Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.
Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.
Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.
Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Rinjani
Adeline sampai terperangah mendengar penuturan Rinjani. Ia melongo dan menatap Rinjani dengan kaget.
“... Kamu... apa?!”
Rinjani menghela nafas berat. “Aku tahu, Ade, aku tahuuuu, ini tidak seharusnya. Tapi aku merasa saat aku melihat kakakku, aku deg-degan dan selalu ingin di sampingnya. Aku bahkan mulai membayangkan yang tidak-tidak bersamanya.”
“Membayangkan... what the Eeeeffff...” keluh Adeline sambil mengerang. “Rinjani kamu ini wanita terhormat sistaaaa...”
“Aku tahuuuu, gimana niiih! Aku ketakutan, bantuin dooong!” Rinjani mengguncang-guncangkan tubuh Adeline
“Kenapa kamu harus bilang beginian ke akuuuu!” erang Adeline sambil menelungkupkan wajahnya ke atas kasur di sebelah Rinjani.
“Habisnya ke siapa lagi? Aku takut bilang ke siapa pun, mulut mereka suka berkoar tak jelas. Sementara kamu... yah, kalau kamu kan tidak bergosip.”
“Aku tidak bergosip karena tidak ada yang mau dekat-dekat denganku, aku dianggap rival oleh sebagian besar wanita di sini.”
“Kamu bukan rivalku karena sangat jelas sekali kalau Kak Argan membencimu.” Kata Rinjani sambil tersenyum prihatin
“Kakakmu itu, ingin sekali aku membunuhnya.” Gumam Adeline. Dan sebenarnya kata-katanya ini bersungguh-sungguh. Bagusnya, Rinjani menangkapnya dalam arti kiasan. Toh, Adeline memang ada di sini untuk membunuh Argan.
“Jangan dong... aku bisa ikut bunuh diri kalau itu sampai terjadi.”
“Kamu membuatku berada dalam posisi sulit bestie! Itu namanya in ses! Tidak seharusnya terjadi! Bagaimana bisa kamu merasa... Ya Tuhanku jatuh cinta ke kakak kandungmu sendiri itu loh!!” desis Adeline sambil mengatupkan giginya karena geram dan menjaga agar nada suaranya tidak meninggi. Karena hal ini memang rahasia.
Jangan sampai ada yang tahu atau nama baik keluarga ini jadi jelek.
Kalau jadi jelek, mereka akan bangkrut.
Kalau bangkrut sebelum Adeline mengambil apa pun dari sini, itu berarti dia akan ikutan bangkrut. Karena sudah pasti kurator akan datang dan mendata semua harta sampai yang sekecil-kecilnya, dari mulai lukisan mahal sampai keset lantai. sehingga Adeline tidak akan kebagian apa pun. Semua aset akan diklaim Bank.
Karena tidak mungkin ada konglomerat yang tidak berhutang ke Bank.
“Ini adalah perasaan yang tidak bisa kutahan, Ade. Timbul dengan sendirinya...” Rinjani menggenggam kedua tangannya yang dingin sambil berjalan mondar-mandir.
“Bagaimana bisa ini terjadi? Sejak kapan Rin?” desis Adeline sambil memijat dahinya.
“Aku merasa... sejak Kakakku kembali dari Hong Kong, dia bukan kakakku. Kamu tahu kan kalau kami terakhir bertemu saat usiaku 10 tahun, saat ia belum ditugaskan ke Papua. Malah sebelum itu, kami memang jarang bertemu karena tugasnya. Tapi ada perasaan tidak biasa saat ia kembali dan memimpin perusahaan Ayah,”
“Tidak biasa bagaimana?” Adeline masih memijat kepalanya, Rasanya perutnya mual. Ia sekuat tenaga menahan muntahnya tersembur keluar.
Kalau secara fisik sih Argan dan Rinjani ini cocok-cocok saja. Pria kekar tinggi besar yang jutek dan gadis lemah lembut yang selalu gugup.
