Remake dari karya berjudul Emas yang belum lama di rilis dan karya teman penguasa berlengan satu yang sudah di drop.
Kisah seorang pria yang selalu di hina akibat dia hanya memiliki satu lengan. Dia di khianati istri yang sewaktu smp di tolongnya sampai mengorbankan lengannya. Mertua dan iparnya menganggap dia sampah karena dia sering di pecat karena kondisi nya.
Dia sempat berpikir mengakhiri hidupnya dan di tolong, dia mendapat lengan bionik karena kebetulan dan sempat mau di bunuh oleh selingkuhan istrinya, namun di saat kondisinya sudah kritis, lengan bionik nya malah menolongnya dan memberinya kekuatan untuk mengubah nasib. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup baru nya ?
Genre : Fiksi, fantasi, drama, komedi, supranatural, psikologi, menantu terhina, urban.
100 % fiksi, murni karangan author. mohon like dan komen nya ya kalau berkenan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Dengan hati hati, Mark membasuh luka nya dengan alkohol, kemudian dengan lebih hati hati lagi, dia menggores luka nya kemudian dengan perlahan memasukkan sumpit yang sudah di rendam di dalam alkohol dan dengan perlahan, menarik keluar peluru yang bersarang di dalam luka tembak nya, “klotak,” Mark menaruh pelurunya di meja, ternyata peluru itu utuh dan tidak pecah ketika masuk,
“Untunglah hanya miring dan tidak pecah,” gumam Mark di dalam hati.
Kemudian dia mulai mengambil jarum yang di panaskan dan menjahit lukanya. Dia membersihkan wajahnya yang berkeringat dengan lengan, karena tegang dan berkonsentrasi penuh. Setelah 15 menit berlalu, Mark selesai menjahit lukanya, kemudian dia menoleh melihat sekelilingnya untuk memeriksa ada orang atau tidak, setelah memastikan tidak ada orang,
“Ayo Aisha,” ujar Mark.
[Baik tuan.]
Mark meletakkan tangan bioniknya di atas luka tembak sang pria paruh baya, cahaya hijau mulai menyelimuti luka sang pria dan menjalar keseluruh tubuhnya, Mark bisa melihat kalau benang jahit yang seharusnya di gunakan untuk kain, mulai berubah menjadi benang untuk menjahit luka dan perlahan lahan lukanya menutup.
Sementara itu, di dalam ruang tengah, “tuk...tuk...tuk,” terlihat sang pria grogi menunggu, dia berkali kali menoleh ke ruang tamu yang terhalang oleh rak lemari besar. Amanda datang memberikan sang pria minuman,
“Silahkan di minum tuan,” ujar Amanda.
“Terima kasih (menoleh melihat Amanda) kamu istri pak dokter ?” tanya sang pria.
“I..iya benar tuan, nama saya Amanda Harianto,” jawab Amanda.
“Hmm salam kenal, saya Tristan Fernandez, orang yang sedang di rawat suami anda, adalah papa saya,” ujar Tristan.
“Oh ok tuan, serahkan saja kepada suami saya, pasti beliau akan sembuh,” ujar Amanda yakin.
“Papa saya tertembak, tentunya anda mengerti kan kalau suami anda tidak bisa menyembuhkan nya ?” tanya Tristan dengan nada yang rendah namun tajam seperti pisau.
Amanda sedikit kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau pria di depan tertembak, wajahnya mulai nampak ketakutan,
“Sa..saya mengerti tuan,” ujar Amanda.
Tak lama kemudian, Mark berjalan masuk ke dalam, Tristan yang melihat Mark masuk ke dalam langsung berdiri dan menghampiri Mark,
“Bagaimana papa saya dokter ?” tanya Tristan.
“Beliau sudah tidak kritis, tapi dia kehilangan cukup banyak darah, biarkan dia beristirahat, kalau bisa di bawah ke rumah sakit untuk transfusi darah,” jawab Mark.
Tristan berlari ke depan di ikuti Mark namun tiba tiba tangan Mark di tangkap oleh Amanda dari belakang, Mark menoleh melihat wajah Amanda yang sangat cemas, Mark menaikkan tangannya memegang kepala Amanda dan tersenyum,
“Tenang saja, tidak apa apa,” ujar Mark.
“A..aku percaya mas, tapi hati hati,” balas Amanda dengan nada sedikit gemetar.
Mark berbalik dan berjalan ke depan, terlihat Tristan berlutut di sebelah ayahnya yang terbaring di sofa dan memerika lukanya yang sudah rapat kembali walau masih meninggalkan bekas jahitan nya. Merasa Mark berdiri di belakangnya, Tristan menoleh, wajahnya nampak lega, dia berdiri dan menghampiri Mark. “Gyuuut,” langsung saja Tristan memeluk Mark sampai membuat Mark sangat bingung,
“Um...pa...pak ?” tanya Mark.
“Terima kasih sekali dokter, papa saya selamat berkat anda, bagaimana saya bisa membalas budi anda,” jawab Tristan.
“Ti..tidak perlu pak, sesama manusia harus saling bantu kan,” balas Mark yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Tristan.
Tristan melepaskan pelukannya, dia memegang kedua pundak Mark dengan wajah tersenyum, Mark baru melihat ternyata selain tampan, wajah Tristan juga nampak seperti seseorang yang kejam dan memiliki kehidupan keras, dia menoleh melihat Tony, ayah Tristan yang sedang terbaring di sofa,
“Um...bapak sebenarnya siapa ya ?” tanya Mark yang baru sadar kalau orang di depannya pasti bukan orang sembarangan.
