Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 21 Rezeki di Balik Rimbun Dipterokarpa
Udara di dalam hutan hujan tropis itu terasa tebal, memeluk kulit dengan kelembapan abadi yang khas. Cahaya matahari, yang seharusnya melimpah karena lokasi desa yang berada di dekat garis khatulistiwa, hanya mampu menyelinap masuk dalam bentuk serpihan-serpihan keemasan. Cahaya itu menari di antara kanopi lebat pohon-pohon raksasa, menciptakan pemandangan sinematik yang kontras dengan kegelapan di lantai hutan.
Pohon-pohon keluarga Dipterocarpaceae menjulang tinggi, batangnya yang perkasa ditutupi lumut hijau tua dan akar-akar banir yang menyebar ke segala arah. Hutan ini adalah labirin alami yang sunyi namun penuh kehidupan. Aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk bercampur dengan wangi bunga liar yang tak kasat mata, menciptakan simfoni aroma rimba yang menenangkan sekaligus misterius.
Valaria melangkah dengan hati-hati. Pandangannya menyapu lapisan vegetasi yang bertingkat-tingkat; mulai dari semak yang rapat, tumbuhan epifit yang menempel manja pada batang-batang pohon, hingga liana yang membelit laksana tali raksasa dari langit-langit hutan. Di tengah keagungan ini, mereka sedang mencari nadi kehidupan uang untuk biaya hidup hari ini selagi proses fermentasi biji cokelat mereka berjalan lambat di rumah.
Eko berjalan di depan Valaria. Bilah parangnya sesekali menebas sulur yang menghalangi jalan. Ekspresi wajahnya tegang. Meski ia terbiasa mencari kayu bakar, tekanan untuk mendapatkan uang setiap hari demi melunasi tuntutan para preman itu terasa seperti beban yang mencekik lehernya.
"Hati-hati, Kak Valaria. Jangan terlalu jauh," suara Eko memecah keheningan dengan nada kekhawatiran yang kental. "Tempat ini sangat indah, tapi juga sangat mudah menyesatkan bagi siapa pun yang lengah."
Valaria, yang terbungkus jaket tipis meskipun udara terasa hangat, tersenyum kecil. Senyum itu tidak sepenuhnya ceria, melainkan perpaduan antara optimisme yang dipaksakan dan rasa lelah yang mendalam. "Aku tahu, Eko. Tapi kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu keajaiban datang, bukan? Setiap hari adalah kesempatan baru untuk berjuang," balas Valaria. Suaranya berusaha terdengar ringan, namun getaran tekad di dalamnya tak bisa disembunyikan.
Mereka terus bergerak mengikuti jalur setapak samar yang hanya diketahui oleh penduduk lokal. Eko menghela napas. Ia mengagumi semangat Valaria, namun rasa bersalah mulai membebani bahunya. "Aku merasa tidak enak padamu, Kak. Kamu sudah terlalu banyak membantu keluarga kami, padahal masalah Jaya bukan tanggung jawabmu," ujar Eko getir tanpa berani menatap mata Valaria.
Valaria berhenti melangkah dan meletakkan keranjang anyamannya. Ia mendekati Eko, menyentuh lengan pemuda itu dengan lembut. "Dengar, Eko," katanya tegas. "Kita ini saudara. Dalam kesulitan, saudara harus saling membantu. Tidak ada yang salah dengan itu. Kita hanya sedang melakukan yang terbaik yang kita bisa."
Tiba-tiba, mata Valaria menangkap sesuatu di balik akar pohon besar. Sulur-sulur kecil melilit dengan daun berbentuk jantung yang hijau pekat. Awalnya hanya sedikit, tetapi saat ia menyingkirkan semak, terlihatlah jaringan sulur yang lebih besar menyebar di permukaan tanah yang gembur.
Valaria berlutut, tangannya menggali sedikit tanah hitam tersebut. Seketika, ia merasakan permukaan yang keras dan bulat. Sebuah ubi liar!
"Eko, lihat ini! Eko!" serunya dengan nada yang berubah total menjadi kegembiraan yang tulus.
Eko bergegas mendekat, mengira ada bahaya yang mengancam. Wajahnya yang semula cemas berubah bingung saat melihat Valaria sudah mencabut beberapa umbi dari tanah. Umbi itu berwarna cokelat muda, ada yang seukuran genggaman tangan, ada juga yang lebih kecil.
"Ubi liar? Aku tidak tahu ada panen sebanyak ini di area sini," kata Eko terkejut.
Valaria berdiri sambil memegang dua umbi besar, matanya berbinar laksana menemukan harta karun. "Ini adalah ide bisnis baru, Eko!" serunya euforia. "Ubi liar ini bisa kita olah menjadi makanan layak jual. Ubi bakar, ubi rebus, atau bahkan keripik renyah!"
