Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Maafkan Ibu
Sementara itu...
Mobil hitam Adrian melaju meninggalkan gudang tua menuju markas utama keluarga Moretti. Tidak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil.
Johan yang duduk di kursi depan beberapa kali melirik ke arah kaca spion. Wajah Don Muda mereka tetap datar seperti biasa, tetapi ia tahu... semakin tenang Adrian, semakin berbahaya situasinya.
Beberapa menit kemudian...
"Apa hasil penyelidikan tentang wanita itu?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
Johan segera membuka tablet di tangannya. "Identitasnya masih belum berhasil dipastikan, Don."
"Kenapa?"
"Dia menggunakan identitas palsu setiap kali berpindah negara."
Adrian tetap diam.
"Namun..." lanjut Johan, "kami menemukan satu kesamaan."
"Apa?"
"Dia selalu muncul di tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan Panti Asuhan Kasih Bunda."
Tatapan Adrian langsung berubah tajam. "Berapa kali?"
"Lima kali dalam sepuluh tahun terakhir."
Adrian perlahan menyandarkan tubuhnya. "Berarti targetnya memang bukan kebetulan."
"Ya, Don."
Johan menelan ludah sebelum melanjutkan. "Dan ada satu hal lagi."
"Cepat katakan."
"Kami menemukan seseorang diam-diam menyelidiki data kelahiran Aurora Bellini."
Adrian perlahan memejamkan mata. "Siapa orang itu?"
"Belum diketahui, tapi mereka berhasil menyusup ke arsip lama panti."
Suasana mobil kembali hening.
Beberapa saat kemudian Adrian membuka matanya. "Hancurkan semua jejak data yang masih tersisa."
Johan mengangguk. "Baik, Don."
"Lalu pindahkan seluruh dokumen asli ke tempat yang lebih aman."
"Siap."
Adrian kembali menatap keluar jendela. "Kalau mereka mulai mencari masa lalu Aurora... berarti mereka sudah mengetahui sesuatu."
Di Mansion Moretti...
Aurora masih berdiri di depan rak buku sambil memperhatikan beberapa album tua yang tersusun rapi.
"Tuan Emilio."
"Ya, Nona?"
"Apakah semua buku di sini boleh dipinjam?"
"Boleh."
Aurora tersenyum senang. "Benarkah?"
"Tentu saja."
Pak Emilio kemudian mengambil sebuah kartu kecil dari laci mejanya. "Mulai hari ini Anda memiliki hak akses ke perpustakaan."
Aurora menerima kartu itu dengan kedua tangan. "Terima kasih."
Isabel tersenyum melihat wajah bahagia Aurora. "Sepertinya Anda memang suka membaca."
Aurora mengangguk cepat. "Dulu di rumah singgah hanya ada beberapa buku. Setiap selesai membaca, aku selalu mengulanginya berkali-kali."
Pak Emilio tersenyum hangat. "Kalau begitu, mulai sekarang Anda tidak akan kehabisan bahan bacaan."
Aurora tertawa kecil. "Sepertinya aku bisa tinggal di sini seharian."
"Kalau Don Muda mengizinkan," goda Isabel.
Aurora langsung tertawa. "Beliau pasti menyuruhku kembali bekerja."
Ketiganya ikut tersenyum.
Namun tiba-tiba...
Bip... bip... bip...
Jam komunikasi yang dikenakan Isabel berbunyi pelan. Isabel segera melihat layar kecilnya, ekspresinya perlahan berubah serius.
"Ada apa, Kak?" tanya Aurora.
Isabel mengangkat pandangan. "Don Besar meminta kita segera ke ruang keluarga."
"Ada tamu?"
"Bukan."
"Lalu?"
Isabel menghela napas pelan. "Don Muda baru saja menghubungi mansion."
Aurora mengernyit. "Adrian?"
"Beliau meminta seluruh sistem keamanan mansion dinaikkan ke tingkat siaga."
Aurora langsung terdiam. "Kenapa?"
Isabel menggeleng. "Beliau tidak menjelaskan alasannya."
"Tetapi..." Isabel menatap Aurora dengan wajah yang mulai serius. "Perintah seperti itu sangat jarang diberikan."
Aurora merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Entah mengapa... ia memiliki firasat bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Dan tanpa ia sadari, seseorang dari masa lalunya telah mulai bergerak. Seseorang yang selama bertahun-tahun menghilang tanpa jejak. Seseorang yang mengetahui rahasia kelahirannya.
Beberapa menit kemudian...
Isabel dan Aurora segera meninggalkan perpustakaan. Langkah mereka sedikit dipercepat menyusuri koridor panjang menuju ruang keluarga.
Sepanjang perjalanan, Aurora mulai menyadari sesuatu. Para penjaga yang tadi hanya berjaga di pos masing-masing kini bertambah jumlahnya.
Beberapa di antaranya berdiri di setiap persimpangan koridor. Alat komunikasi di telinga mereka terus berbunyi pelan.
Aurora menelan ludah. "Ini... benar-benar siaga."
Isabel mengangguk. "Perintah Don Muda selalu dijalankan tanpa penundaan."
Tak lama kemudian mereka tiba di ruang keluarga. Leonardo telah berdiri di dekat jendela besar bersama Carlo.
Begitu melihat Aurora dan Isabel masuk, Leonardo menoleh. "Kalian sudah datang."
"Ya, Don Besar," jawab Isabel.
Leonardo kemudian memandang Aurora. "Jangan khawatir."
Aurora sedikit terkejut. "Tuan..."
"Aku tahu wajahmu terlihat cemas."
Aurora tersenyum tipis. "Sedikit."
Leonardo berjalan mendekatinya. "Selama kau berada di Mansion Moretti, tidak akan ada seorang pun yang bisa menyentuhmu." Nada suaranya tetap tenang, tetapi penuh keyakinan.
Aurora mengangguk pelan. "Terima kasih, Tuan."
Saat itulah Carlo menerima panggilan melalui alat komunikasinya. Ia mendengarkan selama beberapa detik, ekspresinya langsung berubah serius.
"Don Besar."
"Ada apa?"
"Tim keamanan luar melaporkan sebuah kendaraan mencurigakan beberapa kali melintas di sekitar kawasan mansion."
Leonardo mengernyit. "Nomor kendaraannya?"
"Sudah dicatat."
"Apakah dia mencoba masuk?"
"Belum."
Leonardo mengangguk pelan. "Terus awasi."
"Baik."
Aurora tanpa sadar memeluk lengannya sendiri. Entah mengapa, firasat buruknya semakin kuat.
Di saat yang sama, Markas utama keluarga Moretti. Mobil Adrian akhirnya memasuki area parkir bawah tanah. Begitu pintu mobil terbuka, beberapa pria bersetelan hitam langsung menghampiri.
"Don."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Adrian singkat.
Salah seorang pria menyerahkan sebuah map cokelat. "Ini seluruh data yang berhasil kami kumpulkan."
Adrian membukanya sambil terus berjalan. Beberapa lembar foto memenuhi isi map tersebut, foto-foto lama, foto Panti Asuhan Kasih Bunda, foto Maria Laurent, dan... sebuah foto yang sudah mulai menguning dimakan usia.
Langkah Adrian mendadak berhenti.
Johan ikut menghentikan langkahnya. "Ada apa, Don?"
Adrian menatap foto itu tanpa berkedip. Di dalam foto tampak Maria Laurent sedang berdiri di depan bangunan panti asuhan. Di sampingnya berdiri beberapa anak kecil. Salah satunya adalah Aurora yang saat itu masih berusia sekitar lima tahun.
Namun, tatapan Adrian tertuju pada sosok lain yang berdiri tidak jauh dari Aurora. Seorang wanita muda berambut panjang mengenakan mantel krem. Wajahnya tersenyum ke arah kamera.
Rahang Adrian perlahan mengeras. "Johan."
"Ya, Don?"
"Cetak foto ini dengan ukuran lebih besar."
Johan menerima foto tersebut, beberapa detik kemudian matanya ikut membelalak.
"Wanita ini..." Adrian mengangguk pelan. "Orang yang sama. Berarti... dia pernah datang ke Panti Asuhan Kasih Bunda."
Johan mulai memahami arah penyelidikan itu. "Kalau begitu, sejak awal Aurora memang sudah berada dalam pengawasan mereka."
"Tepat."
Adrian menutup map itu perlahan, sorot matanya berubah semakin dingin. "Perintahkan semua tim."
"Siap."
"Cari identitas wanita ini."
"Baik, Don."
"Dan..." Adrian menatap foto Aurora kecil sekali lagi. "Mulai hari ini, tidak seorang pun boleh meninggalkan Mansion Moretti tanpa sepengetahuanku."
Johan membungkukkan badan. "Perintah akan segera dilaksanakan."
***
Sementara itu...
Di sebuah kota kecil di perbatasan Swiss dan Italia. Seorang wanita paruh baya duduk sendirian di dalam sebuah kafe tua. Ia mengenakan topi lebar dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Di atas meja terletak sebuah amplop cokelat. Ia membuka amplop itu perlahan, di dalamnya hanya ada satu lembar foto... foto Aurora Bellini.
Wanita itu mengusap perlahan wajah Aurora di dalam foto. Lalu berbisik dengan suara lirih, "maafkan Ibu... Aurora. Akhirnya... Ibu menemukanmu."