NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan berakhir

Rumah itu kembali sunyi. Pintu kayunya tetap tertutup rapat, ember penyiram bunga masih tergeletak di sudut beranda, dan sandal milik Keiko masih tersusun rapi di dekat pintu, persis seperti terakhir kali ia meninggalkannya.

Shiro duduk di anak tangga dengan tatapan yang tak pernah lepas dari pintu kayu tersebut. Angin pagi bertiup pelan, membawa aroma dedaunan basah dari hutan di belakang rumah.

"......."

Tak ada suara. Tak ada langkah kaki. Tak ada lagi sapaan yang selalu ia dengar setiap pagi. "Selamat pagi, Shiro." Kalimat itu kini hanya tersisa sebagai gema di dalam ingatannya.

Shiro tetap menunggu. Tak lama kemudian, suara pintu pagar yang terbuka terdengar pelan. Kyo masuk ke dalam halaman sambil membawa sebuah bungkusan kecil. Begitu melihat Shiro masih setia duduk di depan rumah, langkahnya melambat.

"...Kau masih di sini."

Shiro hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap pintu. Kyo berjongkok di sampingnya dan mengeluarkan seekor ikan panggang yang masih hangat dari bungkusan. "Ini, setidaknya makan dulu."

Ia meletakkan ikan itu di atas daun lebar tepat di depan Shiro. Aroma gurih langsung memenuhi udara, namun Shiro tidak bergerak. Ia bahkan tidak menoleh. Kyo menghela napas panjang.

"Kalau terus seperti ini... kau bisa sakit."

Tak ada jawaban. Hanya embusan angin yang kembali melewati halaman. Kyo akhirnya ikut duduk di anak tangga. Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam, sama-sama memandang pintu rumah yang terkunci rapat itu.

Akhirnya, Kyo memecah keheningan dengan suara berat. "Keiko-san... sudah kembali ke Tokyo."

Kalimat itu meluncur pelan, seolah Kyo sendiri tidak tega mengucapkannya. Shiro tetap diam tanpa perubahan berarti pada wajahnya, namun telinganya bergerak sedikit saat mendengar nama itu disebut.

Kyo menundukkan kepala. "Aku tahu... kalau kau terus menunggu, dia tidak akan keluar dari pintu itu lagi."

Kyo tidak memaksa lagi. Ia tahu, percuma berbicara kepada Shiro saat pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Dengan pelan, ia berdiri. "Ikan itu kutaruh di sini. Kalau lapar... makanlah."

Sebelum meninggalkan halaman, Kyo sempat menoleh sekali lagi. Shiro masih duduk di tempat yang sama, seolah-olah ia percaya bahwa pintu itu akan terbuka kapan saja.

***

Matahari perlahan bergerak ke barat. Bayangan pepohonan semakin panjang menutupi halaman rumah. Ikan yang ditinggalkan Kyo mulai dingin. Shiro akhirnya menoleh, berjalan pelan menghampiri daun tempat ikan itu diletakkan. Aroma panggangnya masih tercium jelas, dan perutnya sudah berbunyi sejak tadi siang.

Ia menundukkan kepala, namun yang terlintas di benaknya justru suara Keiko. "Kalau lapar, Jangan ditahan."

Shiro memejamkan mata sesaat, lalu menggigit sedikit ikan itu. Hanya sedikit. Setelah itu, ia kembali ke anak tangga untuk menunggu lagi.

***

Langit mulai gelap. Lampu-lampu rumah warga satu per satu menyala. Suara serangga malam menggantikan kicau burung. Pintu rumah itu tetap tidak terbuka, namun Shiro masih duduk di tempat yang sama, matanya tak pernah berpindah dari gagang pintu kayu.

Hingga akhirnya, suara langkah kaki kembali terdengar. Kyo datang lagi, kali ini membawa sebuah lentera kecil. Melihat Shiro yang belum beranjak, ia tersenyum pahit. "Kau benar-benar keras kepala."

Ia duduk di samping Shiro. Keduanya terdiam cukup lama, memandang rumah yang kini diterangi cahaya remang lampu teras. Akhirnya, Kyo mengembuskan napas panjang.

"Shiro. Dia tidak akan pulang malam ini. Besok juga tidak. Mungkin... beberapa bulan lagi."

Shiro tetap diam, tatapannya masih mengarah ke pintu.

Kyo menggenggam lututnya. "Aku tahu kau mengerti. Karena kau... bukan kucing biasa."

Tiba-tiba, Shiro mengalihkan pandangan. Ia menoleh pelan ke arah Kyo. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata-kata, namun Kyo tahu Shiro mendengarnya.

Kyo tersenyum tipis. "Leluhurku pernah berkata, kalau seorang Bakeneko sudah memilih seseorang... dia tidak akan meninggalkannya." Kyo menunduk. "Tapi, Tokyo sangat jauh. Kau tidak mungkin pergi sendirian. aku akan mengantarmu."

Angin malam berembus pelan, beberapa helai daun sakura gugur ke halaman. Shiro kembali memandang pintu rumah, lalu perlahan ia berdiri.

Kyo ikut berdiri. "Shiro?"

Shiro melangkah satu kali. Bukan menuju pintu rumah, melainkan ke arah jalan keluar desa. Kyo membelalakkan mata. "Hei... kau..."

Shiro tidak berhenti. Langkahnya pelan tetapi mantap. Kyo hanya mampu menatap punggung kecil itu yang perlahan menjauh di bawah cahaya bulan.

"...Jangan bilang kau benar-benar mau menyusulnya."

Shiro terus melangkah. Ia tidak menoleh lagi. Di belakangnya, Desa Tsukimori semakin jauh, kini hanya menjadi titik-titik cahaya kecil sebelum akhirnya hilang ditelan gelapnya malam.

Shiro berhenti sejenak. Hidungnya bergerak pelan, menghirup udara malam yang dingin. Di antara aroma tanah basah dan pepohonan, masih ada aroma yang begitu ia kenal—sangat tipis, namun masih bisa ia rasakan.

Aroma Keiko.

***

Shiro terus melangkah.

Malam pertama berlalu dalam sunyi. Cahaya bulan perlahan berganti, matahari kembali naik, sedikit demi sedikit. Jalan setapak pegunungan berubah menjadi jalan yang beraspal. Pepohonan mulai berkurang, berganti hamparan sawah dan rumah-rumah kecil yang berdiri berjauhan.

Shiro mengenal tempat-tempat itu. Ia hanya berjalan.

Sesekali ia berhenti, mengangkat kepala, lalu menghirup udara dalam-dalam. Aroma Keiko masih ada. Sangat tipis, hampir hilang, namun cukup untuk membuatnya melangkah lagi.

Aspal yang sejak pagi menyerap panas kini mulai terasa membakar telapak kakinya. Lama-kelamaan ia mulai mengangkat kakinya bergantian karena rasa panas yang menusuk. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti terlalu lama.

Beberapa orang yang melintas memperhatikannya.

Seorang wanita yang sedang menyiram tanaman meletakkan semangkuk makanan kucing di tepi jalan.

"Ayo, makan dulu."

Shiro menoleh sesaat, Perutnya terasa kosong. Namun setelah beberapa detik, ia kembali berjalan meninggalkan mangkuk itu.

Beberapa jam kemudian, seorang pemilik warung melakukan hal yang sama. Lalu seorang anak kecil. Ada pula seorang pengendara sepeda yang berhenti hanya untuk menuangkan sedikit makanan ke tutup botol plastik.

Shiro tidak menyentuh satupun. Rasa lapar terus menggerogoti tubuhnya, tetapi langkahnya tidak pernah berubah arah.

Saat haus datang, ia hanya berhenti di tepi parit atau sungai kecil. Air dingin yang mengalir menjadi satu-satunya yang masuk ke dalam tubuhnya sebelum ia kembali melanjutkan perjalanan.

Hari berganti tanpa benar-benar ia sadari.

Bulunya yang semula bersih mulai kusam oleh debu. Tubuhnya perlahan kehilangan berat. Telapak kakinya yang terus bergesekan akhirnya mulai robek. Bekas-bekas merah tertinggal setiap kali ia kembali melangkah, namun beberapa saat kemudian jejak itu mengering bersama debu jalanan.

Tetapi Shiro tidak pernah berhenti.

Aroma Keiko masih berada di depan.

SemAkin jauh Shiro melangkah, dunia di sekitarnya perlahan berubah. Jalan-jalan menjadi lebih lebar. Suara bising dari Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti.

