NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengejaran

Sementara itu, setelah Putri Cempaka meninggalkan tempat makan tersebut, prajurit pengawal Raden Sanjaya yang hendak mengawasi Wira dan Sinta, dibuat terkejut dengan sudah menghilangnya mereka berdua dari tempat makan itu.

Prajurit itu segera beranjak kembali naik ke lantai atas untuk melaporkannya kepada Raden Sanjaya.

"Cepat cari mereka... jangan sampai kehilangan jejak!"

Raden Sanjaya mendengus kesal. Bisa jadi dia gagal menikmati tubuh gadis cantik yang tadi dilihatnya itu apabila gagal menemukannya.

Prajurit pengawal Raden Sanjaya yang berjumlah 4 orang itupun langsung menyisir setiap penginapan yang berada di desa itu. Baik penginapan besar ataupun kecil tidak luput dari pemeriksaan mereka.

Di lain tempat, Wira dan Sinta sudah memasuki Kotaraja Kerajaan Sanggawana. Sepasang pemuda pemudi yang berasal dari tempat yang jauh itu begitu kagum dengan situasi di Kotaraja Sanggawana.

Bangunan-bangunan besar dan megah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, kini sudah ada dalam pandangan mata. Belum lagi ditambah dengan suasana sepanjang jalan yang begitu ramai. Suara para pedagang yang bersahutan menawarkan dagangannya, terdengar riuh dan membuat suasana semakin hidup.

"Kita cari penginapan dulu buat kita beristirahat nanti malam!"

"Tapi aku ingin jalan-jalan dulu melihat keindahan Kotaraja ini, Wira," kata Sinta merengek dan sedikit manja.

"Nanti setelah kita mendapat penginapan. Apa kau mau tidur di dalam kereta kuda jika kita tidak mendapat kamar?"

Sinta terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi aku ingin kita tidur satu kamar. Aku takut kejadian tadi malam terjadi lagi kepadaku."

"Waduh... Kalau kita tidur sekamar terus, bisa-bisa bukan orang lain yang memperkosamu, tapi aku sendiri!" balas Wira sambil tertawa pelan. Dia tidak mau menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, jika tawanya terlalu keras.

Sinta melotot menatap Wira. Pemuda tampan itu pura-pura tidak tahu dan tetap memandang ke depan. Sesekali dia menoleh ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Bugh!

Pukulan yang tidak terlalu keras mendarat di bahu kiri Wira.

"Kenapa kau memukulku?"

"Berpura-puralah terus tidak melihatku!" Sinta mendengus kesal.

"Apa kau tidak mau aku perkosa? Kata orang-orang rasanya seperti di awang-awang." Wira kembali terkekeh pelan.

"Tidak! Lebih baik kita melakukannya setelah menikah nanti."

Wira memandang Sinta sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

"Memangnya kau yakin aku mau menikah denganmu?" goda Wira dengan nada bicara yang begitu dingin.

Raut wajah Sinta langsung berubah. Dia tidak menduga kalau Wira akan bicara seperti itu. Gadis cantik itu terdiam cukup lama tidak menanggapi pertanyaan Wira. Harapannya untuk bersanding dengan Wira langsung kandas.

Sinta sadar, sebagai seorang pangeran, tentu nantinya Wira akan dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan itu akan memudahkannya untuk memilih mana yang akan dinikahinya.

Wira melirik ke arah Sinta. Dia melihat gadis tersebut menunduk dengan wajah sendu.

"Kenapa kau diam saja? Apa tiba-tiba kau sakit gigi?"

Sinta tetap diam tidak menjawab. Keceriaan yang didapatnya setelah kecupan Wira tadi malam, langsung hilang tak berbekas.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang malas bicara."

"Baiklah. Kita menginap di penginapan itu saja." Wira menarik tali kekang kuda yang menarik kereta setelah sampai di depan sebuah penginapan.

Pemuda itu turun dari kereta dan berjalan menuju penginapan. Namun langkah kakinya langsung terhenti karena tidak melihat Sinta di dekatnya.

"Apa kau tidak ikut turun? Nanti kalau kau diculik orang bagaimana?"

Dengan berat, gadis cantik itupun turun dari kereta kuda dan berjalan mendekati Wira.

Seorang wanita berumur sekitar 40 tahun yang hiasannya sedikit menor, keluar dari dalam dan menemui keduanya.

"Apa kalian mau memesan kamar?"

"Tidak, Bi. Kami ke sini mau beli alat pertanian," jawab Wira.

Wanita itu mendengus kesal, "Ini penginapan, bukan lapak yang menjual alat-alat pertanian!" sahutnya sedikit keras.

"Kalau sudah tahu ini penginapan, kenapa bibi masih bertanya? Jelas kami ke sini mau menyewa kamar," jawab Wira sambil tertawa kecil.

Sinta sendiri merasa geli dengan sikap Wira yang menggoda wanita itu. Tapi dia masih bisa menahan tawanya.

"Kau sangat pintar melucu, Pemuda tampan!" Wanita itu tidak bisa menahan senyumnya yang lebar.

