'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Ulah Daniel??
Beberapa menit yang lalu, Manajer hotel beserta timnya sudah datang ke kamar Kaesang dan Tyas. Kaesang menceritakan kepada mereka tentang kotak itu dan menunjukkannya kepada mereka.
Mereka semua terkejut, tapi tak jarang pula mereka bertanya dan menduga-duga apa maksud dari diberikannya kotak itu.
Kaesang sendiri tidak mengerti dan siapa yang memberikannya. Lalu resepsionis dan karyawan yang tadi memberikan kotak itu dipanggil pula ke sana. Mereka menjelaskan semua yang terjadi, termasuk siapa pria yang sudah memberikan kotak itu.
Tidak ada yang jelas. Tapi yang pasti pria itu berbadan tinggi tegap, ia memakai topi, kacamata, dan masker hitam. Jaket, celana dan sepatunya pun juga hitam. Entahlah, pria itu sangat misterius. Tidak ada yang tahu jelas siapa dia dan bagaimana wajahnya.
Tapi Kaesang mencurigai satu orang yang mungkin menjadi dalang dari pemberian kotak ini.
"Kami sendiri juga tidak tau pak siapa yang sudah memberikan kotak ini. Mukanya tidak terlihat," ujar karyawan yang tadi memberikan kotak itu ke kamarnya.
"Benar pak. Dia sangat tertutup, tadi dia hanya bicara singkat dan memberikan kotak itu. Tanpa saya membalas dia sudah pergi," tambah seorang resepsionis.
Kaesang hanya diam. Dia memikirkan apa yang ada di pikirannya. Tentang orang yang sudah memberikan kotak ini.
Ia menoleh ke Tyas. Di sampingnya Tyas juga hanya diam, tapi mukanya terlihat cemas. Kedua tangannya bertaut, pandangannya setuju ke bawah.
"Dear," panggil Kaesang. Ia lalu meletakkan tangannya di atas tangan Tyas.
Tyas menoleh, "Aku takut Yang," jujur Tyas.
Kaesang tersenyum, sebelah tangannya mengalun lembut di pundak Tyas, berusaha menenangkannya. "Udah kamu nggak usah takut. Ini bukan hal besar kok. Aku yakin ini cuma orang iseng aja. Oke?"
Kaesang berusaha membuat Tyas tidak ketakutan. Meskipun ia sendiri juga takut. Mau bagaimanapun ini semacam teror.
"Kalau iseng ya nggak mungkin sampai ngirimin kayak gini lah Yang. Gabut banget!" seru Tyas. Kedua alisnya menyatu, wajahnya serius, tapi juga sedikit cemas.
Benar juga apa yang dikatakan Tyas. Jika hanya orang iseng tidak mungkin sampai mengirimkan hal yang semenyeramkan ini.
"Pak begini saja, gimana kalau kasus ini bapak laporkan saja ke polisi biar polisi yang mengusut semuanya sampai tuntas. Karena kami sendiri juga tidak tau pak jika kotak itu berisi barang-barang yang seram begini. Kalau kami tau pasti Kami tidak akan memberikannya ke bapak," kata manajer hotel.
Kaesang mengangguk. "Kalian buang saja barang ini. Untuk kasus ini saya akan diamkan dulu. Kalau sampai nanti terjadi lagi baru saya akan lapor ke polisi. Sekarang kalian bisa pergi," katanya.
Tyas menepuk pelan tangan Kaesang. "Yang, kok..." Ia tidak melanjutkan ucapannya. Dahi berkerut, matanya melebar—seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Kaesang menoleh ke Tyas, lalu menggeleng perlahan.
"Baik kalau begitu saya ambil kotak ini ya pak. Kami permisi dulu," ujar manajer hotel ramah.
Seorang karyawan mengambil kotak itu, lalu mereka berlalu dari kamar Kaesang dan Tyas. Tinggallah keduanya di sana, duduk di sofa, hening.
Lalu Tyas menghela nafas panjang.
