Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau menikahi ku gus ?
Kenapa kau tak merelakan aku bersama teman mu yang mencintaiku ?
Kau mengikat ku dalam hubungan yang menyakitkan !
Anisa Az-Zahra seorang gadis biasa yang terpana dengan bahu seorang laki-laki saat hari terakhir OSPEK, dia memendam rasa pada laki-laki tersebut yang kemudian ia mengetahui namanya yaitu Muhammad Ali Haidar yang merupakan seorang gus besar.
Sampai akhirnya Zahra menikah dengan Ali, tapi kehidupan setelah menikah tak seindah yang Zahra bayangkan karena dalam hati Ali terdapat nama wanita lain yaitu Selly bahkan nama Zahra pun tak tertera dalam hati Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfi Syafa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 TERBONGKAR
Setelah beberapa saat kami sampai di rumah, kami turun dari mobil dan penampilan Selly menjadi perhatian santri-santri di pesantren, mereka sangat risih melihat penampilannya yang memakai baju kantor dengan rok diatas lutut, ku lihat Selly pun tak nyaman dengan hal itu.
"Sudah nggak papa Sell" kata ku sambil merangkulnya
"Iya makasih Ra" jawabnya
Aku dan Selly berjalan menuju kamar Mas Ali, sebelum Selly masuk aku mencoba satu kali lagi barang kali Mas Ali mau makan dengan tangan ku sendiri tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Mas ada seseorang yang mau bertemu dengan mu, sebentar biar aku panggilin kamu tunggu disini ya" kataku
Aku berjalan menuju luar kamar dan memanggil Selly, tak lama pun Selly masuk ke kamar tapi pintu kamar tetap terbuka lebar.
"Al ?, kamu sakit? " tanyanya
"Selly kamu kok bisa di sini ..? " jawaban Mas Ali yang merupakan lontaran pertanyaan
"Iya nanti akan aku ceritakan pada mu, sekarang kamu makan dulu ya" ujarnya
"Iya Selly, aku mau makan" katanya
Aku mendengarkan semua pembicaraan Mas Ali dengan Selly tak ku sangka Mas Ali bisa semanis dan selembut itu dengan Selly sangat jauh saat bersama ku. Tak mau mendengar hal yang menyakitkan lagi aku memutuskan untuk turun kebawah.
"Al, sudah cukup hubungan kita sampai disini, aku tidak tahan berada dalam situasi ini" kata Selly
"Tapi kenapa ?, tolong Sell beri aku kesempatan untuk memperjuangkan mu walau kau harus menjadi istri keduaku" kata Mas Ali
"Enggak Al aku akan memutuskan untuk tetap melanjutkan tunangan ku dengan anak sahabat Papa" jelasnya
"Tapi kita saling mencintai Sell" ucap Mas Ali
"Al karena cinta ini kita mengorbankan satu hati yang tidak bersalah Al" ucap Selly
"Makasud mu Zahra, kenapa kau memikirkannya" kata Mas Ali
"Al kamu masih kurang apa sih punya istri sesempurna Zahra, kamu bandingin aku sama dia jauh beda Al, kamu tak pernah memikirkan perasaannya Al, tak pernah melihat pengorbanannya" jelas Selly
"Maksud kamu apa" tanya Mas Ali
"Dia mengorbankan perasaannya untuk kamu Al, mana ada seorang wanita yang mempunyai suami, datang pada wanita selingkuhan suaminya, agar wanita itu datang kerumahnya untuk merayu suaminya agar mau makan dan cepat sehat karena suaminya sedang sakit, mana ada Al aku pun jika di posisinya aku nggak bisa, aku sadar Al memang aku mencintai mu tapi sepertinya Allah tidak menginginkan kita bersatu. Jadi aku putuskan untuk mengakhiri semuanya sampai disini. Terimakasih atas semuanya Al. Aku pergi" ucap Selly kemudian berlalu dari pandangan Mas Ali
Beberapa saat kemudian aku melihat Selly berjalan menuruni anak tangga, ku hampiri dia.