Cahaya lampu mulai mendominasi ketika matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Hidungnya kembali bergerak pelan. Aroma itu kini jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Tubuhnya yang hampir kehabisan tenaga kembali memaksakan diri untuk melangkah. Setiap pijakan terasa menyakitkan. Telapak kakinya yang luka meninggalkan bercak-bercak merah samar di atas trotoar yang basah oleh hujan sore. Tetapi rasa sakit itu seolah tidak lagi berarti. Keiko sudah dekat.

Shiro terus mengikuti aroma itu melewati persimpangan demi persimpangan, hingga tanpa disadarinya ia memasuki kawasan yang jauh lebih tenang. Pepohonan di tepi jalan bergoyang pelan tertiup angin malam. Aroma Keiko berada di sekitar sini. Shiro mempercepat langkahnya semampunya.

Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, suara geraman rendah terdengar dari balik gang gelap dipinggir jalan.

Ggggrrr... Guukkk... Gukkk

Shiro berhenti. Tiga pasang mata memandang ke arahnya dari kegelapan. Tiga ekor anjing liar keluar perlahan, menjaga jarak sambil terus menggeram. Mereka bukan sedang berburu makanan; mereka sedang mempertahankan wilayah.

Shiro menatap mereka tanpa bergerak. Dalam keadaan normal, ia tidak perlu melakukan apa pun. Cukup melepaskan sedikit saja aura yang selama ini ia sembunyikan, maka makhluk-makhluk itu akan lari ketakutan.

Namun kini, tubuhnya terlalu lemah. Hari-hari tanpa makanan telah menguras hampir seluruh kekuatan spiritualnya. Yang tersisa hanya cukup untuk membuatnya tetap berdiri.

Salah satu anjing menerjang lebih dulu. Shiro menghindar dengan susah payah. Cakar depannya mendarat di aspal, tetapi rasa nyeri di telapak kaki membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Anjing kedua langsung menyambar dari samping. Taringnya menghujam bahu Shiro. Shiro mengerang pelan. Dia melepaskan diri dan melompat mundur. lalu menghantam anjing itu dengan cakar dan taring nya yang tajam. Darah mulai menetes membasahi bulu abu-abunya. Napasnya semakin berat.

Miiawwww....

suara erangan melengking dari shiro membuat Ketiga anjing itu kembali mendekat. Shiro mundur selangkah. Di belakang mereka, aroma Keiko semakin kuat. Sangat dekat. Begitu dekat hingga rasanya ia hanya perlu berjalan sedikit lagi. Shiro kembali berdiri tegak. Apa pun yang terjadi, ia harus melewati mereka.

Saat salah satu anjing kembali menerjang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari.

"Hei!"

Suara seorang perempuan memecah malam.

"Pergi!"

Sebuah batu melayang dan mengenai salah satu anjing, disusul suara benda panjang menghantam tanah.

"Pergi!"

Ketiga anjing itu terkejut. Salah satunya menyerang gadis itu sambil menggonggong keras. Shiro mengangkat kepalanya perlahan. Pandangan yang mulai kabur itu menangkap sesosok perempuan yang berdiri beberapa meter di depannya. Rambut panjang. Napas memburu. Wajah yang selama ini hanya hidup di dalam ingatannya.

-Keiko-

Shiro mencoba melangkah, menghalangi serangan anjing yang ingin menyentuh keiko, Dengan kekuatan terakhir ia menyerang anjing itu namun setelah serangan terakhir itu kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya.

BrBrakk

Tubuh kecil itu menyentuh tanah, Ingatannya mulai pudar.

Namun Shiro merasakan tubuhnya terangkat, Hangat menyentuh tubuhnya. Aroma yang selama ini ia kejar akhirnya memenuhi seluruh indranya. Perlahan, napasnya yang semula tersengal mulai terasa lebih tenang.

Bukan karena luka-lukanya menghilang, bukan karena tenaganya pulih, tetapi karena akhirnya ia telah sampai.

Dengan susah payah Shiro membuka matanya sekali lagi. Di dekapan gadis itu, Wajah Keiko tampak pucat, dipenuhi kepanikan dan air mata yang mulai menggenang, Ia berlari sangat panik.

"...Aku..."

Suaranya nyaris tak terdengar.

"...menemukanmu..."

Batin Shiro sebelum Kelopak matanya kembali menutup. Kali ini, ia tidak lagi merasa takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!