Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informan Mengerikan
Nino dan Asep melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Keduanya tetap menjaga jarak aman agar Anton tidak curiga. Keduanya menghentikan motor sekitar tiga puluh meter dari toko kue yang didatangi Anton.
Sepuluh menit berselang, Anton keluar dengan membawa dus kue di tangannya. Pria itu segera kembali ke mobil dan menjalankannya kembali. Nino dan Asep langsung mengikuti pria itu lagi.
Kali ini mobil Anton berbelok memasuki komplek perumahan. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat biru. Dari dalam rumah, keluar seorang wanita berusia pertengahan tiga puluhan. Anton turun dari mobil kemudian memberikan dus kue di tangannya seraya mencium kening wanita itu.
“Itu bininya Pak Anton kayanya,” celetuk Nino sambil terus mengawasi ke arah rumah yang didatangi Anton.
“Berarti sia-sia kita ngikutin dia.”
“Ngga apa-apa. Besok kita bisa ikutin lagi.”
“Tapi besok kan kita ada jadwal kuliah.”
“Pulang kuliah aja. itu juga kalau Pak Anton belum keluar dari kampus.”
“Kumaha isukan we lah. Hayulah balik (Gimana besok aja. Ayo pulang).”
Asep dan Nino memutar kendaraan roda duanya dan berlalu dari sana. keduanya langsung pulang ke kost-annya.
Baru saja keduanya memasuki kost-an, mereka sudah melihat Eris berdiri di depan pintu kamar Nino. Mereka segera masuk ke kamar Nino. Pasti ada yang hendak dibicarakan oleh Eris. Semoga saja hantu wanita itu punya ide untuk menemukan mayat Maya yang dikubur Anton.
“Bantuan apa yang diminta Maya sama kalian?” tanya Eris begitu Asep dan Nino sudah berada di kamar.
“Dia minta kita nyari di mana Pak Anton ngubur mayatnya.”
“Lieur kan? Polisi lain, kalah dititah neangan kuburan si Markonah (Pusing kan? Polisi bukan, malah disuruh nyari kuburan si Markonah),” kesal Asep.
“Sudah ku bilang, kemampuan yang kalian miliki bukan untuk menakuti kalian, tapi untuk membantu arwah penasaran.”
“Ya tapi kan kita bukan polisi. Kalau kita mau lapor, buktinya ngga ada. Gimana coba?”
“Kalian kan cuma diminta cari di mana Maya dikubur kan? Bukan nangkap pelakunya. Kalau kalian menemukan mayatnya, polisi otomatis akan terlibat.”
“Iya juga sih. Tapi gimana caranya cari mayatnya Maya?”
“Coba kamu datangi TKP. Aku yakin banyak makhluk astral yang tinggal di sana. Kalian bisa gali informasi dari mereka.”
“Eh buset, belum juga nanya, udah ngacir duluan kita. Penampakan mereka serem-serem.”
“Tapi itu cara tercepat.”
Nino dan Asep saling berpandangan. Ide yang dilontarkan Eris cukup masuk akal. Tapi butuh keberanian lebih untuk melakukan itu.
***
Selesai kuliah, Nino dan Asep kembali berdiskusi. Waktu sudah sore dan ternyata Anton sudah pergi dari kampus.
“Ayeuna kumaha? (Sekarang gimana?).”
“Pak Anton udah pulang lagi. Kalau kita ikutin saran Eris gimana?”
“Yakin? Maneh teu sieun kitu? (Lo ngga takut gitu?)”
“Ya takut lah. Tapi kasihan juga si Maya kalau mayatnya ngga ditemuin. Dia bisa gentayangan terus. Pak Anton juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ngga adil aja kan kalau dia bebas. Dia udah bunuh dua nyawa loh.”
“Nya nggeus atuh, urang ka apartemen deui.”
Walau mearsa takut, akhirnya Asep mengiyakan ajakan Nino pergi ke apartemen. Menggunakan sepeda motor masing-masing, keduanya kembali menuju apartemen Grand Harmony.
Sesampainya di sana, Asep dan Nino kembali kebingungan. Bagaimana caranya mereka naik ke lantai sembilan. Tapi sepertinya keberuntungan sedang memayungi mereka. Keduanya melihat salah satu penghuni apartemen memasuki lift. Sepertinya dia hendak kembali ke unitnya. Secepatnya Nino dan Asep menyusul masuk.
“Teh.. kita mau ke lantai sembilan, tapi teman kita ditelepon ngga diangkat. Bisa minta tolong ya teh.”
“Oke.”
Wanita itu segera memijit angka 6 dan 9 setelah menempelkan kartu akses. Pintu lift segera menutup dan kotak besi tersebut mulai bergerak naik.
Ketika lift sampai di lantai 6, wanita itu keluar lebih dulu. Sementara Nino dan Asep tetap berada di lift. Kotak besi itu kembali naik hingga akhirnya berhenti di lantai sembilan.
Ketika keduanya keluar dari lift, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Koridor lantai sembilan ini sangat sepi. Seketika ketakutan merayapi keduanya.
“Kumaha lanjut?” tanya Asep.
“Ayolah.”
Keduanya berjalan melewati unit demi unit, kemudian mereka berhenti di depan unit 911. Nino memijit bel, memastikan kalau unit tersebut berpenghuni atau tidak. Mereka terkejut ketika tiba-tiba pintu terbuka. Dari dalam muncul seorang pria.
“Kalian cari siapa?” tanya pria itu karena tidak mengenali Asep dan Nino.
