baru beberapa jam lalu ia pingsan.
Tubuhnya kolaps.
Namun sekarang...
Ia masih sempat menggoda istrinya.
Brams mengangkat sebelah alis.
Tangannya perlahan mengapit dagu Ranum.
Memaksanya kembali menatap.
"Berhenti berpikir tentang aku."
Suara rendahnya terdengar tenang.
Namun terlalu mudah menebak isi hati Ranum.
Ranum menatap lurus kedua mata hitam itu.
"Percaya diri sekali."
Brams terkekeh pelan.
"Aku memang begitu."
Ia lalu berdiri.
Merapikan jas yang sempat kusut.
"Aku lapar."
"Ayo kita makan."
"Setelah itu..."
"Kau ikut denganku menghadiri pertemuan bisnis siang ini."
Ranum ikut berdiri.
"Tapi kau belum pulih."
Tatapannya berhenti pada wajah Brams yang masih terlihat sedikit pucat.
"Kau baru saja pingsan."
Brams hanya mengangkat bahu.
"Aku tidak suka terlalu lama beristirahat."
Langkahnya mendekati Ranum.
"Lain cerita..."
"...kalau istirahatnya seharian di ranjang bersamamu."
Senyumnya kembali muncul.
Tipis.
Menyebalkan.
Ranum langsung mendelik.
"Kau memang tidak tahu malu."
"Aku hanya mengatakan keinginanku."
Jawab Brams santai.
Ranum mendengus pelan.
"Kalau begitu..."
"Ayo pergi."
Ia melangkah lebih dulu meninggalkan lobi rumah sakit.
Brams mengikuti dari belakang.
Pandangan matanya tak pernah benar-benar lepas dari sosok mungil di depannya.
Jilbab navy itu bergoyang pelan mengikuti langkah Ranum.
Tanpa sadar...
Sudut bibir Brams kembali terangkat.
Namun senyum itu perlahan memudar ketika pikirannya kembali pada kenyataan.
Berita tentang dirinya.
Rumor yang selama ini beredar.
Laporan kesehatan yang disimpan rapat oleh keluarga Ravendra.
Dan...
Pertemuan bisnis siang ini.
Kemungkinan besar para wartawan sudah menunggu.
Mereka pasti akan kembali mencari celah.
Mencari jawaban.
Mencari kelemahannya.
Brams mengembuskan napas pelan.
Seandainya aku bisa memberinya seorang anak...
Semua tuduhan itu akan berhenti dengan sendirinya.
Namun pikiran itu hanya lewat sesaat.
Ia segera membuangnya jauh-jauh.
Sudah bertahun-tahun ia hidup dengan satu keyakinan.
Bahwa dirinya tidak akan pernah memiliki keturunan.
Dan kini...
Ia tidak lagi ingin melawannya.
Baginya...
Takdir itu sudah selesai.
Kalau memang hidupnya harus berakhir tanpa seorang anak...
Maka ia hanya akan menjalani sisa hidup sesuai caranya sendiri.
Bekerja.
Mengembangkan bisnis.
Menikmati hidup.
Tanpa berharap lebih.
Brams kembali menatap Ranum yang berjalan beberapa langkah di depannya.
Tanpa ia sadari...
Perempuan itu justru sedang menyusun rencana yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Rencana untuk mengembalikan kesehatan Brams.
Membuktikan bahwa diagnosis lama itu belum tentu benar.
Dan perlahan...
Mengubah hidup pria keras kepala itu.
Dengan caranya sendiri.
Satu jam kemudian.
Mobil Brams berhenti di depan sebuah restoran mewah yang menghadap ke sungai.
Pelayan segera membukakan pintu.
"Selamat datang, Tuan Brams."
Brams hanya mengangguk singkat.
Ranum mengikuti di belakangnya.
Ini pertama kalinya mereka makan siang bersama.
Begitu memasuki ruang VIP, berbagai hidangan telah tersaji di atas meja.
Brams menarik kursi.
"Duduk."
Ranum menurut tanpa banyak bicara.
Suasana hening.
Hanya suara alat makan yang sesekali beradu.
Beberapa menit berlalu.
Brams selesai menyantap makanannya lebih dulu.
Ia menyandarkan tubuh.
Tangannya meraih bungkus rokok dari saku jas.
Klik.
Api menyala.
Asap pertama mengepul pelan.
Ranum mengangkat wajah.
Tatapannya berhenti pada rokok yang terselip di sela jemari Brams.
Tanpa mengatakan apa pun...
Ia mengulurkan tangan.
Mengambil rokok itu begitu saja.
Brams hanya mengikuti gerakan Ranum dengan matanya.
Belum sempat berkata apa-apa...
Ranum mematikan bara rokok itu di dalam asbak.
"Cobalah sedikit demi sedikit."
Suara Ranum terdengar tenang.
"Kurangi."
Brams tidak menjawab.
Ia hanya membuka bungkus rokoknya lagi.
Mengambil batang yang baru.
Menyelipkannya di bibir.
Klik.
Api kembali menyala.
Ia sengaja mengembuskan asap ke udara.
Seringai tipis muncul di bibirnya.
Seolah sedang menantang.
Ranum menatapnya beberapa detik.
Lalu...
Tangannya kembali bergerak.
Kali ini...
Ia langsung mengambil rokok yang masih berada di bibir Brams.
Brams membiarkannya.
Matanya hanya mengikuti setiap gerakan istrinya.
Ranum mematikan rokok kedua itu.
Kemudian...
Plung.
Rokok tersebut masuk ke dalam gelas wine milik Brams.
Sunyi.
Brams membuka mulut sedikit.
Lidahnya mengusap perlahan permukaan giginya yang tersusun rapi.