"Bagaimana Sell Mas Ali mau makan" tanya ku pada Selly
"Sudah, Al sudah makan, aku mengatakan semua yang kau katakan Ra kalau semua ini tidak benar, dan aku sudah mengakhirinya, terimakasih telah mengingatkan kesalahan besar ku Ra" ucap Selly yang kemudian ku peluk dia
"Iya sama-sama Selly kita seesama manusia berkewajiban untuk saling mengingatkan, terimakasih juga kamu sudah menyadari semuanya, semoga kamu mendapat laki-laki yang sempurna dan lebih baik dari Mas Ali" kata ku pada Selly
"Iya Ra semoga Allah memaafkan ku, kalau begitu aku pamit dulu ya Ra masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan" kata Selly berpamitan
"Iya hati-hati di jalan Sell" ucapku
Aku mengantarkan Selly sampai halaman rumah, ku amati mobilnya berlalu. Tak berfikir lama aku masuk rumah dan hendak melihat keadaan Mas Ali yang ku harap akan semakin membaik, tapi baru sampai di ruang tamu ku dengar sebuah suara benda pecah.
Ppiyyyarrrrr !!!
Aku berlari menghampiri Mas Ali, aku takut terjadi hal yang tidak ku inginkan terjadi pada Mas Ali. Sesampainya di kamar aku melihat mangkuk yang tadi ku gunakan untuk menaruh bubur ternyata sudah pecah berkeping-keping.
"Mas kamu nggak papa kan" tanya ku
"Apa urusan mu padaku ha ?, kau senang kan melihat aku menderita" jawabnya
"Mas kamu ngomong apa sih, mana ada seorang istri menginginkan suaminya menderita" kataku
"ada, itu kamu Zahra, kamu!! " jawabnya
"Astaghfirullah Mas dari mana aku membuat mu menderita, dari dulu aku tidak meminta apa pun pada mu, bahkan sedikit pun aku tidak menuntut mu Mas, bahkan aku merelaka kesakitan hati ku untuk mendatangkan Selly kesini untuk kebahagiaan mu" ujar ku pada Mas Ali
"Ya memang kamu mendatangkan Selly kesini, tapi sebelumnya kamu menghasut Selly agar mengakhiri semua hubungan ini iya kan!" katanya
"Mas bukan kah itu wajar jika seorang istri memperjuangkan hubungan pernikahannya yang terombang-ambing karena sosok orang ketiga, wajar Mas aku mengingatkan Selly kalau hubungan ini tidak benar, wajar seorang istri tidak mau kehilangan suaminya, salahku dimana Mas ? “ jelas ku
"Salah mu ? iya salah mu itu menganggap kewajaran mu benar .." jawabnya
"Mana kata mu dulu yang katanya ingin belajar mencintai ku, tapi sedikit waktu pun tidak kau sisakan pada ku Mas, kau sibuk dengan hubungan mu dengan Selly tanpa mencoba untuk mencintaiku, berapa lama lagi aku harus bersandiwara di depan orang tua kita Mas aku takut dosa, semua kebohongan yang telah tertumpuk tinggi ini, bagaimana aku mempertanggung jawabkan semuanya" ujarku panjang
"Memang aku akan belajar mencintai mu tapi bukannya aku juga mengatakan kalau sampai waktunya nanti aku tidak mencintai mu aku tidak akan menalak mu karena Umi menyayangi mu, tapi aku akan memadu mu apa kamu ........ " kata-kata menyakitkan yang hendak Mas Ali katakan terhenti ketika terdengar suara yang tak asing di teinga ini
"Astaghfirullahaladzim .. Ali" suara Umi yang sedikit tinggi, kemudian berjalan mendekati Mas Ali dan menamparnya
"Umi sakit" ujar mas Ali
