Amora adalah seorang mahasiswi yang terpaksa menikahi pria pilihan orang tuanya
ini karya kedua aku, semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella_imupp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan gila keempat A
"kalian beneran gak mau nangis kah? jangan menahan air mata itu akan lebih sakit jika dipendam, kalian juga berhak untuk bercerita" ucap Nathan tapi masih menunduk
"Gak deh nanti Lo malah makin gak nyangka" ucap Argan
"Itu hanya cerita terkecil bukan yang besar" ucap Anantara
"ada yang lebih besar dari ini, dan ini benar-benar akan membuat mu terdiam tanpa kata-kata" Arkan
""mungkin juga kakak bakal memutus kan hubungan Mora dengan kakak atau bahkan lebih dari itu, jika kakak tahu masalah terbesar di keluarga ini" ucap Amora
"Memang apa masalah nya?" tanya Nathan sambil menatap keempat A secara bergantian
Keempat A hanya bisa diam, mereka hanya saling tatap tanpa ada sepatah kata pun keluar
"Kenapa? Memang nya apa masalah itu? Mengapa kalian hanya diam? jawab pertanyaan ku." ucap Nathan
"jika waktu itu sudah tepat kami akan memberi tahu, tapi bukan sekarang" ucap Anantara
"Kenapa sih? apa yang kalian rasakan? kenapa tidak Sekarang saja?" ucap Nathan
"No, kau tidak boleh tahu, ini sangat menyangkut hubungan mu dengan Amora. Aku tidak ingin kalian tiba-tiba renggang" ucap Arkan
"Hey.. Ayo lah.. Arkan.." ucap Nathan lalu menatap Arkan namun Arkan tidak menjawab hanya menggeleng kan kepala
"Bang Argan.." ucap Nathan lalu beralih menatap Argan, tetapi sama saja Argan hanya menggeleng kan kepala
"Ayo lah.. Bang Anan" ucap Nathan beralih ke Anantara
"Tidak bisa Than" ucap Anantara
"Amora.. Tolong ya.. kasih tahu kakak.. Ada apa? Apa masalah itu?" ucap Nathan lalu menoleh ke Amora
"Maaf kak.. Ini rahasia yang sangat besar.. Aku juga takut kehilangan kakak.." ucap Amora
"Hey.. ayo lah aku janji tidak akan meninggal kan kalian" ucap Nathan
"Maaf.. Kami tidak bisa" ucap Arkan
"Hais.. Kalian ini.. Sebenar nya apa masalah itu.. kenapa kalian menutupi itu dari ku.. Apakah kalian tidak mempercayai ku?" ucap Nathan
"aku percaya kakak akan menerima itu, tapi pasti kakak akan kecewa dengan kenyataan yang terjadi di dalam sini. Tapi sekali lagi Amora ingat kan, jangan mencari masalah terbesar itu, jika tidak ingin kecewa dengan hasil nya" ucap Amora sambil memakan coklat
"Sudah lah mending tanya Daddy Arya kalau gak tanya mommy Amber, biar lebih jelas. tanya ke kalian gak di jawab" ucap Nathan lalu berdiri dan akan berjalan pergi tapi baru satu langkah keempat A itu berbicara
"silahkan tanya jika ingin menambah ukiran di punggung kami" ucap Anantara
"silahkan saja, tapi jangan menyesal karena menanyakan hal itu kepada dua orang itu" ucap Arkan
"Kami tidak akan melarang mu, jika ingin bertanya silahkan" ucap Argan
"Silahkan saja, tapi jangan menyesal karena bertanya ke mereka." ucap Amora
Nathan kembali duduk, "kenapa gak jadi pergi? kata nya penasaran sama masalah itu" ucap Amora
"Gak, gak jadi. Aku tidak ingin menambah luka di mental dan fisik kalian." ucap Nathan
"Kenapa? Padahal bagus loh, kami belum dapat apapun Minggu-minggu ini." ucap Argan
"benar, kami padahal ingin loh merasakan cambuk baru Daddy, kata nya sih dari Jerman beli nya" ucap Arkan
"padahal Abang kangen loh rasa nya di cambuk sambil tersenyum" ucap Anantara
"Kalian jangan gila!! Ini sakit.. Kalau kalian sedih jangan melakukan hal yang membuat kalian terluka.. Itu tidak akan menyelesai kan masalah" ucap Nathan
"Kenapa? Aku ingin pergi, sayang.." ucap Amora
"Gak.. Gak.. Kalau kalian sedih ada aku.. Aku bisa menjadi pundak untuk kalian.. Jangan kayak gini.." ucap Nathan
"Tapi rasanya sakit.. Aku mau pergi aja.. Untuk apa aku disini? aku hanya seseorang anak yang tidak diinginkan.." ucap Amora
"Kami sakit Than.. sesakit-sakitnya mati, lebih sakit lagi disiksa.. kami sakitnya perlahan.." ucap Anantara
"Padahal kalau mau bunuh tinggal di tembak kalau gak di pukul sampai mati.. Kenapa harus perlahan?" ucap Arkan dan Argan tapi tatapan mata mereka mulai kosong