Takdirku di tentukan oleh diriku sendiri, jika ada yang mengatakan aku lemah,akan aku hancurkan dengan pedangku,jika ada yang mengatakan aku sampah akan aku bunuh dengan pedangku, jika seluruh dunia ingin menundukkan aku, akan ku tebas dengan pedangku sekalipun itu adalah Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pertarungan yang singkat.
Bab 22. Pertarungan yang singkat.
"Sekarang adalah giliran kalian semua" Ucap Revan sambil menyeringai.
Seolah mengerti apa yang di katakan oleh manusia di depannya, empat ekor monster itu menjadi murka dan langsung mengepung Revan dari empat sisi.
Sisi depan sisi belakang sisi kanan dan juga sisi kiri. Sementara Revan masih terdiam di tempatnya dengan ekspresi tenang yang terlihat jelas di wajahnya. Dia sama sekali tidak menempatkan semua monster monster ini di matanya. Baginya mereka semua adalah samsak hidup.
WUSH ! WUSH !
Seekor Beruang besar yang tidak tahan dengan provokasi Revan langsung melesat ke depan dan menerjang dengan kecepatan yang sangat cepat.
WUSH !
SRAING ! SRAING !
SRAK !
Revan yang melihat cakar besar dari Beruang hitam raksasa level 9, tidak gentar sedikitpun. Dengan tegas dia mengarahkan tangannya ke depan. Seketika itu juga elemen kayu menjalar di lengan kanannya.
Memadat dan membentuk sebuah sarung tangan yang kuat dan keras. Itu berbenturan langsung dengan cakar Beruang hitam.
DUAR !
DUAR !
Terdengar suara yang begitu keras memekakkan telinga. Gelombang kejut menyebabkan udara sekitar berfluktuasi. Sangat jelas dalam pertarungan adu fisik keduanya berimbang sama sama lain.
Mata Beruang hitam membuat sempurna. Dia tidak menyangka jika mahluk kecil yang ada di depannya bisa melawan kekuatannya dengan seimbang tanpa mendapatkan kerusakan yang berarti.
Menyadari betapa terkejutnya Beruang itu, Revan menyeringai lebar, mengangkat tangan dan memberikan isyarat agar dia maju menyerang. Merasa di remehkan oleh sikap Revan yang memandang rendah dirinya, amarah Beruang hitam langsung memuncak.
Dengan keras dia meraung, menunjukkan giginya yang tajam. Seketika elemen petir menjalar dari dalam tubuhnya. Cakarnya yang ganas langsung tumbuh memanjang.
Itu berwarna putih pekat dengan sengatan petir ganas di sekelilingnya. Dengan amarah yang memuncak Beruang itu lari ke depan dan menerjang dengan cepat bagaikan kilat. Niat membunuh terlihat jelas di mata Beruang hitam.
"Apakah ini niat membunuh ! Apakah di berniat untuk membunuhku ! Tidak semudah itu !" Ucap Revan dengan nada dingin.
Tatapan matanya menjadi lebih ganas, dan aura membunuh seketika menguar dari dalam tubuhnya.
Tanpa sadar sifat sombong binatang buas dari naga legendaris juga keluar dari tubuhnya. Matanya berubah warna menjadi kuning, semburat warna merah menyitari pupilnya yang hitam.
Dua lengannya mulai mengeluarkan sisik naga berwarna biru. Dengan kecepatan yang luar biasa bentuknya mulai berubah dari lengan manusia menjadi lengan naga. Kukunya berubah menjadi cakar sepanjang 5 cm,telinganya meruncing menyerupai telinga Elf.
Dua tanduk berwarna hitam sepanjang 10 cm di keningnya mulai tumbuh dengan kecepatan yang dapat di lihat oleh mata. Gigi taring kecil juga tumbuh di sisi kanan dan kiri mulutnya.
Kejadian itu berlangsung sangat singkat sehingga saat pukulan keduanya beradu
Itu terdengar seperti dua gesekan dari dua kekuatan yang saling beradu dan saling menghancurkan.
DUAR !
Sekali lagi. Efek dari bentrokan keduanya begitu mencengangkan. Bumi bagaikan di terjang oleh gempa berkekuatan dahsyat, tanah berguncang dengan keras. Debu debu berterbangan menutupi area sekitar hingga menutupi pandangan.
Tubuh Beruang hitam langsung terpental jauh, melesat seperti meteor ke arah hutan.
BUAK !
BUAK !
BUAK !
BOM !
