cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32_Kampung ghaib part 1
Bab 1 – Jalan yang Tidak Ada di Peta
"Ayah... kita benar lewat jalan ini?" tanya Raka gugup. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir, sementara kedua matanya terus mengamati jalan sempit yang gelap di depan mobil.
Pak Hendra mengangguk pelan.
"Iya." jawabnya tenang. Tangannya tetap menggenggam kemudi, sementara pandangannya lurus ke depan.
"Tapi GPS kita mati sejak tadi." ucap Siska cemas. Alisnya berkerut, sementara jemarinya terus menekan layar ponsel yang hanya menampilkan layar hitam.
Raka menghela napas panjang.
"Aku juga tidak dapat sinyal." katanya pelan. Wajahnya semakin tegang, sementara ia mencoba membuka aplikasi peta berulang kali.
Bu Ratna yang duduk di kursi belakang mencoba tersenyum.
"Mungkin daerah pegunungan memang begitu." ucapnya lembut. Senyumnya dipaksakan, sementara kedua tangannya memeluk tas di pangkuannya.
Mobil terus melaju. Semakin jauh. Semakin sunyi.
Tidak ada kendaraan lain. Tidak ada rumah. Bahkan suara serangga pun perlahan menghilang.
"Ayah..." panggil Raka pelan. Wajahnya mulai pucat, sementara tenggorokannya terasa kering.
"Apa lagi?" tanya Pak Hendra tenang. Tatapannya tetap fokus ke jalan.
"Sejak satu jam tadi..." ucap Raka lirih. Bibirnya mulai bergetar. "...kenapa jalannya tidak berubah sama sekali?"
Pak Hendra terdiam. Ia baru menyadarinya. Di kanan jalan masih ada pohon beringin besar.
Di kiri jalan masih terdapat batu besar berbentuk kepala kerbau. Bahkan tikungan tajam yang tadi mereka lewati kembali muncul. Pak Hendra langsung mengerem perlahan.
Ciiit...
Mobil berhenti. Semua saling berpandangan.
"Ini..." bisik Bu Ratna pelan. Matanya mulai membelalak. "Kita seperti berputar-putar."
Siska menelan ludah.
"Ayah..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi ketakutan. "Apa kita tersesat?"
Pak Hendra menarik napas panjang.
"Tidak mungkin." jawabnya pelan. Meski terdengar tenang, dahinya mulai dipenuhi keringat.
Raka membuka pintu mobil.
"Aku turun sebentar." ucapnya mantap. Wajahnya tampak penasaran, sementara langkahnya mulai menuruni mobil.
"Jangan jauh-jauh!" teriak Bu Ratna panik. Matanya membesar, sementara kedua tangannya mencengkeram pintu.
"Iya, Bu." jawab Raka sambil tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak mampu menyembunyikan rasa gugupnya.
Udara di luar terasa dingin. Sangat dingin. Padahal waktu baru menunjukkan pukul lima sore.
Raka berjalan beberapa meter. Matanya memperhatikan sekitar.
Tiba-tiba...
"Kak..." panggil suara anak kecil pelan. Nadanya terdengar lirih, sementara suara itu seperti datang dari balik pepohonan.
Raka langsung menoleh.
"Siapa?" tanyanya keras. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran, sementara jantungnya mulai berdetak cepat.
Tidak ada jawaban. Hanya angin.
"Halo?" panggil Raka lagi. Suaranya mulai bergetar, sementara ia melangkah mendekati semak-semak.
Brak!
Tiba-tiba sesuatu bergerak cepat. Raka tersentak.
"Siapa di sana?!" bentaknya keras. Wajahnya memucat, sementara napasnya mulai memburu.
Tidak ada siapa-siapa. Namun di atas tanah... Terlihat sebuah bola kain lusuh.
Raka mengernyit.
"Bola?" gumamnya pelan. Alisnya berkerut, sementara ia mengambil benda itu.
Belum sempat ia mengangkatnya...
"Hehehe..."
Terdengar tawa anak kecil. Sangat dekat.
Raka membeku.
"He... siapa?" tanyanya terbata-bata. Matanya membelalak, sementara bulu kuduknya berdiri.
"Hehehe..."
Suara tawa itu kembali terdengar.
Kali ini... Tepat di belakang telinganya. Raka langsung membalikkan badan. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
"Aaaaa!" teriak Siska dari dalam mobil. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tangannya menunjuk ke arah belakang Raka.
Raka menoleh cepat.
"Kenapa?!" teriaknya panik. Napasnya semakin memburu.
Siska terus menunjuk.
"Di belakangmu!" jeritnya histeris. Air matanya mulai mengalir deras.
Raka perlahan menoleh.
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Seorang anak laki-laki berdiri sekitar dua meter darinya.
Tubuhnya penuh lumpur. Bajunya robek. Matanya hitam pekat tanpa bola mata. Di tangannya tergenggam sebuah bola kain.
Padahal bola itu masih berada di tangan Raka.
"A... kamu..." ucap Raka gemetar. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua kakinya mulai melemas.
Anak itu tersenyum. Namun... Senyumnya terlalu lebar. Hampir mencapai telinga.
"Kak..." ucap anak itu lirih. Kepalanya perlahan miring ke samping dengan gerakan yang tidak wajar. "Bolaku..."
Raka menjatuhkan bola kain itu.
Bruk!
"Ambil!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi teror, sementara tubuhnya mundur beberapa langkah.
Anak itu tidak bergerak. Ia hanya menatap Raka.
Lalu...
"Hehehe..."
Tawanya kembali terdengar. Namun kali ini...Suara tawa itu bukan hanya satu.
"Hehehe..."
"Hehehe..."
"Hehehe..."
Puluhan suara anak kecil mulai terdengar dari segala arah.
Pak Hendra segera keluar dari mobil.
"Raka! Cepat masuk!" teriaknya keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara ia melambaikan tangan.
Raka langsung berlari. Namun baru beberapa langkah...
Tap!
Seseorang mencengkeram pergelangan tangannya.
Raka spontan menoleh. Anak kecil itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Padahal...Beberapa detik lalu jaraknya masih dua meter.
"Kak..." bisik anak itu pelan. Senyumnya semakin lebar, sementara matanya yang hitam pekat menatap tanpa berkedip.
"Jangan pulang...Tinggal di kampung kami..." lanjut Anak kecil itu.
Bersamaan dengan ucapan itu... Kabut putih pekat tiba-tiba turun dari seluruh penjuru hutan.
Dalam hitungan detik...
Mobil, Pak Hendra, Bu Ratna, Siska. Semuanya menghilang dari pandangan Raka. Ia kini berdiri sendirian.
Di tengah jalan yang sudah berubah menjadi sebuah gerbang kayu tua. Di atas gerbang itu tertulis dengan huruf merah yang tampak seperti darah...
"SELAMAT DATANG DI KAMPUNG GHAIB."