Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Reno mencoba bangkit, tetapi Fahri kembali berdiri di depan Nadia, menghalangi Reno mendekat. "Kamu sudah bukan suaminya. Tidak ada hak sedikit pun untuk memperlakukannya seperti itu."
Nadia yang masih gemetar segera meraih Kian yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat karena baru saja menyaksikan sebagian kejadian itu. "Ibu..." Nadia langsung memeluk putranya erat.
"Maaf, Sayang... Ibu nggak apa-apa."
Sementara itu, Fahri menatap Reno dengan sorot mata tajam. "Pergi." Reno terdiam. "Kalau sampai kamu menginjakkan kaki di sini lagi dan mengganggu Nadia, aku sendiri yang akan melaporkanmu ke polisi."
Reno menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Untuk sesaat ia menatap Nadia, tetapi yang ia lihat bukan lagi perempuan yang bisa ia kendalikan, melainkan seseorang yang kini telah memiliki keberanian untuk melindungi dirinya sendiri. Dengan langkah sempoyongan, Reno akhirnya berbalik meninggalkan kontrakan. Di belakangnya, Fahri tetap berdiri di depan pintu, memastikan Reno benar-benar pergi sebelum menoleh kepada Nadia yang masih memeluk Kian dengan tubuh bergetar.
Setelah Reno benar-benar pergi, suasana di kontrakan berubah sunyi. Hanya terdengar isak tangis Nadia yang masih belum mampu mengendalikan dirinya. Tubuhnya gemetar. Napasnya belum beraturan. Kedua tangannya terus memeluk Kian, seolah takut putranya ikut direnggut darinya. Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa ia akan mengalami kejadian seperti itu. Lebih menyakitkan lagi, orang yang hampir mencelakainya adalah mantan suaminya sendiri. Pria yang dulu pernah mengucapkan janji akan melindunginya seumur hidup. Air mata Nadia kembali mengalir deras.
Fahri memilih menjaga jarak. Ia tidak banyak bertanya ataupun memaksa Nadia untuk bercerita. Dengan suara yang tenang, ia berkata, "Bu Nadia, sekarang anda sudah aman. Reno sudah pergi. Kalau Ibu merasa belum tenang, kita bisa hubungi keluarga atau polisi."
Nadia mengangguk pelan, meski tangisnya belum juga reda.
Kian yang masih memeluk ibunya ikut menangis. "Ibu... jangan nangis."
Nadia mengusap kepala putranya sambil berusaha tersenyum, tetapi air matanya justru semakin deras.
Fahri mengambilkan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja. "Minum pelan-pelan, Bu."
Tak lama kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan kontrakan. "Assalamu'alaikum!" Suara Dila terdengar dari luar. Begitu masuk, Dila langsung terpaku melihat wajah Nadia yang sembab dan Fahri yang berdiri di ruang tamu. "Nad! Ya Allah, kamu kenapa?" Dila berlari memeluk sahabatnya. "Ada apa? Siapa yang bikin kamu begini?"
Nadia belum sanggup menjawab. Fahri akhirnya menjelaskan singkat, "Tadi Reno datang. Dia memaksa Bu Nadia. Untung saya tiba tepat waktu."
Wajah Dila langsung memucat, lalu berubah merah karena marah. "Kurang ajar!" Ia mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Kalau saya terlambat beberapa menit saja, saya tidak tahu apa yang bisa terjadi," lanjut Fahri dengan nada prihatin.
Dila menatap pria di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih... terima kasih banyak sudah menyelamatkan sahabat saya."
Fahri mengangguk sopan. "Saya Fahri. Ayahnya Rey, teman sekelas Kian."
"Oh... jadi Bapak Fahri?" Dila baru menyadari. "Saya Dila, sahabat Nadia." Keduanya berjabat tangan sekadarnya. Dila kemudian kembali menggenggam tangan Nadia. Di dalam hatinya, ia bersyukur masih ada orang baik yang hadir di saat-saat paling genting. Jika Fahri tidak datang tepat waktu, ia tak sanggup membayangkan bagaimana akhir dari peristiwa yang baru saja dialami sahabatnya.
