NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 21

Udara di dalam Hutan Hujan Tropis itu terasa tebal, memeluk kulit dengan kelembapan abadi. Cahaya matahari, yang seharusnya melimpah karena lokasi desa di dekat garis khatulistiwa, hanya bisa menyelinap dalam bentuk serpihan-serpihan keemasan yang menari di antara kanopi lebat pohon-pohon raksasa. Pohon-pohon Dipterocarpaceae menjulang tinggi, batangnya ditutupi lumut hijau tua dan akar yang menyebar ke mana-mana, menciptakan labirin alami yang sunyi namun hidup. Aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk bercampur dengan wangi bunga liar yang tak terlihat, menciptakan simfoni khas rimba.

Valaria melangkah hati-hati, pandangannya menyapu lapisan vegetasi yang bertingkat-tingkat mulai dari lapisan semak yang rapat, tumbuhan epifit yang menempel manja pada batang-batang pohon, hingga liana berbatang yang membelit seperti tali raksasa. Di tengah keagungan hutan yang damai namun misterius ini, mereka mencari nadi kehidupan uang untuk hari itu, selagi proses fermentasi biji cokelat mereka berjalan lambat, memakan waktu.

Eko berjalan di depannya, bilah parangnya sesekali menebas sulur-sulur yang menghalangi. Ekspresinya tegang. Ia terbiasa mencari kayu bakar atau sesekali buah-buahan, tapi kebutuhan untuk mencari uang setiap hari terasa seperti beban yang mencekik.

"Hati-hati, Kak Valaria. Jangan terlalu jauh," suara Eko memecah keheningan, bernada kekhawatiran yang kental. "Tempat ini... sangat indah, tapi juga sangat mudah menyesatkan."

Valaria, yang terbungkus jaket tipis meskipun udara hangat, tersenyum kecil. Senyum itu tidak sepenuhnya ceria, melainkan perpaduan antara optimisme yang dipaksakan dan rasa lelah yang mendalam.

"Aku tahu, Eko. Tapi kita tidak bisa hanya menunggu keajaiban, kan? Setiap hari adalah kesempatan untuk berjuang," balas Valaria, suaranya berusaha terdengar ringan, namun getaran tekad di dalamnya tak bisa disembunyikan.

Mereka terus bergerak, mengikuti jalur setapak samar yang hanya diketahui penduduk desa. Eko menghela napas. Dia mengagumi semangat Valaria, namun dia juga khawatir.

"Aku hanya... aku merasa tidak enak padamu kak Valaria. Kamu sudah terlalu banyak membantu keluarga kami," Eko berujar getir, matanya menatap tajam ke depan, menghindari tatapan Valaria. Rasa bersalah membebani bahunya.

Valaria berhenti, meletakkan keranjang anyaman di tanah. Ia mendekati Eko dan menyentuh lengan pemuda itu.

"Dengar, Eko," katanya lembut, namun tegas. "Ini bukan salahmu. Kita sebagai saudara harus membantu bukan, di tambah tidak ada yang salah dengan itu. Kita hanya sedang melakukan yang terbaik, bukan yang paling ideal."

Tiba-tiba, mata Valaria menangkap sesuatu. Sulur-sulur kecil melilit di antara akar pohon besar, daunnya khas, melebar dan hijau pekat. Awalnya hanya sedikit, tetapi saat ia menyingkirkan semak-semak, terlihatlah jaringan sulur yang jauh lebih besar, menyebar di permukaan tanah yang gembur.

Valaria berlutut, tangannya menggali sedikit. Seketika, ia merasakan permukaan yang keras dan bulat. Sebuah ubi liar.

"Eko, lihat ini! Eko!" serunya, nadanya berubah total, penuh dengan kegembiraan yang tulus.

Eko bergegas mendekat, mengira ada bahaya. Wajahnya yang semula cemas berubah bingung saat melihat Valaria sudah mencabut beberapa umbi dari tanah. Umbi itu berwarna cokelat muda, ada yang seukuran genggaman tangan, ada juga yang lebih kecil.

"Ubi liar? Aku tidak tahu ada panen sebanyak ini di sini," kata Eko, terkejut.

Valaria berdiri, memegang dua umbi besar di tangannya, matanya berbinar seperti menemukan harta karun. Wajahnya berseri, sebuah pemandangan yang jarang Eko lihat belakangan ini. Perasaan lega yang memabukkan langsung menyelimuti Valaria.