“Eung.. kita cari Pak Anton. Kita mahasiswanya, mau bimbingan. Kita ke rumahnya ngga ada, makanya kita ke sini,” Nino memberikan jawaban asalnya.
“Pak Anton sudah tidak tinggal di sini lagi. Kemarin saya sudah take over sewa unit ini.”
“Ooh begitu. Makasih, Pak. Maaf sudah mengganggu.”
“Tidak apa.”
Pria itu segera menutup pintu. Sementara Asep dan Nino langsung menjauh dari unit tersebut. keduanya berhenti di tengah-tengah koridor.
“Wah Pak Anton udah ngga nyewa unit itu lagi.”
“Pinter oge. Rek menghilangkan jejak jigana.”
“Kayanya.”
“Terus ayeuna kumaha?”
“Cari informan.”
“Tapi euweuh nu nangkring di dieu. Balik we lah. Mending urang nuturkeun Pak Anton deui (Tapi ngga ada yang nangkring di sini. Pulang ajalah. Mending kita ikutin Pak Anton lagi.”
Nino menyetujui usulan Asep. Lagi pula dia juga belum berani kalau harus berhadapan dengan makhluk astral. Keduanya bergegas menuju lift.
Cukup lama juga mereka menunggu lift sampai di lantai sembilan. Hampir sepuluh menit lamanya. Begitu lift sampai dan pintu terbuka, Nino dan Asep segera masuk ke dalamnya. Nino segera memijit lantai dasar dan lift bergerak turun.
Baru saja lift melewati lantai lima, tiba-tiba saja lampu di dalam lift berkedip-kedip. Nino dan Asep saling berpandangan. Tiba-tiba saja mereka merasakan aura menyeramkan menyelimuti lift ini. Mata Nino tanpa sengaja menangkap sosok menakutkan berdiri di bagian sudut di belakangnya. Nino menarik tangan Asep seraya beringsut mundur.
“Sep.. Sep..” panggil Nino dengan suara tercekat.
“Naon?”
“Itu, lo lihat ngga yang di belakang gue?” tanya Nino pelan.
“Nyaho urang. Api-api teu ningali we (Tahu gue. Pura-pura ngga lihat aja).”
Tujuan awal mereka ingin mencari informasi dari penunggu apartemen ini seketika buyar ketika berhadapan langsung dengan makhluk halus tersebut. Yang ada dalam pikiran mereka adalah secepatnya keluar dari lift ini.
Perlahan namun pasti, Asep dan Nino bergeser menjauh. Keduanya semakin mendekati pintu lift. Jantung Nino seakan berhenti ketika sosok di belakangnya ikut bergerak. Pemuda itu menutup matanya karena terlalu takut melihat penampakan di dekatnya.
Asep yang sedari tadi hanya menunduk, refleks mengangkat kepalanya ketika dia melihat kaki lain sejajar dengan mereka sekarang. Ternyata makhluk itu sekarang sudah berdiri sejajar dengan mereka. Bisa Asep lihat dengan jelas penampakan makhluk itu. Sebelah anggota tubuhnya terluka dan penuh dengan darah.
“Astaghfirullah!”
Asep berteriak kencang ketika makhluk itu melihat padanya. Sebelah mata makhluk itu menggantung sampai ke tengah wajah. Mendengar suara Asep, Nino membuka matanya. Pemuda itu tak bisa menahan ketakutannya lagi begitu melihat wajah menyeramkan makhluk di sampingnya.
“AAAAAAA!!”
Kompak keduanya berteriak kencang sambil berpelukan. Tubuh mereka merapat ke dekat panel lift karena makhluk itu malah mendekati mereka. Sambil berpelukan dan menutup mata, keduanya membacakan ayat kursi dan surat lain.
Perjalanan lift yang tadi rasa singkat, sekarang terasa lebih lama. Keduanya terus membacakan surat yang diyakini bisa mengusir makhluk halus sambil terus berpelukan. Keduanya baru membuka mata ketika mendengar dentingan lift.
Begitu membuka mata, ternyata makhluk itu sudah tidak ada lagi. secepat kilat keduanya segera keluar dari dalam lift. Sambil berlari, mereka keluar dari gedung apartemen tersebut dan langsung menuju parkiran.
“Jiirr.. serem banget sumpah. Mana berani gue tanya-tanya kalau penampakannya kaya gitu,” gerutu Nino sesampainya mereka di parkiran.
“Ceuk urang oge, teu kudu lah nurutan idena si Eris. Mending make cara awal we, leuwih aman (Kata gue juga, ngga usah lah ikutin idenya Eris. Mending pakai cara awal aja, lebih aman)”
“Iyalah, besok kita ikutin Pak Anton lagi.”
Keduanya sepakat untuk menggunakan cara awal, yakni mengikuti Anton. Setidaknya cara itu lebih aman dari pada harus berhadapan dengan informan mengerikan. Dapat informasi tidak, bisa-bisa keduanya terkena serangan jantung.
Bergegas mereka menuju motor masing-masing. Nino keluar dari barisan parkiran lebih dulu, disusul oleh Asep. Setelah menyalakan mesin, Asep segera menjalankan kendaraannya. Namun pemuda itu tidak bisa melajukan motornya. Seperti ada yang tengah menahan motornya.
Asep menoleh ke belakang untuk melihat apa yang menahan motornya. Pria itu terkejut saat melihat penampakan yang dilihatnya tadi di lift tengah menahan motornya.
“AAAAAAA!!!”
***
Nih detektif Upin Ipin kebanyakan teriak😂
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/