Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Asal Kau Bahagia
Wajah Vania nampak murka mendengar ancaman Sam. "Kau---"
"Apa sulitnya bagimu, memenuhi permintaanku? Saat ini aku sakit, aku ingin bermanja denganmu, aku hanya ingin dirimu," sela Sam.
Sam menarik napasnya begitu dalam. "Kau tidak mau punya anak. Aku rela, walau aku sangat menginginkan anak darimu. Bukan hanya aku yang sedih kamu tidak mau hamil. Nenek, ibu, mereka juga sedih. Tapi, kami sayang padamu. Kami rela menahan kesedihan, asal kau bahagia. Apa ini masih kurang?"
Vania mematung, dia bingung harus berkata apa lagi. Banyak kata yang ingin dia ucap. Namun, tertahan di tenggorokkannya.
"Kalau kau memilihku, vakum sebentar, hanya sebentar, bukan selamanya, ku mohon …." Pinta Sam.
Sam bangkit dari posisinya, dia berjalan mendekati Vania, memeluk istri tercintanya dari belakang. "Dari awal kita bersama, aku butuh kamu sayang …." Ucap Sam.
"Bisakah aku pergi, untuk bertemu dengan manajemenku? Banyak orang yang terikat dengan pekerjaanku," pinta Vania.
"Boleh, tapi …." Sam mendalami maksudnya. Tangannya mulai menelusup kebagian dalam, hingga bisa menyentuh bagian yang selalu membuat Sam mabuk.
Vania pun melakukan keahliannya Hingga Sam tak berkutik karena keahliannya itu.
******
Selesai berpetualang bersama, Sam tertidur pulas. Sedang Vania langsung bangun, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Vania keluar dari kamar mandi, Sam masih lelap dalam tidurnya. Vania terus bersiap untuk pergi.
Tokkk tok tok!
Suara ketukan pintu, memaksa Vania berhenti dari aktivitasnya bersama produk kecantikan. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu. Saat Vania membuka pintu, tampak Ramida berdiri di depannya.
"Ibu," sapa Vania.
"Hai sayang, kapan pulang?" Sapa Ramida balik.
"Gak lama kok bu, masuk bu."
"Oh tidak perlu, ibu cuma mau lihat keadaan Sam."
"Dia tidur bu," ucap Vania.
"Ya sudah, biarkan dia tidur."
"Bu, aku izin pergi sebentar, sebenarnya sudah izin sam Sam, tapi takutnya dia cariin aku."
Wajah Ramida datar, dia hanya menganggukkan kepalanya, dan segera pergi dari tempatnya berdiri saat ini. Melihat mertuanya pergi, Vania meneruskan kembali kegiatannya yang tertunda. Selesai dengan dandanannya, Sam belum juga terbangun. Vania mendekati Sam, dan mendaratkan ciumannya di alis Sam. Dia segera keluar dari kamar.
Setelah sampai di bawah, di ruang tamu, terlihat Mawan dan Tony. Vania mendekat kearah Mawan dan Tony. "Salah satu dari kalian ada yang bisa mengantarku? Aku ingin ambil mobil di Rumah Production ku," ucap Vania.
"Kalau kamu mau pergi, sama mang Dodo aja, Mawan dan Tony, akan melanjutkan tugasku," sela Ramida.
"Oh, mang Dodo sudah kembali? Hem, ya sudah aku minta antar mang Dodo aja." Vania berjalan begitu santai meninggalkan mereka semua.
Ramida menggeleng, melihat Vania yang terus pergi dengan mudahnya. Tanpa memikirkan suaminya yang tengah sakit. "Ckckck! Apakah dia manusia?" Gerutu Ramida.
"Bukan! Sepertinya di boneka s**s Tuan Sam," jawab Mawan, dengan entengnya.
Ramida menatap tajam pada Mawan. Membuat Mawan takut, bagaimanapun Vania menantu keluarga Ozage. "Maaf Nyonya, bukan maksud saya--"
"Aku juga berpikir demikian!" Sela Ramida.
Mendengar perkataan Ramida, Mawan merasa lega, dia menghempaskan napasnya begitu lega.
"Aku tidak bisa ikut pertemuan yang sudah di jadwalkan, kalian berdua pergilah, sebagai perwakilanku, aku tidak bisa meninggalkan Sam sendiri," ucap Ramida.
"Baik, Nyonya, kami permisi," ucap Tony. Dia dan Mawan segera pergi dari rumah besar, keluarga Ozage.
Ramida menoleh kearah kepala keamanan yang selalu gentayangan di kediaman Ozage. "Pak Bim, tolong suruh satu pelayan laki-laki, bertugas di depan kamar Sam." Pinta Ramida.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, dia segera meraih ponselnya, dan memberi perintah dari benda pipih persegi itu.
Ramida merasa tugasnya di rumah saat ini selesai, dia melangkahkan kaki menuju kamarnya, untuk merehatkan otaknya. Kelakuan Vania sungguh membuat otak dan pikirannya lelah.
******
Sesampai di kantor, Rumah Production, yang menaunginya. Vania segera melangkahkan kakinya, memasuki kantor itu, tanpa basa-basi, dia terus melangkah menuju ruang kerja managernya, Arini. Pintu ruang kerja nampak sedikit terbuka, samar terdengar suara dua orang bicara dari dalam ruangan itu.
"Sekarang deal ya, tidak ada saling tuntut, karena pemutusan kerja sama kita."
Vania tidak asing dengan suara itu, dia batal masuk kedalam ruangan itu, dia memilih mematung di depan pintu sambil menguping.
"Iya Pak, mohon maaf ya, bukan hanya kerjasama dengan bapak yang kami putus," ucapan Arini jelas terdengar.
