Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.Keputusan Seorang Ayah
"Kalau begitu... soal kontrak dengan Bryan ini, Papa memutuskan..."
Rahardja berhenti sejenak. Tatapannya menyapu wajah ketiga perempuan di hadapannya.
"...kontrak ini dibatalkan."
Saras spontan mengangkat kepala. "Pa!"
"Besok pagi Papa sendiri yang akan memerintahkan tim legal mengirimkan surat pembatalan sekaligus pemberitahuan resmi kepada pihak Bryan," putus Rahardja.
"Tapi, Pa..." suara Saras mulai bergetar. "Kalau dibatalkan sekarang, perusahaan bisa kehilangan investasi miliaran."
Rahardja menggeleng pelan. "Perusahaan masih bisa mencari investor lain."
Sorot matanya berubah tegas. "Tapi Papa tidak bisa mencari anak lain."
Ranti perlahan menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat suaminya.
Rahardja melanjutkan. "Kalau sebuah investasi mengharuskan keluargaku berada dalam posisi yang bisa dimanfaatkan, berarti investasi itu sejak awal tidak layak dipertahankan."
Chantika mengangguk pelan. Sebagai penyidik, ia setuju dengan keputusan itu.
Rahardja kembali menatap Saras. "Mulai besok, kamu gak perlu lagi berhubungan dengan Bryan." "Semua komunikasi akan diambil alih oleh tim legal perusahaan."
Saras mengepalkan kedua tangannya. "Tapi Bryan pasti marah, Pa."
"Biarkan." Nada suara Rahardja tetap tenang. "Kalau dia benar-benar investor profesional, dia akan menghormati prosedur perusahaan."
Rahardja berhenti sejenak. "Kalau dia menolak..." Tatapannya perlahan mengeras. "...berarti sejak awal dia memang tidak pernah datang untuk berinvestasi."
Tiga perempuan itu terdiam.
Beberapa detik kemudian, Rahardja kembali membuka suara. "Dan ada satu keputusan lagi."
Perhatian ketiganya kembali pada pria paruh baya itu.
"Mulai malam ini, tidak seorang pun di keluarga ini boleh menemui Bryan sendirian." Matanya bergantian mengarah kepada Saras dan Chantika. "Kalau memang ada urusan dengan dia, harus didampingi tim legal atau pihak perusahaan."
Rahardja lalu menatap putri bungsunya lebih lama. "Termasuk kamu, Saras."
Air mata Saras akhirnya jatuh. Ia tahu... Keputusan itu bukan karena ayahnya tidak lagi mempercayainya. Melainkan karena ayahnya sedang berusaha melindunginya.
Namun jauh di lubuk hatinya, rasa bersalah justru semakin menghimpit.
"Kalau Papa tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu..." Saras menggigit bibirnya kuat-kuat. "Apa Papa masih bisa memandangku kayak sekarang?"
"Itu keputusan Papa soal kontrak investasi." Rahardja berhenti sejenak. "Sekarang... Papa ingin membicarakan hal lain."
Tatapannya beralih kepada Saras. "Soal kenapa kamu ninggalin kakakmu di kamar Bryan."
Deg.
Jantung Saras seakan berhenti berdetak. Ia menelan ludah kasar, tetapi berusaha tetap tenang.
"Kak Chantika tadi udah jelasin, Pa. Aku keluar karena Bryan nyuruh aku ngambil berkas."
"Papa tahu." Rahardja mengangguk pelan. "Lalu kenapa kamu justru menyerahkan kunci kepada seorang pria di lobby?"
Saras terdiam.
"Setelah itu kamu meninggalkan hotel menggunakan mobilmu sendiri," lanjut Rahardja. "Beberapa menit kemudian kamu balik lagi ke hotel dan minta pihak keamanan bantu nyari Chantika."
Rahardja menatap putrinya lurus. "Kenapa kamu tiba-tiba mencarinya?"
Saras buru-buru menjawab. "Karena aku telepon Kak Chantika, tapi ponselnya gak aktif. Aku lalu menghubungi Bryan. Bryan bilang Kak Chantika udah keluar dari kamarnya. Aku bingung harus cari ke mana, jadi aku minta bantuan petugas hotel."
Rahardja tidak langsung menanggapi. Ia hanya menoleh kepada Chantika.
Chantika memahami maksud ayahnya. "Dari rekaman CCTV dan keterangan petugas hotel, petugas keamanan sedang membantumu mencariku. Tapi beberapa menit kemudian kamu malah ke kamar Bryan sampai pagi dan gak nyari aku lagi."
