NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Orang Disabilitas
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.

Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.

Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.

Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.

Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Diantar Pulang

"Mau makan siang bersama hari ini?"

Tanpa permisi, Mawar melenggang masuk begitu saja ke dalam ruangan Abimanyu. Wanita itu menanggalkan kacamata hitamnya, memamerkan riasan tebal dan senyum tanpa dosa seolah ruangan ceo itu adalah kamar tidurnya sendiri.

Abimanyu yang sedang fokus menatap layar laptop seketika menghentikan ketikan jarinya. Ia mendongak, menatap tajam ke arah adiknya yang luar biasa menyebalkan itu.

"Bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk ruangan orang?" ucap Abimanyu dengan nada sedingin es di kutub utara.

"Nggak bisa. Tanganku pegal," jawab Mawar enteng. Ia berjalan menghampiri sofa tamu, menghempaskan tubuhnya ke sana, lalu duduk sembari menyilangkan kakinya dengan angkuh.

"Lagian, ini salah Mas Abi sendiri. Salah siapa mengabaikan pesan-pesanku dari tadi pagi? Aku sudah capek-capek booking restoran untuk kita!"

Melihat sikap Mawar yang tak pernah berubah sejak remaja, Abimanyu hanya bisa menghela napas kasar. Matanya memindai penampilan adiknya dari atas ke bawah. Gaun ketat tanpa lengan dengan potongan dada rendah dan rok yang jauh di atas lutut.

"Sampai kapan kamu akan terus bersikap kampungan seperti ini, Mawar? Ini kantor, bukan kelab malam! Lihat pakaianmu itu. Kurang bahan. Cepat pulang dan ganti bajumu!" tegur Abimanyu dengan nada pedas.

Mawar mengerucutkan bibirnya, tak terima dihina oleh kakak kandungnya sendiri.

"Mas! Aku ini sengaja datang jauh-jauh ke sini untuk mengajakmu makan siang bareng lho! Bisa nggak sih hargai usahaku sedikit saja?"

"Aku sibuk!" potong Abimanyu cepat, kembali menatap layar laptopnya seolah Mawar tidak ada di sana.

"Tapi, Mas—"

"Keluar!" usir Abimanyu tak terbantahkan, sebelah tangannya terangkat menunjuk ke arah pintu keluar.

Mawar tetap diam di tempatnya. Ia menatap pria kaku di balik meja kebesaran itu dengan wajah memerah menahan kesal. Dadanya naik turun karena emosi yang tertahan.

"Aku adukan semua sikap kamu ini sama mama! Biar mama tahu kalau anak kesayangannya sombongnya minta ampun!" ancam Mawar kekanak-kanakan.

"Sana! Adukan saja! Kalau perlu bawa toa masjid sekalian!" tantang Abimanyu tanpa menoleh sedikit pun.

"Dasar pria kulkas!" jerit Mawar kesal.

Dengan hentakan kaki yang menggebu-gebu, Mawar beranjak dari sofa dan berjalan cepat keluar dari ruangan Abimanyu, membanting pintu kaca itu hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.

Sepeninggal adiknya, Abimanyu melepaskan kacamata bacanya, lalu memijat pangkal hidung dan pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Kepalanya benar-benar pusing menghadapi kelakuan adiknya yang satu itu.

"Tidak punya tata krama sama sekali!" gumam Abimanyu tajam.

*

*

Di luar gedung perusahaan, langit sore mulai gelap gulita. Rintik air yang semula kecil kini berubah menjadi guyuran hujan yang cukup deras.

"Ya Allah, hujan lagi. Mana nggak bawa payung," ucap Kania yang baru saja melangkah keluar dari lobi kantor.

Hari ini Kania terpaksa harus lembur karena tadi pagi ia sempat datang terlambat gara-gara ulah Firman yang menyembunyikan berkasnya. Beruntung, ia tidak lembur sampai lewat jam makan malam. Namun, cuaca sepertinya tidak sedang berpihak padanya.

Kania menepi di bawah kanopi gedung, membuka tasnya, dan mengecek ponsel. Layarnya bersih. Sama sekali tak ada notifikasi masuk. Firman sama sekali tidak menghubunginya, bahkan sekadar mengirim pesan basa-basi untuk menanyakan keadaannya.

Hawa dingin perlahan menusuk tulang. Kania meringis pelan saat merasakan kakinya mulai berdenyut sakit karena terlalu lama berdiri dan hawa dingin yang memperburuk kondisinya. Ia berusaha menahannya dengan memijat pelan lututnya.

"Apa lebih baik aku pulang ke rumah ibu saja?" pikir Kania bimbang.

Pikirannya melayang pada ibunya yang hangat, sangat berbeda dengan neraka yang menunggunya di rumah bersama Tuti dan Firman. Tapi bagaimanapun juga, Kania sadar bahwa ia masih istri sah Firman. Menginap di rumah ibunya tanpa izin hanya akan memberi senjata baru bagi Firman dan mertuanya untuk menyerangnya. Mengingat kelakuan suaminya saja sudah sukses membuat Kania muak dan kesal setengah mati.

"Sudahlah. Aku tunggu di halte saja," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Sambil menutupi kepalanya dengan tas jinjingnya, Kania berlari menerobos gerimis yang mulai membesar menuju halte bus yang tak jauh dari gedung kantor.