"Sakit? iya, itu baru satu tamparan Al, tapi selama ini sudah hampir satu tahun kamu menikah berapa banyak sakit yang kau berikan ke Zahra, Umi rasa sepuluh, seratus, bahkan seribu tamparan pun tak akan bisa menggantikan apa yang telah kau lakukan pada Zahra, Umi tak habis pikir mempunyai anak seperti mu Ali, Umi malu meminta Zahra untuk menikah dengan mu, sedikit pun kau tak pantas bersanding dengan Zahra, Umi tidak menyangka Ali kamu itu berpendidikan agama mu bagus tapi kenapa perilakumu seperti orang yang sama sekali tidak mempunyai ilmu?, jawab Umi apa motivasimu melakukan hal serendah ini Ali, jawab !! cepat jawab Ali" ku lihat wajah Umi yang sangat marah pada Mas Ali, tak ku sangka rahasia yang selama ini aku tutup-tutupi bersama Mas Ali akhirnya terbongkar juga
"Maafkan Ali Umi" hanya itu kata-kata yang keluar dari Mas Ali
"Umi tidak butuh maaf kamu, Umi butuh penjelasan dari kamu kenapa ini semua bisa terjadi cepat jelaskan sama Umi" jelas Umi
"Sudah Umi, Zahra sadar Mas Ali melakukan hal ini pasti ada hal yang salah pada Zahra Mi, jika Mas Ali salah tak luput Zahra juga salah," ucapku menenangkan Umi, aku juga tak tega melihat Mas Ali di marahin sama Umi sempai seperti ini mengingat Mas Ali masih belum pulih betul
"Sebentar sayang biarkan suami mu yang tidak tau diri ini menjelaskan semuanya, biar dia bertanggung jawab dengan yang dilakukannya" kata Umi
"Cepat jawab Ali, dimana nyalimu yang tadi kau perlihatkan pada Zahra, hah? " ucap Umi
"Ali tidak bisa menolak perintah Umi untuk menikahi Zahra, sedang Ali juga mencintai Selly, Ali menyuruh Zahra untuk menyembunyikan hal ini dari orang tua kita masing-masing, tapi karena Zahra perjuangan ku mendapatkan Selly gagal Umi dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak akan menalaknya tapi tidak sedikit kemungkinan aku tetap akan menikahi Selly, apa aku salah marah padanya Umi? " kata Mas Ali yang semakin menyakiti ku. Tak terduga satu tamparan melayang lagi mendarat dipipi Mas Ali
Kali ini bukan Umi yang menampar melainkan Abah. Sungguh seberapa pun kesalahan Mas Ali aku tidak bisa melihat mas Ali seperti itu. Air mataku mengalir deras tak terhenti, menahan rasa sakit ku juga menahan rasa sakit yang diberikan Abah dan Umi kepada Mas Ali.
"Jaga omongan mu Ali, sedikit pun tidak ada hak kamu marah pada Zahra, dimana mata hatimu hah?, mati ? iya ?, sejak dari awal kau sudah salah Ali, kau ini pemimpin keluarga kecilmu tapi kau pimpin istrimu dengan sebuah kebohongan besar seperti ini, dimana akal sehatmu Ali" kata Abah sangat marah
"Bertaubatlah Ali sebelum Allah murka padamu. Umi dan Abah kecewa dengan mu" kata Umi
"Maafkan Ali Umi Abah" ucap Mas Ali
"Kamu tidak bersalah pada Abah dan Umi tapi pada Zahra kau minta maaflah pada Zahra" tutur Abah
"Maafkan aku Zahra aku suami yang buruk untuk mu, aku sadar dengan semua kejadian ini, terimakasih telah menjadi istri ku, beri waktu aku untuk mencintai mu Zahra" kata-kata yang terdengar tulus, Mas Ali mengatakannya dengan lembut bercucuran air mata dan memelukku
"Iya Mas aku sudah memaafkan mu sebelum kau memintanya, aku selalu memberi mu waktu itu Mas" jawab ku
"Mulai sekarang kamu Ali berhenti bekerja, kamu urusin pesantren ini baik pesantren putra atau putri, dan kamu sayang pulang lah dulu ke rumah Bunda mu biarkan Ali merenungi kesalahannya dan biar dia sadar seberapa besar pengorbanan mu padanya, besok biar Abah dan Umi yang mengantar mu." jelas Umi
"Baik Umi Ra ikut saja" jawabku.
entah q ny yg bapran ato novel ny yg bnyk bwang