Saras membeku.
Chantika melanjutkan, "Padahal beberapa menit sebelumnya kamu ngaku panik karena gak bisa menghubungiku. Tapi kamu malah minum sama Bryan hingga mabuk dan tidur sampai pagi."
Chantika menatap adiknya tanpa berkedip. "Mana yang benar, Saras?"
Saras membuka mulut. Namun beberapa detik ia tidak mengucapkan apa pun.
"Aku..." suaranya terdengar pelan. "Aku memang panik."
Ia menarik napas panjang. "Tapi Bryan bilang Kak Chantika udah pulang. Dia bilang petugas hotel juga udah nyari. Aku pikir... mungkin Kak Chantika memang udah lebih dulu pergi dari hotel."
Chantika tidak langsung menyela. "Lalu?"
Saras menundukkan kepala. "Aku capek. Bryan bilang besok aja lanjut nyarinya. Dia nawarin minum supaya aku lebih tenang. Aku gak sadar kalau ternyata aku kebanyakan minum."
Ia mengepalkan kedua tangannya. "Waktu bangun... sudah pagi."
Chantika mengamatinya beberapa saat. "Jadi menurutmu... setelah yakin aku menghilang, keputusan terbaik yang kamu ambil adalah tetap berada di kamar Bryan?"
Saras terdiam. "Aku..." Bibirnya bergetar. "Aku benar-benar mengira Kak Chantika udah pulang."
Ranti hanya diam mendengarkan tanpa tahu harus berkata apa.
Rahardja mengembuskan napas pelan. Ia tahu, jawaban Saras masih menyisakan terlalu banyak kejanggalan.
Namun malam itu ia juga sadar, terus mendesak tidak akan membuat putrinya berkata lebih jujur.
"Cukup."
Semua menoleh kepadanya.
"Papa gak akan maksa kamu menjawab kalau memang belum siap. Tapi ingat satu hal."
Rahardja menatap Saras dengan penuh makna. "Kalau suatu hari nanti kamu ingin mengatakan yang sebenarnya... Papa harap itu keluar dari mulutmu sendiri, bukan dari orang lain."
Air mata Saras kembali menggenang di pelupuk mata. Ia hanya mengangguk pelan.
Rahardja kemudian berdiri. "Pembicaraan kita cukup sampai di sini. Tapi keputusan Papa tetap berlaku. Kontrak dengan Bryan dibatalkan. Dan mulai malam ini, tidak seorang pun di keluarga ini menemui Bryan sendirian."
Tidak ada yang membantah. Masing-masing akhirnya bangkit dari tempat duduknya.
Namun saat Saras melangkah meninggalkan ruang keluarga, dadanya terasa semakin sesak.
"Aku berhasil nyembunyiin kebenaran malam itu. Tapi aku gagal meyakinkan keluargaku. Sial!"
Begitu pintu kamarnya tertutup, Saras bersandar lemas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Dadanya terasa sesak.
"Semuanya sia-sia..."
Ia sudah mempertaruhkan begitu banyak demi mendapatkan investasi itu. Namun hasilnya?
Kontrak dibatalkan. Jabatan manajer yang selama ini diimpikannya semakin jauh.
Dan semua itu...
"Gara-gara Chantika."
Kalau saja malam itu Chantika tidak menghilang. Kalau saja ia tidak menyelidiki semuanya. Kalau saja kontrak itu tidak diperiksa tim legal. Bryan pasti sudah menepati janjinya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Saras buru-buru mengusap air matanya. Ia merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum membuka pintu.
"Ma..."
Ranti berdiri di depan pintu. "Boleh Mama masuk?"
Saras mengangguk pelan.
Ranti masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Beberapa detik ia hanya memandangi putrinya. "Sekarang jujur sama Mama."
Saras menahan napas.
Ranti memegang kedua pundak Saras. "Apa yang sebenarnya terjadi di hotel malam itu?"
...🔸🔸🔸...
..."Keuntungan bisa dicari kembali, tetapi keselamatan dan harga diri keluarga tidak pernah layak dipertaruhkan."...
..."Ambisi yang mengabaikan prinsip sering kali membuat seseorang kehilangan lebih banyak daripada yang ingin diraihnya."...
..."Kebohongan mungkin berhasil menutup mulut, tetapi tidak pernah benar-benar mampu menenangkan hati."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.
Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.
Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.
Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.
Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.
Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.
Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.
Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.
Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.
Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...
jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