"Ini adalah ide bisnis baru, Eko," Valaria berkata, wajahnya dekat dengan wajah Eko, euforia terpancar jelas. "Ubi liar. Kita bisa mengolahnya menjadi makanan dan dijual. Ubi bakar, ubi rebus, atau bahkan keripik!"

Eko memperhatikan kilatan cerdas di mata Valaria. Senyumnya mengembang, senyum pertama yang benar-benar santai hari itu.

"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Eko, kali ini bukan dengan kekhawatiran, melainkan dengan ketertarikan.

"Aku menemukan ubi liar ini," Valaria menoleh, menunjuk tumpukan umbi yang sudah ia kumpulkan seadanya. "Ini bisa diolah untuk mendapatkan ide bisnis. Bagaimana, mau mencoba tidak?"

"Tentu saja! Kita ambil semua. Ini rezeki dadakan," Eko mengangguk setuju, segera mengambil parang dan mulai menggali dengan hati-hati. Ia bekerja cepat, memisahkan umbi besar dan kecil ke dalam keranjang yang berbeda. Semangat baru yang menular dari Valaria membuatnya merasa lebih ringan.

Setelah keranjang pertama penuh dengan ubi liar, Valaria segera berjalan menuju sungai. Suara gemericik air sudah terdengar, samar-samar, menarik mereka keluar dari lorong-lorong hutan.

Saat mereka mendekati sungai, suasana hutan berubah menjadi lebih lapang dan lebih terang. Sungai itu mengalir dengan air yang jernih, membelah bebatuan licin yang tertutup lumut hijau. Udara di tepi sungai terasa lebih dingin dan sangat segar, tidak setebal di bawah kanopi hutan. Sinar matahari pagi memantul dari permukaan air yang tenang. Di tepian, tampak rumpun daun pakis yang subur dan beberapa pohon kecil pohpohan dengan daunnya yang renyah.

Valaria mengambil daun-daun tersebut, lalu matanya menangkap sesuatu lagi. Di tanah yang lebih lembap, di antara bebatuan, tumbuh tanaman dengan daun besar berbentuk perisai.

"Talas!" bisik Valaria pada dirinya sendiri. Dia segera menggali dengan hati-hati dan menemukan umbi ubi talas yang berwarna kecokelatan. Penemuan ini semakin menguatkan ide bisnisnya.

Eko, yang baru saja selesai mengisi keranjang kedua dengan ubi liar, berjalan menuju Valaria di tepi sungai, melihat umbi talas di tangan Valaria.

"Talas gatal, Valaria. Harus hati-hati mengolahnya. Nanti malah tidak laku," Eko memperingatkan, wajahnya kembali diwarnai kecemasan yang praktis.

Valaria tersenyum, yakin. "Aku tahu! Ada beberapa trik untuk menghilangkan zat gatalnya. Kita bisa memasak dengan suhu tinggi, itu pasti menghilangkan zat gatalnya. Atau merendam irisan talas dalam air garam selama lima belas sampai tiga puluh menit sebelum dimasak. Yang paling mudah, kita jemur dulu di bawah sinar matahari selama satu atau dua jam, itu juga bisa mengurangi rasa gatalnya."

Valaria merangkum kembali pengetahuan yang ia ingat dari berbagai buku. Eko hanya mengangguk, kekaguman terselip dalam tatapannya. Gadis ini selalu punya jawaban, selalu punya cara.

"Kau benar-benar tahu banyak hal, ya," komentar Eko singkat, namun sarat makna.

"Internet sangat membantu di masa depan, Eko," jawab Valaria sambil tertawa kecil, melupakan sejenak jarak waktu antara dirinya dan Eko. Ia segera menengahi. "Maksudku, membaca buku dan bertanya pada orang yang tahu sangat membantu. Tapi intinya, kita punya bahan-bahan ini. Kita punya modal untuk hari ini."

Setelah keranjang sudah penuh dengan ubi liar, daun pakis, pohpohan, dan umbi talas, mereka kembali ke desa. Mereka berjalan lebih cepat sekarang, didorong oleh beban berat yang membawa potensi uang tunai.

Kembali ke rumah, Ratri dan Bibi Tirta sudah menunggu. Suasana di dapur berubah menjadi riuh. Bibi Tirta, dengan pengalaman hidupnya, langsung mengambil alih persiapan. Ia melihat tumpukan ubi dan talas dengan mata berbinar.

