Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar⁴
Di luar ruang gawat darurat.
Xue Ling duduk disana sambil terus menangis. Seolah menyadari bahwa peristiwa hari ini tidak akan berakhir dengan baik, hatinya diliputi ketakutan. Ia hanya bisa meluapkan kegelisahan batinnya melalui tangisan tanpa henti.
Xue Mo berdiri disampingnya dengan perasaan serba salah, tetapi tidak berani mengulurkan tangan untuk menghiburnya.
Bagaimanapun juga, orang yang sedang menjalani penanganan darurat didalam sana adalah adik kandungnya sendiri.
Sekalipun selama ini ia selalu berpihak pada Xue Ling, dalam situasi seperti sekarang. Terlebih lagi setelah paman Zhang menyaksikan langsung kejadian itu, ia tidak berani secara terang-terangan menunjukkan keberpihakkan.
Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Bukankah Xue Ling mengatakan bahwa ia hanya pergi untuk meminta maaf?
Mengapa justru membuat orang masuk keruang gawat darurat?
Tidak lama kemudian, kakek keluarga Xue tiba. Bersamanya, ayah dan ibu Xue juga datang dengan tergesa-gesa.
"Ayah..." ayah Xue tampak hendak mengatakan sesuatu.
Namun kakek Xue mengangkat tangan, memotong ucapannya tanpa memberi kesempatan.
"Aku tak ingin mendengar penjelasan. Xue Ba, tampaknya perkataanku sebagai orang tua sudah tidak lagi berarti apa-apa."
Xue Ba adalah nama ayah Xue.
Begitu kakek memanggilnya dengan menyebut nama lengkap, Xue Ba tahu bahwa kakek benar-benar murka.
"Tidak, ayah. Aku sudah mengatur agar Xue Ling pindah. Hanya saja aku tidak menyangka ia berani datang ke rumah sakit untuk mencari Xue Yao. Ini salahku, aku tidak mendidiknya dengan baik."
"Namanya Lin Ling. Apa hubungannya dengan keluarga Xue kita?"
Lin adalah marga ayah kandung Xue Ling. Dengan ucapan itu, kakek secara tegas memutus garis antara dirinya dan Xue Ling.
"Kakek, aku hanya datang untuk meminta maaf kepada adik. Aku tidak tahu mengapa ia bisa sampai seperti itu... Kakek, aku tidak melakukannya. Sungguh, aku tidak melakukan apapun."
Xue Ling tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Xue Mo, melangkah cepat kedepan, lalu berlutut dihadapan kursi roda Kakek. Ia mencengkeram selimut dilutut kakek sambil menangis tersedu-sedu.
Ia tidak mau menjadi Lin Ling!
Rumah itu kecil, kotor, bahkan tidak sebesar kamar mandi dikamarnya dulu.
Belum lagi ibu kandungnya yang berbicara dengan bau alkohol menyengat.
Daripada menjadi Lin Ling, lebih baik ia meti saja.
Mengapa Xue Yao begitu rapuh?
Selama ini ia telah berkali-kali memprovokasinya, namun tidak pernah terjadi apa-apa. Mengapa justru hari ini semuanya menjadi seperti ini?
Namun, kakek Xue sama sekali tidak tersentuh oleh tangisan itu.
Ia menerima sebuah alat perekam suara dari tangan Zhan Xu, alat yang dipungut dari lantai ruang rawat.
Kemudian, ia dengan tenang menekan tombol putar.
"Bukan, jelas-jelas itu—"
"Aku tahu kau cemburu karena Ayah, Ibu, dan kakak lebih memperhatikanku, sehingga kau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Tetapi adik, kau adalah putri kandung mereka. Mana mungkin aku bisa dibandingkan denganmu."
Percakapan diruang rawat terdengar jelas dari alat perekam tersebut.
"Cukup cerdik. Datang membawa alat perekam untuk 'meminta maaf', begitu?"
Melihat alat perekam itu, kakek Xue langsung memahami segalanya.
Siasat murahan Lin Ling, dapat ia tembus hanya dengan sekali pandang.
Wajah kakek mengeras, ia lalu melemparkan alat perekam itu dengan keras kelantai.
Pecahan yang terlempar melintas disisi wajah Lin Ling, menggoreskan luka berdarah dipipinya.
"Ah!"
Sambil menutup wajahnya, Lin Ling terduduk dengan panik dilantai.
Xue Mo pada akhirnya tidak tega melihat wanita yang dicintainya berada dalam keadaan begitu menyedihkan. Ia bangkit, menghampiri, lalu membantu Xue Ling berdiri dan memeluknya erat.
"Kakek, ini salahku. Aku yang membawa A Ling kemari. Aku tidak menyangka Xue Yao hanya mendengar beberapa kata saja sudah begitu rapuh, sampai-sampai—"
Plak
Suara tamparan keras dan tegas langsung memotong ucapannya.
"Diam! Yang ada didalam sana itu adik kandungmu!"
Yang menamparnya adalah Xue Ba.
Bukan karena ia begitu menyayangi Xue Yao, melainkan karena ia tahu betul bahwa Xue Mo tidak boleh terus memancing amarah kakek.
Jika tidak, semua orang akan terkena imbasnya.
Pandangan kakek Xue perlahan menyapu wajah orang-orang yang hadir.
