Wanita introvert itu akhirnya berani jatuh cinta, namun takut terlalu jauh dan memilih untuk berdiam, berdamai bahwa pada akhirnya semuanya bukan berakhir harus memiliki. cukup sekedar menganggumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu yang terjawab
"Lima juta tujuh ratus lima puluh ribu kak."
Mendengar harga yang disebutkan oleh pramuniaga toko itu, membuat Dinda menyimpan kembali sepatu itu. Laura yang melihatnya, paham apa yang dipikirkan Dinda.
"Ibu pakai ukuran apa, Din?" Tanya Laura mengambil sepatu itu.
"Gak usah, Ra! Kayaknya ibu gak suka!" Kata Dinda.
"Ibu pakai ukuran apa, Dinda?" Laura mengulang tanpa menggubris perkataan Dinda tadi.
"Ukuran 38." Jawab Dinda pasrah.
"Mba, mau ini ukuran 38 ada?" Tanya Laura kepada pramuniaga semblari memberikan sepatu itu.
"Tunggu sebentar saya cek ya kak."
"Ra, uang aku gak cukup. Aku gak mau kamu bayarin." Kata Dinda setelah pramuniaga pergi.l
"Aku tambahin ya? Anggap aku juga beliin hadiah untuk ibu. Aku bingung mau beli apa. Kamu yang paling tau kesukaan ibu kan."
"Tapi Ra?"
Laura mengenggam tangan Dinda memohon. "Aku mohon, kamu terima ya? Ibu udah aku anggap ibu aku juga."
"Iya deh. Makasih ya, Ra."
Laura tersenyum yang dibalas oleh Dinda.
"Aku gak tau gimana cara bantuin kamu. Tapi, semoga ibu suka dan bisa segera sadar ya." Batin Laura.
"Kak, ini ada. Mau?" Tanya pramuniaga.
"Iya mba. Tolong dibungkusin ya." Jawab Laura.
"Langsung ke kasir aja ya kak." Pramuniaga itu kembali meninggalkan mereka.
Laura dan Dinda berjalan ke arah kasir. Lalu membayar sepatu pilihan Dinda tadi. Setelah selesai membayar, mereka pun berjalan keluar toko.
"Kamu sholat isya dulu deh. Setelah itu kita nonton di bioskop. Udah masuk waktu sholat lagi soalnya." Kata Laura melirik jam tangan miliknya.
"Hmm... oke. Ayo!" Dinda pun merangkul Laura dan berjalan kembali ke lantai 3, dimana Mushola berada.
**********
"Mba, pagi ini masak apa?" Tanya Laura kepada Mba Ayem sambil membuka kulkas.
"Belum masak, neng. Neng mau dimasakkin apa hari ini?" Tanya Mba Ayem yang sedang memilah-milah barang belanjaannya.
Laura menghampiri Mba Ayem. Melihat hasil belanjaan Mba Ayem sembari berfikir.
"Apa aja deh mba. Bingung aku. Lagian, apapun yang mba masak juga enak kok!" Kata Laura lalu duduk di kursi di depan ia berdiri.
"Neng gak ada jadwal kuliah hari ini?"
"Libur seminggu aku mba."
"Oalah..."
Laura melihat ke arah Mba Ayem yang sudah sibuk dengan kompor. Ia menarik napas. Semenjak kuliah, ia sudah disibukkan berbagai kegiatan kampus. Libur adalah hal yang tidak pernah ia jumpai walaupun weekend. Ini adalah liburan pertamanya setelah berstatus mahasiswa.
Drtt... Drtt...
Handphone Laura bergetar pendek di atas meja mendadakan ada pesan Whatsapp. Segera ia mengambilnya dan melihat isi pesan itu.
*Em**il*
Assalamu'alaikum Laura...
Aku Emil...
Kamu dan Dinda sore ini sibuk gak?
Nongkrong bareng kita..
Laura tersenyum membaca pesan itu. Ia bukan segera membalas pesan itu. Namun, ia malah mencari nama Dinda di handphonenya.
"Assalamu'alaikum Ra." Jawab Dinda dari handphone milik Laura. Ya, Laura menelpon Dinda.
"Wa'alaikumsalam. Sore ini kamu sibuk?"
"Enggak sih. Aku dapat sift pagi. Balik jam 2 sih. Kenapa emang, Ra?"
"Emil ngajak ketemu nongkrong bareng."
"Berarti ada Arya juga?"
"Kurang tau sih. Sepertinya iya."
"Yaudah aku ikut."
"Kamu lanjut kerjanya. Kalau udah balik kamu jemput aku di rumah ya."
"Iyaaa... dahh... Assalamu'alaikum."
