NovelToon NovelToon
Seni Perang Dalam Cinta

Seni Perang Dalam Cinta

Status: tamat
Genre:Tamat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Enemy to Lovers / Si Mujur / Rebirth For Love / Idola sekolah
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Dwiki

Theresa Coldwell adalah ratu tak tertandingi di sekolahnya—lidahnya tajam, kepercayaan dirinya tak tergoyahkan. Tak ada yang berani menantangnya… sampai Adrien Valmont datang. Santai, tak terpengaruh, dan sama pintarnya, dia membalas sarkasme Theresa dengan komentar tajam tanpa ekspresi, membuat setiap pertemuan mereka jadi ajang adu kecerdasan dan ego. Dari debat di kelas hingga persaingan di seluruh sekolah, ketegangan di antara mereka semakin terasa. Tapi ketika sesuatu yang tak terduga mengancam untuk memisahkan mereka, akankah mereka akhirnya menurunkan ego masing-masing, atau justru terjebak dalam perang kata-kata yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Spin Off #4 : Lebih Dekat dari Kata-Kata

Perpustakaan telah menjadi rumah kedua mereka.

Dengan tenggat proyek yang semakin dekat, Zahard dan Elara menghabiskan lebih banyak waktu bersama dibanding sebelumnya—menyaksikan sore perlahan berubah menjadi malam, ditemani cahaya lampu yang memancarkan kilau lembut di meja mereka.

Di suatu titik, kebiasaan mereka berubah. Ujung-ujung tajam dari interaksi mereka mulai melunak. Mereka masih berdebat, masih saling menantang pandangan masing-masing, tetapi ada sesuatu yang tak terucapkan dalam cara rutinitas mereka menyelaraskan diri.

Elara kini selalu membawa pena ekstra, meletakkannya di samping buku Zahard tanpa sepatah kata pun. Zahard tak pernah mengomentarinya, tapi ia selalu menggunakannya.

Zahard, di sisi lain, akan tanpa sadar mendorong camilan ke arahnya setiap kali melihat fokusnya mulai goyah. Ia tak pernah membahasnya—hanya mendorong bungkus kecil itu sedikit lebih dekat sebelum kembali ke catatannya.

Elara merasa ini agak menggelikan. Zahard bertindak seolah memberi makan dirinya hanyalah kebetulan belaka, seakan-akan ia bukan orang yang mengingat makanan favoritnya, bukan orang yang memastikan ia makan tanpa pernah sekalipun menyuruhnya.

Suatu malam, Elara memutuskan untuk mengujinya.

Ia mengabaikan camilan itu sepenuhnya.

Menit-menit berlalu. Zahard tak bereaksi—matanya tetap tertuju pada buku, jarinya membalik halaman dengan gerakan halus dan terlatih.

Satu menit lagi.

Lalu, dengan gerakan yang hampir tak terlihat, Zahard meraih camilan itu dan mendorongnya sedikit lebih dekat.

Elara menggigit bibirnya, menahan senyum.

Benar-benar mustahil.

Beberapa Hari Kemudian – Insiden Debat.

Itu terjadi di kelas.

Guru filsafat mereka memicu diskusi baru—kali ini tentang moralitas dalam dunia pragmatis. Seperti biasa, Elara dan Zahard mengambil posisi yang berlawanan.

“Manusia tidak secara alami egois,” Elara berargumen, duduk lebih tegak. “Altruisme itu ada. Tidak semua hal didorong oleh kepentingan diri sendiri.”

Sebuah suara mencemooh terdengar dari sudut kelas.

“Dikomentari seperti seorang idealis sejati,” gumam seorang siswa—seseorang yang selalu membanggakan ‘logikanya yang superior.’ “Serius, Elara, kau pintar, tapi ini? Ini kekanak-kanakan.”

Kata-kata itu menggantung di udara, berat.

Elara membeku, panas merayap di pipinya—bukan karena malu, tapi karena frustrasi. Ia sudah sering mendengar ini sebelumnya. Terlalu lembut. Terlalu naif.

Ia membuka mulut untuk membalas, tapi sebelum sempat—

Zahard lebih dulu berbicara.

“Jika menjadi pintar berarti membuang prinsip seseorang,” ucapnya, nadanya dingin, acuh tak acuh, “maka aku rasa dia jauh lebih baik daripada kau.”

Hening.

Seluruh kelas seakan berhenti, mata mereka beralih pada Zahard dengan keterkejutan yang kentara.

Napas Elara tersangkut di tenggorokannya.

Zahard bahkan tak mengangkat pandangannya dari buku. Jemarinya dengan santai membalik halaman, seolah percakapan tadi membuatnya bosan. Namun kata-katanya mendarat dengan ketajaman pisau, memotong ejekan itu dengan mudah.

Siswa itu bergeser tak nyaman di kursinya. “Aku hanya mengatakan—”

“Kau sudah bicara cukup,” potong Zahard, akhirnya menatapnya. Mata birunya tenang, sulit dibaca, tapi sesuatu di dalamnya membuat semuanya jelas—pembicaraan ini sudah selesai.

Siswa itu mengalihkan pandangan, menggumam pelan. Diskusi pun berlanjut.

Tapi Elara…

Ia hanya menatap Zahard.

Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.

Zahard Adhelard—Zahard yang dingin dan penuh perhitungan—baru saja membelanya.

Dan ia melakukannya bukan demi poin debat. Bukan karena ia harus melakukannya.

Ia melakukannya karena ia menginginkannya.

Jari-jari Elara meremas ujung sweaternya, jantungnya berdetak kencang bukan karena kemarahan.

Sementara itu, Zahard sudah kembali membaca bukunya, seolah tak terjadi apa-apa.

Seolah ia tak baru saja menghancurkan seluruh pandangan Elara tentang dirinya dalam satu kalimat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!