Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah permintaan
Happy Reading
Melihat Amelia yang hanay diam, membuat Adrian geram dan kembali berkata.
"Malam ini lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Mengerti." Ujar Adrian yang di iringi dengan seringaian yang begitu mengerikan.
"Ma ,, maksudmu?" Tanya Amelia yang mulai merasa cemas dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya tersebut.
"Apa kamu tidak mengerti? Selama kita menikah, kita tidak pernah melakukan hal yang seharusnya suami istri lakukan."
Deg...
Seketika jantung Amelia berdetak dengan sangat cepat, wajahnya pun berubah menjadi merah, ia sungguh tidak menyangka bahwa Adrian akan memintanya untuk melakukan hal itu.
"Aku tidak mau."
"Kenapa kamu tidak mau?" Geram Adrian.
"Pokoknya aku tidak mau melakukannya."
"Jangan bertingkah Amelia, mau tidak mau kamu harus melakukannya, bagaimana pun juga aku ini suamimu. Mengerti."
"Adrian, apa kamu lupa pernikahan kita hanyalah palsu, jadi jangan berharap untuk melakukan sesuatu kepadaku."
"Tidak, mulai dari sekarang pernikahan kita nyata, jadi lakukanlah dan persiapkanlah dirimu untuk nanti malam." Ujar Adrian dengan tegas dan tak terbantahkan.
Amelia sangat kesal dan juga marah, bagaimana bisa Adrian memintanya untuk mempersiapkan dirinya nanti malam? Apakah Adrian sudah salah minum obat? Bukankah dulu Adrian sendiri yang bilang, bahwa Amelia tidak boleh berharap untuk memiliki tubuhnya apalagi cintanya, lalu apa sekarang?
"Adrian sebenarnya apa mau mu? Aku sungguh tidak mengerti dengan sikapmu itu, bukankah kamu sangat membenciku? Lalu untuk apa kamu memintaku untuk melayani mu? Apakah ini adalah rencana mu untuk menyiksaku kembali?" Gumam Amelia dalam hati.
Amelia tidak lagi menjawab ucapan Adrian, ia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, sementara Adrian tengah menampilkan senyuman devil di wajah tampannya.
"Amelia jangan pernah berpikir untuk melupakanku apalagi meninggalkanku, lihat saja, aku akan membuktikan bahwa akulah satu_satunya pria yang kamu cintai, dan hanya aku lah sang pemilik cintamu dan juga tubuhmu, aku tidak akan pernah mengizinkan siapa pun untuk menyentuh dirimu, apalagi memiliki cintamu." Gumam Adrian dalam hati.
***
Mobil yang di kendarai Adrian telah tiba di kediaman orang tuanya, dengan hati_hati Adrian pun langsung memarkirkan mobilnya, kemudian ia melepaskan seat belt nya, lalu membuka pintu dan turun menapakkan kakinya ke bumi, begitu pun juga dengan Amelia.
Adrian terlebih dahulu memasuki rumahnya, sementara Amelia seperti biasanya, ia akan berjalan di belakang suaminya tersebut.
Mama Laras tersenyum, ketika melihat kedatangan anak dan juga menantunya tersebut.
"Kalian sudah sampai?"
"Iya mah, mama apa kabar?" Amelia terlebih dahulu menyahuti ucapan mama mertuanya.
"Baik sayang, bagaimana keadaanmu?"
"Baik mah." Ujar Amelia sambil memeluk hangat tubuh mama mertuanya, begitu pun juga dengan Laras yang membalas pelukan menantunya tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, mama sangat senang mendengarnya." Balas Laras sambil melepaskan pelukannya.
Laras menatap Amelia, ia sedikit menaikan kedua alisnya, ketika melihat sudut bibir Amelia yang terlihat seperti habis terkena pukulan.
"Ada apa mah?" Tanya Amelia yang sedikit merasa risih dengan tatapan mertuanya tersebut.
"Siapa yang memukulmu?" Tanya Laras dengan tiba_tiba sehingga membuat Adrian dan juga Amelia merasa terkejut.