Tapi tetap saja, mereka adik-kakak. Dan ini berarti... tragedi.
“Caranya memperhatikanku. Caranya memperlakukanku. Lembut sekali. Ia tidak menghakimiku, tidak mengomeliku. Intinya perlakuannya berbeda sekali. Kupikir tadinya karena aku sekarang sakit sehingga sikapnya padaku mulai berubah. Tapi ternyata aku malah...”
“Kamu malah baper.”
“Aku dari dulu dilarang sembarangan kenal cowok.”
“Dilarang sama siapa?”
“Ayah dan kakak.”
“Hah...?”
“Kakak dulu walau pun dia di Papua, dia masih bisa mengomeliku dari telepon.”
“Dan sekarang dia baik padamu.”
“Ya, sekarang baiknya malah ‘keterlaluan’.”
“Rinjani... kamu nggak mikir kalau ini hanya kamuflasenya. Aku yakin banget kakak kamu itu sebenarnya Cowok paling jahat di muka bumi.”
“Kamuflase bagaimana maksudmu?”
“Iya dia berlaku baik padamu karena dia ingin kamu melemahkan antipatimu padanya, biar kamu bisa ditekan serendah-rendahnya.”
“Ah masa sih.”
“Pria suka kalau wanita bertekuk lutut. Kakakmu kan Patriarki.”
“Hm... kakakku yang dulu patriarki. Tapi yang sekarang... entahlah.” Rinjani memiringkan kepalanya sambil berkacak pinggang. Dahinya berkerut mengingat masa lalunya bersama Sang Kakak. “Dia pernah sukarela menggendongku dari ruang tamu ke kamar. Dan tidak membiarkan siapa pun menyentuhku selain dirinya, waktu itu aku pura-pura pingsan.”
“Memangnya dulu bagaimana?”
“Dulu, kalau aku pura-pura pingsan, kakakku selalu bilang, dasar caper. Berdiri sendiri sana.”
“Ya dia kan benar... aku saja langsung tahu kalau kamu pura-pura anemia.”
“Kalau tidak begitu, aku tidak akan dapat semua yang kuinginkan dari ayah. Kakak punya segalanya, wajah yang tampan, tubuh kuat dan otak yang cerdas. Dia sangat cocok jadi pewaris. Kalau aku bagaimana? Yang kupunya hanya... “ Rinjani melayangkan kedua tangannya ke udara, “Nama belakang Atmorajasa.”
“Literally nothing.” Gumam Adeline.
“Kamu benar.”
Adeline menggelengkan kepalanya.
DI satu sisi ia merasa kalau Rinjani ini cewek nggak guna, tapi di sisi lain ia malah kasihan sama kehidupan Rinjani. Saking hausnya perhatian malah pura-pura sakit, tapi di lain pihak dia begitu ceroboh tidak riset dulu mengenai sakitnya.
“Dari semua cowok di dunia, kenapa kamu malah memilih kakakmu sendiri. Padahal di sebelahnya ada Dewa si Bodyguard seksi.” Gumam Adeline.
“Aku... takut sama Dewa.”
“Hah?!”
“Aku takut. Sama Si Dewa.” Rinjani mencibir sambil bergidik.
“Kau takut sama... cowok ganteng sejagad itu?” Rasanya Adeline tak percaya pendengarannya sendiri.
“Iya. Cara dia melihatku seperti... sedang menyelidik.”
“Heh?”
“Seperti menghakimiku.”
“Menghakimi?”
“Iya seperti dia tahu segalanya tentangku. Kamu percaya nggak, waktu aku pingsan karena dilarangnya aku ke mall sendirian, dia malah bilang ‘berdiri sendiri ya Non, saya bodyguard Pak Argan bukan anda. Lagian kalau pingsan, seharusnya saya dengar bunyi kepala Anda terjedot lantai.”
Adeline terpekik tak percaya. “Kurang ajar buanget si seksi itu!” Lalu Adeline menoleh dengan mengernyit ke arah Rinjani. “Tapi seharusnya cara kamu jatuh tuh bisa lebih meyakinkan lagi dong. Si Seksi itu benar. Jangan tersinggung.”