Bertepatan dengan Kania yang baru saja tiba di halte dengan napas tersengal, sebuah sedan hitam melaju keluar dari area parkir basement. Sang pengemudi, Abimanyu, memicingkan matanya menembus kaca mobil yang berembun.

"Bukankah itu Kania?" gumam Abimanyu saat melihat siluet wanita berbaju kerja yang sedang berdiri kedinginan sambil mengusap kakinya di halte.

Entah dorongan dari mana, Abimanyu membelokkan setirnya, memberhentikan mobilnya tepat di depan halte, lalu menurunkan kaca mobilnya perlahan. Kania yang sedang kedinginan langsung menoleh. Matanya membulat melihat siapa yang ada di balik kemudi.

"Mau bareng?" tanya Abimanyu datar, tanpa basa-basi.

"Eh? Pak Abi belum pulang?" Kania malah balik bertanya karena saking kagetnya melihat sang bos.

Abimanyu mendengus kasar. "Ya buktinya aku ada di depan kamu sekarang. Berarti aku belum pulang, kan? Pertanyaan macam apa itu." ketusnya tak sabaran.

Kania meremas tali tasnya, menahan kekesalan di dalam hati. "Bisa-bisanya ada orang punya sifat sedingin dan semenyebalkan ini?" batin Kania merana.

"Ayo, aku antar," tawar Abimanyu lagi dengan memerintah.

"Nggak usah, Pak. Makasih. Nanti malah disuruh bayar bensin lagi," sahut Kania menyindir sarkas, masih kesal dengan ucapan pedas bosnya saat jnterview tadi pagi.

Mata tajam Abimanyu langsung mendelik. "Kamu pikir aku semiskin itu sampai harus menagih uang bensin padamu?! Cepat naik! Jam segini di tengah hujan deras, tidak akan ada bus yang lewat! Mau kakimu beku di situ?!"

Terkejut karena dibentak dan menyadari bahwa ucapan bosnya memang ada benarnya, Kania akhirnya mengalah. Daripada ia harus mati kedinginan di jalan, ia segera membuka pintu penumpang bagian belakang dan duduk di sana.

Kania menutup pintu mobil dengan napas lega karena terbebas dari hawa dingin. Namun, kelegaan itu hanya bertahan dua detik. Abimanyu tiba-tiba menoleh ke belakang, menatap Kania dengan tatapan membunuh yang sangat tajam.

"Ngapain kamu duduk di situ Memangnya aku supir kamu?!"

Kania membeku. Matanya mengerjap polos, menatap Abimanyu yang masih menatapnya nyalang dari kursi kemudi.

"Kan saya numpang, Pak," cicit Kania bingung.

"Pindah ke depan! Sekarang!" perintah Abimanyu mutlak.

Kania memejamkan matanya rapat-rapat, mengutuk nasib sialnya hari ini. Dengan sangat terpaksa, ia harus kembali membuka pintu, keluar ke tengah hujan rintik-rintik, dan berlari kecil untuk berpindah ke kursi penumpang di depan, tepat di sebelah bosnya yang kaku itu.

Saat Kania sudah duduk rapi dan memasang sabuk pengamannya, ia hanya bisa merutuk panjang pendek di dalam kepalanya.

"Ya Tuhan, dosa apa yang aku lakukan di masa lalu? Di rumah aku punya suami brengsek tukang selingkuh dan di kantor aku harus menghadapi bos kanebo kering bermulut pedas ini!" batin Kania.

1
Nice1808
bagus abi biar mawar gk sok lagi🤣🤣merebut suaminya kania dan skrg kania bersama kakaknya mawar🤣😂
Nice1808
hahhaha Firman distir oleh mawar mampuskan gara2 uang milyaran buat perusahaannya
Heni Setiyaningsih
/Rose/
Heni Setiyaningsih
dasar suami pecundang
Heni Setiyaningsih
semoga pita suara nya rusak bisr gak bisa teriak lg 🤣🤣🤣🤣
MamDeyh
Lanjuuut
Nice1808
biarkn firman dgn mawar kania, km dgn abngkya si boss abimanyu🤣🤭🤭
tinie
semangaat Kania
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
MamDeyh
Lanjuuut lagi kak
Ma Em
Semoga Kania jadi sukses setelah diterima kerja , firman kamu pasti akan menyesal karena sdh membuang Kania istri yg baik dan berbakti meskipun selalu dihina dan direndahkan sama Bu Tuti sang mertua .
Nice1808
org tua sinting si tuti, ntar klo kania jd kaya kau ngemis2 krna mawar adiknya abimanyu bossnya kania🤭🤣
tinie
orang tua gila
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
MamDeyh
Lagi kak...

Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
Dew666
Syukurlah langsung talak 3, kok aku malah hepi ya wkwk
Dede Maesaroh
amit"😡
Deasy Suryandari
dan ternyata firman yg mandul
Dew666
Kania nikah sama abi, bojone kania nikah sama mawar seru
tinie
🤣🤣 sabar Kania
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
tinie
pantesan mawar banyak duit
ternyata dia dari anak pengusaha
tinie
aiih jadi mawar itu adiknya Abi
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya

huh dasar pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!