"Ma ,, maksud mama?" Amelia berkata dengan nada sedikit gugup.
"Apakah Adrian yang melakukannya?" Bukannya menjawab, Laras malah menuduh Adrian yang memukul menantunya tersebut.
"Ti ,, tidak mah, Adrian tidak pernah memukulku." Ujar Amelia yang masih di landa dengan kegugupannya, sementara Laras semakin yakin bahwa anaknya telah melakukan kekerasan terhadap istrinya.
"Mah, aku tidak pernah memukulnya." Adrian berkata dengan tenang.
"Jawab jujur Adrian, mama tidak suka kalau kamu sampai main tangan terhadap istrimu."
"Mah, apa mama tidak percaya kepadaku?"
"Ya mama tidak percaya padamu Adrian, jadi jawab pertanyaan mama, apakah kamu memukul istrimu?" Laras berucap dengan nada tingginya, ia sangat yakin bahwa Adrian telah melakukan kekerasan terhadap Amelia.
"Kalau mama tidak percaya terserah, Adrian capek, Adrian mau istirahat." Ujar Adrian sambil membawa kakinya menaiki anak tangga, sementara Laras hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, ia sungguh tidak menyangka, bahwa anaknya tega memukul istrinya sendiri.
Selama ini Laras selalu berpikir bahwa Adrian bisa menerima dan mencintai Amelia dengan tulus, namun pada kenyataannya, Adrian malah memperlakukan Amelia dengan buruk.
"Amelia maafkan mama sayang." Ucap Laras sambil memeluk tubuh Amelia.
"Tidak apa mah, mama tidak bersalah, dan Adrian tidak pernah memukul Amelia ko, mama percaya sama Amelia."
Laras melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap kedua bola mata Amelia dengan dalam, dan di sana tersimpan kesedihan yang mungkin hanya Amelia lah yang bisa merasakannya.
"Sayang kamu tidak perlu membela Adrian lagi, meskipun kamu menutupi keburukannya, tetapi bekas pukulan yang berada di sudut bibirmu dan juga matamu tidak dapat kamu sembunyikan dari mama."
"Mama ..." Seketika Amelia menangis terisak_isak, ia sungguh tidak bisa lagi menahan air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya.
"Menangislah, mama tau kamu pasti menderita selama ini."
Amelia menatap Laras dengan dalam, ia sungguh ingin sekali meminta bantuan kepada mama mertuanya, agar Adrian mau menceraikannya.
Amelia sungguh sangat ingin terbebas dari Adrian, meskipun dirinya masih menyimpan rasa cinta terhadap Adrian, tetapi Amelia tidak ingin seumur hidupnya harus merasakan penderitaan yang Adrian berikan kepada dirinya.
"Ada apa sayang?" Tanya Laras sambil menghapus air mata menantunya tersebut.
"Mah, apakah mama akan benci kepada Amelia, jika Amelia ingin bercerai dengan Adrian?" Ujar Amelia dengan sedikit ragu.
Mendengar ucapan Amelia, Laras pun langsung terdiam, ia sungguh tidak menyangka bahwa menantunya akan berkata seperti itu, namun ia juga tidak bisa membencinya, karena, pada kenyataannya Adrian lah yang sudah membuat menantunya menderita dan ingin bercerai.
"Apa kamu yakin sayang?" Tanya Laras meyakinkan Amelia dengan ucapannya.
"Maafin Amelia mah, Amelia sungguh tidak sanggup lagi untuk mempertahankan pernikahan ini." Ujar Amelia sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang apa kamu mau mendengarkan ucapan mama?"
"Amelia pasti akan mendengarkan ucapan mama."
"Sayang tolong berikan kesempatan kepada Adrian satu bulan saja, jika selama satu bulan Adrian masih memperlakukanmu dengan kasar, maka mama akan membantumu untuk bercerai dengan anak mama."
Mendengar ucapan mama mertuanya tersebut, Amelia pun langsung tertegun, ia tidak tau harus berkata ya atau tidak.
