NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Kanvas yang Berbicara

Mansion megah dengan interior Italia modern itu biasanya tak sesunyi ini. Setelah drama pelariannya ke tepi danau yang gagal total , apalagi ditambah sesi fitting baju pengantin yang cukup melelahkan. Elleta akhirnya memilih ditinggal sendirian. Steve, laki-laki itu katanya berangkat ke kantor sejak subuh. Entah rapat apa yang membuat laki-laki itu begitu terdesak.

​Bagi Elleta, ketidakhadiran laki-laki itu adalah momen langka. Yang ia butuhkan sekarang hanya pasokan oksigen.

Berjam-jam ia termenung, mengurung diri di dalam kamarnya yang luas. Dingin menusuk hingga ke kulit. Kepalanya terasa berdenyut hampir pecah.

​Di dalam mansion yang megah ini, yang Elleta butuhkan hanyalah pelarian. Pelarian yang tidak melibatkan para pengawal Steve yang serba hitam itu, yang terus mengejarnya di jalanan Jakarta. Sangat melelahkan.

​"Hm, enaknya ngapain, ya?" monolog Elleta sendiri.

​Matanya menelusuri seisi kamar hingga ia bangkit dari duduknya. Kakinya membawa Elleta ke dalam ruangan walk-in closet. Jemari lentiknya tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak besar di sudut ruangan itu.

​Matanya seketika terbelalak. Itu peralatan lukisnya yang sempat tertunda pengirimannya dari Amerika! Hanya itu satu-satunya barang yang lolos dan tersisa dari sitaan Steve.

​"Akhirnya aku bisa melukis lagi," gumam Elleta lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat masa-masa kenangan manis di California.

​Mengembuskan helaan napas lega, ia sudah lama mendambakan perasaan ini. Perasaan yang selama ini terpendam dan terkurung. Elleta membawa kanvas kosong dan standing lukis ke dekat jendela besar yang langsung menghadap ke taman belakang.

​Selama dirinya menempuh studi seni di California, melukis adalah salah satu cara untuk tetap hidup dan menjadi kuat untuk bertahan di masa sulitnya.

​Ia mulai memeras cat minyak di atas palet kayu. Aroma khas media lukis yang menyengat itu menyebar ke seluruh kamar. Tidak tahu kenapa, ia merasa ditarik jiwanya kembali ke studio kecilnya di San Diego. Dengan sapuan kuas yang perlahan tapi pasti, Elleta siap menumpahkan isi kepalanya di atas permukaan kanvas putih.

​"Harusnya jam segini aku udah jalan-jalan ke pantai bareng Kak Daniel," batin Elleta miris, menatap kanvas yang mulai terisi oleh warna.

​Tangannya bergerak seperti menari-nari di atas kanvas putih, membentuk gradasi warna langit senja yang hangat, deburan ombak yang menghantam pasir putih, dan ditambahkan siluet dua orang yang tertawa bersama di tepi Santa Barbara. Itu menjadi kenangan indah yang tidak pernah terlupakan.

​Setiap polesan kuasnya menyimpan monolog yang menyesakkan dada. Jujur di lubuk hatinya, Elleta sangat merindukan suasana di California. Setiap pulang kerja, Elleta dan Daniel akan duduk sebentar di kafe pinggir jalan sembari menikmati kopi.

​Suara tawa dan lelucon aneh dari laki-laki itu membuatnya tertawa. Enam tahun itu bukan waktu sebentar. Itu adalah tahun-tahun di mana dia menemukan arti kebebasan tanpa kekangan dan tuntutan tanpa harus diatur sebagai pion catur yang hidupnya ditentukan di meja kesepakatan oleh kedua keluarga konglomerat itu.

​"Kak Daniel, apa kamu sekarang lagi nyariin aku?" bisik Elleta dalam hati. Setitik air mata jatuh ke pipinya, hampir merusak cat minyak di atas kanvas.

Sejak kakinya pertama kali menginjak Indonesia, mungkin ini pertama kalinya ia tersenyum tipis. Jenis senyuman rapuh dan tulus yang bermakna kerinduan mendalam.

​Dengan melukis, ada sedikit rasa kebebasan yang bisa ia kendalikan atas dirinya sendiri. Walaupun dia tahu kebebasan ini hanya semu, kebebasan itu setidaknya hanya berjarak beberapa sentimeter di depan sebuah kanvas.