“Ah maaf, ini kartu nama saya,”
Tristan mengambil kotak kartu namanya di dalam jas nya dan menarik selembar kartu nama kemudian memberikannya pada Mark. Nama yang tertera di sana adalah Tristan Fernandez dengan jabatan CEO TEF.Corp. Mark tahu TEF.Corp, sebuah grup perusahaan yang memiliki banyak sekali anak perusahaan di ibukota, mulai dari restoran, tour dan travel, elektronik dan otomotif, rumah sakit dan sekolah, juga bisnis bisnis malam.
TEF.Corp juga salah satu perusahan besar yang menguasai ibukota dan jauh lebih besar dari juga berkuasa dari perusahaan mantan ayah mertua nya.
“Um...te..terima kasih,” ujar Mark.
“Dokter, anda praktek dimana ?” tanya Tristan.
“Um...saat ini saya belum praktek dimana mana,” jawab Mark.
“Hmm begitu, bagaimana kalau anda ke ibukota saja dan bekerja di rumah sakit saya, dengan kemampuan anda, saya bersedia menjadikan anda kepala rumah sakit hahaha,” ujar Tristan.
“Wa..waduh, tidak deh pak, saya mau tinggal di sini saja bersama istri saya, sebab saya juga baru pindah kemari,” balas Mark.
Tawa Tristan terhenti, dia langsung menatap Mark dengan wajah serius dan mengamati wajah Mark sampai membuat Mark sedikit salah tingkah. Karena penasaran dan canggung di lihat oleh Tristan, Mark menggunakan analisa nya kepada Tristan.
*********************************************************************
Name : Tristan Fernandez.
Age : 32.
Job : CEO TEF.Corp, family heir.
Gender : Male.
Status : Married.
Condition : Ada kelainan di bagian lutut kaki kanan nya yang membuat dirinya tidak bisa meluruskan kaki nya.
Mind : “Terima kasih dokter Mark, aku benar benar berterima kasih.”
*********************************************************************
“Um...maaf pak Tristan, boleh saya lihat kaki kanan anda ?” tanya Mark.
“Oh...anda tahu kaki kanan saya bekas cedera dulu ?” tanya Tristan kaget.
“Iya pak dan anda sedikit kesulitan berjalan karenanya,” jawab Mark.
“Hmm baiklah,” ujar Tristan.
Tristan duduk di sofa dan menggulung celana panjangnya sampai naik sebatas lutut, ketika melihatnya Mark tahu kalau lututnya terjadi pembengkakan yang sudah lama akibat pernah cedera dan tidak di rawat secara benar. Dia jongkok di depan Tristan dan tangan bionik menyentuh lutut Tristan, cahaya hijau langsung keluar menyelimuti lutut Tristan.
“A..apa ini ?” tanyanya kaget karena merasakan ada aliran hangat di dalam lututnya yang terasa nyaman dan terasa sedang memijit nya walau dia tidak bisa melihat cahaya nya.
“Sabar sebentar pak,” jawab Mark.
Setelah cahaya hijau menghilang, Mark mengangkat lengannya dan berdiri, kemudian dia menunduk dan mengangkat betis Tristan untuk meluruskan nya, tentu saja Tristan kaget karena sebelumnya kaki kanan nya tidak bisa lurus sempurna walau tidak sakit dan sekarang kakinya bisa lurus kembali seperti tidak pernah mengalami cedera di masa muda nya. Dia langsung melihat Mark,
“Luar biasa dokter, terima kasih, bertahun tahun saya sengsara akibat lutut saya ini, terima kasih sekali lagi dokter,” ujar Tristan.
“Sama sama pak, senang bisa membantu, baiklah, pengobatannya sudah selesai pak,” ujar Mark lega.
“Hmmm....saya ingin sekali mengajak anda bergabung dengan kita, tolong telepon saya kalau anda berminat,” ujar Tristan sambil memegang pundak Mark.
“Ba..baik pak, saya pikirkan dulu,” balas Mark.
Tristan ke depan memanggil anak buahnya. Langsung saja dua anak buahnya masuk ke dalam, kemudian Mark membukakan pagar rumahnya agar mobil Tristan bisa masuk ke dalam, setelah itu, dua anak buahnya mulai menggotong tubuh Tony masuk ke dalam mobil. Tristan duduk di kursi depan dan dua anak buahnya menjaga Tony di belakang. Setelah Tristan membawa ayahnya pergi, “huaaaah,” Mark terduduk lemas di garasi.
[Reward mission 800.000.000 R.......received in dimensional storage]
“Dimensional storage,”
************************************************************
Dimensional storage :
1. 2.050.000.000 R
************************************************************
“Terima kasih Aisha, hari yang melelahkan,” ujar Mark di kepalanya sambil tersenyum.
[Sama sama tuan.]
“Blugh,” Mark berbaring di carportnya dan menaruh kedua lengannya di belakang kepalanya, dia tersenyum menatap langit yang biru dengan perasaan senang. Tiba tiba, wajah Amanda menghalangi pandangannya,
“Ngapain tidur di sini mas ? tamunya udah pulang ?” tanya Amanda.
“Udah, sini,”
Mark menarik tangan Amanda dan langsung membuat Amanda rebah di atas tubuhnya, kemudian dia memeluk Amanda.
“Ih...apa apaan sih mas,” ujar Amanda tersenyum malu.
“Ga apa apa, lagi seneng aja,” balas Mark sambil tersenyum dan mengecup kening Amanda.