"Bagaimana sayang?" Laras kembali berkata dengan nada yang lembut.
"Emm baiklah kalau itu permintaan mama ."Amelia menjeda ucapannya sebentar, kemudian ia kembali berkata dengan nada yang sedikit memohon." Mah bolehkah Amelia tidur di kamar mama?"
"Tentu sayang, mama sangat senang sekali karena ada yang menemani mama tidur, dan terima kasih karena sudah mau mendengarkan mama."
"Iya mah, terima kasih juga karena mama sudah membiarkan Amelia untuk tidur dengan mama." Balas Amelia dengan senang, senang karena malam ini ia tidak akan tidur bersama Adrian, laki_laki yang memintanya untuk melayaninya.
***
Adrian tengah bersandar di sofa miliknya, ia terlihat sangat gelisah, entah apa yang ada dalam pikirannya, sehingga membuatnya begitu gelisah.
"Seharusnya aku meminta maaf kepada Amelia, argh sialan kenapa aku merasa tidak tenang begini, dan kemana Amelia? Apakah dia masih mengobrol dengan mama?" Gumam Adrian dengan pelan, ia sungguh ingin meminta maaf kepada Amelia, tetapi karena egonya yang terlalu tinggi, sehingga membuat dirinya enggan untuk meminta maaf.
Setelah perang batin, Adrian pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena rencananya malam ini ia akan meminta haknya sebagai suami kepada Amelia.
Namun sayang sekali, sepertinya rencana Adrian akan gagal, karena Amelia akan tidur bersama mamanya Adrian, dan Adrian tidak mungkin berani masuk ke dalam kamar mamanya, hanya untuk memaksa Amelia untuk melayaninya.
***
Waktu menunjukkan pukul 19.35 malam, makan malam pun sudah siap di atas meja makan, mama Laras dan juga Amelia pun sudah berada di sana, hanya Adrian lah yang belum turun dari kamarnya.
"Bi Inah, tolong panggilkan Adrian bi." Ujar Laras .
"Baik bu." Balas bi Inah dengan sopan, kemudian ia pun hendak melangkahkan kakinya, namun Adrian sudah berada di hadapannya.
"Tidak perlu, Adrian sudah ada disini." Ujar Adrian sambil melangkahkan kakinya, kemudian duduk di dekat Amelia.
"Baguslah, ayo kita makan." Laras berkata sambil menatap kesal kepada anaknya, sementara Adrian hanya membalasnya dengan helaian nafas panjangnya.
"Ambilkan aku lauknya." Perintah Adrian kepada Amelia.
Amelia hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengambilkan lauk dan juga nasi untuk suaminya tersebut, lalu menaruhnya dengan pelan.
Setelah itu mereka bertiga pun makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
***
Setelah makan malam selesai, Adrian pun langsung bergegas menuju kamarnya, sementara Amelia dan juga mama mertuanya, berjalan menuju ruang keluarga, mereka kembali mengobrol dengan bahagia.
Waktu menunjukkan pukul 21.45 malam, Laras dan juga Amelia sudah masuk ke dalam kamarnya, sementara Adrian tengah mondar mandir di dalam kamarnya.
"Argh sialan, kenapa dia belum masuk juga? Apakah dia masih sibuk mengobrol dengan mama ku? Ah lebih baik aku menunggunya di tempat tidur saja." Gumam Adrian dengan pelan, ia terlihat sangat kesal, karena Amelia tak kunjung masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan harinya, Adrian bangun pukul 05.45 pagi, matanya menelisik setiap sudut kamarnya mencari keberadaan istrinya tersebut, namun sayang sekali, ternyata Amelia tidak ada di kamarnya.
"Amelia, kamu benar_benar mengabaikan ucapan ku kemarin ternyata, argh sialan, bahkan aku menunggunya sampai tertidur, lihat saja bagaimana aku akan mnghukummu nanti." Geram Adrian sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, kemudian Adrian bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Bersambung..
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...