“Cewek lain bilang dia seksi dan smart, bagiku dia adalah mimpi buruk, Ade!” seru Rinjani. “Dia melarangku ini-itu, dia nggak mempan kubohongi, dia bahkan menyita kartu debitku katanya aku sudah cukup berbelanja bulan ini jangan menuh-menuhi rumah dengan barang nggak guna. Percaya nggak?!”
“Beuh...” gumam Adeline.
Ini sebenarnya ada keganjilan.
Adeline merasakannya, tapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
“Tapi si Argan nggak protes, membelamu begitu?”
“Tidak. Kak Argan hanya bilang ‘turuti saja Dewa, dia begitu demi Kebaikan kamu'. Hah!!” dengus Rinjani kesal.
Yah sebenarnya Adeline setuju dengan Dewa. Kalau Adeline memiliki adik seperti Rinjani, yang manja dan manipulatif, sudah pasti ia akan cerewet. Tapi Dewa kan bukan siap-siapanya. Bukan Hak pria itu melarang Rinjani berbuat ini-itu. Di lain pihak Argan memberikan otorita tak terbatas untuk Dewa mengatur semua di rumah ini.
Aneh bukan?
Lagi pula, suatu kerugian bagi Adeline kalau Rinjani tidak bisa berbelanja lagi. Saking buaaaaanyaknya barang branded berharganya, tersebar di sudut-sudut rumah ini, semakin Rinjani tidak menyadari kalau Adeline mengambilnya satu persatu.
Tapi kalau dilarang-larang, Rinjani pasti akan bertahan dengan yang ada, dan akan concern kalau ada barang miliknya yang hilang.
Bukan hal yang bagus untuk misi Adeline.
“Oke, kesampingkan urusan Dewa ini.” Kata Adeline sambil mengibaskan tangannya ke samping. “Untuk urusan cintamu. Aku perlu mengamati lebih dalam apakah Argan membalas perasaanmu. Kalau hanya kamu yang suka padanya sementara Argan melakukan semuanya secara otomatis, kamu harus melupakannya. Itu hanya karena kamu kesepian. Aku akan mengajakmu keluar ke club untuk party. Tapi kalau perasaanmu terbalas dengan arti Argan juga suka padamu sebagai Pria dan Wanita, maka... weleh...”
“Weleh gimana?”
“Kalian harus cukup hanya dengan saling menyayangi. Kamu harus dioperasi untuk disteril permanen, biar nggak bisa hamil.”
“Ih Ade gimana sih! Sampai operasi segala, takut ih.”
“Memangnya kalian bisa saling mencintai tanpa melakukan adegan itu? Kuyakin sih nggak yah! Apalagi itu hubungan terlarang! Argh!! Aku benci menyarankan hal ini. Semua ini salah tahu nggak? Tapi kita udah berteman jadi aku harus memihakmu padahal aku nggak ingin memihakmu!” keluh Adeline frustasi.
“Ya maaf. Aku sedikit lega sih sekarang. Akhirnya ada teman bicara... hehe.”
“Aku nggak lega, kamu nambah-nambahi masalahku saja!”
“Kamu bisa lah ambil beberapa tasku sebagai kompensasi.” Seringai Rinjani.
“Setuju!!” seru Adeline cepat, langsung, tegas, tanpa ragu.
Itu berarti dia tidak harus mencuri, Rinjani memberikannya secara sukarela.
Yess!!
Dia langsung berlari ke arah closet Rinjani, sibuk milih-milih Tas.
Sementara,
Rinjani hanya berbaring di ranjangnya dengan perasaan puas. Tak ia sangka bicara dengan seseorang yang bisa dipercaya dampaknya bisa membuatnya lega tak terkira. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri, harus bersosialisasi.
Ia pun memejamkan matanya sambil membayangkan Argan.
gasss🔥🔥🔥🔥👌