"Justru saya sangat merasa di untungkan, berkat keputusan Tuan Sam, melarang kami kontrak kerjasama dengan istrinya dalam beberapa bulan kedepan, jujur ini sangan menguntungkan saya. Masyarakat mulai bosan dengan Vania. Tapi, apa daya kami, kami takut jika melewati Vania. Sebab itu tawaran pertama selalu datang pada nona Vania, karena pengaruh iklan yang besar dari Tuan Sam."
Vania merasa sesak mendengar perkataan laki-laki itu barusan. Namun, dia tetap bertahan untuk menguping pembicaraan mereka.
"Boleh kami tau, apa yang membuat netizen, masyarakat dan lainnya, bosan pada Vania?" Tanya Arini.
"Bukan bermaksud apa-apa Pak. Setidaknya kami bisa berkreasi dan mengembangkan ide lagi, untuk karir Vania," sambung Arini.
"Tidak ada, mereka hanya bosan setiap waktu melihat Vania dan Vania terus, sampai ada yang berkata, apa tidak ada artis lain, selain Vania. Sekarang, pinta saja Vania istirahat, biar publik menikmati hiburan baru, sesekali pinta Vania unggah kehidupan pribadinya saat dia vakum. Setidaknya nanti banyak publik yang merindukan Vania."
"Baik Pak, terima kasih sarannya. Akan saya bicarakan nanti dengan Vania," ucap Arini.
"Satu lagi, andai ada hal baru dalam kehidupan Vania, maka media akan memburunya, pastikan hal itu positif."
"Iya Pak," jawab Arini.
"Senang bekerjasama dengan Anda, saya izin pamit."
Mendengar suara langkah kaki dari dalam, Vania langsung mundur dari tempatnya berdiri saat ini.
"Hai pak Soryo?" Sapa Vania, saat melihat dua orang keluar dari ruang kerja Arini.
"Vania, maaf saya datang untuk menyelesaikan kontrak kita yang gak bisa lanjut," seru Soryo.
"Bagus Pak, saya juga minta maaf, ini permintaan suami saya, saya harus Vakum dulu," ucap Vania.
"Oh, hal itu? Saya kira kalian program hamil," ucap Soryo.
Vania tertawa, mendengar ucapan Soryo.
"Ya sudah, saya izin permisi dulu, semua sudah saya selesaikan dengan Manager Anda, mbak Arini," ucap Suryo.
Vania terus memasang senyuman di wajahnya, walau di dalam sana remuk berkeping-keping, karena dia harus istirahat dari dunia Entertaiment, dunia yang sangat dia cinta. Tanpa ancaman Sam pun, dia tetap harus istirahat. Melihat Suryo pergi, Vania langsung masuk keruang kerja Arini. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada dalam ruangan itu.
Arini mengikuti Vania, dia menutup pintu lebih dulu, lalu dia duduk di samping Vania. Dia memandangi Vania yang nampak gusar. "Ada apa, Vania?"
"Nanaz mana?" Tanya Vania.
"Di ruangan kamu, ku suruh dia merapikan barang-barang kamu, di pastikan selama dua bulan kedepan kamu tidak ada job."
"Ternyata, tawaran yang datang padaku, bukan karena bakatku. Tapi, mereka takut pada Sam."
"Kau memang berbakat, hanya saja, beberapa orang bosan, karena melihat dirimu setiap saat, di cetak, online, dan di televisi, saatnya kamu istirahat, fokus sama keluarga, kamu ini beruntung Vania."
"Beruntung kenapa?"
"Beruntung, karena Sam, tidak pernah masalah, padahal sering kau tinggal. Tapi, dia tetap setia, bayangkan … kalau laki-laki lain, mungkin mereka sudah punya selingkuhan."
"Sam tidak bisa berpaling dariku, karena aku membuatnya tidak berkutik!" Seru Vania, dengan begitu percaya diri.
"Kamu salah, Sam setia karena dia cinta padamu."
"Jangan-jangan kamu ini sodaraan sama pelayan nenek, Sam. Perkataan kalian itu sama!" Gerutu Vania.
"Jena?"
"Bukan, pelayan kedua nenek, Resa namanya."
Bibir Arini tampak membulat, "owh ...." suara yang lolos dari bibirnya.
"Kalian harus berkenalan nanti, jangan-jangan salah satu dari kalian adalah putri yang hilang," seru Vania.
"Bukan masalah saudara atau tidaknya. Perkataan kami sama, karena rasa cinta dan sayang kami padamu yang sama."
Vania nampak cuek, dia tersenyum sambil menautkan kedua alisnya.
"Vania … kamu sudah sangat beruntung, dari debu jalanan, kamu di angkat jadi permaisuri, ayolah Vania, balas rasa cinta dan kasih sayang mereka padamu. Suatu saat rasa cinta itu pudar, kalau Sam hanya berjuang sendirian. Vania, penyesalanmu akan datang, ketika saat Sam sudah tidak cinta lagi padamu."
"Sam tidak akan pernah bisa berhenti mencintaiku." Dengan seringai penuh bagga Vania mengucapkannya.
"Kapan otakmu sadar Vania, Sam setia bukan karena benda yang terletak di celah pahamu atau kecantikkanmu, sadari itu Vania." Arini mulai geram dengan mahkluk yang satu ini.
"Sudahlah, aku mau pulang, mana kunci mobilku?"
Arini menghembuskan napasnya begitu kasar, dia melangkah menuju tempat di mana dia menaruh kunci mobil Vania, dia mengambilnya dan meyerahkan pada Vania. "Selamat libur panjang!" Serunya.
Vania mengambil kunci mobilnya yang di berikan Arini dia segera keluar dari ruangan Arini.
****
Bersambung ....
****
Akhirnya .... karya ini dapat level karya. Terima kasih semuanya 🥰🥰🥰🥰
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja