NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemberontakan pertama

BRAK!

Napas Lian terengah-engah begitu membuka kasar pintu utama yang menjulang tinggi, menampakkan ruang tamu gelap yang langsung menyambut.

"Sudah aku bilang jangan berlari, kau bisa terjatuh."

Itu adalah suara menyebalkan Baskara yang menyusul dengan begitu santai di belakang, tangannya dimasukkan ke dalam saku.

Napas terengah-engah Lian begitu nyata terdengar, tangannya menggerayangi tembok sebelum menekan saklar dengan gerakan tak santai. Baskara diabaikan begitu saja.

Begitu mendengar bahwa Dirga mabuk, Lian langsung panik tak tertolong.

Setau Lian, kakaknya itu memang paling tak tahan dengan alkohol, tapi sekalinya kena dia akan kehilangan jati diri. Dulu pernah cekikikan seperti hantu, pernah juga merayap di lantai seperti bayi kadaluwarsa.

Yang terpenting, Dirga mungkin saja mengamuk jika melihat Hita. Kakaknya itu pasti dalam keadaan marah, takutnya Hita dibacok atau segala hal buruk lainnya.

"Sudah aku bilang semuanya akan baik-baik saja." Baskara begitu santai merangkul pundak Lian, begitu percaya diri saat menatap tubuh Dirga yang terkapar di sofa begitu lampu menyala.

Perasaan lega langsung menyelimuti Lian.

Helaan napas lega lolos dari bibir gadis itu, bahunya merosot karena lega. Dengan tatapan sinis pula ia menepis keras lengan Baskara dari bahunya.

"Jangan berani-beraninya menyentuhku, dasar menyebalkan," desis Lian kesal.

Lian beralih menatap tubuh kakaknya. Dirga terlihat di sana, tubuhnya telungkup di sofa sementara kacamata laki-laki itu tergeletak begitu saja di lantai. Kemejanya tampak begitu kusut.

Beruntunglah kalo kali ini Dirga mabuk dan hanya tak sadarkan diri, tak melakukan adegan aneh-aneh lagi.

"Kau terlalu panik, minuman akan meredakan rasa tak berguna itu." Baskara tersenyum, senyum menyebalkan yang selalu khas. "Kau ingin apa? Jus? Teh? Atau air dingin saja?"

"Tidak perlu," ketus Lian, berkacak pinggang begitu memandangi punggung Baskara yang menuju ke dapur. "Untuk apa juga kau mengikutiku ke sini? Pulang saja sana!" usirnya begitu terang-terangan, namun malah membuat Baskara terkekeh geli.

"Tidak mau." seringai laki-laki itu begitu lebar tatkala menggoda. "Aku akan tetap berada di sini. Lagipula kakakmu itu yang memanggilku, menugaskanku untuk mencari Loria, kenapa kau malah mengusirku sekarang?"

Suara air yang dituang terdengar nyaring.

"Lagipula aku ingin bertemu dengan Wisnu," lanjut laki-laki itu. "Aku ingin membicarakan tentang bukti—"

"Terserah!" potong Lian, tampak tak sama sekali peduli pada celotehan Baskara mengenai Loria. "Lakukan saja apa yang kau mau, aku mau tidur!"

Tanpa menunggu Baskara berucap lagi dan membuatnya semakin kesal, Lian dengan langkah berdentum-dentum menaiki anak tangga, tak sama sekali menoleh ke arah laki-laki tampan yang kini menatap punggungnya dengan kekaguman.

Yang terpenting bagi Lian hanya satu—Hita baik-baik saja.

Namun Baskara masih tetap berdiri di sana, menyesap air di dalam gelas dengan mata yang tak lepas dari putri satu-satunya keluarga Martadinata.

"Menggemaskan sekali," gumam Baskara, tersenyum tipis dan menggeleng begitu menatap punggung mungil Lian menjauh.

...****************...

Gemetar, ketakutan, tak berdaya, itulah yang kini Hita rasakan begitu mati-matian menahan Isak tangis.

Perempuan itu benar-benar malang, sekujur tubuhnya babak belur karena kebrutalan Dirga yang tak pernah laki-laki itu sadari.

