Dewasa🌶🌶🌶
"Apa? Pacaran sama Om? Nggak mau, ah! Aku sukanya sama anak Om, bukan bapaknya!"
—Violet Diyanara Shantika—
"Kalau kamu pacaran sama saya, kamu bakalan bisa dapetin anak saya juga, plus semua harta yang saya miliki,"
—William Alexander Grayson—
*
*
Niat hati kasih air jampi-jampi biar anaknya kepelet, eh malah bapaknya yang mepet!
Begitulah nasib Violet, mahasiswi yang jatuh cinta diam-diam pada Evander William Grayson, sang kakak tingkat ganteng nan populer. Setelah bertahun-tahun cintanya tak berbalas, Violet memutuskan mengambil jalan pintas, yaitu dengan membeli air jampi-jampi dari internet!
Sialnya, bukan Evan yang meminum air itu, melainkan malah bapaknya, William, si duda hot yang kaya raya!
Kini William tak hanya tergila-gila pada Violet, tapi juga ngotot menjadikannya pacar!
Violet pun dihadapkan dengan dua pilihan: Tetap berusaha mengejar cinta Evan, atau menyerah pada pesona sang duda hot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Klub Malam
William menelan ludah. Dadanya berdebar tak karuan, campuran antara senang dan gugup. Ia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan diri agar tidak terlihat terlalu senang sebelum mengangkat telepon.
"Santai, William. Jangan sampai kedengaran aneh." Kata William pada dirinya sendiri.
Klik.
"Kenapa?" Nada suaranya dibuat agar terdengar judes dan ketus.
"Ini siapa ya...??"
Alis William langsung bertaut. Suara Violet terdengar aneh.
"Heh, kamu mabuk atau gimana? Kan kamu yang nelepon saya duluan?" tukasnya, sedikit kesal. Tapi saat itu juga, ia menangkap suara berisik di sekitar Violet. Dentuman musik keras, gelak tawa orang-orang, suara gelas beradu...
William tersentak. Loh, Jangan-jangan?
"Oh iya, ya... hehehehe..." suara Violet terdengar mengambang, dan itu cukup untuk membuat William mencelos.
"Sialan! Purple, kamu mabok beneran?!" William langsung bangkit dari kasurnya, menyambar kunci mobil dan berlari keluar apartemen.
Awalnya, ia berniat untuk menunggu lift, tapi terlalu lama. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke tangga darurat. Sepuluh lantai? Bukan masalah baginya.
Saat tiba di parkiran, ia sudah kehabisan napas, tapi tak peduli. Sambil membuka pintu mobil dengan kasar, ia menempelkan kembali ponselnya ke telinga.
"Heh, Purple! Kirim lokasi kamu sekarang juga!" suaranya kini terdengar penuh kepanikan. Tidak ada jawaban dari seberang telepon, membuat kekesalan William mencapai ubun-ubun. "Heh!Kamu denger nggak sih?!
"Ha? Apa Om?"
"LOKASI KAMU! KIRIM SEKARANG!"
Dengan kepala yang sudah berat, Violet mengangkat ponselnya, lalu menekan tombol share location dan mengirimkan lokasinya ke William.
William segera melihat notifikasi lokasi masuk di ponselnya. Begitu melihat alamatnya, ia langsung tancap gas menuju sana.
"Jangan tutup teleponnya!" seru William.
"Iya... Iya... dasar bawel..." suara Violet terdengar semakin lemah.
Sementara itu, di dalam klub, Violet menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Kepalanya berdenyut, tubuhnya terasa lebih berat. Mungkin dia sudah minum terlalu banyak.
Tiba-tiba, seseorang menarik kursi di sebelahnya.
"Hai, cantik... sendirian aja nih?"
Suara berat itu terdengar begitu dekat di telinganya.
Violet mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya masih kabur, kepalanya berat, dan tubuhnya lemas. Di hadapannya, seorang pria duduk dengan senyum miring, sorot matanya penuh niat tersembunyi.
Pria itu menyandarkan lengannya ke meja, mendekatkan wajahnya ke Violet.
"Kayaknya kamu butuh teman nih," katanya dengan suara rendah. "Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar?"
Violet mencoba membuka mulut untuk menjawab, tetapi suaranya hanya terdengar seperti gumaman. Ia menggeleng pelan, mencoba menjernihkan pikirannya, tetapi efek alkohol membuatnya tak mampu berpikir jernih.
Pria itu tertawa kecil. Sorot matanya semakin tajam, penuh nafsu. "Wah, kelihatannya kamu udah pusing banget nih. Gimana kalau kita cari tempat yang lebih tenang?"
Tangan pria itu mulai merangkul pinggang Violet. Gadis itu hendak menolak, tetapi tubuhnya terasa berat dan tidak bisa dikendalikan. Saat pria itu membantunya berdiri, ia hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya keluar dari keramaian klub.
...----------------...
Sementara itu, di jalan raya, William memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya tegang, rahangnya mengatup keras.
"Sialan, bocah itu! Apa yang dia pikirkan sampai pergi ke klub sendirian?" gerutunya sambil mencengkram setir lebih erat.