Ratusan pohon langsung hancur berkeping keping, area hutan itu langsung rata dengan tanah sepanjang tubuh Beruang itu terlempar.
Saat Revan mengayunkan pukulannya tadi, dia juga dengan sengaja mengeluarkan aura naga yang ada dalam tubuhnya. Sehingga memberikan efek tekanan yang mengerikan pada Beruang hitam.
Bukan hanya Beruang hitam, tapi sisa monster yang dari tadi memblokir jalan agar Revan tidak kabur juga gemetaran di seluruh tubuh mereka. Tekanan dari darah binatang buas legendaris yang lebih murni dan lebih kuat membuat kepala mereka menunduk dan tak berani bergerak.
Melihat perubahan pada para monster yang gemetar ketakutan, Revan langsung kehilangan minatnya untuk bertarung. Dia memutar tubuhnya dan berjalan dengan tenang ke arah boneka perang yang terlihat pasrah tanpa perlawanan.
Itu semua karena keterampilannya hanyalah menjinakkan binatang untuk berperang. Jika monster yang di jinakkan tidak berani melawan. Maka boneka itu tidak bisa berbuat banyak.
Dengan skil teleportasi jarak pendek, Revan melangkah dan menghilang lalu hanya butuh waktu satu kedipan mata baginya untuk berdiri tepat di depan boneka itu. Dengan gerakan cepat Revan menusuk dada boneka itu hingga tembus ke punggungnya.
Di tangannya ada sebuah inti energi berbentuk bulat sebesar kepalan tangan. Dengan mudahnya Revan menarik tangannya dari dalam tubuh boneka perang itu.
Dengan sekali remas ini energi itu langsung menjadi partikel partikel cahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Meskipun tidak memberikan efek apapun pada tubuhnya tapi setelah meremas inti energi itu dia mendapatkan ketrampilan baru, yaitu keterampilan menjinakkan binatang.
"Hahaha, dengan keterampilan ini aku bisa memiliki hewan peliharaan yang akan menemaniku berpetualang di masa depan" Gumamnya tersenyum penuh kepuasan.
*****
Tak terasa waktu 720 tahun di dunia kecil maupun dunia cincin Revan lewati. Itu setara satu jam di dunia luar. Sebelum keluar dari dalam dunia cincin Revan menemui Silvia untuk menanyakan sesuatu.
"Silvia, apakah cincin ini bisa menekan tingkat kekuatanku ? Aku tidak ingin ada keributan di sana jika ada yang mengetahui kalau pangeran ke sembilan yang lemah tiba tiba menjadi sangat kuat" kata Revan.
"Tentu saja bisa kak, kakak hanya perlu membayangkan tingkatan apa yang kakak inginkan, maka cincin itusecara otomatis akan mengikuti keinginan kakak" Ucap Silvia sambil tersenyum.
Mendengar perjelasan Silvia Revan hanya mengangguk kecil, tapi yang paling lebih membuatnya senang adalah saat Silvia memangnya kakak.
Itu terdengar sangat imut dan menggemaskan.
"Baiklah, terima kasih adikku" Kata Revan mengelus rambut Silvia dengan lembut.
Sementara Silvia merasa sangat senang saat rambutnya di elus oleh Revan,dia benar-benar merasa sangat nyaman dengan apa yang di lakukan oleh kakak barunya itu.
*****
Di dunia nyata, kamar Revan.
"Klik"
Terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam. Saat Revan hendak melangkah ke luar dia melihat penjaga yang langsung membungkukkan badannya.
Dengan serempak meraka berdua berkata
"Selamat sore pangeran ke sembilan".
"Oh, sudah sore kah ! Ucap Revan pelan tapi masih bisa di dengar oleh dia penjaga itu.
Kemudian salah satu dari mereka menjawab
"Benar pangeran, tadi anda bermeditasi pada jam 14.00 siang dan sekarang sudah jam 15.15 menit pangeran".
Mendengar itu Revan hanya mengangguk singkat dan beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Baru beberapa langkah berjalan Revan berhenti dan berbalik. Dengan tersenyum dia berkata
"Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini" Ucapnya .
Setelah itu dia memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan tenang.
Para penjaga yang mendengar ucapan terima kasih dari sang Pangeran tidak terkejut lagi dengan keramahannya. Meraka membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih pada Revan. Rasa terima kasih yang tulus dan bukan di buat buat.
Maksudnya "merawat orang sakit" kah ....??? 😭😭😭😭
Masa 1 chapter bs 2-3 di ulang2 🙄🙄🤦♀️🤦♀️
apa gak ada