"Ini nggak mungkin cuma iseng Yang. Ini pasti teror. Tapi apa maksudnya dan siapa dia? Kenapa ke kamu?" tanya Tyas, lalu menoleh ke Kaesang. Wajahnya penuh dengan pertanyaan.
Kaesang menoleh, lalu menggeleng. "Aku sendiri juga nggak tau Dear. Mungkin aja ini teror, tapi tentang maksudnya dan siapa dia aku nggak tau," jawabnya, lalu berpikir.
"Mungkin aja ini musuh kamu nggak? Kayak orang yang nggak suka sama kamu gitu?" tebak Tyas. Ia menduga jika orang yang sudah mengirimkan barang-barang menyeramkan itu adalah musuh Kaesang. Orang yang tidak suka kepadanya.
Tapi Kaesang menggeleng. "Nggak mungkin. Mereka nggak akan bisa ngelakuin apapun ke aku, karena kamu tau sendiri kan siapa aku? Aku bukan mau menyombongkan diri ya, cuma papaku itu adalah pengusaha terbesar se-asia tenggara dan dia punya keamanan yang ketat.
Papa itu punya banyak bodyguard dan mata-mata yang papa suruh untuk menjaga kita keluarganya. Termasuk waktu kita honeymoon kemarin, Papa nyuruh beberapa bodyguard-nya buat jaga kita. Jadi aku rasa nggak mungkin kalau itu musuh aku. Mereka nggak akan bisa menembus pertahanan papa," jelas Kaesang.
Tyas pun berpikir. Setelah beberapa saat ia berkata, "Lah terus siapa dong kalau bukan musuh kamu? Nggak mungkin kalau ini tuh cuma orang iseng. Pasti ada maksud tersembunyi," kata Tyas kekeuh.
Kaesang hanya diam, berpikir. Cukup lama ia mengangguk. "Kamu benar. Nggak mungkin kalau ini tuh cuma orang iseng. Tapi yang jelas orang yang mengirim ini pasti bukan musuh aku. Aku mencurigai satu orang Dear dan orang ini pasti tahu seluk beluk keluarga aku," kata Kaesang. Wajahnya serius, matanya berkilat tajam.
"Siapa Yang?" tanya Tyas, penasaran.
Lagi-lagi Kaesang tidak menjawab. Ia hanya diam sembari menatap dalam manik mata Tyas.
"Mungkin aja orang ini dulu pernah deket sama kamu. Tapi aku sedikit nggak yakin kalau orang ini tuh dia," kata Kaesang ragu.
Tyas semakin penasaran. "Deket sama aku? Siapa? Siapa orangnya?" tanyanya.
Ia tidak bisa mencurigai siapapun. Tidak ada satu orang pun yang ia kenal dan cocok untuk menjadi dalang dari pemberian kotak ini. Kecuali...
"Apa...ini Daniel yang ngasih?" lanjut Tyas.
Ya, tiba-tiba nama Daniel terlintas di kepalanya. Entah kenapa nama itu tiba-tiba muncul, tapi jika orang itu adalah Daniel mungkin masuk akal. Daniel dulu sangat mencintainya, mungkin sampai sekarang. Entahlah. Pikir Tyas.
"Kamu bener Dear. Aku curiga kalau orang ini adalah Om Daniel. Aku takut kalau Om Daniel akan berusaha buat menghancurkan pernikahan kita dan merebut kamu dari aku. Aku takut dia nekat," kata Kaesang, sedikit cemas.
Tyas sama sekali tidak bisa berbohong. Ia takut dan cemas. Kalau kalau orang yang mengirimkan kotak ini benar adalah Daniel, mungkin ia tidak akan bisa memaafkannya.
"Aku juga takut. Tapi aku yakin dia nggak akan bisa buat menghancurkan pernikahan kita. Yang, lebih baik kita pulang ke rumah dan cerita ini ke Papa dan Mama. Mau bagaimanapun mereka harus tau," saran Tyas.
Kaesang berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk. "Ya udah kita pulang aja, aku juga jadi nggak mood di hotel setelah semua ini," katanya.
