Sean, seorang Casanova yang mencintai kebebasan. Sean memiliki standar tinggi untuk setiap wanita yang ditidurinya. Namun, ia harus terikat pernikahan untuk sebuah warisan dari orang tuanya. Nanda Ayunda seorang gadis yatim piatu, berkulit hitam manis, dan menutup tubuhnya dengan jilbab, terpaksa menyanggupi tuntutan Sean karena ulah licik dari sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
"Kak Sean sendiri mau kemana malam-malam begini?"
Alih-alih menjawab, Nanda justru melempar pertanyaan untuk lawan bicaranya.
"Aku mau keluar," sahut Sean, "kenapa baru pulang?"
"Ah, tadi aku ke panti dulu."
Sean menganggukkan kepala, tak jadi marah. Sementara Nanda nyengir, ia tak sepenuhnya bohong, memang dia ke panti walau hanya sampai halamannya saja.
"Kakak mau keluar?"
"Aku lapar."
"Kalau lapar ya makan dong, kak." Nanda berujar seraya berjalan melewati Sean.
"Aku menunggumu," ucap Sean.
Nanda terperangah, membuat langkahnya terhenti seketika. Berbalik menatap heran pada Sean, sesuatu yang aneh lelaki ini menunggunya.
"Kak Sean menungguku?"
"Heemm." Sean mengangguk, membuat Nanda semakin terperangah.
"Cepat masak!" Perintah Sean berjalan melewati Nanda ke dapur.
Nanda mendengus, bibirnya mengerucut ke depan beberapa centi. "Jadi dia menungguku buat masak?" gerutunya ikut melangkah ke dapur.
Meletakkan tas di meja bar. Sean sudah menunggunya di sana dengan tangan bersidakep dan jaket sport yang menggantung di sana.
"Cepetan! Aku udah lapar."
Nanda berdecak kesal. "Kenapa nggak masak sendiri sih? Atau jajan di luar," omel Nanda berjalan ke arah kulkas.
"Nggak ada yang bisa dimasak!" jawab Sean terdengar ketus. Nanda menahan rasa kesal di dada, bibirnya menipis dan memejamkan mata sejenak, tangannya sudah membuka kulkas yang kosong. Ya, ia kesal melakukan hal yang sia-sia. Harusnya, Sean memberitahunya lebih awal jadi ia tak perlu membuka kulkas.
"Kalau nggak ada yang bisa di masak, ngapain nyuruh aku masak?" omel Nanda menghentakkan kaki dan menatap kesal pada Sean."Mending jajan."
Lelaki berkaus hitam itu tersenyum smirk, menengadahkan tangannya."Mana uangnya!?"
"Kok malah minta sama Nanda?"
"Kan kamu yang bilang mending jajan. Jatah jajanku habis kamu palakin!"
"Astaghfirullah," ucap Nanda mengusap dadanya sabar."Kapan aku malak?" Sergahnya tak terima.
"Seratus, dua ratus, lima puluh," ucap Sean menirukan gerakan Nanda menyentuh bagian tubuh seharga itu."Apa itu namanya kalau bukan malak?"
"Hihi..."
Nanda malah tertawa lirih.
"Dia tertawa, apa ini artinya dia sudah nggak marah lagi?" gumam Sean dalam pikirannya.
"Tapi, nggak ada yang bisa di masak. Bahan-bahan di dapur sudah habis semua," cetus Nanda membuka lemari persediaan."Mau belanja juga sudah terlalu malam. Kurasa sudah pada tutup."
Sean mendekus."Perutku minta di isi."
"Eh, ini ada tepung. Sepertinya kita bisa bikin sedikit camilan." Nanda mengeluarkan tepung dan beberapa bahan kering.
"Aku lapar, bukan butuh camilan," celetuk Sean berjalan mendekat. Tertarik juga ia dengan apa yang hendak Nanda buat.
"Hmm." Nanda memandang semua bahan kering yang berhasil ia kumpulkan di atas meja bar. Alisnya berkerut penanda ia tengah berpikir.
"Mau bikin cilok apa mie aja?"
"Cilok atau mie?" tanya Sean heran, ikut memandang bahan di meja."Memang bisa bikin mie dengan bahan-bahan ini?" Sambungnya lagi meragu.
"Bisa, dong! Mau?" Kini mata Nanda beralih pada Sean.
"Lama nggak?"
"Kalau nggak sabar, jajan aja sanalah." Dengan kesal Nanda memunggungi Sean, melipat tangan di dada dan cemberut.
"Di bilang nggak punya uang juga," gemas Sean menjitak kepala istrinya.
Nanda membalik tubuhnya, membuka mulut
"Seratus! Iya kan?" Potong Sean hingga kata-kata Nanda tertahan diujung lidahnya."Tuh, kan malak lagi!"
"Biarin! Makanya jangan asal sentuh!" omel Nanda menarik dekat tepung kanji."Jadi mau nggak nih, bikin mie nya?"
"Jadilah, orang udah laper juga."
"Biar cepet, ikut bikin ya," pinta Nanda meletakkan tepung kanji tepat di depan Sean.
"Ini mau diapain?"
"Ditakar dulu," ucap Nanda sembari memilah bahan yang akan dipakai membuat mie.
Malam itu, kedua anak manusia itu saling berbagi dapur, membuat mie berdua meski malam semakin larut.
"Abis ini diapain?" tanya Sean yang tengah menyampur adonan untuk mie.
"Langsung dicampur aja, terus diuleni."
Tanpa menoleh, Nanda menjawab. Ia sendiri sibuk mengeluarkan gilingan mie dari lemari penyimpanan.
"Udah nih!"
"Belum."
"CK! Kamu aja belum liat," protes Sean yang menguleni adonannya yang sudah mulai Kalis.
"Iya, aku tau belum," sahut Nanda membersihkan gilingan mie.
Hening dulu.
"Mal!"
"Malika!"
Nanda masih sibuk membersihkan gilingan tanpa menyahuti.
"Malika!"
Sebenarnya jengkel juga Nanda di panggil Malika, tetapi, ia menoleh juga karena Sean terus menyebut Malika.
"Apa?"
Namun ia malah terkejut dan matanya membola sempurna. Adonan mie yang sudah Kalis kini menempel di pipinya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Sean. Lelaki itu tertawa terpingkal melihat wajah Nanda dan sebagian wajahnya yang gelopotan kena adonan yang menempel.
"Ha-ha-ha"
"Hiihh!"
Geram! Nanda membalasnya dengan mengambil segenggam tepung dan menaburkan ke wajah Sean. Beruntungnya, lelaki itu bisa menghindar hingga butiran tepung itu beterbaran di udara lalu jatuh begitu saja di lantai.
"Hahaha, kamu ngapain, Mal?" ejeknya terkekeh karena Nanda tak berhasil membalas.
Mata Nanda menyipit mendang paha samping Sean hingga mengaduh dan sedikit membungkuk. Kesempatan bagi Nanda untuk menaburkan segenggam tepung ke kepala Sean. Sadar telah lengah, Sean menegakkan tubuh 189 cm nya.
"Hahaha, ngapain kamu kek!" Kini Nanda yang tertawa mengejek.
Lelaki tinggi itu membalas lagi, kali ini dengan tepung basah. Tau gelagat Sean yang hendak membalas, Nanda sudah berlari lebih dahulu. Namun, tangan panjang Sean sanggup meraih ujung jilbabnya, dan lepaslah penutup kepala gadis itu tanpa ia bermaksud begitu.
"Kak!" Protes Nanda menyembunyikan kepalanya dan berpaling.
"Sorry, aku nggak sengaja," tukas Sean melempar jilbab Nanda yang ada di tangan ke tubuh istrinya.
Dengan cepat Nanda memakai jilbabnya lagi. Menatap sengit Sean yang masih berdiri ditempatnya.
"Aku benar-benar nggak sengaja, sorry!" ucap lelaki itu mengangkat tangan.
Mau marah, tapi, Nanda tak bisa. Walau bagaimanapun Sean memang tak sengaja. Melangkah lunglai ke meja bar, dan mulai menyiapkan tempat untuknya menggulung adonan. Tanpa kata, merubah suasana menjadi canggung.
Saat Nanda membuat adonan menjadi memanjang sampai di depan Sean berdiri, lelaki itu mengikuti Nanda melumuri meja dan tangan dengan tepung. Lalu ikut membentuk adonan yang memanjang itu. Menggiling dengan tangan mengikuti gerak Nanda. Hingga tanpa sadar, gadis hitam manis itu menarik sudut bibirnya. Sean melihat ke arahnya, ikut melebarkan senyuman. Dan tau-tau sudah terkekeh bersama. Lagi-lagi lelaki bertubuh kekar itu mulai menjahil, mencolek pipi Nanda dengan tiga jari hingga tepung berpindah di sana lagi.
"Seratus!" cetus Nanda.
"Ya ampun, apa tidak ada kompen..." Mata Sean terpejam karena merasai tepung mengenai wajahnya.
"Impas!"
"Duuhh, mataku!" Reflek tangan Sean terangkat.
"Bodoh! Jangan diusap! Rata, tau!" omel Nanda menahan tangan Sean.
"Terus gimana dong Mal!? Pedih nih! Kalau sampai buta, kamu tanggung jawab."
Nanda terkikik, "menunduk dikit!" perintahnya.
Sean menurut, membungkukan badannya. Wajah Nanda mendekat dengan tangan yang masih menahan, meniup mata Sean beberapa kali. Hingga akhirnya lelaki itu membuka mata.
"Makanya, jangan jail!" omel Nanda melepas tangan Sean dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menyusupi dada. Reflek lelaki itu hampir mengusap matanya lagi, namun sudah kena tipuk Nanda.
"Bandel!"
Mie sudah selesai dibuat setelah melalui proses yang panjang. Kedua anak manusia itu duduk bersama di meja dapur. Menyantap mie yang masih mengepul uapnya.
"Enak juga ternyata, Mal," celetuk Sean yang sudah tak sabar menyantap sampai-sampai ia tak membersihkan wajah dan kepalanya yang terkena tepung tadi.
"Iya, mana pake drama lagi." Nanda pun sama, cuek saja meski wajah dan tubuhnya masih belepotan tepung.
Terkekeh bersama. Lalu menyantap mie dengan tenang.
"Kamu dari panti nggak makan?"
"Tadi udah makan."
"Kok makan lagi?"
"Abis tenaga ku," jawab Nanda enteng, membuat Sean menoleh padanya."Buat perang tepung tadi."
Sean terkekeh lagi, menggeleng dan memasukkan suapan mie terakhir.
"Besok ada les renang nggak?"
Nanda menggeleng, "kalau begitu, dengan ku saja."
"Kamu beneran nggak bisa renang?"
Sean menggeleng.
"Terus, kenapa bisa ada kolam renang di samping?"
"Pas aku membeli rumah ini sudah ada."
"Kelihatannya terawat kolamnya."
"Ya gimana? Kalau nggak, nanti banyak nyamuk dan lumut."
"Oohh." Nanda manggut-manggut.
"Mau nggak?" Sean memberi penawaran,"Aku cukup seminggu sekali saja, kalau kamu mau."
Nanda terlihat ragu.
Sean mengangkat dua jarinya. "Dua kali lipat tarif biasanya. Bagaimana?"
kok bisa ada dtempat yg sma yaaa??
apa yg akan terjadi??
lanjut thor 🙏🌹❤👍🤔🤭
sampai bikin malika kaget
🤔👍❤🌹🙏
hayooh nti terlambat loh keburu diambil irham
🤣🤣🙏🌹❤👍
mending kamu terus aja hubungan sama Irham 👍👍👍😁
🤣🙏🌹❤👍
heheee... pasti kaget lou tau 🤭🙏🌹❤👍
dah tau sean udah muak sama kamu udah dblokir pula ehhh PD bgt sok nlpon2
🤭👍🌹❤🙏