Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Teddy vs Beni
Dadanya mendadak sesak oleh debaran yang luar biasa. Selama satu tahun menjalani kisah cinta bersama Beni, ia tak pernah mendapatkan perlakuan semanis ini.
Jangankan dibelikan kue semewah ini, dibelikan martabak telur pinggir jalan saja Beni sering perhitungan dengan alasan, "Kita harus berhemat demi masa depan kita, nanti."
Tapi pria yang saat ini ada di sampingnya, entah sengaja atau tidak membuatnya seolah merasa bak seorang ratu sejagat, meski ini hanya sebuah kisah palsu.
Mata Aira kembali berputar, mencari cara untuk mengusir rasa awal yang muncul begitu saja. 'Aira ... Aira ... Ingat! Ini hanya akting! Akting!' Aira mengetuk-ngetuk pelipisnya beberapa kali demi mengembalikan kewarasannya.
"Wah, gila ... Kalau Om Teddy lagi mode buaya begini damage-nya sungguh gak main-main ya? Jantungku sampai ikut jedag-jedug kayak musik angkot balapan, Om! Tolong tanggung jawab ya, kalau saya pingsan di sini ..." candanya berusaha mengalihkan pikiran.
Teddy seketika memejamkan matanya, mengembus napas pendek menahan tawa sekaligus heran dengan kelakuan ajaib pasangannya ini. Suasana pangeran berkuda putih yang dia bangun kembali ambyar kena mental karena umpatan angkot Aira.
Begitu sedan hitam itu berhenti sempurna di halaman rumah Om Jovan, suasana ketegangan RSJ yang telah menguap, mendadak kembali lagi.
Reta dan Tante Nani ternyata telah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, menatap kedatangan mereka dengan tatapan tajam dan siap menyemburkan omelan.
Teddy turun terlebih dahulu. Dengan setelan jas yang rapi tanpa lecek sedikit pun. Bagi Aira, Teddy sungguh terlihat berwibawa, hingga terlihat jelas dua orang yang ada di teras mulai sedikit tersentak, merasa terintimidasi meski jarak mereka masih cukup jauh.
Berbanding terbalik dengan Beni yang dulu langsung menunduk kikuk turun dari motor saat berhadapan dengan Tante Nani. Teddy melangkah tegap sejenak menganggukan kepala ke hadapan dua wanita itu. Ia langsung memutari kap mobil hanya untuk membukakan pintu bagi Aira.
Teddy mengulurkan telapak tangannya yang kokoh, membantu Aira turun dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh perhatian di depan mata kedua wanita itu.
"Aira! Bagus ya, jam segini baru pulang! Memangnya stase jiwa itu melatih kamu jadi pasien juga sampai lupa waktu?!" semprot Tante Nani langsung dengan suara melengking begitu Aira menapakkan kaki di ubin teras.
Reta ikut menimpali dengan senyum sinis, matanya menatap jepitan kristal swarovski yang berkilau mewah di rambut Aira.
"Pantas saja betah keluyuran dari RSJ, ternyata sibuk nangkap mainan baru ya?"
Aira baru saja mau membuka mulutnya untuk membalas dengan kalimat cemprengnya. Namun, jemari kokoh Teddy tiba-tiba menggenggam lembut jemari kecil Aira, meremasnya pelan seolah memberi kode agar Aira tidak perlu mengatakan apapun. Teddy maju setengah langkah, pasang badan membentengi Aira dengan senyum ramah yang teramat berkelas dan tenang.
"Selamat sore, Tante Nani dan hmmm ... Sepupu Aira, kan? Mohon maaf jika kedatangan kami cukup terlambat," sapa Teddy. Suara beratnya, mampu membungkam lengkingan pedas yang hampir keluar lagi dari mulut Nani.
"Aira tadi harus menyelesaikan administrasi kelulusan stase praktiknya di ruangan pengujinya. Sebagai bentuk rasa syukur atas nilai 'A' yang diraihnya, saya sengaja mengajaknya mampir sebentar untuk membawakan hadiah kecil ini."