"Wah, banyak sekali. Ini cukup untuk seharian penuh jualan," kata Bibi Tirta dengan nada riang yang menenangkan. "Valaria, kau urus yang ini," katanya sambil menunjuk umbi talas. "Kita rebus dulu. Sambil direbus, kita siapkan bumbu dan bungkus daun pisang untuk ubi bakarnya."

Ratri, yang tangannya cekatan, membantu mengupas ubi. Sementara ubi dan talas direbus dan dikukus (memasak dengan suhu tinggi adalah kunci untuk talas yang tidak gatal), Valaria dan Ratri merendam irisan talas yang lain dalam air garam untuk memastikan semua kristal oksalat hilang. Bau harum rempah-rempah sederhana untuk bumbu lumuran ubi bakar mulai memenuhi ruangan, mengalahkan aroma tanah hutan yang masih melekat di pakaian mereka.

Sore harinya, setelah semua olahan sudah siap dan sebagian sudah mereka jual dengan cepat kepada tetangga yang penasaran, Valaria memutuskan untuk memanfaatkan waktu luang sebelum gelap. Raka, sedang duduk di sudut, wajahnya muram di depan buku lusuh.

Valaria mendekat, duduk di sampingnya. "Raka, ada apa? Bingung dengan hitungan ini?"

"Iya, Kak Valaria," Raka menjawab lirih, nada putus asa terlihat jelas. "Aku tidak mengerti. Kak Eko bilang aku harus pandai berhitung, tapi rasanya otakku terlalu bodoh."

Valaria menggeleng pelan. "Tidak ada otak yang bodoh, Raka. Hanya saja, setiap orang punya cara belajarnya sendiri. Coba jelaskan padaku, bagian mana yang membuatmu bingung?"

Saat Valaria mulai menjelaskan konsep dasar berhitung dengan ilustrasi sederhana menggunakan kerikil, Eko masuk. Ia baru saja kembali dari menjual ubi talas kukus di warung desa. Melihat Valaria tekun mengajari Raka, dan mendengar suara Raka yang kini terdengar lebih bersemangat, Eko merasa tertohok.

Selama ini, ia terlalu sibuk mencari uang untuk kakaknya, Jaya, hingga pendidikan Raka, dan pendidikannya sendiri, terlupakan. Sebuah rasa malu bercampur kerinduan akan ilmu pengetahuan menyelimutinya. Eko berdiri di ambang pintu, ragu untuk mendekat.

Valaria menyadari kehadiran Eko. Ia tersenyum, senyum yang mendorong, bukan menghakimi.

"Eko! Pas sekali. Sini, duduk. Tadi aku sedang mengajari Raka cara menghitung cepat. Kau juga harus ikut. Supaya tidak ketinggalan pelajaran, kan?" ajak Valaria.

Eko menarik napas dalam-dalam. Melepaskan beban yang selama ini dia pikul sendiri. Ia melangkah masuk, menjatuhkan diri di sebelah Raka.

"A-aku..." Eko memulai, suaranya sedikit tercekat. Emosi canggung dan harapan beradu. "Aku minta maaf. Aku terlalu fokus mencari uang sampai melupakan hal lain. Aku... aku ingin belajar, Valaria. Aku tidak ingin menjadi bodoh."

Valaria meletakkan buku dan menatap Eko lurus-lurus. Tatapan mata Valaria penuh pengertian dan kehangatan, seolah ia bisa melihat semua perjuangan Eko.

"Eko, kau sama sekali tidak bodoh. Kau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan pekerja keras yang pernah kukenal. Mencari uang untuk Jaya adalah hal yang mulia, dan itu membutuhkan kecerdasan. Sekarang, saatnya kita investasi untuk masa depanmu juga," ujar Valaria.

Ia kemudian beralih ke papan tulis kecil. "Baiklah, hari ini kita mulai dengan pelajaran Raka. Konsep dasar... Anggap saja ubi-ubi yang tadi kita jual itu adalah angka. Ubi besar, nilainya sepuluh. Ubi kecil, nilainya satu. Kalau kita punya tiga ubi besar dan dua ubi kecil, berapa totalnya?"

Eko dan Raka saling pandang, lalu serempak tersenyum. Sesi belajar dadakan itu pun dimulai, dihiasi tawa kecil dan coretan-coretan di papan tulis. Di dalam rumah sederhana itu, di tengah penantian mereka akan fermentasi cokelat, harapan baru tumbuh subur, sehangat ubi bakar yang baru diangkat dari perapian. Mereka bukan hanya berhasil mendapatkan uang untuk hari itu, tetapi juga menemukan kembali nilai diri dan tujuan yang sempat hilang.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!