Eko memperhatikan kilatan kecerdasan di mata Valaria. Senyumnya ikut mengembang. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya, kini dengan ketertarikan penuh.
"Kita ambil semua! Ini rezeki dadakan," sahut Valaria semangat. Eko segera menggunakan parangnya untuk menggali dengan hati-hati. Semangat baru yang menular dari Valaria membuat langkahnya terasa lebih ringan.
Setelah keranjang pertama penuh, mereka bergerak menuju sungai. Suara gemericik air menarik mereka keluar dari lorong-lorong hutan yang gelap menuju area yang lebih terbuka. Sungai itu mengalir jernih, membelah bebatuan licin yang tertutup lumut. Sinar matahari pagi memantul dari permukaan air, menciptakan kilau perak yang indah.
Di tepian sungai, Valaria menemukan harta karun lain: rumpun pakis subur, daun pohpohan yang renyah, dan tanaman dengan daun besar berbentuk perisai. "Talas!" bisik Valaria.
Eko mendekat, namun wajahnya kembali diwarnai kecemasan praktis. "Talas hutan itu gatal, Kak. Kalau salah olah, nanti malah tidak laku karena membuat orang sakit tenggorokan."
Valaria tersenyum penuh keyakinan. "Aku tahu triknya, Eko. Untuk menghilangkan zat gatalnya, kita harus memasaknya dengan suhu tinggi. Selain itu, kita bisa merendam irisan talas dalam air garam selama tiga puluh menit, atau menjemurnya di bawah matahari untuk mengurangi kristal kalsium oksalat yang menyebabkan gatal itu."
Eko mengangguk kagum. Kakak Valaria di depannya ini selalu punya jawaban untuk setiap tantangan. "Kau benar-benar tahu banyak hal, ya," komentar Eko singkat namun sarat makna.
"Membaca buku dan bertanya pada orang tua adalah kuncinya, Eko. Intinya, kita punya modal untuk jualan hari ini!" jawab Valaria riang.
Mereka kembali ke desa dengan beban berat di punggung, namun hati yang ringan. Di dapur rumah, Bibi Tirta dan Ibu sudah menunggu. Suasana yang semula sepi berubah menjadi riuh penuh aktivitas. Bibi Tirta, dengan pengalamannya, langsung mengoordinasi pembagian tugas.
"Wah, banyak sekali! Ini cukup untuk jualan seharian," kata Bibi Tirta riang. "Valaria, kau urus talasnya, pastikan rendaman garamnya pas. Ibu akan mengupas ubi, dan Paman akan menyiapkan perapian untuk ubi bakar."
Sore harinya, harum ubi bakar dan bumbu rempah sederhana mulai memenuhi udara desa, mengalahkan aroma tanah hutan. Hasil olahan mereka laku keras; tetangga berdatangan untuk membeli camilan hangat di sore yang mendung itu.
Di tengah keberhasilan kecil itu, Valaria melihat Raka duduk di sudut ruangan dengan wajah muram menghadap buku lusuh. Valaria mendekat dan duduk di sampingnya. "Raka, ada apa? Bingung dengan hitungan ini?"
"Iya, Kak," jawab Raka lirih. "Aku tidak mengerti. Rasanya otakku terlalu bodoh untuk pelajaran ini."
Valaria menggeleng pelan. "Tidak ada otak yang bodoh, Raka. Setiap orang hanya punya cara belajar yang berbeda. Sini, Kakak tunjukkan cara yang lebih mudah."
Valaria mulai menjelaskan konsep matematika menggunakan kerikil dan umbi-umbian sebagai peraga. Saat itulah Eko masuk. Ia terdiam di ambang pintu, melihat kebersamaan itu. Rasa malu dan haru bercampur di dadanya. Selama ini ia terlalu sibuk mencari uang hingga melupakan pendidikan adiknya, bahkan pendidikannya sendiri.
"Eko, sini duduk!" ajak Valaria menyadari kehadiran pemuda itu.
Eko menarik napas panjang, melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendirian. "Aku... aku minta maaf," suara Eko tercekat. "Aku ingin belajar juga, Valaria. Aku tidak ingin menjadi orang yang mudah ditipu karena tidak berilmu."
Valaria menatap Eko dengan penuh pengertian. "Eko, kau adalah orang paling bertanggung jawab yang aku kenal. Sekarang, mari kita investasi untuk masa depanmu juga. Mari kita mulai dengan dasar: hitungan keuntungan ubi kita hari ini."
Di dalam rumah sederhana itu, diiringi tawa kecil dan coretan-coretan di papan tulis, sebuah harapan baru tumbuh subur. Mereka tidak hanya mendapatkan uang untuk hari itu, tetapi juga menemukan kembali nilai diri dan tujuan yang sempat hilang di tengah badai masalah. Harapan itu kini sehangat ubi bakar yang baru diangkat dari bara api.