Teddy menyerahkan kotak kue premium itu dengan sangat sopan. Reta yang tadinya siap mencemooh, mendadak kelu dan menelan ludah melihat yang mungkin tak terlalu jauh beda usia dengan dirinya.
Tanpa sadar, Nani mulai membandingkan pria yang ada di hadapannya ini dengan Beni, yang bagai remah-remah rempeyek di depan matanya.
Tante Nani berdeham canggung, menerima kotak kue itu. Ia langsung menaksir benda yang kini di tangannya melirik Reta yang juga tampak kegirangan.
"Eh ... iya, hmmm ..."
"Teddy ... Nama saya Teddy," sambung Teddy dengan cepat mengulurkan tangannya.
"Maksud saya, Aira ini kan perempuan. Jadi tidak baik pulang telat. Kami khawatir, soalnya Aira juga menjadi tanggung jawab kami karena dititip tinggal di sini oleh orang tuanya di kampung sana," terang Tante Nani, kikuk.
"Saya memahami kekhawatiran Tante," jawab Teddy lembut.
Ia menoleh ke arah Aira, menatap gadis itu dengan binar penuh kasih sayang yang dalam. Hal ini membuat Aira tersentak bingung dengan perasaannya.
"Karena itulah, mulai hari ini saya yang akan memastikan keamanan, kenyamanan, dan seluruh kebutuhan Aira terpenuhi dengan baik. Saya tidak akan membiarkan wanita yang saya sayangi telantar atau diremehkan oleh siapa pun lagi."
'Astaga, Om Teddy ... aktingnya ini membuatku amsyooong ... Tidaaaakk!' teriaknya dalam batin.
Aira menyenggol lengan Teddy dengan sikunya lalu berbisik cempreng yang sialnya malah bergema di teras yang sepi itu.
"Om ... makasi ya ... Om baik deh!" Mata Aira mendelit, memohon agar Teddy tidak berlebihan.
Teddy langsung memejamkan matanya sejenak, urat di pelipisnya berdenyut samar menahan gemas yang luar biasa. Suasana sakral penuh komitmen perlindungan yang sengaja ia buat di depan Tante Nani mendadak ambyar lagi untuk kesekian kalinya.
Reta dan Tante Nani sampai mengerutkan kening heran melihat Aira yang malah cengengesan tidak jelas.
Namun, di saat atmosfer teras rumah itu mendadak canggung, ponsel di dalam tas Aira tiba-tiba bergetar hebat. Bukan hanya sekali, melainkan bertubi-tubi berulang dengan terus-menerus memecah keheningan.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...
Aira buru-buru meraba tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat layar, matanya langsung membelalak bulat sampai hampir melompat keluar.
Ada notifikasi bertubi-tubi:
[ 5 Missed Calls - Mas Beni ]
[ Mas Beni: Aira, Itu siapa?! ]
[ Mas Beni: Kamu di mana sekarang? Tolong angkat teleponku! ]
[ Mas Beni is calling you via Video Call ... ]
Tampaknya, video yang dikirim Aira tadi berhasil membuat sang abdi negara amatiran itu panas dingin, jantungan, hingga hilang kendali di tempat dinasnya karena terbakar cemburu melihat Aira diusap kepalanya oleh pria asing.
Aira menatap Teddy dengan pandangan panik sekaligus puas yang luar biasa. Ditunjukkannya layar HP-nya tepat di depan wajah Teddy. "Om... si Beni nelpon balik! Akting kita berhasil bikin dia gila di sana!"
Sementara itu, mata Reta terbelalak menatap ponsel baru yang terkenal hanya dimiliki oleh para Sultan. "Ma ... anak itu pasti jadi peliharaan Om-Om itu," bisik Reta kembali memprovokasi Nani yang mulai menurunkan tensi karena kue premium yang diberikan Teddy.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