Melihat kondisi Nadia yang masih syok, Fahri tidak segera pamit. Ia duduk di kursi yang letaknya cukup jauh, memberi ruang agar Nadia merasa nyaman. Sesekali ia mengajak Kian berbicara tentang sekolah dan permainan kesukaannya, berharap perhatian bocah itu teralihkan dari kejadian yang baru saja disaksikannya.
Dila mengusap punggung Nadia perlahan. "Nad, kita laporkan saja Reno."
Nadia mengangkat wajahnya. Matanya masih sembap. "Aku... aku belum bisa berpikir."
"Tapi dia sudah kelewatan."
Nadia hanya memejamkan mata. Bayangan beberapa menit yang lalu masih terus berputar di kepalanya. Jantungnya kembali berdegup kencang setiap kali mengingat tatapan Reno yang begitu asing.
Fahri akhirnya angkat bicara. "Bu Dila benar. Yang dilakukan Reno bukan hal yang bisa dianggap sepele." Nadia menunduk. "Saya tidak ingin menekan Ibu untuk mengambil keputusan sekarang," lanjut Fahri dengan nada tenang. "Tapi saya berharap Ibu mempertimbangkan langkah hukum. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi diri Ibu dan Kian. Kalau hari ini dia berani datang dan memaksa, kita tidak tahu apa yang mungkin dia lakukan di kemudian hari."
Dila mengangguk setuju. "Nah, itu. Aku juga mikir begitu."
Nadia menarik napas panjang. "Aku... takut." Kalimat itu keluar begitu lirih hingga hampir tak terdengar.
Fahri memahami ketakutan itu. "Takut itu wajar. Tapi Ibu tidak sendirian."
Dila langsung menggenggam tangan sahabatnya lebih erat. "Iya. Sekarang kamu punya aku. Punya ibu-ibu sekolah. Dan..." Dila melirik Fahri sambil tersenyum kecil, "...ternyata juga punya Pak Fahri."
Fahri tersenyum tipis. "Kalau suatu saat Ibu membutuhkan saya sebagai saksi atas apa yang saya lihat hari ini, saya bersedia."
Ucapan itu membuat Nadia menoleh. Untuk pertama kalinya sejak menangis, ia menatap Fahri dengan rasa syukur yang begitu dalam. "Terima kasih, Pak."
Fahri mengangguk. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan." Tak lama kemudian, Fahri berpamitan karena tidak ingin mengganggu Nadia beristirahat. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Pastikan semua pintu dan jendela terkunci malam ini. Kalau ada apa-apa, jangan ragu menghubungi saya atau Bu Dila."
Nadia mengangguk pelan. Setelah pintu tertutup, Dila mengembuskan napas panjang. "Pak Fahri itu benar-benar laki-laki yang baik." Nadia tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menunduk. Di tengah ketakutan yang masih menyelimuti hatinya, ia merasa sedikit lebih tenang karena tahu, masih ada orang-orang yang peduli dan bersedia berdiri di sisinya saat ia membutuhkan bantuan.
Malam itu, setelah Kian tertidur karena kelelahan, Nadia duduk berdua dengan Dila di ruang tamu kontrakan yang kembali sunyi. Wajahnya masih menyisakan kepanikan akibat kejadian yang baru saja dialaminya. Bayangan Reno yang datang dalam keadaan gelap mata terus menghantuinya, membuatnya beberapa kali menoleh ke arah pintu seolah khawatir pria itu akan kembali muncul.
Dengan suara pelan, Nadia memohon kepada Dila agar tidak lagi mengunggah atau memviralkan apa pun yang berkaitan dengan rumah tangganya. Ia mengaku selama ini tidak pernah membayangkan bahwa perhatian publik yang begitu besar juga dapat membawa risiko yang mengancam rasa aman dirinya dan Kian. Yang paling ia takutkan bukan lagi cibiran atau rasa malu, melainkan kemungkinan Reno bertindak semakin nekat karena merasa hidupnya telah hancur dan tidak memiliki apa pun lagi untuk dipertahankan.