​"Aku hanya bisa minta maaf, Kak. Mungkin ucapanku enggak bisa tersampaikan," gumam Elleta pelan. Dia cukup tahu, setiap sudut di dalam mansion ini punya mata yang menembus ke tembok untuk mengawasinya.

...***...

​Puluhan kilometer dari sana, di lantai atas gedung pencakar langit yang membelah pusat bisnis Jakarta, suasana di ruangan kerja Presiden Direktur terasa mencekam. Steve duduk tegak di balik meja besar dari kayu mahoni itu. Tumpukan laporan berkas keuangan yang menggunung terasa sangat hambar di depannya, lengkap dengan pulpen mahal yang siap membubuhkan tanda tangan. Tapi fokus laki-laki itu sedang tidak ada di sana.

​Pandangan serius Steve sepenuhnya terkunci pada layar monitornya yang sengaja diletakkan di sudut meja kerja. Layar monitor itu menampilkan fitur zoom dari live feed kamera pengawas tersembunyi yang terpasang di langit-langit setiap ruangan di mansionnya.

​Di dalam layar, siluet Elleta terlihat fokus menggerakkan kuas dengan anggun. Steve menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menumpu dagu dengan jemarinya yang saling bertautan. Matanya yang legam meneliti setiap detail ekspresi Elleta yang terpantau lewat kamera beresolusi tinggi itu.

​Laki-laki itu menyadari satu hal; ia belum pernah melihat Elleta sehidup itu. Gadis itu selama di dekatnya selalu memasang wajah penuh amarah. Tapi kali ini, wajah Elleta tidak lagi menahan amarah. Mata itu memancarkan binar fokus pada kanvas, terlihat begitu indah dan tenang.

​"Aku suka sifatmu yang penurut kayak gini, El," gumam Steve rendah. ​Seketika wajahnya yang semula tenang berubah tegang. Ia yakin dengan lukisan gradasi pantai yang hangat, ditambah siluet dua orang yang begitu dekat.

​Rahang Steve mengeras, urat-urat lehernya menegang dan berdenyut seiring dengan embusan napasnya yang memburu. Ia tidak perlu menjadi kritikus seni untuk memahami arti lukisan itu. Santa Barbara, tempat di mana Daniel dan Elleta menghabiskan waktu libur kerjanya.

​"Berani kamu, El! Tunggu aku pulang," ancam Steve penuh penekanan.

​Tangan Steve mengepal kuat di atas meja hingga urat-uratnya memutih dan gemetar. Rasa tidak terima dan kecemburuan mendadak merayap ke hatinya. Elleta mengira dia bisa menyembunyikan hatinya di dalam mansion ini? Tapi bagi Steve, setiap goresan kuas itu adalah cara si gadis mencoba memberontak secara halus.

Elleta masih memikirkan laki-laki lain, walaupun sudah berada di bawah atap yang sama dengannya. ​Steve dengan gerakan cepat meraih ponsel di dekatnya, menekan satu kontak panggilan yang langsung tersambung. Ia tidak memberikan jeda bagi orang di seberang sana untuk menyapa.

​"Pantau jangkauan navigasi BMW emas milik Elleta. Jangan biarkan dia mengemasi barang-barang-nya hari ini," perintah Steve dengan suara rendah dan dingin, bergetar menahan amarah yang siap meledak.

"Dan hubungi kepala pelayan untuk menyiapkan makan malam tepat waktu, aku akan pulang lebih cepat."

​Steve mematikan sambungan itu sepihak. Lalu matanya beralih ke layar monitornya. Di sana Elleta masih terlihat tenang, sesekali menyeka sisa air mata di kedua pipinya. Gadis itu tak menyadari bahwa di balik keheningan rumah itu, sepasang mata sang penguasa masih mengikat, mengurung, dan mengawasinya dari kejauhan.

Bersiap mematahkan sayapnya malam ini.

​"Tunggu waktu itu tiba. Kamu enggak bisa ketemu lagi dengan laki-laki itu, Elleta." Kilatan mata Steve bisa menusuk siapa pun, laki-laki itu masih fokus menatap layar monitor tanpa berpaling.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!