Ia menarik napas panjang.
Masih diam.
Masih menahan diri.
Kemudian...
Ia berdiri.
Berniat mengambil rokok lain.
Namun...
Ranum lebih cepat.
Ia meraih seluruh bungkus rokok milik Brams.
"Ranum."
Suara Brams mulai berubah.
Namun Ranum tetap melanjutkan.
Krek.
Satu batang dipatahkan.
Krek.
Batang kedua.
Ketiga.
Keempat.
Sampai seluruh isi bungkus itu hancur.
Lalu...
Seluruhnya ia masukkan ke dalam gelas wine.
Sendok kecil di tangannya mengaduk perlahan.
Wine berubah keruh.
Kini...
Brams benar-benar kehilangan kesabarannya.
Tangannya menangkap pergelangan Ranum.
Cengkeramannya kuat.
"Cukup."
Tanpa memberi kesempatan Ranum bicara...
Ia menarik perempuan itu keluar dari ruang VIP.
Beberapa tamu menoleh.
Pelayan hanya saling berpandangan.
Brams terus berjalan.
Membuka pintu mobil.
Mendorong Ranum masuk.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Mobil dipenuhi keheningan.
Brams masih menggenggam pergelangan tangan Ranum.
"Apa maumu?"
Suara beratnya terdengar jauh lebih dingin dari biasanya.
Ranum menatap lurus.
"Aku hanya ingin kau hidup lebih lama. Dan bisa menikmati hidup bahagia bersama Kakek Barra."
Brams terkekeh pendek.
"Kau benar-benar tidak bisa aku peringatkan secara baik-baik..."
"...jangan salahkan aku, kalau aku mulai memperlakukanmu secara kasar, Nyonya Ravendra."
Ranum tidak bergeming.
"Lakukan saja."
"Aku tidak pernah berharap apa pun dari pernikahan ini."
"Aku hanya sedang menikmatinya dengan caraku sendiri."
Tatapan Brams semakin tajam.
"Aku juga."
"Aku ingin menikmati hidupku dengan caraku sendiri."
"Jadi..."
"Mari saling tidak mengganggu kehidupan masing-masing."
Ranum menggeleng.
"Tapi kau yang lebih dulu melanggarnya."
Brams mengangkat sebelah alis.
"Apa?"
"Kau sudah..."
Ucapan Ranum menggantung.
Wajahnya memerah.
Brams langsung mengerti.
Senyumnya kembali muncul.
"Itu bonus untukmu, Ranum."
Ranum langsung mendelik.
"Hei."
Brams menyandarkan tubuh.
"Di luar sana..."
"Banyak wanita yang berharap bisa tidur denganku."
"Apalagi setelah rumor itu beredar."
"Kau justru wanita yang paling beruntung karena bisa berhubungan int—"
"Cukup, Brams."
Potong Ranum cepat.
Brams menatapnya beberapa saat.
Lalu...
Tangannya meraih tengkuk Ranum.
Menariknya mendekat.
"Baik."
"Aku berhenti."
Ranum terdiam.
"Aku berhenti menjadi suami yang baik untukmu."
Kalimat itu terdengar datar.
Namun justru terasa menusuk.
Brams membuka pintu mobil.
"Turun."
Ranum menahan napas.
Tak pernah ia menyangka pria itu akan mengatakan hal tersebut.
"Turun."
Nada Brams kali ini benar-benar tanpa emosi.
Ranum menggigit bibir bawahnya.
Lalu turun tanpa sepatah kata.
BRAK!
Pintu mobil tertutup.
Beberapa detik kemudian...
Mobil Brams melaju meninggalkan restoran.
Ranum tetap berdiri di pinggir jalan.
Dadanya terasa sesak.
Matanya mulai memanas.
Namun ia cepat-cepat mengedip.
"Oh..."
"Cuacanya panas sekali."
"Sampai mataku ikut berkeringat."
Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Lalu mengangkat tangan menghentikan sebuah taksi.
"Pak..."
"Bisa antar saya ke taman kota?"
Beberapa menit kemudian.
Ranum berbaring di atas hamparan rumput hijau di bawah pohon rindang.
Langit biru terbentang luas.
Angin bertiup pelan.
"Bu..."
Suara itu hampir tak terdengar.
"Seandainya aku menikahi Brams dengan cara yang baik..."
"Mungkin aku bisa menikmati pernikahan ini."
Ia menghela napas panjang.
"Mungkin..."
"...aku juga bisa membicarakan kesehatannya tanpa harus bertengkar."
Matanya terus menatap langit.
Tiba-tiba...
Sebuah bayangan menutupi sinar matahari.
"Hai."
Ranum menoleh.
"Dokter Nico?"
Pria itu tersenyum ramah.
"Kau sendirian?"
Ranum mengangguk.
"Bukankah Anda sibuk?"
"Kenapa bisa ada di sini?"
Nico menoleh ke belakang.
Seorang perawat sedang mendorong kursi roda.
Di atasnya duduk seorang wanita paruh baya berambut putih.
"Ibuku."
"Beliau ingin berjalan-jalan ke taman hari ini."
"Oh..."
Ranum tersenyum kecil.
"Semoga beliau lekas sehat."
"Terima kasih."
Nico duduk di bangku taman, tidak jauh dari Ranum.
Keduanya mengobrol santai.
Tanpa mereka sadari...
Di seberang jalan.
Seseorang mengangkat kamera ponselnya.
Klik.
Satu foto berhasil diambil.
Lalu...
Klik.
Foto kedua.
Foto Ranum dan Nico yang tampak sedang bersama.
Orang itu tersenyum tipis. "Menarik..." Gumamnya.
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu