NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb8

Menghisap rokok adalah kenikmatan ditengah rasa kalut menghampiri seorang Lee Sian. Ditemani sebotol anggur buatan tahun sembilan delapan Sian berdiri disisi pembatas balkon menatap tingginya gedung pencakar langit yang berjejer.

Jun masuk sendiri ke apartemen tanpa menekan bel saat darurat seperti malam ini. Ia harus melaporkan hasil pengecekan data pribadi Ryn.

"Katakan!" Titah Sian lalu menenggak habis bir dalam gelas.

"Bulan depan nona Zhao berusia dua satu, marga Zhao merupakan nama keluarga nyonya Yuni. Sejak mengandung nona Ryn nyonya Yuni tinggal di vila Paradise. Nona Ryn mulai menjadi petugas pengantar minuman saat lulus sekolah tahap akhir. Sering nyonya Yuni menjual nona Ryn namun selalu berakhir kerugian. Sementara biaya sekolah memasak ia dapatkan dari beasiswa. Ada perjanjian nyonya Yuni dan Pen pemilik klub yaitu nona Ryn harus bisa menjual diri jika ingin keluar dari Paradise." Jun menjeda laporan, menunggu Sian bereaksi atau sekedar menanyakan sesuatu padanya.

"Kerugian? Lantas kenapa dia kembali setelah susah payah keluar dari sana." Tanya Sian meminta kelanjutan penjelasan Jun.

"Dari pesan yang kami retas melalui ponsel nona Ryn, nyonya Yuni memancingnya datang dengan dalih informasi ayah kandung nona tuan." Ungkap Jun kembali menjeda ketika mendapat tatapan tajam dari Sian.

"Kau memiliki kontaknya? Kenapa tidak mengirimnya padaku?" Sian malah kesal perihal kontak Ryn yang Jun simpan tapi dirinya tidak punya.

"Anda tidak meminta tuan." Jawab Jun enteng. "Banyak yang menyaksikan kekerasan fisik dilakukan nyonya Yuni pada Nona Ryn. Tapi mereka tidak berani melapor sementara nona hanya diam." Jun kembali menyampaikan fakta mengenai Ryn.

Pantas saja Lea menyinggung soal kekerasan yang Ryn alami.

"Ada tambahan lain yang kau lewatkan Jun?" Asisten Jun hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Kau boleh pulang, jangan lupa kirim kontak Zhao Ryn padaku." Sian mengingatkan tugas penting untuk Jun yang menunduk hormat sebelum pergi.

Sepertinya Sian perlu memeriksa langsung apa yang menjadi pertanyaannya kini. Usai mematikan sisa rokoknya diatas asbak Sian kembali ke kamar. Ia melihat Ryn tertidur pulas dalam balutan selimut tebal. Sebelumnya Ryn mengeluh kedinginan. Jam menunjukkan tepat pukul satu dini hari, Sian yang lelah memilih berbaring di sebelah Ryn lalu menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Hangat, nyaman dan terasa aman. Hal pertama yang Sian rasakan seumur hidupnya.

Setelah tiga jam tidur Ryn yang mulai kepanasan oleh hawa sekitarnya terbangun, ia tertegun mendapati wajah tampan Sian begitu tenang terlelap di hadapannya.

Ada perasaan ingin memiliki, itu artinya Ryn bukan sekedar mengagumi sosok Sian melainkan telah jatuh sejatuh-jatuhnya. Perlahan buku jari Ryn mengusap lembut pipi Sian dan berharap dia tidak terganggu.

"Sian, kau dekat tapi terasa sangat jauh..." Bisiknya terdengar seperti angin malam berhembus. Tak ada suara apapun selain detak jarum jam dinding, kesan mendalam telah Ryn dapat dari Sian.

"Aku di sini, di hadapanmu." Balas Sian menyahut meski masih terpejam. Saat keduanya saling tatap sinyal saling mendamba satu sama lain meningkat.

Perlahan Sian mulai menciumi bibir Ryn, manis dan nagih sehingga Sian tidak akan pernah merasa puas. Ryn kewalahan namun sedikitpun enggan mengecewakan Sian. Biar Sian tahu, Sian cicipi murni dirinya di momen tepat ini.

Selimut sebagai penghalang Sian sibak secara kasar, kedua tangan Ryn memeluk tengkuk Sian guna memberi pesan bahwa dirinya sangat menginginkan Sian menjamahnya.

Sesaat Sian berhenti, penyatuan mereka ibarat perjudian. Sian berusaha melawan ketakutannya tentang berhubungan badan sebelum menikah akibat masa lalu tragisnya. Sian tidak melakukannya, Sian bisa saja membuktikan pada dunia namun hal itu tidak akan mengembalikan sesuatu yang telah pergi.

"Percaya padaku, Sian." Lirih Ryn meyakinkan Sian.

"Jangan menyesalinya Zhao Ryn." Sian memperingati sifat keras kepalanya.

***

Ruang pertemuan telah Ryn tata sangat rapi sesuai permintaan pimpinan rapat, kudapan beserta teh dan kopi siap menjadi menu jeda. Sempat membaca judul rapat serta daftar peserta tak lantas membuat Ryn menghindar dari tugas.

"Tetap di sini dan layani mereka." Pesan Bandi sebelum meninggalkan Ryn di sana.

"Aku mengerti." Ryn menyahut penuh semangat.

Satu persatu peserta memasuki ruangan, Ryn menunduk ketika Sian berjalan melewatinya diikuti asisten Jun. Di belakang menyusul Yuri dan papanya Tuan Chen.

Rapat berjalan cukup alot namun membosankan bagi Ryn, jika tidak ingat sedang bekerja dia pasti sudah menguap berkali-kali. Ryn kadang mengisi air kosong, membukakan plastik kudapan hingga menyambungkan kabel laptop ke terminal.

Bukannya fokus terhadap materi Sian malah mengikuti pergerakan wanitanya. Ya, Sian berhak bangga karena menjadi yang pertama dan harus satu-satunya yang memasuki Ryn. Sial, Ryn begitu sempit dan memabukkan.

'Kau milikku Zhao Ryn.' bisik Sian di telinga Ryn sesaat setelah dia berhasil memuncak. Mungkin karena pertama kali Sian mengeluarkannya terlalu cepat namun untungnya mereka mendapatkan kesempatan memuncak bersama.

"Pelayan!" Suara Yuri memanggil Ryn sangat jelas sengaja sampai mengalihkan perhatian orang-orang.

"Ya nona, silahkan katakan." Ucap Ryn sudah berada di dekat Yuri. Tanpa bicara Yuri menyodorkan gelas ke arah Ryn, dia meminta tambahan air.

Namun saat Ryn hendak memegangnya Yuri malah sengaja menjatuhkan gelas itu hingga pecah berserakan.

"Kau bisa bekerja atau tidak?" Bentak Yuri memakai Ryn.

"Maaf aku rasa tangan nona terlalu lemah, memegang benda ringan saja sampai terjatuh. Aku akan membersihkannya nona." Hanya kalimat akhir Ryn yang mereka dengar, sisanya kurang jelas karena Ryn sengaja berbisik demi membalas kelakuan Yuri.

'Dia memang wanita Sian, mirip sekali liciknya.' batin Lee Tak yang ternyata ikut hadir.

Setelah drama ciptaan Yuri semuanya berjalan lancar, Ryn tinggal membersihkan peralatan restoran sebelum jam makan siang di mulai.

"Kau pikir Sian akan menikahimu hanya karena kalian tidur bersama?" Tiba-tiba suara Yuri muncul dari belakang Ryn, dia masih sibuk mengambil cangkir kotor.

"Itu menjadi urusan kami, setidaknya aku memiliki jiwa dan raganya. Sedangkan nona hanya status semata." Ryn selalu belajar cara mempertahankan diri sejak dipekerjakan di klub, menghadapi kesombongan Yuri bukan masalah besar baginya.

"Nikmati saja sisa waktumu, Sian pasti akan menjadi suamiku sebentar lagi." Lalu Yuri meninggalkan Ryn di sana tak ingin berlama-lama dengan saingannya sendiri.

Ryn kembali ke restoran yang ternyata Sian sudah duduk di salah satu kursi menunggu makan siangnya. Bass membantu Ryn memindahkan troli berisi peralatan kotor menuju dapur. Sedangkan Ryn bersikap tenang meski hatinya terlalu gugup menghadapi Sian dan Lee Tak.

Lee Tak pasti kaget mengetahui Ryn bekerja sebagai pramusaji di hotel miliknya. Semakin buruk Ryn dimata papa Sian pikirnya. Sian mengabaikan tatapan meremehkan papanya kepada Ryn, dia malah sibuk mengeluarkan rokok dari saku jas.

"Tuan jika ingin merokok anda bisa pindah ke balkon." Kata Ryn menegur seorang Lee Sian dihadapan papanya sendiri.

"Kau berani memerintah bosmu?" Tanya Lee Tak cukup terkesan melihat keberanian Ryn.

"Peraturan adalah peraturan, sekalipun itu presiden aku akan tetap menegurnya." Jawab Ryn penuh percaya diri. Sementara Sian tersenyum tipis sekali merasa senang Ryn bisa menghadapi papanya.

"Bass, aku tidak ingin dilayani olehnya." Lee Tak mengeluh meminta Bass menggantikan Ryn.

"Baik tuan." Sahut Bass menghampiri, dia memberi isyarat agar Ryn menjauh saja dan mengerjakan hal lain.

Anak dan papa itu kini tengah menikmati makan siang yang dimasak oleh pak Lim langsung. Ryn memang selalu bertugas bersama staf yang sama setiap harinya.

"Uhuk... " Tiba-tiba Sian terbatuk bukan karena tersedak makanan melainkan pemandangan yang tak sengaja ia lihat.

Glenn sedang mengusap pundak Ryn untuk memberinya semangat dalam bekerja. Sepertinya kesalahan besar Sian menempatkan Ryn di sekitar para pria.

"Jaga pandanganmu Sian! " Tegur Lee Tak menyadari kemana fokus Sian tertuju.

"Aku sudah selesai." Ucap Sian menyudahi makannya meskipun baru mencicipi sedikit.

Di dekat pintu dapur Glenn berusaha memberitahukan Ryn mengenai masa lalu kelam Sian.

"Terima kasih sudah memberitahuku Glenn." Glenn ragu Ryn memiliki hubungan tertentu dengan Sian tapi dia perduli pada Ryn sehingga Glenn berusaha melindunginya.

"Kau bisa mencariku jika memerlukan sesuatu." Tambah Glenn. Ryn mengangguk sebelum pergi ke depan.

"Antar minuman ke kamarku." Perintah Sian meminta Ryn yang melakukan. Untungnya Lee Tak pergi beberapa saat lalu jadi Ryn bisa saja melakukan tugas itu.

"Baik tuan." Jawab Ryn, Sianpun keluar dari restoran.

Sian, aku harap kau bukan termasuk bagian yang menyakitkan dalam hidupku. ~ Ryn

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!