[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 (2)
Rafa.
Dia hampir saja ditabrak oleh guru yang baru menerima semangkuk mie kuah. "Ma-maaf, Bu," ucap Rafa.
Guru yang tak lain adalah Bu Anggi itu sekilas ikut kaget, tapi ia menjawab Rafa bahwa tidak apa-apa. Kemudian ia berjalan pergi bersama satu guru lain. Namun tak lama, Bu Anggi mundur selangkah, mendatangkan kerutan di kening Rafa karena kebingungannya.
"Ketua Kelas XII IPA 3 ya?" tanya beliau.
"Iya."
"Temui saya di ruang guru." Dan kemudian ia benar-benar berlalu.
Rafa menatap heran ke arah tiga temannya, tapi tentu mereka juga membalas dengan tatapan yang sama bingungnya. Katanya tidak apa-apa, tapi dipanggil ke ruang guru. Dasar wanita, muda atau tua sama saja. Detik ini bilang apa, sedetik berikutnya beda lagi. Setidaknya itulah pikiran mereka berempat.
Satria memegang dagunya, lalu menumpu sikut di bahu Rafa. "Anjir, Fa. Jan-jangan lo mau di ..." Satria melotot.
"Di apa?" tanya Rafa.
"Di ..." Mata cowok berambut middle part itu memicing, berhasil membuat Rafa memperhatikannya dengan seksama walaupun hanya dari sudut mata.
"... dikasih mie kuah!" jawabnya asal. Kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha."
"Kalian nemu lucunya di mana?" tanya Bayu kepada dua temannya yang waras tatkala memandangi Satria.
"Lucu itu! Kuahahahaha!" Satria membela dirinya sendiri. Sayang, ketiga temannya hanya menatap datar cowok itu. Dan sesekali Bayu mengibaskan tangan saat mencium bau aneh yang sekelebat lewat.
"Gue ke ruang guru dulu," pamit Rafa.
Devan dan yang lain mengangguk.
Kejadian beberapa saat lalu membuat Ina teringat bahwa ia ada perlu dengan Bu Anggi. Karenanyalah ia segera pamit pada yang lain.
"Guys, gue ke ruang guru yah. Mau ke Bu Anggi. Bye!" Ina melambaikan tangannya sambil berlari menjauh.
Vallen terkesiap sebab tadi malah melihat Devan. "Eh, iya. Ati-ati!" ujarnya. Lalu ia dan Chela berpandangan karena Ina terlihat buru-buru sekali.
***
Saat Rafa berjalan menuju ruang guru, ada sesuatu yang membuatnya merasa diikuti. Namun, ia tidak menoleh untuk mencari tahu. Memilih mengabaikannya dan mempersiapkan diri akan diomeli apa oleh Bu Anggi.
"Assalamualaikum." Rafa mengucapkan salam setibanya di depan Bu Anggi.
"Waalaikumsalam."
Dengan sukarela cowok itu mengulang lagi permintaan maafnya, tapi Bu Anggi malah tertawa. Ia tak marah, ia mengajak Rafa ke sini hanya untuk menjelaskan tugas Rafa sebagai Ketua Kelas. Mengetahui itu kenyataannya, membuat Rafa akhirnya bisa bernapas lega.
Bu Anggi menerangkan panjang kali lebar setiap poin tugasnya. Dan menurut beliau, ini akan lebih berat dari tahun sebelumnya karena banyak kegiatan untuk kelas 12. Mendengar pernyataan panjang itu membuat Rafa cukup bosan, dan waktu melihat keluar, tak sengaja ia menangkap keberadaan Ina di depan mading, tapi sembari gadis itu melihat isi mading, kakinya tak henti berjalan.
Mau ke mana dia? tanya Rafa dalam hati. Perasaannya tak enak karena langkah gadis itu mengarah ke ruang guru.
"Ingat semua tugasnya Rafa?" tanya Bu Anggi bertepatan dengan Ina yang sampai di sebelahnya. Cewek itu pun mengikuti Bu Anggi untuk memusatkan perhatiannya ke arah Rafa.
Rafa mengangguk. Lelaki itu ingin pergi, tapi masih diam di tempat, takut jika masih ada yang belum Bu Anggi sampaikan. Namun sayangnya, wali kelasnya itu menanggapi dahulu Ina yang baru datang.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.