Laura tersenyum mendengar suara Dinda yang terdengar bahagia. Laura kembali membuka handphonenya lalu membalas pesan whatsapp dari Emil. Mengiyakan ajakkan tersebut dan menentukan tempatnya.
"Ada Arya..." kata Laura pelan.
**********
"Lauraa..." Panggil Dinda dengan nada yang bahagia. Ia berdiri di depan pintu kamar Laura.
"Kebiasaan deh. Assalamu'alaikum dulu kalau masuk."
"Iya... Assalamu'alaikum Laurakuuu..." Dinda menghampiri Laura yang sedang berbaring menggunakan mukenah.
"Wa'alaikumsalam."
"Kok kamu masih pakai mukenah sih?"
"Liat jam kamu deh. Udah mau dekat waktu Ashar. Sholat dulu baru keluar kita. Lagian juga, kamu bilang pulang jam 2. Nah sekarang udah jam setengah 4, kamu baru datang."
"Kamu gak lihat. Aku pulang mandi ganti pakaian dulu lah."
Laura melirik Dinda yang begitu bersemangat. Dinda telah berpakaian rapi tidak seperti biasanya hanya menggunakan kaos oblong saat bertemu dirinya, hari ini Dinda menggunakan kemeja berwarna yang cerah. seperti menggambarkan suasana hati Dinda.
"Ambil wudhu sana. Sholat dulu gih. Nanti touch up lagi. Tuh udah adzan." Kata Laura mendengar adzan berkumandang.
Dinda pun beranjak melakukan apa yang diucapkan Laura tadi. Begitu pun dengan Laura. Ia berdiri mulai mempersiapkan tempat ibadahnya.
**********
"Kok aku deg-degan ya, Ra?" Tanya Dinda melepas helmnya. Laura hanya tersenyum menjawab pertanyaan Dinda.
"Kayaknya aku belum siap deh." Tambah Dinda lagi.
"Katanya rindu. Ayo!" Laura menggandeng lengan Dinda melangkah masuk Cafe tempat mereka janjian.
Baru saja mereka tiba di depan pintu Cafe, kaki Laura mendadak berhenti. Melihat sosok pria yang sangat ia rindukan kini berada di dalam Cafe itu, dengan menatap ke arah mereka berdua.
"Ra, ayo!" Kata Dinda menyadarkan Laura.
Mereka pun berjalan masuk ke arah seseorang yang melambai kepada mereka berdua.
Dengan menampilkan senyum ramah, Dinda menyapa, "Assalamu'alaikum. Sorry ya kita lama. Sholat dulu bentar soalnya."
"Gak apa-apa kok, Dinda. Lagian kita juga baru nyampe." Balas Arya.
"Arya kan? Alhamdulillah masih diingat aku." Kata Dinda tertawa kecil menutupi salah tingkahnya.
"Ya iyalah masa dilupa sih." Goda Emil.
Arya menyenggol lengan Emil pelan. Membuat Emil tertawa kecil.
"Kamu apa kabar, Dinda?" Tanya Arya menatap Dinda.
"Alhamdulillah baik. Kamu gimana? Lama banget gak ketemu. Apalagi kamu tiba-tiba hilang."
"Alhamdulillah. Baik juga Dinda. Hehe iya. Aku dapat tawaran sekolah ke Arab dari tempat aku mengajar ngaji."
Dinda hanya tersenyum mengangguk kagum.
"Kamu gimana kabarnya, Laura?" Tanya Arya kepada Laura yang sedari tadi hanya terdiam menunduk.
Laura mendengarkan semua percakapan mereka sedari tadi. Namun, ia tidak berani menatap mata itu. Mata yang sangat ia rindukan. Mata yang bukan muhrimnya.
"Alhamdulillah. Aku juga baik, Arya." Jawab Laura masih menunduk.
"Eh pesan dulu deh. Biar enak ngobrolnya." Kata Emil memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Laura, kamu mau pesan apa?" Tanya Dinda sembari mencatat pesanan untuk dirinya sendiri.
"Cappucino aja Dinda." Jawab Laura menengok ke arah Dinda.
"Aku juga sama." Ujar Emil.
"Kamu, Arya?" Tanya Dinda menatap ke arahnya.
"Samain aja deh, Din." Kata Arya tersenyum.
Dinda pun mencatat pesanan Laura, Emil dan Arya. Kemudian memberikan kepada waiter yang berdiri di sebelahnya.
"Liburan kah kamu ke Indonesia?" Tanya Dinda.
"Iya, salah satunya itu sih. Aku dapat kabar dari panti bahwa orang tua kandungku akan datang dan mau menemuiku untuk pertama kalinya."
Bersambung...
Baguus yaa diksinya banyaak bangeet 😍