Putra sulung yang tampak adil namun sebenarnya melindungi, menantu perempuan yang menatap Lin Ling dengan penuh kekhawatiran, cucu sulung yang memeluk Lin Ling erat-erat, dan Lin Ling sendiri menangis tersedu-sedu bak bunga pir yang diguyur hujan. Tetapi tangannya mencengkeram Xue Mo dengan kuat.
Ia merasa menyesal atas kebodohannya, membiarkan Xue Yao hidup begitu lama ditengah sekumpulan orang yang demikian tak berpikiran jernih.
Terhadap Xue Ling, cucu yang telah ia besarkan selama delapan belas tahun, ia memang masih memiliki sedikit perasaan.
Namun, ia tidak akan membiarkannya menindas cucu kandungnya sendiri. Apalagi sampai mengacaukan keluarga Xue dan menjadikan mereka bahan tertawaan.
"Jika kalian bersikeras melindunginya, silakan. Kalian bisa ikut pindah bersamanya dari kediaman Shanse."
Ucapan itu terdengar ringan, tetapi membuat wajah semua orang berubah drastis.
Kediaman Shanse adalah tempat tinggal keluarga Xue Ba saat ini. Sekaligus rumah leluhur Keluarga Xue.
Tinggal disana berarti pengakuan dari kakek Xue. Justru karena pindah ke kediaman Shanse inilah status Xue Mo sebagai pewaris diakui secara luas.
Jika mereka harus pindah keluar, maka—
"Ayah, A Mo hanya sedang bingung sesaat. Tenanglah, aku pasti akan menangani masalah ini dengan baik. Xue Yao adalah permata yang susah payah aku temukan kembali. Mana mungkin aku tidak menyayanginya? Ini salahku karena tidak mengurus urusan rumah tangga dengan baik hingga membuat ayah cemas."
Xue Ba segera menundukkan kepala menyatakan kesetiaan. Dihadapan kakek, ia langsung menelepon pengurus kediaman Shanse.
"Pengurus Wang, suruh orang-orang membereskan barang-barang dikamar Xue—Lin Ling. Kemasi semua barang pribadinya. Nanti aku akan membawanya kembali untuk mengambilnya."
Setelah menutup telepon, ia menatap Lin Ling dengan wajah dingin.
"Keluarga kami telah membesarkanmu selama bertahun-tahun dan tidak pernah berhutang apapun kepadamu. Namun, kau telah mencelakai Xue Yao sampai seperti ini. Aku tidak bisa lagi membiarkanmu tinggal. Nanti aku akan menyuruh orang mengantarmu kembali ke kediaman untuk mengambil barang-barangmu. Kedepan, baik atau buruk hidupmu, itu adalah takdirmu sendiri."
Didalam hatinya, ia masih menyimpan sedikit rasa iba. Namun ia tahu, dalam situasi seperti sekarang, mengorbankan Lin Ling adalah pilihan terbaik.
Paling tidak, ia masih bisa diam-diam menyuruh istrinya memberikan sejumlah uang agar Lin Ling tidak hidup terlalu menderita.
Begitu kata-kata itu terucap, Xue Ling—tidak, Lin Ling langsung lunglai dalam pelukan Xue Mo.
Belum sempat ia membuka mulut, pintu ruang gawat darurat terbuka.
Kakek Xue segera memberi isyarat agar asistennya mendorong kursi roda kedepan.
Xue Ba dan istrinya pun segera menyusul.
Apapun yang mereka pikirkan dalam hati, saat ini mereka harus menampilkan sikap penuh kepedulian dan kasih sayang.
"Kondisi pasien sudah stabil, tetapi mohon diperhatikan agar emosinya tidak kembali bergejolak. Jangan sampai ada rangsangan yang memicunya."
Kakek Xue mengangguk pelan. Dengan tatapan penuh kasih, ia memandang Xue Yao yang didorong keluar dari ruang gawat darurat.
Ia terbaring disana dengan wajah pucat, kemiripannya dengan sang nenek dimasa muda tampak semakin jelas.
Hal itu justru membuat amarah kakek terhadap keluarga putra sulungnya semakin membara.
"Soal Lin Ling, aku tidak ingin mengatakannya untuk kedua kalinya. Jika tidak, menurutku istri anak keduaku juga cukup pantas menjadi ibu Xue Yao."
Baginya, mengganti status kependudukan hanyalah perkara sepele bagi keluarga Xue.
Istri anak kedua yang dimaksud kakek adalah istri Xue Lan, paman kedua Xue Yao—bibi Xue Yao.
Pada hari Xue Yao dirawat dirumah sakit, bibi tersebut datang menjenguk dan secara khusus membawakan sup buatannya sendiri untuk memulihkan tubuh Xue Yao.
Terlepas dari apakah Xue Yao meminumnya atau tidak, niatnya sudah sangat jelas.
Bagi seorang nyonya bangsawan, bersedia turun kedapur sendiri sudah merupakan bentuk perhatian yang besar.
Kakek tentu tahu ada unsur pamer didalamnya, tetapi dibandingkan dengan putra sulungnya yang bahkan berpura-pura saja tidak becus. Kepura-puraan keluarga anak kedua justru terasa lebih layak dihargai.
Xue Ba dan istrinya berdiri terpaku, menatap kakek Xue yang mengikuti ranjang Xue Yao kembali keruang rawat.
Setelah sekian lama, pasangan suami istri itu saling berpandangan, mata mereka dipenuhi rasa pahit.
Bagaimana semuanya bisa berkembang menjadi seperti ini?