Luka-luka goresan kaca pada insiden sebelumnya belum sembuh, kini ditambah dengan memar merah dari cengkeraman Dirga yang begitu kuatnya.

Kulitnya yang begitu halus kini tak lagi bersih. Kotor—sangat kotor.

Hita memeluk lutut begitu merasakan dinginnya air membasahi tubuhnya, berasal dari shower yang menghujani di langit-langit kamar mandi mewah yang tak ada artinya lagi.

Tubuh perempuan itu menyusut, seakan-akan berusaha untuk bersembunyi dari dunia yang begitu kejam padanya.

Bagaimana bisa... Bagaimana bisa Dirga melakukan hal sekejam ini padanya? Kenapa...

Isak tangis itu semakin terdengar memilukan di bawah berisiknya pancuran, menyembunyikan rasa sakit yang mengiris-ngiris hati.

Hita tau bahwa Dirga membencinya, tak menyukainya, menganggapnya sebagai anak haram yang tak pantas di sisinya, tapi... tapi kenapa harus seperti ini? Kenapa ia harus menerima ketidakadilan ini?

Jika saja Dirga sadar, dia tak akan pernah Sudi menyentuhnya. Bahkan Dirga tak mengizinkannya untuk sekedar menatap mata laki-laki itu, apalagi menyentuhnya seperti ini.

Dirga tidak sadar. Itulah yang membuat Hita semakin sakit hatinya.

Jika Dirga tau apa yang baru saja dia lakukan pada anak haram seperti Hita ini, pasti dia akan merasa sangat hina, sangat kotor, bahkan merasa sampah. Bukan karena rasa bersalah telah menyentuhnya, tapi rasa jijik.

Selama berjam-jam Hita menangis di bawah guyuran air yang tak bisa meredakan perih di sekujur tubuhnya. Perih di hatinya.

Dia mencoba untuk berpikir dengan jernih—namun kenyataan otaknya seperti telah mati. Tak bisa berpikir.

Perlahan-lahan tekad terkumpul di bawah permukaan, pada tangan mungil yang terkepal kuat-kuat untuk bertahan.

Pramahita akan bertahan. Itu adalah hal yang sangat ia kuasai selama ini—seumur hidupnya.

Dengan begitu susah payah Hita bangkit, langkahnya sedikit pincang karena rasa sakit tajam yang menyerang area sensitifnya.

Jubah mandi ia kenakan hati-hati, sesekali meringis begitu kain lembut itu bergesekan dengan kulitnya.

Hita pelan-pelan melangkah menuju meja rias, air mata menggenang di pelupuk matanya ketika merasakan nyeri yang berdenyut nyaris di setiap sudut tubuhnya yang dijamah oleh Dirga dengan kejam dan brutalnya.

Hita terlihat benar-benar menyedihkan, menatap pantulannya pada cermin yang seakan mengejeknya. Mata sembab, bibir pucat, bahkan kulitnya yang tampak berkerut karena terlalu lama dibawah pancuran.

Begitu Hita mencoba menerima rasa sakit, ia memejamkan mata dan meraih sisir di atas meja rias dan menyisir rambut basah itu perlahan, tak menyadari pintu yang perlahan terbuka.

Dirga. Laki-laki itu telah sadar dan berdiri di ambang pintu, menatap Hita dengan amarah dingin yang berkecamuk.

"Kemana saja Kau tadi malam?"

Hita memegang di tempat begitu suara Dirga terdengar, diiringi suara pintu yang terbuka dan ditutup kembali.

Jantung yang berdegup kencang itu bukan karena hal lain selain ketakutan. Hita bahkan sedikit gemetar di tempatnya saat mendengar suara Dirga. Suara yang sama yang digunakan untuk menyiksanya.

Hita yang kini duduk di depan meja rias bisa melihat pantulan Dirga pada cermin. Laki-laki itu tampak acak-acakan sekali, terutama pada rambut dan kemeja yang kusut—yang Hita pasangkan sendiri sebelum tertatih-tatih kembali ke kamar kemarin malam.

Seperti dugaannya, Dirga tak mengingat apapun.