Wira menoleh ke belakang sebentar lalu kembali memandang wanita itu, "Apa pemuda tampan yang bibi maksud itu aku?" Wira menunjuk mukanya sendiri.

"Bukan! Tapi kuda yang di luar itu." Wanita itu tertawa puas setelah berhasil membalas Wira.

"Ah... Bibi ternyata pintar melucu juga. Kenapa dulu tidak menjadi prajurit saja?"

"Apa hubungannya, Bambang? Lama-lama aku bisa ketularan edan kalau bicara terus denganmu. Kalian jadi pesan berapa kamar? Satu atau dua? Oh iya, apa gadis cantik ini istrimu?"

Belum sempat Wira menjawab, Sinta langsung menyelanya, "Aku bukan istrinya. Dan kami pesan dua kamar, Bi!"

"Kamu yakin mau tidur sendiri?" tanya Wira heran.

"Aku yakin. Daripada aku tidur sama orang yang tidak peka."

"Satu kamar saja, Bi," kata Wira kepada wanita itu.

"Dua, Bi!" sahut Sinta.

"Sebentar gadis cantik... Berarti si Bambang ini bukan suamimu? Apa dia kekasihmu?"

"Bukan keduanya, Bi. Makanya kami pesan dua kamar," balas Sinta.

"Bagaimana, Bambang tampan? Aku tulis dua kamar ya?"

"Namaku Wira, Bi... bukan Bambang!"

"Tapi aku lebih suka memanggilmu Bambang. Suka-suka aku dong mau memanggilmu apa."

"Terserah bibi sajalah! Asal kamarnya dapat potongan harga karena Bibi sudah merubah namaku," balas Wira.

"Oh iya, Kalau benar kamu bukan suami ataupun kekasih gadis cantik ini, bisa dong Bibi yang cantik ini mendapat kesempatan? Kebetulan bibi ini kan janda kembang yang sudah lama ditinggal mati suami. Kalau kau mau menjadi suami bibi, penginapan ini bisa kamu miliki."

Wira mengucek kedua matanya berulang kali lalu memejamkannya.

"Kamu kenapa, Bambang? Apa matamu sakit?"

"Aku tadi sepertinya mendengar suara. Tapi kenapa tidak ada orangnya?" Wira tertawa lepas tanpa dosa.

"Sialan kamu...! Memangnya aku hantu di siang bolong? Dan mana mungkin ada hantu secantik aku ini."

Keduanya pun tertawa lepas tanpa memperdulikan Sinta yang masih cemberut.

Wira akhirnya memutuskan untuk memesan satu kamar saja. Dia tidak tega membiarkan gadis itu tidur sendiri di tempat yang asing.

Seorang anak laki-laki kecil berumur sekitaran 7 tahun yang sepertinya putra dari wanita itu keluar dari dalam setelah mendapat panggilan.

"Ada apa, Bu?"

"Antarkan kakak cantik ini ke kamarnya yang nomor dua dari ujung!"

Anak kecil itu mengangguk, "Ayo, Kak!"

Sinta tersenyum lalu mengikuti langkah anak kecil tersebut.

"Apa kau tidak tahu kalau gadis itu menyukaimu?" tanya wanita pemilik penginapan itu, setelah menerima pembayaran dari Wira.

"Aku tahu, Bi. Tapi aku masih bimbang!"

"Kalau begitu penawaran Bibi tadi bagaimana?"

"Yang mana?" tanya Wira.

"Apa kau mau menjadi ayahnya anakku tadi?"

"Hahahaha... Lebih baik aku kawin dengan pohon pisang yang kulitnya lebih kencang, Bi!" jawab Wira lalu melangkah masuk ke dalam.

"Bambang sialan!" teriak wanita itu sambil tertawa lepas. Sudah lama dia tidak tertawa sepuas itu semenjak kematian suaminya.

Beberapa saat yang lalu. Di luar pintu gerbang, 5 ekor kuda terlihat melaju perlahan memasuki pintu gerbang. Mereka adalah Raden Sanjaya dan keempat pengawalnya.

4 orang prajurit yang menjaga pintu gerbang langsung menundukkan kepalanya. "Hormat kami, Raden!"

"Apa tadi ada pemuda dan gadis cantik yang memasuki Kotaraja?" tanya Raden Sanjaya.

Keempat penjaga itu saling berpandangan. Mereka tidak bisa mengingat karena saking banyaknya orang yang keluar masuk Kotaraja.

"Kami tidak ingat, Raden. Hari ini begitu banyak yang datang ke Kotaraja ini. Dan sepertinya banyak masyarakat umum yang nantinya akan mengikuti turnamen."

"Baiklah. Jaga baik-baik pintu gerbang ini. Jika melihat pemuda dan gadis cantik memasuki Kotaraja, tahan mereka dan bawa ke kediamanku!"

"Baik, Raden."

Raden Sanjaya dan keempat pengawalnya kembali melanjutkan laju kaki kudanya perlahan memasuki Kotaraja.

Seorang pengawal tiba-tiba langsung berseru ketika dia merasa melihat pemuda yang mereka cari sedang berada di sebuah penginapan.

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!