Mereka pun berdiri. Kaesang meraih jaket, ponsel dan dompetnya dari atas nakas. Sementara Tyas meraih tas selempangnya. Mereka bergandengan tangan keluar dari kamar hotel menuju ke lantai dasar. Setibanya di meja resepsionis mereka melakukan check out dan keluar dari hotel.
Sama-sama mereka menaiki mobil, melajukannya pulang ke rumah tanpa mau mampir ke manapun. Sesampainya di rumah, mereka turun dari mobil dan mengetuk pintu. Pintu terbuka, dan Mbak Art menyambut mereka dengan anggukan hormat.
Kaesang dan Tyas melangkah masuk menuju ke ruang keluarga. Di sana Mereka melihat Papa dan Mama Kaesang sedang duduk dan menonton televisi.
"Pa, Ma," panggil Kaesang.
Ia dan Tyas duduk di sofa tak jauh dari tempat mereka duduk. Papa dan Mama Kaesang menoleh, tidak menyadari kedatangan Kaesang dan Tyas karena saking fokusnya menonton televisi.
"Ah kalian pulang? Mama sama papa sampai nggak sadar, ehm kalian tadi jalan-jalan ke mana? Kok nggak pamitan dulu?" tanya mama Zora.
"Iya loh, kalau aja tadi Tyas nggak ngabarin kami mungkin kami nggak akan tau kalau kalian pergi jalan-jalan," tambah papa Indra.
Kaesang dan Tyas saling berpandangan. Lalu sama-sama mereka menoleh ke mama dan papa Kaesang.
"Ada yang mau kami kasih tau ke kalian," ucap Kaesang tanpa basa-basi.
Dahi Papa Indra berkerut, matanya mengamati Kaesang yang tampak serius. "Apa?" tanyanya.
Kaesang menarik napas dalam-dalam. Ia terdiam sejenak, menunduk. Lalu, menatap Papanya. "Tadi kami..."
"Tadi kami jalan-jalan dan akhirnya ke hotel buat...ehemm gitu deh," katanya malu-malu. "Habis itu, ada karyawan wanita yang datang ke kamar dan ngasih sebuah kotak ke aku," jelas Kaesang, suaranya sedikit gemetar. "Isinya... serem banget."
Tyas mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, Pa, Ma. Isinya... bangkai anak ayam berlumuran darah, bekas pembalut, dan... dan..." Ia terhenti, tak sanggup melanjutkan.
Papa Indra mengerutkan kening, wajahnya berubah serius. "Bangkai anak ayam berlumuran darah? Bekas pembalut? Apa maksudnya ini?"
Mama Zora memegang tangan Papa Indra, matanya terbelalak ketakutan. "Siapa yang ngasih, Kae? Kenapa mereka ngasih itu?"
Kaesang menelan ludah, berusaha mengendalikan rasa takutnya. "Kami nggak tau, Ma, Pa. Tapi kami curiga ini mungkin... teror."
"Teror?" Mama Zora berbisik, tubuhnya gemetar. "Kenapa harus ke kalian?"
"Kami juga nggak tau, Ma," jawab Kaesang. "Tapi kami curiga orang ini...mungkin om Daniel."
Tyas menimpali, "Yang, aku takut. Aku takut kalo ini beneran Daniel dan dia semakin nekat."
Papa Indra mengerutkan kening. "Daniel? Masa iya dia sampai senekat ini?"
"Papa lupa ya, Om Daniel dulu kan pernah mencintai Tyas, Pa," jelas Kaesang, suaranya bergetar. "Dan dia... dia... Kelihatan nggak terima banget kalau pacar Tyas itu aku dan akhirnya menikah sama aku. Dia sampai sekarang nggak ada kabar kan? Aku takut kalo orang ini beneran om Daniel."
Mama Zora tercengang. "Daniel? Mama nggak percaya dia sampai tega melakukan hal sejauh ini."
Kaesang menggeleng. "Beneran, Ma. Mungkin aja ini ulah om Daniel. Aku yakin banget!"
Bersambung ...