"Berjalan-jalan," jawab Hita, berusaha terdengar tenang walaupun tangannya sedikit gemetar begitu menyisir rambut yang basah.

"Berjalan-jalan?" ulang Dirga, tangannya mengepal karena emosi yang ditekan. "Kau mengatakannya begitu santai sekali, ya? Seakan-akan kau tidak sedang melakukan kesalahan."

"Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan?" Entah dapat keberanian dari mana Hita bicara seperti itu. "Aku menepati janjiku untuk mengantar Lian berbelanja dan berjalan-jalan, itu bukan kesalahan, kan?"

Dirga tampak tercengang mendengar jawaban perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu. Bagaimana bisa perempuan yang biasanya hanya bisa meminta maaf dan menunduk kini menjawabnya seperti itu?

Dirga melangkah mendekat, menatap dingin ke arah Hita dari pantulan cermin dan berhenti begitu berdiri tepat di belakang istrinya itu.

"Sepertinya kau mulai menunjukkan jati dirimu yang tidak tau diri itu," kata Dirga dengan napas yang memberat. "Kau lupa siapa dirimu di sini. Hanya perempuan tak berguna yang digunakan sebagai jaminan."

"Aku rasa juga kau mulai tuli," lanjut laki-laki itu dengan nada menusuk. "Aku menyuruhmu untuk tidak keluar dari kamar tapi kau malah keluar dari rumah dan pulang tengah malam. Aku sudah mencoba untuk tak begitu kasar padamu, tapi sepertinya kau tidak pantas untuk itu."

Tanpa diduga-duga, tangan Dirga mendarat di bahu Hita, lalu memutar perempuan itu dalam satu gerakan kasar yang keras hingga Hita sendiri kaget dan memekik.

Kini mereka berhadapan. Empat mata.

Saat itu juga Hita langsung goyah—ketakutan. Tatapan itu... tatapan orang yang kemarin malam menyiksanya tanpa ampun di atas sofa ruang tamu. Begitu gemetarnya Hita saat menundukkan kepala, menghindari tatapan Dirga.

Seringai terukir di wajah laki-laki itu. "Lihat? Kau berlagak berani tapi tak bisa mempertahankannya di bawah tatapanku," hinanya. "Aku hanya ingin kau berhenti menyusahkanku, apakah itu sulit?" bisik Dirga, mengancam begitu mendekatkan wajah ke arah istrinya.

Tangan Hita mengepal, gemetar karena takut dan berani karena mengingat tubuhnya yang direnggut.

Kau harus bicara, Pramahita. Kau harus bicara.

"Aku tidak pernah bermaksud menyusahkan kakak," balas Hita, meskipun tak berani menatap mata. "Apapun yang aku lakukan harusnya kakak tak pedulikan, mau aku jatuh ataupun sakit, jangan pernah pedulikan. Itu tak akan menyusahkan kakak, kan?"

Semakin tercengang pula Dirga mendengar jawaban dari istri polos dan bodohnya itu. Rahang laki-laki itu mengeras, gigi-giginya bergetar menahan amarah yang jelas terukir di sana.

Apa yang terjadi pada perempuan ini sebenarnya hingga begitu lancang?

Hita meringis kesakitan saat cengkraman Dirga semakin mengerat di bahunya, tapi itu ia tahan kuat-kuat. Mendongak ia menatap suaminya itu.

"Kakak bisa mengatakan apapun padaku, hinaan ataupun kata-kata kasar yang menurut kakak benar," ucap Hita, terdengar menantang. "Kakak bisa menyakitiku sesuka kakak, tapi bukan berarti aku akan terus menerimanya."

Dengan gemetar yang Hita tahan, ia meraih pergelangan tangan Dirga dan menjauhkan tangan laki-laki itu dari bahunya yang berdenyut sakit.

"Aku akan pergi ke dapur, aku sudah berjanji untuk membantu Tante Nadia untuk menyiapkan sarapan."

Perlahan-lahan Hita bangkit, menggigit bibir bawahnya saat menahan rasa nyeri diantara dua kakinya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan Dirga, tidak untuk sekarang ini.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!