Pikirannya jadi kemana-mana. Bayangan Violet yang sedang mabuk berada di antara pria-pria mata keranjang membuat darahnya mendidih. Ia memencet klakson berkali-kali, melaju lebih cepat. Setiap detik yang berlalu terasa seperti seabad untuknya.
Saat tiba di depan klub, ia langsung turun dari mobil. Langkahnya cepat, wajahnya penuh amarah. Namun, baru saja hendak masuk, dua penjaga menghadangnya.
"Maaf, Pak. Tidak bisa masuk sembarangan."
William mendecak, lalu menarik dompetnya dan menyodorkan sejumlah uang. "Ini uang muka. Kalau kalian bisa menemukan cewek ini, kalian masing-masing saya kasih sepuluh juta."
Ia menunjukkan foto Violet. Kedua penjaga saling berpandangan, lalu tanpa banyak tanya langsung mengangguk.
Mereka pun mulai mencari. William sendiri terus berjalan masuk, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Suara musik berdentum, lampu-lampu warna-warni berkedip cepat, membuat pencariannya semakin sulit.
”Sial! Kemana sih dia! Haish, kenapa di saat seperti ini teleponnya malah dimatikan?!"
William mencoba menelepon ponsel Violet lagi, tapi kali ini tak diangkat. Tangan kirinya mengepal. Ada firasat buruk yang makin menguat di hatinya.
...----------------...
Sementara itu, di lantai atas klub, pria asing tadi membawa Violet ke dalam sebuah kamar hotel yang terhubung langsung dengan klub.
Violet yang hampir tak sadarkan diri hanya bisa duduk di tepi ranjang saat pria itu menuntunnya ke sana.
Pria itu berdiri di depannya, matanya mengamati tubuh Violet dengan napas memburu. Rok mini gadis itu sedikit tersingkap, memperlihatkan pahanya yang mulus. Dada Violet yang sintal naik-turun dengan napas berat, membuat pria itu sontak menjilat bibirnya sendiri.
"Ah, air, air," Kata violet dengan tangan menggapai-gapai udara. Pria itu tersenyum lalu mengambil segelas air dari meja. Namun sebelum memberikannya, ia memasukkan sesuatu lebih dulu ke dalamnya, lalu mengaduknya perlahan.
"Minum dulu," kata pria itu sambil duduk di sebelah Violet.
Violet menerima gelas itu tanpa curiga dan menenggaknya dalam sekali teguk. Tak lama setelahnya, tubuhnya mulai bereaksi.
"Panas... Panas banget..." keluhnya, tangannya mengipas-ngipas tubuhnya sendiri.
Pria itu tersenyum licik. "Ah, panas ya? Mau kubantu buka bajumu biar lebih nyaman?"
Tangannya mulai menyusup ke bawah rok Violet, tetapi gadis itu hanya bisa menggeliat tanpa tenaga.
Bruk! Pria itu sekarang sudah menindih Violet, dan Violet yang sedang kesusahan dengan hal aneh yang ada di tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa. Saat tangan pria itu hampir membuka baju Violet, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.
"SIALAN KAU!"
Dalam satu hentakan kuat, William menarik pria itu dari Violet, mencengkeram kerah bajunya, lalu membantingnya ke lantai. Pria itu mengerang kesakitan, kepalanya membentur sisi meja.
Namun William tidak peduli. Matanya penuh amarah saat menatap pria itu, siap menghajarnya lagi. Tapi sebelum itu terjadi, erangan lemah dari tempat tidur membuatnya beralih.
"Purple!" William buru-buru mendekati Violet yang terkulai lemah di ranjang.
"Hah... Hah..." Violet terengah-engah, tubuhnya bergetar. "Tolong... Om... Panas..."
Sontak dahi William berkerut. Reaksi gadis itu sangat aneh, bukan seperti reaksi orang mabuk pada umumnya. Pandangan William lalu tertuju pada gelas kosong yang ada di meja serta sebuah bungkusan mencurigakan di sebelahnya.
William mencengkram kerah pria tadi lagi, menatapnya dengan mata membara.
"Sialan! Apa yang sudah kau berikan padanya?!"
Pria itu hanya tertawa kecil tanpa menjawab pertanyaan William.
William menggeram marah. Tangannya terkepal, dan ia pun langsung meninju wajah pria itu hingga pingsan.
William kembali mengalihkan perhatiannya pada Violet, sekarang wajah gadis itu sudah memerah dan tubuhnya menggeliat-geliat.
"Om, tolong om..." Violet memeluk William. "Panas banget..."
"Sial!" Rutuk William kesal.
Ia menghela napas dalam, mencoba menekan emosinya. Prioritasnya sekarang adalah membawa Violet pergi dari tempat ini sekarang juga.
Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh Violet ke dalam gendongannya, lalu membawanya keluar.
Sebelumnya, author mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi para pembaca yang muslim 🥰🙏
Terus.. untuk menjaga kekhusyukan para pembaca dalam beribadah, mulai besok bab selanjutnya akan update setelah buka puasa. Jadi tenang aja, meskipun ada adegan plus plusnya, ga akan bikin batal 🤭
Terimakasih atas perhatian nya...
Dukung terus karya ini dengan kasih like, komen, gift, subscribe, dan lain-lain.
Terimakasih! ❤